
Hamparan pasir berada di bawah langit senja memang selalu memberi keindahan tersendiri. Seperti di hadapan mereka adalah ujung bumi dan ujung lautan yang katanya tidak pernah bisa bertemu ujungnya.
Saat orang-orang bersiap pulang, Kean dan Disa justru baru tiba di tempat ini. Melajukan mobilnya perlahan lalu membuka atap mobil agar mereka bisa merasakan hembusan angin pantai yang menyapu wajahnya hingga membuat kelopak matanya sedikit memincing perih terkena angin.
“Saya tidak menyangka kalau tuan akan membawa saya ke sini.” Ujar Disa dengan senyum terkembang.
Sudah cukup lama ia tidak main ke sini, ke tempat yang biasa ia jadikan tempat hiburan juga tempat mengais rejeki.
Kean tidak menyahuti, ia lebih asyik menikmati pemandangan jalan yang seolah berada satu garis dengan langit jingga yang memayunginya.
Mendapati Kean yang tidak menyahuti kalimatnya, Disa yang semula melihat ke garis pantai kali ini ia menoleh.
“Saya tahu sebuah tempat yang sangat indah saat matahari terbenam.” Ujarnya kemudian. Ia terlihat lebih bersemangat dan ceria di banding ekspresi sepanjang perjalanan, yang terlihat bingung.
“Oh ya, dimana?”
Akhirnya Kean menoleh juga.
“Tuan bisa memarkirkan mobil di sana. Kita akan berjalan sedikit lalu akan ada sebuah bangku di sana. Dari sana kita akan melihat pemandangan yang lebih indah.” Cerocos Disa dengan penuh ekspresi.
Tanpa berkata-kata, Kean segera melajukan mobilnya sedikit lebih cepat dan berhenti tepat di titik yang di tunjuk Disa.
“Waw, tuan lebih keren dari vin diesel.” Ungkap Disa yang bertepung tangan ringan.
“Tentu saja, aku terbiasa menyalip angkot atau mikrolet, sementara vin diesel enggak.” Dengan santai Kean menimpali.
Ia melepaskan seat belt-nya lantas menunjuk milik Disa.
“Bisa melepasnya?”
“Bisa tuan!” seru Disa. Benar saja, ia bisa melepas sendiri seat belt yang melingkar di pinggangnya. “Tapi saya setuju dengan pendapat tuan.” berujar dengan kalimat menggantung.
“Tentang?”
“Tuan lebih jago dari vin diesel.” Cetusnya seraya mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum mengembang. “Vin diesel bisa nyalip karena jalannya bagus, rata dan kendaraan lainnya jelas terlihat. Kalau tuan, walau pun ketemu angkot tanpa lampu, asal berhenti, berbelok tanpa sein, tetap bisa melewati mereka tanpa terpacing emosi. Pengendalian diri tuan luar biasa.” Lagi Disa mengacungkan kedua jempolnya.
Kean tersenyum samar, entah dari mana asal pemikiran absurb tersebut muncul di kepala gadis ini.
“Masih mau bahas vin diesel atau mau turun?”
“Turun tuan!” cepat sekali sahutannya.
Kean hanya menggeleng melihat tingkah Disa. Bagaimana bisa gadis yang biasanya kalem, terlihat tenang dan bersikap dewasa berubah menjadi bocah ingusan yang pecicilan.
Membuka pintu mobil dan Disa segera turun. Ia merapikan apronnya yang sedikit kusut agar tidak berantakan.
“Ke arah mana?” Kean melihat ke sekeliling tempat mereka berada. Hanya parkiran lapang yang luas tanpa ada pemandangan indah sedikit pun.
“Sebelah sini tuan.” Disa mengambil langkah lebih dulu.
Berjalan di depan Kean dan membawa mereka melewati sebuah jembatan kecil di atas pasir. Disa di sisi kanan, menyentuh pegangan jembatan seraya memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerbangkan anak rambutnya. Sementara Kean berada di sisi kiri dengan pandangan berpedar ke sekitar pantai.
“Kenapa tempatnya jauh dari keramaian, apa di sana tempat kamu biasa mojok?”
Mendengar kalimat Kean, Disa segera menoleh.
“Hah, tidak tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Tempatnya memang sedikit tersembunyi tapi saya tidak bermaksud untuk, mojok dengan tuan.” Memelankan suara di ujung kalimatnya. Ia menatap sebentar wajah Kean yang masih memandanginya tanpa ekspresi.
“Kenapa juga pas kayak gini dia malah gak buang muka.” Gumam Disa yang mengalihkan pandangannya karena Kean terus memandanginya.
Satu waktu langkahnya terhenti.
“Tuan, mungkin kita bisa berhenti di sini. Saya takut tuan tidak menyukai tempatnya.” Gumam Disa kemudian. Ia tidak ingin membuat laki-laki di sampingnya salah sangka.
Yang di ajak bicara malah terus berjalan santai mendahului Disa. “Jangan mengerjaiku, saya sudah berjalan sejauh ini dan kamu minta berbalik?” ujarnya, tidak terlalu keras dan terdengar enteng.
“Ma-maaf tuan.” Disa segera menyusul, berjalan satu Langkah di belakang Kean. Bibirnya masih bergumam tanpa suara, merutuki kelakuannya sendiri yang serba salah.
“Astogeee… Kamu ngapain sih sa ngajak tuan muda ke sini? Jangan-jangan dia mikir kalo aku yang ngajak mojok. Issshh!” menggaruk kepalanya sendiri yang tidak gatal dengan kesal.
Tapi tetap saja, langkahnya berlanjut.
*****
POV Kean
Aku masih belum tahu, seluas apa tempat wisata yang beberapa bulan lalu aku datangi. Kami masih berada di dalam mobil sesaat setelah dia memintaku berhenti di titik ini.
“Waw, tuan lebih keren dari vin diesel.” Ia bersorak, seperti anak kecil yang dibuat girang karena melihat aksi kerenku.
Dengar, katanya aku lebih hebat dari Vin diesel, yang benar saja. Aku benar-benar melakukannya dan mereka hanya sedang berakting, tentu aku lebih keren dan hebat.
“Tentu saja, aku terbiasa menyalip angkot atau mikrolet, sementara vin diesel enggak.” Dengan santai aku menimpali.
Ku lepaskan seat belt yang melingkari tubuhku lantas menunjuk milik Disa.
“Bisa melepasnya?”
“Bisa tuan!” dia menjawab dengan semangat. Sepertinya dia memang sangat senang di bawa ke tempat seperti ini.
“Tentang?” aku mengernyitkan dahiku, belum menangkap arah pembicaraannya.
“Tuan lebih jago dari vin diesel.” Cetusnya seraya mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum mengembang. “Vin diesel bisa nyalip karena jalannya bagus, rata dan kendaraan lainnya jelas terlihat. Kalau tuan, walau pun ketemu angkot tanpa lampu, asal berhenti, berbelok tanpa sein, tetap bisa melewati mereka tanpa terpacing emosi. Pengendalian diri tuan luar biasa.” Lagi ia mengacungkan jempolnya.
Aku hanya tersenyum samar, bisa aja nih bocah.
“Masih mau bahas vin diesel atau mau turun?” aku tidak mau tiba-tiba hidungku terbang karena di puji terus menerus.
“Turun tuan!” lagi, dia sangat bersemangat.
Aku hanya menggeleng melihat tingkah Wanita di hadapanku. Kemana perginya sikap kalem, tenang dan dewasa yang malah berubah menjadi bocah ingusan yang pecicilan.
Membuka pintu mobil dan Disa segera turun. Ia merapikan apronnya yang sedikit kusut agar tidak terlalu berantakan.
“Ke arah mana?” aku masih memperhatikan sekeliling tempat yang menurutku cukup asing. Hanya parkiran lapang yang luas tanpa ada pemandangan indah sedikitpun. Entah di titik mana kami berada.
“Sebelah sini tuan.” Dia berjalan lebih dulu di depanku.
Mengajakku melewati sebuah jembatan kecil di atas pasir. Disa berjalan di sisi kanan, menyentuh pegangan jembatan seraya memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang menerbangkan anak rambutnya. Sok modeling sekali ini anak.
Aku sedikit memperhatikan, berada di tempat ini sepertinya membuat sebagian kebahagiaannya kembali. Dia tersenyum tipis, membuatku ikut tersenyum. Saat ia membuka matanya, aku segera mengalihkan pandanganku ke tempat lain.
Jika kalian bertanya kenapa aku membawanya ke sini, jujur tadinya aku ingin berterima kasih. Mengajaknya makan di luar seperti aku mentraktir orang kantorku. Hal ini aku lakukan karena kembali teringat kalimatku sendiri, kalau setiap orang memberi sumbangsih atas pencampaianku.
Termasuk gadis ini. Dia menyiapkan semuanya, melayani kebutuhanku mulai dari aku bangun sampai tertidur lagi. Semua yang dia lakukan nyaris tidak pernah membuatku kecewa. Aku selalu merasa siap menghadapi hariku karena pagi hari aku bangun segar dan perutku sudah terisi. Langkah pertama yang cukup, membekaliku untuk beraktivitas dan menyelesaikan semua pekerjaan hingga tuntas.
Tapi tunggu, kemana dia membawaku? Tempatnya cukup asing.
“Kenapa tempatnya jauh dari keramaian, apa di sana tempat kamu biasa mojok?” aku bertanya karena aku penasaran. Tempat ini belum pernah aku lihat sebelumnya.
Mendengar pertanyaanku Disa segera menoleh.
“Hah, tidak tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Tempatnya memang sedikit tersembunyi tapi saya tidak bermaksud untuk, mojok dengan tuan.” Memelankan suara di ujung kalimatnya, dia sedikit berfikir. Dia menatap sebentar wajahku yang berusaha tidak berekspresi.
Disa yang mengalihkan pandangannya, dengan sikapnya yang berubah canggung. Apa mungkin pertanyaanku salah?
Satu waktu langkahnya terhenti.
“Tuan, mungkin kita bisa berhenti di sini. Saya takut tuan tidak menyukai tempatnya.” Gumamnya kemudian.
Hahahhaha.. Rupanya dia kepikiran kalimatku. Entah seperti apa otak kecilnya memproses kalimatku, yang jelas aku memilih terus berjalan santai mendahuluinya. “Jangan mengerjaiku, saya sudah berjalan sejauh ini dan kamu minta berbalik?” Ujarku dengan santai.
“Ma-maaf tuan.” Dia segera menyusul, berjalan satu Langkah di belakangku. Aku tidak tahu apa yang masih dia pikirkan, aku hanya mencoba menikmati pemandangan di hadapanku.
Hari sudah mulai senja, kami tiba di sebuah tempat seperti tepian pantai yang lebih tenang di banding tempat lainnya. Ada beberapa bangku di sana yang menghadap langsung ke pantai. Dari sana kami bisa melihat lampu-lampu di perahu nelayan yang menyala seperti gemintang yang berjatuhan dari atas langit. Langit yang mulai gelap, membuat lampu-lampu itu menyala dengan terang seolah saling berkerlipan saat perahu bergoyang mengikuti arus air.
“Waaaw…” aku mendengar suara itu dari mulut seorang gadis yang berjalan ke bibir pantai. Menyentuh air laut dan memainkan tangannya di dalam air.
Aku mendudukan tubuhku di salah satu bangku dengan kaki kanan tersilang di atas kaki kiri. Aku tersenyum sendiri saat melihat gadis itu sedikit berlari saat ombak mengejar kakinya. Seperti bocah, tawanya sangat lepas.
Tidak lama, ia berjalan menghampiriku, seraya merapikan anak rambut yang di terbangkan angin. Sepertinya ia sadar kalau aku memandanginya. Dia tersenyum saat tiba di hadapanku lalu duduk di ujung bangku yang aku tempati. Jarak kami berjauhan, mungkin muat 2 orang lagi yang bisa duduk di sela kami.
“Sepertinya kamu sangat menyukai tempat ini.” Ujarku yang masih memandangi riak tenang ombak yang sesekali saling menggulung dan pecah di tepi pantai.
Dia mengangguk. Pandangan kami sama-sama tertuju pada deburan ombak yang saling berkejaran. Bibirnya tampak tersenyum tapi tidak menyiratkan kebahagiaan. Ada sesuatu yang di tahannya.
“Dengan berada di tempat ini, membuat saya sadar kalau batas kebahagiaan saya hanya sampai sini. Melihat kemilau cahaya dari senyuman orang-orang dan ombak-ombak yang saling berkejaran seperti tengah berlari menuju ujung kebahagiaan di tepi pantai.” Ujarnya, sendu.
Aku menoleh gadis itu. Rasanya aku paham apa yang ada di pikirannya.
“Menurutku ini bukan tempat kamu harus merasa sadar akan batas kebahagiaanmu.” Aku beranjak dari tempatku. Berjalan sedikit maju hingga dia ada beberapa Langkah di belakangku. “Ini tempat yang tepat untuk kamu memikirkan cara meraih kebahagiaanmu. Terkadang kita berfikir cara meraih kebahagiaan padahal berada di sini dan merasakan ketenangan, mungkin sesuatu hal yang akan membuat mereka yang sedang berkejaran itu merasa iri.”
“Kita sudah ada pada batas menerima dan mereka masih mencari.” Imbuhku.
Tanpa sadar ia sudah berada di sampingku. Menatapku dengan segaris senyum.
“Anda sangat bijak tuan. Saya bahkan tidak pernah berfikir kalau akan ada orang yang merasa iri dengan saya.”
“Ada disa, aku.” batinku tanpa menoleh padanya.
Untuk beberapa saat kami saling terdiam. Sama-sama menikmati deburan ombak dan hembusan angin yang dingin menyelusuk ke tulangku.
“Boleh saya bertanya?” tanyaku, yang mulai melangkahkan kaki menyusuri bibir pantai.
“Silakan tuan.” Dia berada di sampingku, dengan kedua tangan tersilang di depan dada. Sedikit bergidik, mungkin dia kedinginan tertiup angin laut. Sementara aku, cukup memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana, sudah lebih dari cukup.
Bodoh, aku tidak membawa jas ku yang sudah aku tanggalkan saat di rumah tadi.
“Kamu menyukai pekerjaanmu?” tanyaku.
Dia menolehku, dengan ekspresi wajah yang tidak bisa aku tebak.
******