
Katanya bentuk perwujudan cinta yang paling tinggi dari seorang laki-laki terhadap perempuan adalah dengan menikahinya. Kalimat itu di lontarkan oleh salah satu keluarga Disa yang menerima kedatangan keluarga Kean dari Jakarta.
Bandung, dengan langit yang cerah, udara yang dingin namun suasana yang hangat menjadi kondisi yang tidak pernah di bayangkan Disa dan Kean saat ini.
Dalam perjalanan mereka sempat berdebat, apa yang akan di katakan Kean nanti mengingat Arini dan Nita juga ikut, serta Reza, Shafira dan Marwan. Tidak mungkin hanya silaturahmi bukan?
Rencana untuk menemui keluarga Disa dan menyampaikan niatnya untuk melamar Disa, berbuah sebuah lamaran serius yang benar-benar harus di jawab Disa apakah bersedia atau tidak.
Saat ini Kean masih menunggu jawaban Disa yang tampak berpikir apakah harus secepat ini ia menikah? 22 tahun, usianya saat ini. Usia yang jauh dari kata matang walau usia bukan batasan seseorang di katakan dewasa atau tidak. Disa sadari, masih banyak hal yang harus ia tahu tentang sebuah pernikahan, fase baru di mana ia akan hidup selamanya dengan seorang laki-laki dan menerima segala kekurangan dan kelebihannya tanpa harus mengeluh apalagi menyesal di kemudian hari.
Pernikahan itu sakral, bukan hanya sebatas ia kemudian mengubah status di KTP menjadi menikah atau memiliki teman tidur di malam hari.
Ada banyak kewajiban yang harus ia lakukan dan belum sepenuhnya ia ketahui. Tumbuh dewasa tanpa memiliki orang tua, menjadi ketakutan tersendiri bagi Disa. Ia tidak pernah melihat seperti apa sebenarnya sebuah rumah tangga berjalan seharusnya. Seperti apa bentuk ungkapan kasih sayang antara suami dengan istri dan anggota keluarga lainnya. Serta seperti apa tugasnya kelak saat menjadi seorang istri kelak.
Apa cukup dengan membuatkan makanan, membersihkan rumah atau melakukan hubungan intim yang katanya adalah penguat dalam hubungan suami istri?
Rasanya tidak.
Walau pernikahan bukan hanya transaksi kewajiban antara laki-laki dan perempuan namun Disa memang memiliki kewajiban yang harus ia lakukan untuk melayani suaminya dan Kean pun memiliki kewajiban untuk mengasihinya sebagai wanita yang ia cintai dan hormati.
Pernikahan sekali seumur hidup selalu menjadi cita-cita Disa dan jawaban Disa kali ini akan menjadi penentu apakah semuanya akan di lanjutkan atau terhenti di sini.
Melihat Kean, Arini, Shafira dan Nita juga Reza yang menunggu jawabannya membuat jantung Disa kembang kempis tidak karuan. Ada Jenar juga Imas yang tidak henti menyusut air matanya saat mendengar niatan Kean untuk meminang satu-satunya anak gadis di keluarga mereka.
Disa mengeratkan genggaman tangannya yang basah oleh keringat karena gugup. Wajahnya pucat saat harus membuat keputusan besar dalam hidupnya. Di tatapnya wajah Kean yang sedang menunggu jawabannya dengan tidak sabar, seperti inilah lamaran yang sering di perbincangkan orang-orang dan di tunggu banyak wanita.
“Gimana neng disa, apa neng disa bersedia menerima lamaran aa kean?” tanya pak Rudi yang menjadi penengah dalam pertemuan ini.
Di tatapnya lagi wajah Kean yang sama tegangnya dengan Disa. Kean tersenyum tipis seolah siap mendengar apa pun jawaban yang akan di berikan Disa.
Dalam beberapa menit Disa seperti bergelut dengan batinnya sendiri. Apakah ia siap menjadi seorang istri dan apakah Kean benar-benar akan mencintainya seumur hidupnya? Karena kadang yang tergesa-gesa membuat ragu.
Satu helaan nafas dalam di ambil Disa, “Aku mencintainya.” kata itu yang kemudian ia yakini dalam hatinya hingga ia mantap untuk menjawab.
Sebuah anggukan dan senyuman tipis di tunjukan Disa. “Iya, saya bersedia.” diikuti kalimat itu yang membuat orang-orang di ruangan ini menghembuskan nafas lega.
“Alhamdulillah...” Ucap pak Rudi.
Imas dan Jenar langsung memeluk Disa, menciumi pipinya dengan penuh kasih dan air mata berurai.
“Alhamdulillah... Kamu akan nikah neng, bibi ikut seneng..” pekik Imas dengan air mata yang tidak bisa di tahannya.
Jenar hanya terisak, tidak bisa menyembunyikan rasa haru yang membuncah di dadanya.
Begitu pun Arini, ia memeluk sang putra dengan erat dengan penuh rasa bangga.
“Selamat nak, mulai sekarang jaga disa lebih baik hingga waktu itu tiba dan tentu saja untuk selamanya.” ungkap Arini dengan rasa haru. Akhirnya apa yang ia perjuangkan selama ini membuahkan hasil.
“Iya mah.” Kean benar-benar mengambil langkah tegas untuk masa depannya.
“Selamat bro!”
Reza menepuk bahu Kean dengan rasa bangga dan memeluk sahabatnya dengan erat. Ia ikut berbahagia atas langkah maju yang diambil sahabatnya. Walau cerita ia dan Disa harus benar-benar usai, tapi melihat wajah bahagia Disa dan Kean menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.
“Thanks!” Kean membalas pelukan Reza, sahabatnya. Walau mereka pernah bersaing tapi saat ini ia sudah yakin kalau Reza sudah melepas Disa tanpa sisa perasaan yang tersimpan.
Pak Rudi langsung membacakan do’a syukur untuk menutup pertemuan mereka. Dilanjut dengan perbincangan serius tapi santai berikutnya yang sudah pasti tentang rencana ke depannya.
“Jadi kapan ini rencananya aa kean akan melangsungkan pernikahan dengan neng disa? Tidak baik di tunda terlalu lama kalau sudah merasa yakin.” tanya pak Rudi melanjutkan ketegangan berikutnya.
Kean memandangi Disa dengan wajahnya yang bersemu kemerahan. Gadis itu tampak tegang dan rasanya ia ingin menggenggam tangan Disa untuk menenangkannya.
“Kapan nak, apa kamu udah punya rencana tersendiri dengan disa?” Bisik Arini di belakang Kean.
Kean hanya tersenyum tanpa menurunkan pandangannya dari Disa. Melihat wajah sepolos itu perasaannya selalu saja bergemuruh.
“Akhir minggu ini. Saya berrencana menikahi disa akhir minggu ini.” jawab Kean dengan mantap.
“Alhamdulillah....” seru pak Rudi yang diikuti ucapan syukur anggota keluarganya.
Sementara Disa masih termangu mendengar ucapan Kean. Benarkah harus minggu ini? Seperti rencana liburan saja yang dilakukan dengan spontan dan tidak memerlukan waktu yang lama.
“Baiklah, karena calon pengantinnya sudah tidak ada keraguan lagi, untuk rencana pernikahan silakan di bicarakan oleh keluarga karena tugas saya sudah selesai.” lanjut Pak Rudi.
“Inget, kalau sudah kebelet jangan terlalu lama di tahan.” goda Pak Rudi seraya menjabat tangan Kean.
Kean menyambutnya dan tersenyum hangat mendengar ucapan pak Rudi. Ya katakan saja ia sudah kebelet tapi yang pasti ia ingin segera menempatkan Disa di dekatnya tanpa ada jarak yang memisahkan.
“Terima kasih pak.” timpalnya.
Acara formal memang telah selesai dan berganti dengan obrolan hangat dua keluarga.
“Aku seneng banget mba disa bakal jadi kakakku. Uhh... Sayang mba disa.” Shafira kembali bermanja pada Disa.
“Terima kasih non fira.” sahut Disa yang mengusap punggung Shafira dengan lembut.
“Jadi gimana nih tentang tanggal pernikahan, mamah udah bersiap nih untuk menyiapkan semuanya.” Arini membuka pembicaraan di antara mereka.
“Kamu serius, akan melangsungkan pernikahan akhir minggu ini?”
“Iya mah.” jawab Kean dengan mantap.
Disa yang berfikir kalau menyiapkan pernikahan itu tidak sesingkat itu, Banyak yang harus, mulai dari konsep pernikahan, rangkaian acara, menyiapkan WO dan perintilan lainnya yang pasti memerlukan waktu.
Sementara Kean dengan pengetahuannya yang simple tentang sebuah pernikahan. Persiapan pernikahan ia hanya perlu memerintah orang-orang kepercayaannya asalkan kedua calon pengantin sudah siap secara mental menuju gerbang pernikahan.
Tapi pada akhirnya mereka sepakat untuk melangsungkan pernikahan minggu ini. Kean menjamin acara pernikahan yang hanya terjadi satu kali dalam hidupnya akan memberi kesan mendalam untuk ia dan Disa saat mengikat janji sehidup semati.
“Ya udah, mamah sama tante nita akan menyiapkan segalanya. Om marwan akan mengatur masalah perusahaan dan kita akan membawa keluarga Disa ke jakarta lusa. Gimana?” tawar Arini.
Kemampuan untuk mengatur acara masih menjadi keahlian Arini sedari dulu.
“Iya mah, kean gak masalah.” Kean melirik Disa yang memandanginya dengan malu. Rona wajahnya itu loh, membuat Kean gemas sendiri.
Arini mulai membicarakan semua pernak pernik pernikahan bersama Nita. Semua hal mereka siapkan dengan mendetail. Sambil menikmati segelas teh buatan Bi Imas juga goreng singkong yang tampak kuning kecokelatan. Cocok untuk menemani mereka menyiapkan semuanya.
*****
Berada di Bandung untuk beberapa jam saja dan keputusan sudah di buat kalau mereka akan menikah hari minggu ini. Disa lebih dahulu ikut ke Jakarta untuk memudahkan persiapan pernikahan sementara keluarga akan menyusul satu hari sebelum acara di langsungkan.
Kebiasaan mengadakan pernikahan di keluarga mempelai wanita, sepertinya kali ini tidak berlaku. Sesuai kesepakatan mereka akan menggelar acara pernikahan di Jakarta dan acara syukuran kecil nanti di Bandung.
Malam ini, Kean akan kembali ke Jakarta dengan Disa yang berada di sampingnya.
Satu deringan telepon memecah keheningan antara Disa dan Kean yang sudah memulai perjalanannya. Nama Shafira yang kemudian muncul di layar ponsel Disa.
“Assalamu ‘alaikum non fira..” sapa Disa.
Kean hanya melirik dari spion tengah dan menyimak pembicaraan gadis di sampingnya.
“Mau mampir kemana non?” tanyanya kemudian.
“Oh baik, saya tanyakan dulu pada tuan muda.” menekan mode mute untuk menjeda pembicaraannya dengan Shafira.
“Tuan, non fira mengajak kita makan malam di punclut, apa tuan bisa?” tanya Disa ragu.
“Kita sudah makan malam, anak itu mau makan apalagi?” Nasi liwet buatan Imas rasanya masih di tenggorokan dan belum masuk ke lambung tapi Shafira seperti belum merasa kenyang.
“Saya kurang tau.” terkadang memang tanpa alasan saat selera makan nona mudanya meningkat drastis. Karena cuaca yang dingin jadi lupa kalau ia sudah berniat akan diet.
“Ya udah, bilang iya. Kita akan menyusul.” timpal Kean pada akhirnya.
“Baik tuan.” dengan semangat Disa menyahuti.
Kean mulai mensetting maps di ponselnya. Ia memang tidak terlalu tahu arah menuju tempat tersebut.
“Baik nona, kami akan menyusul.” sahut Disa.
Terdengar seruan Shafira yang keras dan membuat Disa menjauhkan ponselnya dari telinga. Semangat sekali nona mudanya ini. Disa jadi ikut tersenyum mendengar antusias nona mudanya.
Menyudahi panggilan dengan Shafira, Disa mulai memperhatikan jalanan yang di lewatinya. Ia mengenal benar jalur yang mereka lewati saat ini.
“Tuan, nanti di lampu merah pertama, kita bisa putar balik, tidak usah mengikuti jalur maps. Kita bisa memotong jalan lewat jalur lain.” terang Disa tanpa ragu.
“Kamu sering main ke sana?” penasaran juga karena Disa seperti mengenal tempat yang akan di tujunya.
“Beberapa kali saya pernah main ke sana, biasanya damar mengajak saya kalau pikiran dia sedang buntu.” terang Disa sambil memperhatikan jalanan di depannya.
Damar lagi.
Mendengar ucapan Disa, Kean jadi mengeratkan genggaman tangannya pada stir. Kesal juga membayangkan Disa sering main ke tempat yang ia tahu adalah salah satu icon terkenal kota Bandung.
“Memangnya apa yang kamu lakuin di sana bareng anak gondrong itu?” sinis sekali kalimat yang di lontarkan Kean. Ada banyak ketidakrelaan di dalamnya.
“Em, tidak ada tuan. Kami hanya duduk-duduk di bangku menikmati minuman hangat sambil melihat cahaya di bawah kaki kami. Hanya seperti itu saja.” Disa menjelaskan dengan santai, ia tidak menyadari perubahan ekpresi wajah Kean yang mulai dingin.
“Kamu masih semangat membicarakan laki-laki lain di hadapan calon suami kamu?” suara Kean mulai terdengar tinggi, membuat Disa yang sebelumnya memperhatikan jalanan menoleh pada laki - laki di sampingnya.
Wajah Kean yang terlihat dingin saat cahaya lampu kendaraan lain mengenai wajahnya membuat Disa mengulum bibirnya kelu. Rupanya ia baru sadar kalau ia salah bicara.
“Em, maaf tuan saya tidak bermaksud seperti itu.” tertunduk lesu di samping laki-laki yang tidak bisa menerima cerita yang pernah ia lewati bersama Damar.
“Jadi maksudnya apa? Kamu bahkan masih memanggilku dengan panggilan lama.” bertambah satu lagi kesalahan Disa di mata Kean. Kenapa sensitif sekali tuan mudanya sekarang? Apa sindrom pra nikah itu memang ada?
Ia menoleh laki-laki di sampingnya, kehilangan kata-kata. “Saya harus memanggil apa tuan?” tanya Disa akhirnya. Bukankah bertanya lebih baik daripada salah panggilan lagi?
“Tugasmu memikirkannya, dan beritahu aku saat kita sampai di punclut.” timpal Kean dingin.
Disa menatap Kean tidak percaya. Perjalanan menuju punclut tidak sampai satu jam lagi dan ia harus memikirkan panggilan baru untuk tuan mudanya. Ralat, calon suaminya.
Dalam hatinya Kean hanya tersenyum, ternyata menyenangkan juga melihat Disa yang kebingungan seperti ini.
“Harus sekarang tuan?”
“Hem.” lagi, jawaban pendek yang berarti suatu keharusan.
Disa mulai berpikir keras. Terlalu terbiasa memanggil Kean dengan panggilan sebelumnya membuat ia tidak pernah memikirkan panggilan lain. Dan saat laki-laki di sampingnya meminta panggilan baru, pikirannya malah kosong.
Aduhh si calon suami ini harus di panggil apa ya?
*****