Marry The Heir

Marry The Heir
Membuat pilihan



Disa masih termenung, memandangi dokumen yang beberapa saat lalu diserahkan Mareta padanya. Satu bundle dokumen berisi kelengkapan administrasi untuk ia sekolah desain di Paris nanti. Kota impian yang menjadi gerbang baru dalam hidupnya.


2 tahun, waktu yang kelak Disa habiskan untuk menuntut banyak ilmu dan menambah pengetahuannya tentang seni desain. Disa tidak pernah menyangka kalau ia akan sampai pada titik ini, dimana peluang terbuka sangat lebar untuknya. Kalau saja dulu ia menolak untuk belajar desain, mungkin saat ini keadaannya tidak akan seperti ini.


Seperti seekor burung yang baru di tetaskan dari cangkangnya, Disa harus belajar mengepakan sayap untuk bisa terbang ke langit tinggi. Walau tidak bisa menggapai awan tapi paling tidak ia bisa melihat bintang-bintang lebih dekat dan melihat semesta yang indah di bawah kakinya.


“Tempat kamu belajar cukup menyenangkan. Saya pun menghabiskan waktu di sana selama 2 tahun benar-benar tidak terasa lalu malah extend 2 tahun lagi.” Kalimat itu di lontarkan Mareta dengan senang. Seperti ia mengingat kembali masa-masa mudanya menuntut ilmu di pusat desain dunia.


“Kamu akan mendapat pengajar langsung dari beberapa desainer dunia terkenal dan kebanyakannya sih praktek. Jadi tidak banyak teori yang harus kamu hafal di luar kepala semuanya langsung kamu kerjakan.”


“Di luar pendidikan formal itu, kamu juga akan mengikuti kelas khusus. Biasanya seminggu 2 kali. Kamu akan berinteraksi dengan lebih banyak orang salah satunya para model terkenal di sana, dimana kamu juga akan mengenal seperti apa dunia modeling dan kamu bisa membuat jejaring sendiri saat bisa masuk ke lingkungan mereka.”


“Pokoknya sangat menyenangkan sa, saya aja sampe gak mau pulang. Dan ingat ini kesempatan langka.” Mareta begitu bersemangat menceritakan pengalamannya, sangat mengundang rasa penasaran Disa. Semangatnya ikut bangkit.


Tapi setelah Mareta pulang, tiba-tiba saja ada yang mengganjal dalam hatinya. Membolak-balik berkas dan malah menambah rasa bimbangnya. Entah ia akan mengisi formulir pendaftarannya atau tidak, ia belum memutuskan.


“Ada yang kamu pikirkan?” tanya Kean yang baru selesai bertelepon dengan sahabatnya, Clara.


Ia bertanya banyak tentang sekolah Disa nanti dan tentang kota Paris. Sahabatnya ini sering sekali pergi ke Paris, entah untuk mengikuti fashion show atau sekedar berjalan-jalan. Ia tentu cukup tahu, seperti apa tempat yang akan di tinggali Disa nanti.


“Hem, aku ragu a.” Disa mengulurkan tangannya pada Kean, meminta suaminya duduk bersama.


“Apa yang kamu ragukan?” di raihnya tangan Disa lalu di genggamnya dengan erat. Ia duduk persis di samping Disa.


“Em, bisa gak kita keluar bentar a, aku perlu udara buat bernafas.” Tiba-tiba saja Disa terpikir untuk berjalan-jalan.


Mungkin suasana yang berbeda akan membuatnya lebih leluasa berfikir.


“Keluar kemana? Nggak aku kasih nafas buatan aja?” timpal Kean yang tersenyum tengil di ujung kalimatnya.


“Ihh aa, kok malah ngeledek sih." Disa mencubit perut Kean dengan kesal.


"Ini beneran lo, aku lagi perlu udara seger.”  Kean selalu menyebalkan kalau sedang bercanda.


“Aduduh, iya iya ampun sa.” Kean berusaha menahan tangan Disa agar tidak mencubitnya untuk kedua kali. Satu kali saja sudah memberinya rasa pedas di perutnya. Di usap-usappun susah hilangnya.


“Makanya, jangan ngeledek.” bibir Disa mengerucut kesal.


“Nggak ada yang ngeledek. Aku cuma sharing experience. Soalnya kalau kita habis, EHM! Aku sih ngerasa seger. Hahahaha...” Kean tertawa terbahak-bahak.


“Tau Akh!” Disa langsung berdiri, pergi meninggalkan Kean. Lihat saja wajahnya yang memerah karena malu bercampur kesal. Sia-sia berbicara serius dengan suaminya saat ini.


“Eh, mau kemana?” Di tahannya tangan Disa yang sudah mau mengambil tas tangannya.


“Kalo aa gak mau pergi, aku pergi sendiri.” Timpalnya kesal.


“Gak usah marah dong. Ya udah ayo.”


“Ayo aku anter.” Kean akhirnya mengalah. Ia mengambil kunci mobilnya lantas membukakan pintu untuk Disa.


Belum jelas mereka akan pergi kemana. Kean hanya melajukan mobilnya tidak tentu arah sambil memperhatikan Disa yang berfikir serius.


Tatapan kosong Disa masih memandangi kedua tangannya saling menggenggam, memainkan kuku jarinya yang menunjukkan ia sedang tidak tenang. Menggenggaam tangannya tidak cukup untuk membuat Disa tenang.


Akhirnya Kean memutuskan untuk berbelok, pergi ke sebuah cafe yang tidak jauh dari tempatnya berada.


“Kita nongkrong di sini ya? Tempatnya nyaman kok.” ajak Kean saat sudah menghentikan laju mobilnya di tempat parkir cafe.


“Iya a.” Dengan malas Disa melepas seatbelt-nya.


Kean tersenyum memandang Disa lantas mengusap kepala istrinya dengan sayang. Ia turun lebih dulu, membukakan pintu untuk istrinya juga mengulurkan tangannya.


“Aa pernah ke sini sebelumnya?” memperhatikan sekeliling cafe yang terlihat cukup nyaman. Ini asing untuknya.


“Iya, dulu sama reza pernah ke sini.” Ya dulu, sebelum hati mereka tertaut pada gadis yang sama.


Disa membulatkan mulutnya tanpa suara. Pantas saja Kean tahu kalau tempat ini cocok untuk mereka datangi.


Menempati tempat di salah satu sudut dengan dua kursi yang saling berhadapan. “Kamu tunggu bentar, aku mau nyamperin owner-nya. Dia temenku waktu di luar negeri.”


Disa terangguk memberi respon.


Dari kejauhan terlihat Kean menemui seorang laki-laki bertubuh jangkung dengan topi kupluk juga kacamata yang melengkapi penampilannya. Mereka berangkulan lantas menoleh pada Disa bersamaan. Mungkin Kean sedang memperkenalkan istrinya. Disa mengangguk sopan sebagai respon saat suaminya dan sahabatnya itu tersenyum padanya.


Cukup lama Kean berbincang dengan kawan lamanya sambil membuatkan minuman untuk Disa.


Di tempatnya, Disa kembali  memandangi layar ponselnya yang menampilkan hasil browing tempat ia sekolah nanti. Lingkungannya memang cukup nyaman dengan review yang bagus. Banyak lulusan terkenal berasal dari sana. Kegiatan belajar sepertinya sangat menyenangkan. Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari tempat ia belajar. Namun entah mengapa ia masih merasa ragu.


Sedang menimbang-nimbang saat kemudian Kean datang dengan segelas besar minuman yang ia bawa sendiri.


“Ya ampun, ini apa a?” Disa cukup terkejut dengan gelas besar yang di bawa Kean, berisi minuman berwarna coklat.


“Hehehe.. Ini aku yang minta di ramuin bahan-bahannya. Supaya kamu relaks dan bisa berfikir jernih.” Meletakkan gelas tersebut di tengah-tengah mereka.


“Tapi kok cuma satu a?”


“Ya kan biar romantis kayak yang lain. Nih sedotannya bisa 2.” Timpal Kean. Romantis dan pelit beda tafsir doang ya...


“Astagaa... ada-ada aja.” Kelakuan Kean berhasil membuat Disa tertawa lirih. Manis juga sikap gunung es ini.


“Nah gitu dong ketawa, aku seneng liatnya. Ini dahinya jangan di tekuk mulu.” Mengusap dahi Disa dengan lembut.


“Hehehe.. Makasih ya aa udah bikin aku ketawa.”


“Hem. Minum dong.” Kean mulai menyeruput minumannya dengan semangat.


“Ish ini sih aku bakalan kehabisan. Mulut aa lebih besar dari aku,” Disa mengambil dua sedotan langsung dan menggunakannya bersamaan.


“Hahahaha.. Kamu gak mau kalah juga.” Diusapnya kepala Disa dengan gemas. Disa acuh saja, menikmati menyeruput minumannya.


"Enak?"


"Hem!" Disa tidak bisa berkata-kata. Matanya kembali berbinar dengan ekspresi wajah riangnya yang sudah kembali. Ternyata semudah ini untuk membuat Disa kembali ceria.


Setengah gelas sudah habis oleh berdua dan cukup membuat mood Disa membaik. Ada sedikit noda coklat di sudut bibir Disa dan Kean menyusutnya dengan lembut.


“Jadi gimana, udah enakan perasaannya?” tanya Kean kemudian.


“Hem.” Menelan sisa minuman di mulutnya.


“Maaf ya a, aku jadi bikin suasana gak nyaman.” Disa menggenggam tangan Kean yang mengusap bibir. Belakangan suaminya terlihat lebih perhatian dan manis.


"Kalo aku boleh tau, apa yang bikin kamu tadi gak nyaman? Ada yang kamu pikirin?” Kean menatap Disa laman, dengan sabar ia menunggu Disa bercerita.


“Em, sebenernya aku ragu buat berangkat ke paris.” Satu kalimat itu yang kemudian diucapkan Disa.


“Oh ya? Kenapa?”


“Bukankah ini mimpi kamu? Ini kesempatan baik loh sa.”


“Emang aa gak masalah kalo aku pergi?” berganti Disa yang bertanya. Mengingat pria ini yang selalu menempel, bagaiman bisa dengan mudah ia memberi izin Disa untuk pergi.


Kean menggeleng.


“Aku udah bilang akan mendukung kamu. Ya sekalipun kamu harus pergi sementara, tapi kan kita udah bahas masalah nanti kita gimana.”


“Seperti yang wanita itu bilang, 2 tahun gak bakal kerasa.”


Disa menghela nafas dalam. Bukan perkara 2 tahun yang membuat ia bimbang.


“A, aku boleh jujur sesuatu gak?” takut-takut Disa berbicara.


“Ya, tentu boleh. Kamu mau jujur apa?”


Di tatapnya mata Disa dengan laman, banyak keresahan yang di simpan Disa dalam hatinya.


Disa merapikan rambut dan penampilannya dan bersiap untuk berbicara serius dengan Kean.


“Em, dulu waktu aku ikut ajang itu, niatku, aku harus menang karena, untuk bersama aa, aku harus memiliki hal yang bisa membuat aa bangga.”


“Aku gak mau menjadi cinderela yang bersama dengan seorang pangeran tampan tanpa berbekal apapun."


"Aku mau menunjukkan kalau aku juga berjuang agar kita bisa bersama. Terlebih aku ingin terlihat layak sebagai wanitanya aa, di hadapan papah.”


Kean tidak menyangka kalau Disa berusaha sejauh ini. Apa yang ia lakukan terlihat sederhana namun di balik itu, memiliki alasan yang luar biasa.


“Tapi,” Disa menghela nafasnya dalam. Mata beningnya semakin lekat menatap Kean.


“Kali ini pikiranku berubah.”


“Aku merasa untuk saat ini, menjadi layak untuk aa, bukan dengan aku pergi untuk mengejar cita-citaku dan mencapai posisi tertinggi."


"Aku pikir tidak seharusnya aku pergi karena ada banyak hal yang harus aku jaga, terutama orang-orang yang aku sayangi.”


“Aa, hubungan kita, nenek, mamah dan tentu saja papah. Aku merasa, untuk saat ini tugas terbaikku adalah menjaga papah lebih baik lagi.” Disa tersenyum tipis di ujung kalimatnya.


Kean meraih tangan Disa yang saling tertaut, lantas ia genggam dengan erat.


“Sayang, aku baik-baik aja kalau untuk sementara kamu harus pergi. Siapapun akan baik-baik saja, mamah, nenek kamu apalagi papah. Jadi jangan merasa kami adalah beban yang menghambat kesuksesan kamu.”


“Dan tentang papah, aku bisa mengurusnya. Aku bisa menempatkan lebih banyak perawat jika itu bisa membuat kamu lebih tenang. Jadi jangan pikirkan itu.” Kean mencoba meyakinkan. Ia tidak mau keluarganya menjadi alasan Disa untuk berhenti mengejar mimpinya.


“A, bukan seperti itu. Kalian bukan beban.” Kalimat Disa terdengar tegas.


“Aa tau, aku, tumbuh besar tanpa kedua orang tuaku. Aku tidak pernah ingat bagaimana ayahku membantuku makan, memandikanku atau menina bobokanku tanpa menganggap semua itu adalah beban. Ini tentang kasih sayang yang ternyata tidak bisa aku tunjukkan pada kedua orang tuaku, karena mereka sudah pergi lebih dulu.”


“Dan saat ini, allah seperti memberiku kesempatan untuk melakukan itu. Mimpi dan harapan terbesar yang pernah aku punya sebagai seorang anak yang hidup sendirian.”


“Katakan saja aku menunda untuk belajar ke paris karena aku bisa melakukannya di kemudian hari. Tapi, kesempatanku untuk bersama orang yang aku sayang, tidak sebanyak itu.”


“Aa mungkin bisa membayar lebih banyak jasa perawat untuk menjaga papah. Menggaji mereka sebesar yang aa bisa terlebih mereka memiliki kemampuan yang mumpuni di banding aku tapi, rasanya berbeda buat aku.”


“Aku seperti melepaskan kesempatan dan mimpi terbesar dalam hidupku untuk bersama orang-orang yang pernah aku harapkan hadir."


"Mamah dan papah, sekarang adalah orang tuaku. Aku menyayangi mereka dan ingin menjaga mereka lebih baik. Terlebih saat ini papah membutuhkan kehadiran kita, keluarganya, anak-anaknya. Maka, sebaiknya aku tidak pergi bukan?” suara Disa terdengar lirih di ujung kalimatnya. Ada tangis yang nyaris ikut serta atas usahanya meyakinkan Kean untuk tidak pergi.


Kean masih tidak habis pikir dengan apa yang ada di benak Disa. Banyak hal buruk yang di lakukan Sigit terhadap istrinya tapi ia masih berfikir untuk mengurusnya. Apa sebenarnya yang ada di benak Disa?


“Sa, apa kamu gak pernah benci sama papah? Dia memperlakukan kamu sangat buruk. Kenapa bisa semudah itu kamu memaafkan papah? Bukankah mengabaikannya akan lebih mudah?” tanya Kean dengan berapi-api. Ia masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Disa.


“Sayang,,” berganti Disa yang mengeratkan genggamannya pada Kean.


“Kalau di tanya marah, aku pernah marah sama papah. Bukan, tapi pada keadaan yang membuat aku harus merasa rendah."


"Tapi, aku berfikir, apa yang aku dapatkan dari rasa marah itu?”


“Aku merasa, kalau memaafkan papah adalah kebaikan untuk aku sendiri. Karena aku layak untuk tidak terus tenggelam dalam emosi dan rasa sakit yang pernah aku dapatkan."


"Dengan aku melepaskan kemarahan itu, aku merasa aku bisa lebih baik untuk melangkah dan bahagia karena tidak harus menyimpan sekam dan jarum dalam hatiku sendiri yang sewaktu-waktu bisa membakar dan menusukku.”


“Aku tidak akan merasa lagi tertusuk oleh kemarahanku sendiri yang membuat aku berfikir buruk pada orang lain, atau kesal karena keadaan yang tidak pernah aku inginkan.”


“Aku ingin tenang, tanpa harus mengingat hal buruk yang pernah terjadi padaku."


"Dan allah, sedang memberikan kesempatan itu padaku. Kesempatan untuk merasakan kembali memiliki kedua orang tua yang bisa aku jadikan tempat bermanja, berbagi cerita dan tentu saja tertawa bersama. Aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan ini a…” lirih Disa pada akhirnya.


Kean hanya termangu di tempatnya. Ia tidak bisa mencerna jalan pikiran Disa secepat itu. Dalam pikirnya, mengabaikan Sigit akan lebih mudah, karena ia pun bisa mengabaikan sejenak rasa marah dan kecewanya.


Tunggu, mengabaikan sejenak? Lalu dia akan datang lagi? Dan dia akan sakit lagi?


Kean bertanya pada hatinya sendiri.


“A,” Disa mengguncang tangan Kean yang hanya terdiam.


“Katakan sesuatu. Aku butuh pendapat aa…” ujarnya dengan penuh harap.


Kean tidak menjawabnya, apa yang ingin ia utarakan tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Ia hanya ingin seperti ini, menarik tubuh Disa mendekat dan masuk ke pelukannya. Erat, ya sangat erat ia memeluk Disa.


“A,” mata Disa mengeliling melihat ke sekitarnya. Yang mereka lakukan saat ini mungkin akan jadi bahan perhatian banyak orang.


Dan benar, beberapa di antara mereka memang memperhatikan Disa dan Kean lalu ikut tersenyum, terlebih saat Kean mendaratkan satu kecupan hangat di kening Disa dengan penuh perasaan. Tanpa kata-kata, tanpa suara apapun.


Untuk kali ini Disa mengabaikan semua pandangan yang tertuju padanya. Di kecupnya dada Kean dan mulai memejamkan matanya seraya membalas pelukan Kean. Hal ini juga yang Disa butuhkan saat ini, merasakan kalau Kean ada untuknya.


“Disa, bisakah kamu jangan sebaik ini? Jangan buat aku semakin merasa bersalah.” ucap hati yang menyimpan banyak rasa sakit.


*****