
POV Disa:
Apa yang paling tidak nyaman bagiku saat ini adalah, merasa telah mengecewakan.
Pagi ini menjadi pagi yang paling aku tunggu sekaligus aku takutkan. Aku duduk di hadapan tuan muda yang sedang menikmati sarapannya, pancake asin. Seperti biasanya, sarapan dilakukan dalam suasana hening dimana hanya ada suara sendok dan garpu yang beradu dengan permukaan piring sebagai hymne yang menemani kami menghabiskan sarapan.
Semalam, sepertinya tuan muda tidak makan malam sehingga pagi ini sarapannya lumayan banyak. Wajahnya tidak segar seperti biasanya, saat aku bangunkan pun dia bilang dia tidak akan berolah raga. Seperti ia telah kehilangan banyak energi dan membuatnya tidak bersemangat.
Dari tempatku aku memperhatikan ia mengunyah makanannya dengan lambat, entah sedang mengecap rasanya atau sedang memikirkan sesuatu di benaknya. Saat gerakan bola matanya seolah melirikku, aku segera memalingkan pandanganku ke arah lain. Bukan tanpa alasan, aku masih merasa bersalah tapi tidak tahu harus memulai perbincangan dari mana.
Tuan muda seperti teka-teki silang untukku. Saat menurun begitu mudah aku jawab clue-nya tapi saat mendatar, aku harus berpikir ekstra mengartikan kalimatnya yang kadang dalam kondisi normal pun tidak aku mengerti maksudnya.
Anda terlalu rumit untuk saya tuan. Tapi sayangnya, saya sudah mulai menikmati menebak apa yang anda pikirkan. Seperti sel otakku ikut bekerja dan feelingku berusaha lebih peka, menebak apa yang dia rasakan.
“Jam berapa kamu akan berangkat?” tiba-tiba saja dia bertanya.
“Awh,” aku sedikit mengaduh saat tiba-tiba lidahku tergigit gigiku sendiri. Makan sambil melamun, ya itulah resikonya.
Ia mengangkat wajahnya yang semula hanya tertunduk lantas menatapku. Melihat sorot matanya, seperti ada sebagian es yang mencair di kepalaku yang kadang sering blank saat melihat netra pekatnya yang tajam kala menatapku.
“Oh, jam setengah 10 tuan. Saya menunggu kabar dari kak reza.” Aku memelankan sebagian kalimatku.
Terlihat ia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan ponselnya. “Hubungi dia, minta jemput lebih awal. Ada demo di beberapa titik, kalian bisa terlambat.” Ujarnya seraya mendorong ponselnya mendekat kepadaku.
Aku masih mematung, memandangi ponsel merek apel tergigit keluaran terbaru yang ada di hadapanku. Bagaimana cara menggunakannya, aku bahkan tidak tahu. Selintas ku lihat melihat wallpaper yang digunakannya adalah sepasang tangan yang sedang saling menggenggam. Tangan sang wanita tampak putih dengan jemari lentik dan kutek transparan yang membuat kukunya berkilauan saat foto itu di ambil. Di jari manisnya ada sebuah cincin yang tersemat dengan elegan.
Tangan siapa itu, mengapa begitu cantik? Pikirku.
“Kenapa?” suara tuan muda membuatku sadar dari lamunanku.
Dengan cepat aku menolehnya dan ia tengah menatapku lalu kembali menunduk menikmati makanannya sesaat setelah tatapan kami bertemu.
“Saya, tidak terlalu familiar dengan ponsel anda tuan.” Ujarku. Pikirku lebih baik jujur daripada memalukan.
Terdengar tuan muda menghela nafasnya dalam, lantas mengambil ponsel yang tergeletak di hadapan kami. Untuk beberapa saat ia terpaku, memandangi layar ponselnya sendiri lalu beralih menatapku. Aku hanya tersenyum, sepertinya ia mulai sadar kalau tidak seharusnya aku melihat tampilan di barang pribadinya.
Ia mulai sibuk dengan benda pipihnya. Menaruh sendoknya dan menghubungi seseorang. Ekspresi wajahnya tampak berubah saat sudah cukup lama benda pipih itu ada di telinganya tapi tidak ada suara yang terdengar.
“Ting tong!” beralih suara bell yang membuat kami kompak menoleh.
“Saya,” aku menunjuk pintu yang berada di belakangku dengan ibu jari. Tuan mudanya hanya mengangguk dan menaruh kembali ponselnya.
Langkahku sedikit cepat menuju pintu. Saat ku buka, ada seorang laki-laki yang tengah bersandar di dinding dan menoleh seraya tersenyum saat aku membukakan pintu.
“Kak reza,.” Laki-laki itu tersenyum dengan tampan, membuatku harus beberapa kali mengerjapkan mata agar segera sadar dari sebuah keindahan nyata di hadapanku.
“Pagi sa,” sapanya. Suaranya yang dalam, terasa menusuk ke relung hatiku.
“Pagi kak.” Aku membukakan daun pintu lebih lebar.
Dia melintas di hadapanku dan aku yakin, wajah hangatku saat ini tengah merona merah. Astaga, aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaanku.
“Tuan muda sedang sarapan di dalam.” Ujarku, gugup.
“Okey. Sepertinya aku juga bakal sarapan di sini.”
“Silakan.” Sahutku.
Hah, betapa bahagianya perasaanku saat ini. Pagi-pagi yang dingin, seperti ada sinar matahari yang menghangatkanku dan membuat bongkahan es di hatiku mencair. Kak Reza seperti mimpi indah yang tidak pernah ingin aku akhiri. Tuhan, aku sangat mengaguminya.
Tubuh tegapnya, bahu bidangnya dan senyumannya. Semuanya, aku menyukainya.
“Bro!” suara Kak Reza seperti melodi saat ia memanggil tuan muda.
Aku segera tersadar dari lamunanku, mengekorinya dari belakang dan ikut ke meja makan untuk menyiapkan sarapan untuknya.
“Pantes gue telpon gak di angkat, udah di jalan rupanya.” Ujar Tuan muda yang menerima rangkulan sahabatnya.
Aku selalu takjub dengan kedekatan mereka yang lebih seperti kakak beradik.
“Oh, lo nelpon gue?”
“Hem. Katanya ada demo di beberapa titik. Bisa macet kalo lo mau berangkat ke pameran terlalu siang.” Harus aku akui, Tuan muda memang sahabat yang baik. Mereka beruntung memiliki satu sama lain.
“Iya makanya gue berangkat lebih pagi. Lagi pula, gue pengen maen ps dulu. Battle kita waktu itu kan gagal.”
“Hahahaha.. Siap. Ya udah, lo sarapan dulu, biar kuat ngehadepin gue.” Tantang tuan muda.
Aku mengambilkan satu pancake untuk kak Reza, “Makasih sa.” Kalimat yang aku dengar sangat manis.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Dalam beberapa saat kami melanjutkan sarapan kami. Tuan muda dan kak Reza asyik berbincang. Sementara aku, masih dengan pancake-ku dan rasa terpesona pada laki-laki bersweater biru di hadapanku.
Tuhan, jantungku sepertinya cukup lelah, terus berdebar sangat kencang bahkan hanya karena melihat kak Reza tersenyum. Hihihi, aku gemas sendiri.
*****
“Lo gak ikut bro?” Reza kembali bertanya, beberapa saat sebelum ia pergi.
“Nggak, gue mau istirahat aja di rumah.” Timpal Kean yang memilih duduk di sofa. “Lagi pula, gua gak terlalu ngerti dengan seni lukis. Nikmatin aja waktu lo.” Imbuhnya yang meneguk jus sayur buatan Disa.
Baginya, tidak ada yang menarik dari hanya memandangi warna warni yang ia sendiripun tidak mengerti maksud pembuatnya. Indah, mungkin hanya itu kesan yang dilihatnya. Baginya, melihat lukisan sama dengan ia harus berfikir keras menerka maksud sang pembuat dan itu tidak menjadi hal menarik baginya.
Mungkin berdiam diri di rumah, main play station, mengecek beberapa pekerjaan membuat harinya akan lebih menyenangkan.
“Lo butuh refreshing juga bro, jangan mikirin kerjaan mulu. Sekali-kali lo liat dunia luar. Jangan kalah sama anak gadis yang main di luar sampe malem.” Ledek Reza yang ikut duduk di samping sahabatnya.
Kean sedikit terkekeh mendengar kalimat sahabatnya. Memang benar, akhir-akhir ini ia lebih senang berada di rumah. Mungkin kalah dengan para anak gadis zaman sekarang. “Lo tau, gue udah kenyang sama yang kayak gitu. Nongkrong, minum, liat dunia luar dan kegilaan lainnya. Sekarang, gue udah gak tertarik lagi.” Tegasnya seraya meneguk kembali minumannya.
Reza menoleh sahabatnya dengan segaris senyum. Kembali teringat saat mereka sama-sama tinggal di amerika. Kean memang tergabung dalam kelompok anak bandel di kampusnya. Bandel anak laki-laki yang menurutnya masih dalam batas wajar. Banyak hal yang sudah ia coba dan rasanya tidak aneh kalau ia sudah merasa cukup.
“Tapi lo belum nyobain kan nyari cewek di pameran?” bisiknya dengan senyuman tipis.
Kean menoleh lantas mengendikkan bahunya.
“Cewek yang punya pemahaman seni yang tinggi itu, menurut gue sangat seksi. Mereka punya cara sendiri untuk menunjukkan siapa mereka.” Lanjutnya dengan meyakinkan.
Kean berdecik kesal mendengar kalimat sahabatnya.
“Lo ngajak cewek ke pameran dan tujuan lo masih buat nyari cewek?” tanyanya dengan tidak percaya. Ia pikir, Reza sang casanova sudah berubah, nyatanya belum.
“Bukan itu maksud gue bro. Ini tawaran buat lo.”
Kean hanya menggeleng mendengar kalimat sahabatnya. “Berhenti main-main. Gak semua perempuan bisa lo mainin.” Tegasnya tanpa menoleh Reza sedikitpun.
Di tangannya, ia menggenggam gelas jus yang sudah setengahnya ia teguk.
“Gue gak pernah berniat main-main sama perempuan. Hanya saja, kadang gue gak cukup punya alesan buat bertahan atau untuk melangkah lebih jauh.” Tutur Reza dengan tatapan laman tertuju pada tayangan televisi di hadapannya.
“BRAK!”
Kean menaruh gelasnya dengan kasar dan Reza hanya menoleh tanpa berkomentar. Ia beranjak dari tempatnya, namun saat ia akan melangkah menuju kamarnya, terdengar suara pintu kamar tamu yang terbuka.
Untuk beberapa saat ia terpaku, saat melihat seseorang keluar dari kamar itu. Adalah Disa yang muncul dari balik pintu dan sudah berganti pakaian. Rambutnya yang biasa ia kepang, kali ini dibiarkan tergerai. Semakin terlihat manis dengan dress yang dikenakannya.
Kean tersenyum samar, sebelum akhirnya sadar dari keterpakuannya.
“Waw.” Ungkap Reza yang ikut terpesona.
Disa hanya tersipu seraya menyelipkan helaian rambut di belakang telinganya.
“Sudah siap?” tanya Reza.
Disa pun terangguk dengan bibir terkulum senyum.
“Selamat bersenang-senang.” Hanya itu kalimat yang diucapkan Kean sekali lalu menepuk bahu sahabatnya.
“Thanks bro.” timpalnya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Disa.
Sejenak Kean kembali menoleh pada Disa sebelum akhirnya ia pergi tanpa mengatakan apapun. Hanya dada yang ia usap perlahan dan hembusan nafas yang terdengar kasar.
“Berangkat sekarang?” tawar Reza yang masih di buat terpesona oleh penampilan Disa.
“Hem.” Hanya itu jawaban Disa.
Mereka kemudian melangkah bersisihan. Sesekali Reza menoleh dan Disa hanya tersipu.
Yang di atas sana, gimana perasaannya?
****