
Di pagi yang cerah, Shafira kembali melangkahkan kakinya menuju kelas yang selama satu minggu ini tidak ia ikuti.
Lama tidak bersekolah ternyata membuat Shafira cukup merindukan suasana sekolah. Rindu akan suasananya, omelan guru-guru, suara alunan musik berpadu vokal indah di ruang latihan dan tentu saja teman-temannya.
Jalanan setapak menuju kelas dengan pohon-pohon rindang di sisi kiri dan kanan Shafira jajaki. Ada lajur khusus untuk pejalan kaki juga ada lajur khusus sepeda.
Angin bertiup dengan lembut dan cahaya matahari bersinar terang menghangatkan tubuhnya. Shafira menghela nafasnya dalam seraya memejamkan mata, merasakan udara pagi mengisi penuh paru-paru kiri dan kanannya lalu menghembuskan perlahan dengan segaris senyum tersungging di bibirnya.
Sepanjang jalan Shafira tampak tersenyum hingga langkahnya terhenti saat melihat ketiga sahabatnya yang sedang berjalan terpaut beberapa langkah di depannya. Mereka tampak berbincang dan sesekali tertawa riang.
“Iya, cowok yang di universal studio yang menurut gue lebih cakep. Udah lo bales DM dia aja.” Suara Fia terdengar nyaring sekali lalu menyenggol lengan Nara yang asyik dengan benda pipih di tangannya.
“Maksud lo yang ngasih es krim, apa yang mana sih?” Nara dengan gaya manjanya bertanya.
“Iyaaa, yang mirip malvin.”
“Ssstttt… Jangan kenceng-kenceng fia, nanti ada yang denger.” Nara memelankan sebagian suaranya.
Shafira semakin penasaran, ia semakin mendekat pada ketiga sahabatnya lalu mengatur langkahnya agar masih bisa mencuri dengar obrolan mereka.
“Lo udah wa malvin lagi? Gimana, dia ngerespon gag?” kali ini Ira yang berbicara.
Nara menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut manja. Perlahan ia menunjukkan layar ponselnya pada kedua sahabatnya dan kompak mereka menjerit lalu tertawa.
“Ciee,…..” seru Fia dan Ira bersamaan. Yang di cie-in tampak tersipu malu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Shafira mulai menghentikan langkahnya. Ia mencoba mencerna obrolan ketiga temannya. Satu hal yang mengganggu pikiran Shafira saat ini, kemana saja ketiga sahabatnya seminggu ini?
Tidak sekalipun mereka bertanya kabar Shafira atau menyapa Shafira. Apa mereka mulai lupa kalau mereka memiliki teman Shafira?
Dan Malvin?
Mengapa mereka membahas Malvin?
Shafira mengeluarkan ponselnya lalu menyambungkannya dengan earphone. Ia pun menyetel music jedag jedug dengan volume keras lalu menyumbatkan earphonenya ke kedua lubang telinganya. Tidak mendengar suara lain selain suara drum dan gitar elektrik dengan suara vocal yang melengking.
Ini lebih baik, pikirnya.
Ia memperpanjang langkahnya, menyalip ketiga sahabatnya dan bersikap seolah tidak melihat ketiga sahabatnya itu.
“Itu fira ya?” suara Fia yang terdengar.
Nara dan Ira saling bertatapan dengan ekspresi tegang. Mungkin saja Shafira mendengar obrolan mereka.
“Susul gag nih?” tanya Ira kemudian.
“Ya udah, lo susul gih. Cari tau dulu, dia denger apa nggak?” Nara mendorong Fia agar maju lebih dulu.
“Lah kenapa bukan elo?!” Fia berganti mendorong Ira.
“Ish kok malah saling dorong sih?!” protes Nara.
Ia menyilangkan tangannya di depan dada dengan ekspresi kesal.
“Ya udah sih, nanti juga ketemu di kelas ini.” Ira mengibaskan tangan Fia yang masih memegangi lengannya.
“Ya udah, tapi lo yang nyapa dia duluan.” Nara memberikan perintah.
Ira hanya mengendikkan bahunya dan meneruskan langkahnya yang diikuti kedua sahabatnya.
Tiba di kelas, terlihat Malvin yang tengah menghapus tulisan di papan tulis. Ia hanya menoleh saat mendengar suara langkah kaki Shafira lalu bersikap acuh seperti biasanya.
Shafira segera menuju kursinya, menaruh tas lalu duduk di sana. Dari tempatnya ia memandangi punggung Malvin yang tegap. Ia masih memikirkan, apa yang dibicarakan ketiga sahabatnya.
Sahabat?
Entahlah, Shafira mulai ragu.
Selesai membersihkan papan tulis, Malvin berjalan menuju mejanya, mengambil buku paket biologi lalu berjalan menghampiri Shafira.
Shafira masih di tempatnya, dengan pikiran yang tidak bisa di urai dan tatapan yang tetap tertuju pada papan tulisnya yang kosong.
Malvin mengetuk meja Shafira, entah berapa kali, hingga Shafira menyadari kehadirannya. Saat Shafira menoleh, Malvin memberi isyarat agar Shafira melepas earphone yang menutupi lubang telinganya.
“Kenapa?” Shafira dingin, tidak seperti biasanya. Ia melepaskan satu earphone nya dan tatapannya beralih pada Malvin.
Malvin membuka satu halaman buku yang ia tandai dengan pembatas kertas warna abu, khas Malvin. “Ini tugas dari guru. Lo bisa liat uraiannya, udah gue tulis.” Begitu tuturnya.
Shafira memperhatikan tulisan rapi Malvin tentang beberapa tugas yang harus di kerjakan saat Shafira di skorsing.
“Hem,” hanya itu jawabannya.
Sepertinya Malvin sedikit terkejut melihat sikap Shafira. Gadis yang biasanya malu-malu dengan wajah memerah saat bertemu dengannya, kali ini sangat dingin. Apa yang membuat Shafira berubah dalam beberapa malam, padahal beberapa hari lalu saat bertemu di café, ia tampak biasa saja.
“Udah!” matanya mendelik seolah mengusir Malvin.
“Okey.” Kembali menutup bukunya dengan keras dan kembali ke mejanya. Dari tempatnya Malvin masih memperhatikan Shafira yang tampak melamun.
"Lo kenapa fir?" bisiknya dalam hati. Seperti tengah melihat Shafira yang berbeda dari biasanya. Atau mungkin ada yang hilang.
Tidak lama, bell masuk berbunyi. Para siswa mulai masuk tidak terkecuali ketiga gadis yang menatap Shafira dengan canggung.
“Hay fir?” sapa Fia yang kemudian duduk di bangku belakang Shafira.
Shafira hanya tersenyum samar, terlalu enggan berbasa-basi. Sejajar dengan dirinya, ada Nara yang mulai duduk dan di susul Ira di belakangnya. Mereka hanya melempar senyum pada Shafira.
Dari sudut matanya, Shafira bisa melihat ketiga gadis itu sibuk dengan ponselnya masing-masing dan saling bertatapan seperti tengah memberi kode. Mungkin mereka sedang berkirim pesan, ah sudahlah. Shafira ingin rehat sejenak dari memikirkan ketiga temannya.
Seorang wanita paruh baya mengetuk pintu kelas, “Morning class…” sapanya saat memasuki ruang kelas.
“Morning mam,” semua berseru membalas sapaan Miss Cindy, guru Bahasa Inggris mereka.
“Okey class, first of all i want ask to all of you, do you know Romeo and Juliet?” menunjukkan buku berhard cover di tangannya.
“Huhuuyyyy…” seru salah satu siswa yang disoraki siswa lainnya.
“Well, i think you know it. We will learn about literature and romantic rhymes. Are you interested?” Menuliskan judul materi pelajaran hari ini.
"Juliet, could you be mine?" cetus seorang siswa yang berdiri dengan gaya seorang penyair.
Kembali para siswa bersorak saat Miss Cindy berbalik dengan pandangan yang menyapu seisi kelas dengan senyumnya yang lebar.
"Grow up first kid, I'll be waiting for you." timpalnya yang membuat wajah remaja tersebut memerah sekaligus bersorak girang.
Para siswa ikut tertawa melihat drama di kelasnya pagi ini.
Pelajaran Miss Cindy memang selalu menyenangkan, materi yang ia ajarkan tidak melulu tentang tenses dan lainnya. Banyak variasi belajar yang membuat siswa mudah menyerap apa yang ia sampaikan.
“OK, make a group consist of 4 people. And it’s your task.” Titahnya kemudian, menunjuk kertas tertumpuk di mejanya dan siap untuk di sebar.
Para siswa mulai riuh memilih kelompok mereka.
“Fir, ayok gabung.” Panggil Fia pada teman di depannya.
Shafira sudah mengambil buku dan alat tulis, lantas beranjak dari tempat duduknya. Ketiga temannya sudah menunggu dengan senyum terkembang menyambut Shafira.
Sayang, Shafira beranjak lebih jauh meninggalkan teman-temannya. Ia lebih memilih menghampiri Diana yang duduk di pojokan seorang diri.
“Gue gabung ya.” Ujar Shafira seraya menaruh bukunya di hadapan Diana.
“Hah?” Diana hanya melongo seraya membenarkan posisi kacamatanya.
Diana dan Shafira memang saling mengenal karena mereka satu kelompok paduan suara, namun masih tidak menyangka kalau Shafira akan menghampirinya dan meninggalkan teman-temannya yang tengah menatap sinis.
“Bo-leh.” Sahutnya kemudian.
“Okey, you can do it anywhere. And collect the assignments at my desk before going home.”
“Yes mam.” Sahut para siswa.
Tidak lama sang ketua kelas mulai membagikan tugas mereka. Setiap kelompok di berikan satu tugas untuk mereka kerjakan.
“Kalian cuma berdua?” tanya Malvin pada Diana dan Shafira.
“Iya, lo mau gabung?” Diana yang menawarkan dan Shafira hanya terdiam, seolah tidak peduli dengan respon Malvin.
Malvin tidak merespon, ia kembali membagikan tugas ke meja yang lain lalu duduk dan bergabung dengan teman-teman laki-lakinya.
“Ke ruang musik yuk di.” Ajak Shafira seraya beranjak.
“Nggak di perpus aja fir?” protes tapi tetap ikut, itulah Diana.
“Musik sama sajak dan puisi itu berdampingan. Siapa tau kita bisa bikin lagu.” Timpal Shafira enteng.
“Iya juga sih.” Diana segera mengejar Shafira dan mensejajari langkahnya.
Saat melintasi ketiga temannya, Shafira hanya melirik dengan sudut matanya, lihat, ia mulai jengah.
*****