
“Dady, boleh aku masuk?” sebuah suara terdengar di balik pintu ruang kerja Sigit.
Adalah wajah Shafira yang terlihat di sela pintu yang sedikit terbuka.
“Masuklah fir.” sahut Sigit yang beranjak dari kursi kerjanya dan berpindah ke sofa.
Shafira membuka pintu ruang kerja lebih lebar. Di tangannya ia membawa nampan berisi air minum dan beberapa cemilan.
“Aku dengar dady sakit, apa sudah lebih baik?” Menghampiri Sigit dan menaruh nampan di atas meja.
Sigit tersenyum tipis, ternyata putri yang sangat sering ia marahi ini masih memiliki rasa peduli dengan kondisi kesehatannya.
“Kamu tau, dady sudah tidak muda lagi. Tubuh dady tidak sekuat saat usia belasan dengan semangat membara.” aku Sigit seraya menyandarkan tubuhnya pada sofa.
“No. Dady tidak pernah tua. Umur hanya masalah angka bukan?”
Sigit kembali tersenyum mendengar ucapan putrinya. “Kemarilah,..” ujarnya yang meminta Shafira mendekat.
Shafira mendekatkan dirinya pada Sigit. “Apa dady mau memarahiku lagi? Sudah sangat lama aku tidak membuat kesalahan loh,.. Harusnya dady memberiku hadiah.” membuka telapak tangannya di hadapan Sigit.
Terdengar kekehan dari mulut Sigit melihat tingkah putri bungsunya.
“Lalu, hadiah apa yang kamu minta?”
“Em,,” Shafira dengan gaya berfikirnya. “Itu dia, dady sudah terlalu memberiku banyak hal yang sebenarnya tidak aku butuhkan. Sayangnya, ada dua hal yang tidak pernah dady berikan.” Shafira menatap Sigit yang tengah memandanginya sambil tersenyum.
“Oh ya, apa itu? Mungkin saja dady bisa memberikannya.”
“No, sepertinya sangat sulit." Shafira menggeleng yakin.
“Katakan, dady mendengarkan.”
Shafira meraih tangan Sigit lalu menggenggamnya dengan erat. Sudah sangat lama mereka tidak berdekatan seperti ini hingga ia nyaris lupa rasanya menggenggam tangan sang ayah.
“Dua hal yang yang sangat aku butuhkan tapi dady tidak pernah memberikannya adalah, waktu dan kesempatan.” dengan yakin Shafira mengatakan hal itu. Ia menatap lekat mata sayu yang tidak sedang sehat ini.
Perlahan raut wajah Sigit berubah, dari penuh senyum menjadi sendu.
“Em okey, untuk waktu dady akui memang dady kurang memberikan waktu dady untuk kamu karena, kamu tau, pekerjaan dady membuat sebagian besar waktu dady tercurah untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan itu pun hasilnya untuk keluarga kita.”
“Lalu tentang kesempatan, kesempatan apa yang kamu maksud?” Sigit mengernyitkan dahinya, ia belum memahami pemikiran gadis berumur belasan di hadapannya.
“Kesempatan,” Shafira menghela nafas panjang yang mulai berat lalu berusaha tersenyum. “Kesempatan yang aku minta adalah, kesempatan untuk mengenali orang-orang di rumah ini. Dady, mamih, aku sendiri dan tentu saja abang.” tuturnya dengan suara berat.
“Sangat lama waktu yang aku lewati, tinggal di sini, sesekali berbincang dengan pengisi rumah ini tapi aku tidak mengenal orang-orang di rumah ini. Aku bahkan nyaris tidak punya kesempatan untuk tahu dan mengenal seorang kakak yang aku kira hanya ada gambarnya saja. Dan lagi, aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk mendengar penjelasan kalian.”
“Siapa sebenarnya kita ini? Kenapa aku merasa asing di tempat yang seharusnya aku merasa hangat? Apa kita benar-benar keluarga? Apa aku benar-benar anak dady dan mamih? Dan mengapa aku jauh lebih mudah mengenali para pelayan di banding kalian yang seharusnya membuatku merasa kalau kalian adalah orang tua sekaligus rumahku?”
“I’m tired dady.” wajah Shafira berubah sendu, mata bulatnya tampak berkaca-kaca dengan bibir yang bergetar pelan.
“Aku lelah berusaha menebak semua yang terjadi di rumah ini. Dady yang punya dunia sendiri dengan pekerjaan yang segudang. Mamih yang asik dengan teman-temannya tanpa pernah mengurusku atau dady. Dan abang, kenapa dia sangat membenciku? Kenapa dia tidak pernah mau berbicara denganku? Dan kenapa mamih, dady dan abang seperti orang asing? Kasih aku kesempatan dady, kasih aku kesempatan untuk mendapat penjelasan dari kalian.”
Suara Shafira terdengar parau dan menghiba. Ia menunduk dengan jemari saling memilin. Perlahan air matanya menetes, satu demi satu membasahi punggung tangannya.
“Beri aku kesempatan untuk mendapat penjelasan, agar aku mengerti mengapa aku tidak pernah punya kesempatan untuk memahami dan menyayangi kalian?” lirihnya yang kemudian menatap Sigit nanar.
Sigit hanya terpaku, menatap wajah Shafira yang sendu dengan linangan air mata dikedua pipinya. Berulang kali gadis itu mengusap air matanya namun tetap saja cairan bening itu menetes dari sudut matanya.
Di detik berikutnya, tidak ada perbincangan di antara mereka. Shafira yang masih tenggelam dalam rasa bingung dan sedihnya sementara Sigit yang masih dengan usaha untuk mengurai cara menjelaskan dengan baik agar Shafira paham.
Namun semuanya berujung pada keheningan. Hanya suara isakan Shafira dan nafasnya yang tersengau di antara tangisnya.
Sigit masih memandangi putrinya. Ia masih belum menemukan cara yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Mungkin gadis ini benar. Tidak pernah ada kesempatan untuk mereka saling mengenal hingga cara berbicara dan menyelami perasaan masing-masing pun menjadi bagian yang paling sulit dalam keluarga ini.
Dan andai saja Shafira tidak mendengar kata-kata Disa beberapa jam lalu, mungkin ia tidak akan berada di sini.
“Nona, tuan besar sepertinya sedang sakit. Mungkin nona bisa mampir sebentar ke kamarnya untuk bertanya kabarnya dan membawakan cemilan ini.”
Baki di atas mejalah yang Disa sodorkan padanya beberapa saat lalu. Dengan rasa sesal Shafira masuk ke ruangan ini. Begitu sulit membuat kesempatan untuk sekedar saling bertanya kabar hingga satu sama lain tampak tidak saling peduli.
Apa ini benar-benar sebuah keluarga?
Shafira tersenyum samar, jika mengingat nyatanya ia sendiri pun tidak membuat kesempatan untuk mendekat jika tidak ada yang mengingatkannya. Lalu, sebenarnya keluarga macam apa yang ia tinggali saat ini? Kenapa begitu asing?
*****
Sore hari menjadi jadwal Disa kembali ke rumah Kean untuk melanjutkan pekerjaannya. Tiba di depan pagar, Pak Rahmat yang menyambutnya dan membukakan pintu gerbang. Langkahnya terlihat tergesa-gesa menghampiri Disa yang baru turun dari sepedanya.
“Uh syukurlah mba disa udah dateng.” Mengusap dadanya pelan saat sudah berdiri di depan Disa.
“Iya pak, mumpung masih sore, sekalian mau beres-beres dulu.” timpal Disa dengan santai.
“Bukan itu.” Menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya menyilangkan kedua tangannya.
“Hah emang kenapa?” Disa sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping Rahmat yang setengah berbisik.
“Itu, tuan muda udah dateng. Tadi nanyain mba disa.” Suaranya di buat pelan, dengan wajah yang cemas dan tegang.
“Hah, udah dateng? Ada apa tuan muda nyari saya?” mengecek ponselnya khawatir Kean menelpon dan tidak sempat terjawab. Tapi tidak ada satupun panggilan atau pesan yang masuk ke ponselnya.
Mengendikkan bahunya, lantas membuka gerbang lebih lebar. “Gak tau, buruan aja masuk. Nanti malah di marahin lagi.” Rahmat membantu Disa mendorong sepedanya masuk ke halaman rumah.
“Iya pak, makasih.”
Disa mempercepat langkah kakinya menuju tempat ia biasa menaruh sepedanya. Mengambil tote bag dari keranjang lalu melepas sepatunya. Sebelum membuka pintu, ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Tidak lupa sedikit tersenyum, dan
“Kriet,” pintu terbuka.
“Kamu baru dateng.” Sebuah suara sudah lebih dulu mengagetkan Disa. Entah itu pernyataan atau pertanyaan yang mengambang.
Seperti terpergok sedang mengintip, saat ia membuka pintu belakang lebih lebar dan tampak Kean sedang berdiri di depan wastafel tengah mencuci apel fuji di tangannya. Ia masih mengenakan kemeja kerjanya dan menggulung bagian lengannya hingga ke pertengah tangan. Sementara jas-nya, entah sudah berada di mana.
“Selamat sore tuan muda.” Sapanya yang membuka pintu lebih lebar agar bisa lewat.
“Cuci tanganmu, kupas apelnya.” Menaruh apel di atas piring, lengkap dengan pisau buah yang sepertinya juga sudah ia cuci.
Setelah itu ia berlalu menuju sofa tempat biasa ia main PS atau nonton National Geographic.
“Baik tuan.” Segera menaruh tote bag di tempat biasa lalu mencuci tangannya hingga bersih.
Tugas mengupas apel lalu memotong dan menatanya di atas piring pun di mulai, sementara Kean memilih menyalakan televisi dan mencari saluran yang ia sukai.
“Apa anda ingin teh atau kopi tuan?” suara Disa di buat lebih keras agar terdengar lebih jelas di banding suara gemuruh di televisi.
“Tidak.” Sahutnya. Rupanya ia sudah mengambil air minum sendiri, segelas air putih.
“Silakan tuan.” Ujarnya saat piring sudah berpindah ke atas meja.
Dengan santai Kean mengambil satu potongan apel dan memasukkannya ke dalam mulut sementara matanya tetap fokus menatap layar televisi tanpa ekspresi. Disa mengangguk hormat sesaat sebelum ia pergi untuk memulai pekerjaan rutinnya.
“Kamu tidak perlu memasak sore ini.” Suara dalam itu kembali terdengar membuat Disa menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Iya?” sedikit mengerutkan dahinya, bingung.
Kean beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kunci mobil dari atas meja.
“Bawa barangmu, kita keluar sebentar.” Berlalu acuh tanpa memperdulikan kebingungan Disa. Hanya televisi yang ia matikan.
“Iya?” Disa semakian mengerutkan dahinya dan terus memandangi bahu Kean yang menjauh menuju garasi.
“Kamu tidak mendengar perintah saya?” Kean berbalik dan menatap Disa yang malah mematung di tempatnya.
“I-Iya, baik tuan. Saya ganti baju dulu.”
“Kamu pikir mau bertemu siapa sampai harus ganti baju?” seru Kean yang belum beranjak dari tempatnya.
“Hah?” wajah Disa terlihat cengo. “Saya pikir nanti seragamnya,..”
“Cepat!” Kean lebih memilih pergi, masuk ke dalam mobilnya. Ia kesal karena susah sekali membawa wanita ini keluar dari rumah.
“Baik tuan!” seru Disa.
Ia segera berlari menuju tempat ia tadi menaruh *tote bag-*nya\, lalu mengambil sepatu yang ia simpan di luar. Entah kemana tuan mudanya akan membawa ia pergi\, yang jelas ia harus bergegas.
Berlari hingga ke garasi, lalu memakai sepatunya yang tanpa tali. Beruntung ia memakai sepatu ini karena tidak harus repot menalikan sepatunya.
Di hadapan mobil sport berwarna biru metalik itu ia berdiri. Ia terlihat bingung bagaimana cara membuka pintu mobil mewah yang bahkan ia bisa bercermin dari pantulan cat body yang mengkilap.
Tidak lama pintu mobil terbuka ke arah atas. dengan cepat Disa mundur dan matanya membulat dengan sayup-sayup suaranya terdengar.
“Waaaawwww...” gumamnya dengan penuh kekaguman. Matanya bahkan tidak berkedip hingga pintu mobil tegak melayang di udara seperti sayap burung yang siap terbang.
Kean tersenyum simpul melihat ekspresi Disa. Untuk beberapa saat ia membiarkan Disa dengan ekspresinya karena baginya itu cukup menghibur.
“Mau sampai kapan berdiri di situ?” suara Kean kembali terdengar saat ia merasa sudah cukup puas melihat ekspresi wajah polos itu.
“Oh, maaf tuan.” Sahut Disa yang segera tersadar.
Ia segera masuk ke dalam mobil, duduk dengan hati-hati dan matanya kembali memandangi pintu mobil yang kemudian tertutup hingga rapat. Tubuhnya benar-benar kaku, khawatir menyenggol benda yang membuat sensor di mobil ini menyala dan membuatnya terkena masalah.
“Sudah siap?” tanya Kean yang sudah mencengkram setir di hadapannya.
“Ya tuan!” Disa mengangguk dengan semangat. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang ceria saat berada di dalam mobil.
Kean tersenyum samar, rasanya ia ingin tergelak melihat ekspresi Disa.
“Pasang seat belt-nya.” Sedikit mendekat pada Disa, lalu menarik seat belt melingkari tubuh Disa membuat jarak mereka sangat dekat. “Jangan sampai kamu terlempar dari mobil ini.” Imbuhnya membuat mata Disa membelalak. Bukan karena perkataan Kean melainkan karena jarak mereka sangat dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas Kean yang menerpa wajahnya.
Untuk beberapa saat ia menahan nafasnya sambil menunggu ritme jantung yang mendadak cepat berubah normal karena sikap tiba-tiba Kean.
“Fiuh...” Helaan nafas lega terdengar dari sela bibir Disa saat Kean sudah kembali ke posisinya, duduk tegak di balik kemudi. Ia bahkan tidak berani menoleh Kean yang meliriknya.
“Tiiittt....” pintu garasi terbuka otomatis, saat Kean menekan salah satu tombol di dinding.
Perlahan mobil mulai bergerak mundur, keluar dari garasi. Disa berusaha duduk santai, tidak terlalu tegak, walau sangat sulit.
“Mundur sedikit.” Titah Kean seraya melihat spion kirinya.
“Oh, maaf tuan.” Sedikit memundurkan tubuhnya hingga punggung Disa terasa menyentuh sandaran kursi. Ia tersenyum lega, karena bisa bersandar santai.
Tiba di halaman, mobil tidak banyak berbelok, lebih seringnya maju mundur dan bergeser hingga berhasil keluar gerbang.
Rahmat kembali menutup pintu gerbang dan semakin lama bayangannya terlihat semakin jauh. Disa masih menoleh spion kiri dan melihat Rahmat masih mematung di tepian jalan.
“Kenapa, kamu mau mengajaknya?” Kean kembali iseng bertanya.
“Em tidak tuan.” Dengan cepat Disa menegakkan tubuhnya dan melihat jalanan di depannya.
Sedikit melirik speedometer, terlihat kecepataan mobil saat ini adalah 80 km/jam. Ternyata cukup cepat juga Kean melajukan mobilnya. Seperti berada di dalam kapsul peluru yang sedang melesat tanpa ada guncangan sedikitpun.
Perjalanan yang lebih panjang di mulai. Setelah keluar dari gerbang town house, mobil mulai berbaur dengan kendaraan lainnya. Walaupun jalanan lumayan ramai, Kean selalu mampu mendahului kendaraan didepannya dengan lincah karena menurutnya menghalangi jalan.
Masuk ke satu gerbang tol dan keluar gerbang tol lainnya terasa seperti beberapa menit saja padahal waktu tidak secepat itu berlalu. Pandangan Kean dan Disa sama-sama tegak lurus ke depan, memperhatikan jalanan di depan mereka tanpa ada suara yang terdengar.
Keluar dari gerbang tol ke tiga, Kean mulai memilih jalan yang lebih lenggang. Baru kali ini ia memilih lajur kiri setelah sebelumnya selalu agresif di lajur kanan. Di hadapan mereka, lampu merah menyala dan membuat Kean terpaksa menghentikan laju kendaraannya menunggu lampu berubah hijau.
Perubahan warna lampu bahkan terasa lebih lama di banding saat Kean melajukan mobilnya menjauh dari rumah.
“Tuan, boleh saya bertanya?” suara Disa mulai terdengar saat ia mulai tidak mengenali jalur yang di ambil Kean.
“Tidak ada yang melarang.” Sahutnya acuh.
Disa tersenyum tipis, suara tuan mudanya terdengar lebih santai walau pemilihan kata-katanya tetap terdengar sinis.
“Kita akan kemana tuan?” tanyanya dengan hati-hati.
“Yang jelas saya tidak akan menculik kamu.” Sahutnya yang sedikit melirik Disa. Tidak percaya sekali wanita ini pikiranya.
“Hehehee.. Bukan begitu maksud saya tuan.” Disa menghela nafasnya dan memberanikan diri menoleh Kean. “Hanya saja, langit sudah semakin gelap. Sementara saya tidak memasak. Saya takutnya tuan muda lapar malam nanti.”
“Memangnya saya tidak boleh minta di buatkan makanan malam-malam?” sekarang Kean yang menoleh, walau hanya beberapa saat karena harus fokus menyetir, tetap saja membuat Disa kikuk.
“Tapi kan saya di rumah utama,...” suara Disa terdengar melemah.
“Tempat tujuan kita sama.” Timpal Kean dengan tegas.
Disa mengangguk paham dengan bibir membulat tanpa suara. Bagaimana bisa jalur yang berbeda akan berujung pada tempat yang sama?
Masih berfikir karena ini bukan jalur menuju rumah utama.
“Baik tuan.” ia berusaha percaya pada laki-laki di sampingnya.
******