
Pov Kean:
Sebenarnya aku tidak terlalu selera untuk makan malam. Pulang dengan rasa lelah dan dongkol lalu di rumah lagi-lagi ada orang yang tidak pernah ingin aku lihat. Berani sekali anak itu masuk lagi ke rumahku. Apa belum cukup dia menguasai rumah utama dan menjadi tuan putri di sana hingga harus mengusik ketenanganku?
Hah, aku selalu kesal saat mengingat orang-orang di rumah utama. Bagi orang-orang, mereka adalah keluargaku tapi bagiku, mereka adalah alasan aku harus menjauh dan tidak semestinya aku pulang apalagi melihat mereka bahagia.
Gilanya, kali ini dia menggunakan Disa untuk mendekat. Bodohnya dia mau. Dia mau untuk bersusah payah masuk ke dalam kusutnya benang merah keluargaku yang aku sendiripun tidak bisa mengurainya. Katanya dia peduli, pada siapa? Padaku? Dia bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Mana mungkin itu di sebut peduli.
Belum habis kekesalanku siang ini dan saat pulang malah di buat makin kesal. Malam ini aku berharap aku bisa berbicara baik-baik dengan wanita itu tapi lagi, keadaan membuatku harus berbicara kasar dengannya.
Satu hal yang membuatku semakin marah, dia mulai berbohong. Aku tidak lagi melihat gadis polos yang tertawa riang saat bercerita denganku dan mengerti apa yang aku rasakan tanpa harus mengatakan apa yang aku rasakan. Kemana perginya gadis yang berjalan bersamaku di tepi pantai? Gadis yang langkahnya riang, sesekali berjinjit seperti seorang balerrina yang menari dengan indah. Kemana perginya?
Apa jatuh cinta memang membuat seseorang bisa berubah secepat itu?
Aku seperti kehilangan dia. Semakin lama semakin jauh. Dan aku tidak bisa mengingatkannya. Sementara Aku sendiri terpenjara dalam perasaan yang tidak pernah aku harapkan.
Berdiri di sini, di balkon kamarku dengan hembusan angin yang menerbangkan rambutku yang masih basah, rupanya sedikit memberiku kesegaran. Aku memejamkan mataku sejenak berusaha menenangkan pikiranku yang tengah bergejolak seperti lava gunung Merapi. Katanya hati boleh panas tapi pikiran harus tetap dingin. Tapi rasanya sulit.
Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Mengulangnya beberapa kali hingga rasa sesak di dadaku sedikit berkurang. Beberapa tarikan nafas ternyata mampu menyetabilkan emosiku. Saat rasa kesal itu sedikit berkurang, perutku yang berbunyi minta di isi.
ARGH! Memang kadang tidak sinkron antara keinginan dan keadaan. Terpaksa aku turun ke bawah untuk mengisi perutku. Aku tidak boleh sakit lagi dan terlihat lemah.
Lemah?
Tunggu, apa mungkin kelemahanku yang membuatku merasa kalah dari Reza?
Sepanjang menuruni anak tangga, aku memikirkan suara dalam pikiranku sendiri. Lemah, ya mungkin kondisi itu yang membuatku merasa kalah saing. Orang-orang yang berada di dekatku, bukan karena mereka peduli. Mereka tetap tinggal hanya karena sebuah keharusan akan rasa tanggung jawab dan rasa iba.
Pikiranku tersenyum sarkas. Mungkin selama beberapa hari ini, itulah yang terjadi. Kedekatan kami yang instens beberapa hari tidak berarti apa-apa bagi Disa karena mungkin tidak ada yang membekas dalam hati dan pikirannya. Semuanya hanya karena ia merasa punya tanggung jawab dan merasa iba.
Huft, kenapa hatiku semakin mencelos saat membayangkan jika keadaan itu benar? Sakit tapi tidak berdarah, mungkin seperti ini rasanya.
Tiba di anak tangga terakhir, arah pandangku langsung tertuju pada meja makan. Tidak ada Disa di sana, hanya ada gadis kecil itu yang bersikukuh tidak pulang. Mungkin ia masih sangat penasaran rasanya makan malam denganku.
Dia berdiri saat melihatku, “Em, mba disa lagi ke depan bang.” Dan kalimatnya terdengar ragu lantas berusaha tersenyum walau samar. Canggung, sepertinya.
Bang? Bang katanya? Apa itu cara dia memanggilku? Kenapa menyebalkan sekali? Sangat sok akrab.
Aku berjalan dengan malas menuju meja makan, tidak menanggapi sedikitpun kalimatnya. Menarik satu kursi dan duduk di sana.
“A-aku ambilin. Abang mau makan sama apa?” kali ini dia mengambil piring yang akan aku ambil lebih dulu.
Aku mendenguskan nafasku kasar. Kemana perginya Disa, kenapa membiarkanku terlalu lama dengan anak kecil ini?
“Segini cukup?” dia langsung menaruh nasi di piringku tanpa menunggu jawabanku.
“Kemarikan!” kalimatku terdengar tegas saat meminta piring yang dia pegang.
Dia sedikit tersentak mendengar kalimatku. Sepertinya ia cukup kaget. Padahal aku yakin, berbicara keras dan tegas bukan sesuatu yang aneh di keluargaku.
“I-ini bang.” Ujarnya seraya menyodorkan piringnya padaku.
Aku segera mengambilnya dan menempatkannya di hadapanku. Beberapa lauk aku ambil dan selintas aku lihat dia tersenyum. Masih bisa tersenyum rupanya.
Diapun melakukan hal yang sama. Mengambil nasi lalu lauknya dan mulai memakannya.
“Kenapa?” tanyaku saat melihat dia masih mesam-mesem sendiri.
“Hah?” dia sedikit kaget. Aku menatapnya tajam dan bibirnya langsung membulat seperti berseru O. “I-itu, fira yang masak bang, enak gak?” tunjuknya pada capcay yang ada di sendok dan tengah aku nikmati.
Aku tidak menjawabnya, lebih memilih melanjutkan makanku. Lagi pula, aku tidak terlalu percaya kalau ini benar-benar dia yang masak. Lihat saja kukunya yang panjang dan berkutek, sungguh bukan ciri seorang wanita yang hobi memasak dan menghabiskan waktunya di dapur.
Tapi sikapku sepertinya cukup menjadi jawaban untuk dia. Ia melanjutkan makannya lebih semangat karena aku terus memakan apa yang ada di piringku.
“Mba disa yang ngajarin fira masak. Katanya abang gak suka kalau makanannya di cicipi. Iya bang?” rupanya dia masih belum menyerah untuk mengajakku berbincang. Aku hanya melirik dan lagi dia tersenyum.
“Saya tidak suka berbincang saat makan.” Ujarku dengan tegas.
Mulutnya yang nyaris terbuka mengeluarkan kalimat, dengan cepat kembali mengatup. Seperti sedang berfikir, entah apa yang ada di otak kecilnya.
“Tapi, makan sambil ngobrol itu kadang seru loh bang. Suka sampe gak kerasa kalo nasi udah habis dan malah nambah. Hehehe…”
“Aku di rumah biasanya makan sambil ngobrol sama temen-temen pelayan. Tapi waktu mba disa di sini, perasaan kok sepi banget di rumah.” Suaranya sedikit mendayu seolah dia memang merasakan kesepian.
“Tadinya fira mau main ke sini tapi kata bu kinar, abang perlu istirahat dan fira gak boleh ganggu. Soalnya kalo udah ketemu mba disa, pasti gak berhenti cerita. Seru banget.”
Aku baru tahu kalau gadis ini banyak bicara juga. Beberapa kali melihatnya, aku pikir dia anak yang pendiam dengan gayanya yang berlagak seperti seorang tuan putri. Entah dari siapa kebiasaan banyak bicara itu dituruninya. Aku seperti makan malam dengan di temani radio. Suaranya tidak terlalu cempreng dan ekspresif. Sudahlah, terserah dia mau ngoceh apa.
Lalu kemana perginya Disa? Sudah hampir habis makananku tapi dia masih belum juga kembali. Apa di depan ada Reza?
Aku celingukan sendiri. Perasaanku mulai tidak enak.
“Abang perlu sesuatu?” lagi suara gadis di hadapanku yang terdengar.
Aku tidak menjawab, lebih memilih meneguk air minumku hingga tandas.
Selintas aku melihat bayangann seseorang berdiri di luar jendela. Walau agak gelap, cahaya lampu taman cukup membantuku untuk mengenali siapa yang berdiri disana.
Disa, disana rupanya dia berada.
Entah sejak kapan dia berdiri di situ, padahal udara di luar cukup dingin. Keras juga usahanya untuk memberi gadis ini waktu bersamaku. Dia pikir dia siapa? Taktiknya tidak sehebat itu.
Tunggu, aku ingin mengerjainya.
“Ehm!” aku berdehem cukup keras, membuat Disa ikut menoleh tanpa keluar dari persembunyiannya. Bodoh, kaca tempat ia bersembunyi hanya tidak terlihat dari luar. Kalau dari dalam, tentu terang benderang.
“Sebaiknya kamu tidak pulang terlalu malam apalagi kalau nanti kamu melewati taman samping.” Ujarku dengan suara sedikit keras.
“Hah, emang kenapa bang?” gadis di hadapanku mencondongkan tubuhnya mendekat.
“Karena,” aku menjeda kalimatku dan melirik kiri dan kanan seolah waspada pada sekelilingku.
“Ish, kenapa sih bang?” sepertinya gadis ini mulai sedikit takut dan semakin mencondongkan tubuhnya padaku. Jujur, yang aku tunggu adalah respon Disa. Apa dia akan keluar dari persembunyiannya?
“Di taman itu,” lagi aku jeda.
“Iya,” timpalnya yang menarik kursinya semakin mendekat. Wajahnya mulai terlihat takut.
“Kata bang rahmat, ada yang pernah di kubur.” Bisikku dengan ekspresi menakuti.
“Isshh bang keaann….” Seru gadis itu yang tampak semakin takut.
“PRANK!” di susul suara piring jatuh yang membuat kami melonjak kaget.
Aku mengulum senyumku geli. Saat ku lirik, wajah Disa juga tidak kalah tegang.
“A-apa benar tuan?” dengar, dia sampai tergagap. Ingin sekali aku tertawa.
Aku hanya mengendikan bahuku. “Dari mana kamu?” berganti aku yang bertanya.
“Tuan belum menjawab pertanyaan saya. Apa benar pernah ada yang di kubur di taman?” dia melirik taman dengan takut-takut.
“Kamu sedang memerintah saya?” timpalku dengan ekspresi datar.
“Ti-tidak tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu.” Menyahuti dengan gugup. Ia pun memegangi piring di tangannya dengan erat.
Aku semakin ingin tertawa tapi harus menahannya. Beruntung perutku sudah kenyang, sehingga aku tidak menyesal menyelesaikan makan malamku lebih awal.
“Kita pulang sekarang aja mba?” mereka saling berbisik dan mending aku pergi ke kamarku atau ke ruang baca.
“Sebentar non, saya siapkan dulu baju untuk tuan muda besok.” Timpalnya yang sayup-sayup masih ku dengar.
“Mba disa gak makan dulu?”
“Nanti saja di rumah.”
Dia langsung menuju meja makan. Membereskan semuanya dan aku mengintip dari tangga. Cepat sekali gerakan tangannya, seperti sudah sangat terbiasa. Wajahnya yang tegang, lucu juga pikirku.
Sudahlah, cukup mengerjainya.
*****
Masih terduduk di sofa yang menghadap ke balkon dekat ruang baca dengan sebuah tab menyala di tangannya. Selintas Kean melihat Disa lewat di belakangnya dan masuk ke walk in closet untuk menyiapkan bajunya.
“Besok saya ada meeting dengan klien, siapkan stelan berwarna gelap.” Ujar Kean yang membuat Disa kembali keluar dari ruangan tersebut.
“Oh baik tuan.” Sahutnya dengan sigap. Walaupun sudah malam ternyata fokusnya masih cukup bagus. “Kalau boleh saya tau, rekanan seperti apa yang akan tuan temui?”
“Apa saya perlu menyebutkan gender?” Kean beranjak dari tempatnya lantas berbalik menatap Disa.
“Oh, tidak tuan. Maksud saya, dalam acara seperti apa tuan bertemu dengan rekanan tuan?” Disa mengganti pertanyaannya.
“Formal. Mereka Investor dari Australia.” Hanya lima kata itu detail pertemuannya.
Disa tampak berfikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk paham. “Baik tuan.” Sahutnya.
Kebiasaannya yang overthinking, lumayan berguna juga saat ia harus menggambarkan sebuah suasana.
Ia masuk kembali ke walk in closet sementara Kean masih memperhatikan dari tempatnya. Ikut beranjak lalu bersandar pada daun pintu masuk walk in closet dan memperhatikan apa yang dilakukan Disa.
“Darimana kamu belajar memadupadankan baju?” ada rasa penasaran dalam hati Kean, mengingat apa yang Disa siapkan selalu nyaman dan enak di pandang mata.
“Dari majalah fashion tuan.” Sahutnya dengan segaris senyum. Tangannya tetap sibuk memilih kemeja yang ia cocokan dengan stelan jas
“Dari majalah? Bukankah zaman sekarang lebih mudah melihat segala sesuatu dari internet?” Wanita zaman mana yang masih mengandalkan buku dan majalah untuk melihat perkembangan mode, pikirnya.
Lagi ia tersenyum. “Di dekat kampus saya dulu, ada sebuah toko buku yang tidak hanya menjual buku tapi juga menyewakan bukunya pada mahasiswa seperti saya. Banyak buku-buku bagus di sana dengan berbagai trend dari banyak penulis terkenal.” Ia menjelaskan namun tangannya tetap asyik memilihkan stelan baju untuk Kean.
“Semakin banyak buku yang saya baca, saya semakin sadar kalau model fashion itu kadang dia kembali ke era sebelumnya. Yang berbeda hanya cara mempopulerkan dan iconnya saja. Sehingga saya lebih suka melihat segala sesuatu dari buku atau majalah. Karena lebih detail juga.” Terangnya dengan tenang.
“Tapi kamu akan tertinggal kalau hanya mengandalkan melihat dari buku dan majalah lama saja. Tren itu berubah dengan sangat cepat.” Kean mulai tertarik dengan isi pikiran Disa.
“Benar tuan. Untuk itu saya perlu terus belajar. Bagi saya, mengikuti tren itu penting tapi tidak lebih penting dari rasa nyaman saat mengenakan pakaian yang kita pilih.” Satu stel baju sudah selesai ia siapkan lengkap dengan belt, jam tangan dan sepatunya.
Kean hanya terpaku mendengar jawaban Disa. Harus ia akui kalau jawabannya sangat masuk akal. Dari banyaknya baju yang disiapkan Disa selama ini, selain ia merasa cocok memakainya, ia pun memang merasa nyaman. Sepertinya itu menjadi prinsip Disa dalam memilihkan pakaiannya.
“Ada lagi yang bisa saya bantu tuan?” tanyanya membuyarkan lamunan Kean.
Kean menggeleng namun tatapannya masih tertuju pada Disa, seolah masih tengah menscan apa yang ada dipikiran wanita muda di hadapannya.
“Kalau begitu, saya permisi tuan. Selamat malam.” Pamitnya.
“Hem.” Hanya itu jawaban Kean.
Disa berlalu pergi sementara Kean masih memandangi punggungnya yang perlahan semakin menjauh.
“Disa,” tahannya, saat Disa nyaris melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
“Ya saya.” lagi, kata itu yang ia ucapkan.
Menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada daun pintu. “Jangan terlalu berusaha keras mendekatkan saya dengan keluarga saya. Saya punya cara sendiri menghadapi mereka. Dan jangan terlalu jauh masuk ke dalam lorong yang gelap, karena mungkin kamu akan terjebak tanpa bisa keluar dengan selamat dari sana.” Tuturnya yang entah sebagai bentuk peringatan atau ancaman.
Disa tersenyum simpul, “Tentu tuan. Saya hanya akan berjalan pada jalan pilihan saya yang saya tahu kapan waktu yang tepat untuk saya kembali dan berbalik. Selamat malam tuan.” Lagi ia mengangguk sebelum berbalik dan benar-benar berlalu dari hadapan Kean tanpa pernah menoleh lagi.
Kean menghela nafasnya dalam. Ia mengguyar rambutnya lantas menekan pangkal hidungnya yang terasa pening.
“Tanpa kamu sadari, kamu sudah berjalan terlalu dalam ke lorong gelap itu disa. Kalaupun kamu tau kapan kamu harus berhenti dan berbalik, mungkin kamu tidak akan tega meninggalkan siapa yang berada di dalam sana.” Gumamnya dengan penuh kekhawatiran.
Ia beralih ke balkon ruangannya. Dari atas sana ia melihat Disa dan Shafira yang berjalan bergandengan tangan. Samar-samar ia masih mendengar suara keduanya.
“Mba disa tadi lama banget. Jadi gak liat kan kalo abang makan banyak masakanku?” tutur gadis itu dengan bangga.
“Syukurlah kalau tuan muda suka. Pak rahmat juga tadi suka banget sama masakan non fira. Enak katanya.”
“Wah, beneran?”
“Iyaaa…”
“Apa nanti aku jadi koki aja, jangan jadi penyanyi?”
“Jadilah seseorang yang memang non fira inginkan. Bukan karena terpaksa atau karena terjebak.”
“Iya bener mba disa, mba disa emang the best.”
Keduanya tertawa lirih membuat Kean tanpa sadar ikut tersenyum. Ternyata, seperti itu kedekatan keduanya.
Benar bukan, Disa sudah terlalu jauh masuk ke dalam lorong yang gelap?
*****