Marry The Heir

Marry The Heir
Mengurus dan menjaga tuan muda



“Silakan tuan.” Ujar Disa saat sudah tiba di kamar Kean membawa menu sarapan nasi goreng.


Kean sudah duduk di sofa kamarnya, menghadap ke jendela samping lemari mainan kesayangannya. Ia mendekatkan piringnya dan mengambil sendok dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih sangat kaku dan terpasang perban.


Satu suapan sangat sulit saat menggunakan tangan kiri. Disa memberanikan diri mendekat dan duduk bersimpuh di hadapan Kean.


“Mau saya bantu suapi tuan?” tawarnya.


Kean menaruh kembali sendoknya dengan kesal. Mendorong sedikit piringnya pada Disa dan sepertinya ia tidak keberatan untuk disuapi.


“Duduklah di atas.” Ujarnya melirik tempat di sampingnya.


“Baik tuan.” Berpindah duduk ke samping Kean dengan jarak yang sangat dekat.


Ia mengambil piring beserta sendoknya. Mengumpulkan satu suapan dan mengarahkannya ke mulut Kean.


“Aaa,…” ujarnya yang ikut membuka mulut.


Kean membuka mulutnya dan mengunyah nasi goreng yang sudah cukup lama tidak ia nikmati. Belakangan ini ia memang lebih sering sarapan dengan roti isi namun karena waktu Disa tidak banyak, akhirnya menu sarapan pagi ini adalah nasi goreng.


Saat di perjalanan pulang, Kean di tawari untuk beli bubur tapi katanya, “Kamu pikir saya sakit tifus?!”


Hah, memang iya sih, tidak semua penyakit harus diberikan makanan lunak dan lembek.


Satu suapan demi satu suapan masuk ke mulut Kean dan ia tampak menikmatinya. Sesekali mereka bersitatap dan Kean melihat wajah Disa yang masih sedikit sembab. Disa lebih sering memalingkan wajahnya saat mereka bertatapan, seperti menghindar saat melihat netra pekat milik Kean.


“Kamu masih merasa takut?” tanya Kean memecah keheningan di antara meraka.


“Ti-tidak tuan.” Sahut Disa dengan cepat namun tetap tidak berani menatap Kean.


“Dalam pikiran kamu saya terlihat sangat lemah bukan, makanya kamu kecewa?” Kean menahan tangan Disa yang mengarahkan sendok ke mulutnya.


Disa memandangi tangannya yang di genggam Kean. Seperti ada desiran halus yang perlahan menuju ke pusat jantungnya.


“Tidak tuan, saya tidak merasa seperti itu.” Disa berusaha melepaskan tangan Kean dari pergelangan tangannya.


“Lalu kamu membenci saya karena saya selalu merepotkanmu?” cengkraman Kean malah makin kuat.


“Ti-tidak tuan.” Disa tertunduk lesu. Ia berusaha menyembunyikan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca.


Entah mengapa sejak kejadian tadi pagi ia begitu ketakutan dan sensitiv. Rasa bersalah lah yang memenuhi perasaannya. Andai saja Kean tidak ikut ke pasar dan andai saja Kean tidak berusaha menolongnya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


“Lalu kenapa kamu selalu memalingkan wajah kamu dari saya?” bertanya dengan sedikit berbisik namun terdengar penuh penekanan.


Rasanya bulu kuduk Disa meremang tanpa diminta. Kean melepaskan genggamannya, sepertinya ia membuat Disa ketakutan.


“Karena,” mengangkat wajahnya dan menatap Kean dengan mata yang sudah basah. Mengulum bibirnya dengan tangis tertahan.


“Kenapa?” lagi Kean bertanya.


“Karena, saya merasa bersalah.” Lirih Disa yang kemudian tertunduk.


Ia mengusap air matanya yang perlahan menetes, dengan kasar. Jemarinya memilin renda apronnya hingga terlinting.


Kean tersenyum samar, ternyata Wanita di hadapannya mencemaskannya.


“Harusnya tuan tidak ikut.” Lagi ia bersuara dengan parau. Kembali mengangkat wajahnya yang basah dengan air mata. Entah mengapa sangat lucu melihat wanita di hadapannya yang berusaha menahan tangis tapi air matanya tetap menetes.


“Kalau terjadi sesuatu yang buruk, saya tidak tau apa yang harus saya katakan pada bu kinar, tuan besar dan nyonya besar.” Disa menggenapkan kalimatnya.


Wajah Kean berubah dengan cepat setelah mendengar kalimat Disa secara utuh.


Bahunya melorot, ternyata apa yang ada dipikirannya tidak seperti apa yang Disa pikirkan.


“Jadi kamu hanya takut dengan kemarahan bu Kinar dan orang tua saya?” Kean mencoba memperjelas kalimat Disa.


Disa mengangguk yakin. Ia kembali mengusap air matanya dengan punggung tangan.


Terdengar helaan nafas kasar berhembus dari mulut Kean. Seperti ada sebuah kekecewaan alih-alih itu sebuah kelegaan. Ya, ia kecewa karena yang di cemaskan Disa bukan dirinya.


“Pergilah, saya sudah selesai makan.” Titahnya kemudian.


Ia beranjak dari tempat duduknya dan Disa masih terpaku di tempatnya dengan wajah bingung.


Kean hendak melepas kaosnya tapi sepertinya sangat susah, hingga akhirnya ia menariknya dengan kasar hingga robek.


“Tuan, apa yang anda lakukan?” Disa segera mendekat namun Kean malah mengibaskan tangannya dan melempar kaosnya sembarang.


“Tuan, apa akan mandi, saya bantu.”


“Saya bisa melakukannya sendiri.” Tolak Kean tanpa menoleh pada Disa.


Disa tidak berhenti begitu saja, ia kembali mengikuti langkah Kean yang berjalan menuju kamar mandinya.


“Tapi tuan, kata dokter,”


“SAYA BISA SENDIRI!!!” gertaknya dengan mata menyalak.


Disa tersentak di tempatnya. Jantungnya nyaris saja copot karena Kean tiba-tiba membentaknya padahal ia hanya menawarkan bantuan. Bibirnya mengatup rapat dan matanya kembali berkaca-kaca. Selemah itu ia sekarang.


Kean yang baru sadar dengan apa yang dilakukannya, sedikit melirik Disa yang mematung di tempatnya.


“SHIT!” dengusnya seraya meninju pintu kamar mandi.


Entah apa alasannya hingga ia begitu kesal dan merasa kecewa.


Menghela nafasnya dalam seraya mengguyar rambutnya dengan kasar, lantas ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar mandi. Ia kembali memandangi Disa yang menunduk terpaku di tempatnya. Sepertinya gadis di hadapannya kembali harus berusaha menahan air matanya yang sebenarnya sangat payah saat ia melakukannya.


“Jangan berlebihan, ini bukan kesalahanmu.” Suara Kean terdengar lebih rendah. Ia mencoba menetralisir keadaan yang membuatnya gerah.


“Tidak tuan, ini kesalahan saya.” Aku Disa yang tetap menunduk dengan beribu sesal.


“Berhenti menangis! Siapkan airnya.” Akhirnya Kean kembali berkata tegas.


“Ba-baik tuan!” Disa segera menyusut air matanya dengan lengan kanannya. Ia melewati Kean masuk ke kamar mandi dan segera menyiapkan air mandi.


“Saya tidak suka mandi di bathtub.” Ujarnya saat melihat Disa mengisi bathtub dengan air.


“Hah?” ia menoleh dengan wajah bingung.


Setiap hari ia menyiapkan air hangat di bathtub, itu berarti air yang ia siapkan tidak pernah terpakai. Pantas saja airnya selalu penuh dan lantai kamar mandi selalu basah, mungkin karena Kean menggunakan langsung air hangat dari shower.


Lalu mengapa ia tidak pernah protes sebelumnya?


“Cukup seka saya.”


Suara Kean menyadarkan keterpakuan Disa. Ia berjalan masuk ke kamar mandi lalu duduk menyamping di dudukan toilet.


“Baik tuan.”


Tidak ada gunanya protes atau bertanya. Disa mengambil sebuah handuk kecil yang kemudian ia basahi dengan air hangat. Berdiri di belakang Kean lalu mengusapkan handuk ke punggung Kean dengan hati-hati, menghindari luka yang masih tertutup perban.


Di punggung Kean juga ada beberapa bekas luka yang mirip luka bakar. Mungkin ini luka yang ia dapatkan saat kebakaran di rumah kakeknya dulu.


Di hadapan Kean ada kaca yang mengelilingi kamar mandinya. Samar-samar ia melihat bayangan Disa yang berdiri di belakangnya dan mengusap punggungnya dengan lembut. Sedikit rasa bersalah karena tadi tiba-tiba ia membentaknya. Matanya masih tampak sembab dan hidungnya merah.


“Depannya tuan?”


Kean segera memalingkan wajahnya saat kedua mata Disa menatapnya dari pantulan kaca kamar mandi. Ia memutar tubuhnya menghadap Disa dan membiarkan Disa melanjutkan pekerjaannya.


Terlihat tangan Disa yang sedikit gemetaran, entah karena tangannya yang masih sakit atau merasa gugup saat melihat Kean yang bertelanjang dada di hadapannya.


“Sisanya saya lakukan sendiri. Ambilkan saya baju ganti.” Mengambil handuk dari tangan Disa. Untuk beberapa saat tangan keduanya sempat bersentuhan namun segera Disa melepaskan handuk yang dipegangnya.


“Baik tuan.” Ujarnya seraya berlari kecil keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit memerah.


“Dasar bocah.” Gumam Kean yang melanjutkan untuk membersihkan tubuhnya.


*****


Disa masih dengan kesibukannya di dapur. Mencuci piring bekas makan siang, mencuci baju dan tentu saja menyertrika. Walau di rumah ini hanya ada Kean, ternyata banyak juga baju yang harus ia cuci ketika ia menumpuknya dan mencucinya seminggu dua kali.


Sebenarnya ini bukan jadwalnya mencuci, hanya saja ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak terus teringat kejadian pagi ini.


Tadi, saat makan siang bersama mereka lebih banyak terdiam. Suasana santai sebelumnya kembali berganti menjadi canggung. Kean seperti memasang kembali tebing pemisah antara ia dengan Disa.


Ada hal yang berbeda dari Kean, hari ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, bukan di ruang kerja atau diruang keluarga untuk bermain PS. Katanya beberapa hari ini ia harus istirahat di rumah dan melupakan sejenak pekerjaannya. Ia pun tidak banyak berteriak memanggil Disa apalagi meminta untuk dibuatkan cemilan.


Kalau dipikir-pikir, perubahan sikap Kean terjadi setelah kejadian pagi tadi di kamarnya. Saat Kean membentaknya dan Disa refleks menetes air matanya. Ia memang gadis yang sangat mudah menangis entah itu karena sedih, marah, kesal sekalipun bahagia. Matanya seolah terkoneksi kuat dengan hatinya.


Dan sekarang ia kesepian sendirian di rumah ini. Pekerjaannya berangsur selesai dan ia bingung harus apa lagi yang ia kerjakan sebelum pulang ke rumah utama. Lebih dari itu, ia mulai merasa cemas kalau terjadi sesuatu dengan Kean yang terus berdiam diri di kamarnya.


Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke kamar Kean. Menapaki satu per satu anak tangga dengan langkah pelan agar tidak membuat kegaduhan. Tiba di depan kamar Kean pun ia hanya terpaku. Memandangi pintu kamar yang tertutup rapat tanpa terdengar sedikitpun suara dari dalam sana.


Sedikit menempelkan telinganya ke daun pintu, mencoba mencuri dengar apa yang sedang dilakukan Kean di dalam sana. Satu detik, dua detik rasanya jantung Disa berdebar sangat kencang dengan nafas tertahan agar tidak di dengar Kean. Padahal mana mungkin suara nafasnya bisa menembus daun pintu yang tebal.


Namun beberapa menit berlalu, semuanya tetap sunyi. Tidak terdengar suara sedikit pun.


“Apa mungkin tuan muda tidur?” batin Disa yang mundur, sedikit menjauh dari pintu.


Semuanya benar-benar sunyi, hanya suara detikan jam yang terdengar jelas di telinganya.


“Tring!” sebuah suara mengejutkan Disa.


“Astaga!!!” Disa segera merogoh ponselnya dari dalam saku tapi deringannya tidak juga berhenti. Karena panik rasanya begitu sulit mengambil ponsel dari dalam sakunya.


Khawatir suaranya di dengar Kean, ia segera berlari menuruni anak tangga dan masuk ke dalam toilet.


“Hah hah..” nafasnya masih terengah saat ia sudah berada di dalam toilet dan menyandarkan tubuhnya ke pintu seraya berusaha mengatur nafasnya.


Kembali melihat layar ponselnya yang masih menyala dan nama Kinar yang muncul disana. Dengan cepat Disa menjawabnya.


“Selamat sore bu?” sapa Disa.


“Sore disa. Kamu masih di rumah tuan muda?” tanyanya dari sebrang sana.


Sepertinya tidak cukup dengan mengirimi pesan menanyakan kondisi Kean hingga akhirnya ia menelpon.


“Iya bu, saya masih di rumah tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?”


“Em begini disa, kondisi tuan muda saat ini sepertinya kurang baik. Kamu tinggal lah di sana beberapa hari untuk mengurus dan menjaga tuan muda. Nina akan mengirimkan baju-baju kamu sore ini dan kabari kalau terjadi sesuatu di sana.” Terang Kinar yang lebih terdengar seperti sebuah perintah yang tidak bisa di bantah.


“Lalu bu, untuk cucian, saya,”


“Kamu tidak perlu memikirkan cucian di sini. Ada yang akan mem-back up pekerjaan kamu disini. Cukup jaga tuan muda di sana dan pastikan ia baik-baik saja.” Titahnya lagi tanpa bisa di bantah.


Disa menghela nafas dalam, sepertinya tugasnya akan lebih berat. Pekerjaannya memang terdengar mudah, hanya memastikan tuan mudanya baik-baik saja. Tapi pada prakteknya, sepertinya tidak semudah itu.


“Baik bu.” Patuh, ya Disa hanya bisa patuh.


Panggilan pun terputus dan Disa harus mulai bekerja. Bahunya yang semula tegak kali ini terlihat melorot. Menjaga tuan mudanya tidak semudah menjaga seorang bayi. Tidak cukup dengan menyiapkan apa yang diminta Kean, ia pun harus menebak apa keinginan tuan mudanya. Perubahan mood yang cepat terkadang membuat Disa harus berfikir keras dan kebiasaanya yang overthinking membuatnya merasa lelah sendiri. Mengira-ngira dan menebak-nebak tanpa bisa bertanya.


Apa boleh di kata, ini tugasnya kali ini dan ia harus melakukan pekerjaannya dengan baik seperti biasanya. Berdo'a saja semoga semuanya baik-baik saja.


*****