Marry The Heir

Marry The Heir
Mini dress warna peach



Hari ini sepertinya menjadi hari keberuntungan bagi Disa. Baru hari ini ia tidak perlu bolak balik antara rumah utama dengan rumah tuan mudanya, yang jujur saja seperti mengurangi sebagian kesulitannya mengatur taktik dan tenaga mengurus pekerjaan.


Wajah Disa terlihat lebih cerah, ia mengayuh sepedanya dengan santai dan menikmati perjalanan yang ia lalui. Baru ingat ini hari minggu sehingga orang-orang berpakaian olah raga terlihat di jalanan. Sesekali Disa pun melihat segerombolan orang yang juga memakai sepeda untuk menikmati moment olah raganya.


Yang berbeda adalah mereka lebih seperti biker profesional. Dengan helm, pakaian khusus bersepeda, kaca mata sepeda dan tentu saja lengkap dengan deker di sikut dan lutut serta harga sepeda yang sudah pasti fantastis.


Berolah raga dengan keren, itu yang muncul di pikiran Disa. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang menggunakan baju pelayan di dalam jaketnya serta sneaker yang membungkus kakinya. Namun lebih dari itu, mereka lebih safety dari Disa.


Di lampu merah mereka sama-sama berhenti. Salah satu pengendara sepeda menoleh Disa dan tersenyum. Disa membalasnya dengan anggukan.


“Olah raga juga de?” tanya seorang pengendara sepeda yang ternyata bersuara wanita.


“Iya kak, sekalian pulang kerja.” timpal Disa yang membuat wanita itu membulatkan mulutnya tanpa suara.


“Yuk gabung!” ajaknya saat lampu kuning berubah hijau dan mereka sudah harus jalan.


“Makasih kak.” Disa mengekor di belakang wanita tersebut.


Sangat beruntung Disa bertemu dengan pengendara sepeda lain karena ia tidak harus melipir memilih jalanan kecil untuk menghindari kendaraan lain yang lebih besar dan bermesin. Disa bisa melihat kaki-kaki kokoh berkeringat dan jenjang itu menikmati setiap kayuhan yang mereka lakukan.


Kalau saja tidak harus lanjut bekerja, mungkin menyenangkan bisa bergabung dengan mereka.


Disa baru tahu, ternyata di pagi hari seperti ini, kendaraan bermotor juga jarang melewati jalur ini. Entah karena kebetulan ada car free day saat libur atau karena alasan lain.


Di sebuah taman, kelompok pengendara sepeda itu berbelok dan berhenti. Disa tetap melanjutkan laju sepedanya dan sekali lalu membunyikan bell sepedanya yang di sahuti lambaian tangan oleh wanita yang tadi di temuinya.


Bibir tipis itu melengkungkan senyum, pengalaman singkat yang menyenangkan telah ia lewati.


Dalam perjalanan, Disa melihat para pedagang yang menjajakan barang dagangannya. Disa menghentikan laju sepedanya di depan penjual dengan gerobak bertuliskan bakso tusuk.


Sudah sangat lama Disa tidak menikmati makanan ini dan air liurnya berkumpul begitu saja membayangkan rasa bakso yang terbuat dari tepung kanji itu ia nikmati di dalam mulutnya.


Disa membeli beberapa, di tambah sause dan sambal. Tidak lupa ia meminta tusukan bambu kecil untuk menusuk bakso tersebut agar bisa ia nikmati.


Melanjukan kembali sepeda seraya menikmati kunyahan bakso di mulutnya menjadi moodboster tersendiri bagi Disa. Teringat saat SMP dulu ia sangat suka jajanan seperti ini bersama Damar. Sudah beberapa tahun lalu, namun rasa bakso tusuk itu masih cukup bisa Disa ingat.


Berbelok pada sebuah cluster perumahan mewah, yang berarti sebentar lagi Disa akan tiba di rumah tuan besarnya. Dengan cepat ia menghabiskan bakso yang ada di mulutnya. Sisanya ia biarkan saja dalam kerajang sepedanya.


Pintu gerbang di buka dan Disa mulai masuk ke pelataran belakang rumah mewah tersebut. Terlihat beberapa pelayan yang sedang merapikan taman, mengurus bunga milik Nyonya Liana dan ada juga yang membersihkan kolam.


Disa masuk ke dapur utama, terlihat teman-temannya yang sedang berkumpul di meja dapur. Wajahnya terlihat lesu tidak seperti biasanya.


“Hay! Ada yang mau bakso tusuk?” tawar Disa dengan riang.


Mereka hanya menoleh lalu kembali memandangi baki berisi makanan yang ada di tengah-tengah mereka.


“Kenapa?” Menghampiri teman-temannya dengan rasa penasaran.


Nina yang tadi cuek, mengambil plastik bakso tusuk di tangan Disa lalu memakannya. Ia mengunyahnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Disa.


“Tadi habis perang lagi. Nona muda gag mau makan. Dari semalam dia gag makan dan sekarang gag mau buka pintu.” terang Nina dengan wajah bingungnya.


“Perang lagi?” Disa mengutip sepenggal kalimat temannya.


Tina, Nina dan Wita hanya mengangguk lemah.


“Tadi tuan besar bilang, nona muda di skorsing karena ada pemberitahuan dari kepolisian ke pihak sekolah tentang kejadian kemaren.” Tina melanjutkan.


“Kepolisian?” lagi Disa bertanya.


“Makanya kalo nguping sampe selese. Jadi gag kepotong gosipnya.” Wita menimpali dengan kesal.


Menggaruk kepalanya walau tidak gatal, Disa pun tersenyum samar. Setelah pergi ke kamarnya, ia memang masih sayup-sayup mendengar pertengkaran tuan besar dengan istri dan anaknya namun apa pangkal masalahnya, ia tidak tahu. Lebih tepatnya tidak perlu tahu.


“Terus ini sarapan nona muda?” Disa ikut memandangi makanan yang sepertinya mulai dingin.


Tina mengangguk lesu. “Belum ada yang berhasil bujuk nona muda untuk makan. Bu kinar juga di tolak mentah-mentah.” terangnya.


“Disa kan belum nyoba, kenapa gag kita suruh dia aja?” ide itu muncul dari Wita.


“Kalian aja di tolak, apalagi aku.” nyali Disa menciut lebih dulu.


“Ya kamu kan belum nyoba. Siapa tau berhasil.” lagi Wita menimpali. Ia tidak ingin hanya ia dan beberapa pelayan saja yang terkena omelan Liana karena gagal membujuk putrinya untuk keluar dan makan.


Disa tampak sedikit berfikir. Ia beranjak menuju ruang linen dan melihat keranjang cucian  baju yang belum selesai ia setrika.


“Aku nyertrika baju dulu, nanti aku cobain bujuk nona muda.” mulai menyambungkan kabel setrikaan dengan sumber listrik.


“Keburu mati lemas sa.” keluh Wita.


“Hush! Kamu kalo ngomong.” Tina yang lebih kesal.


Dengan cepat Wita membungkam mulutnya khawatir di dengar Kinar.


Disa tetap dengan pilihannya menyertrika beberapa potong baju hingga rapi lantas ia masukkan ke keranjang dan memuatnya pada troli. “Aku ke kamar nona muda dulu.” ujarnya seraya menggenggam tuas troli.


“Mau ngapain sa? Kamu di suruh ngasih makan, bukan beresin baju nona muda.” protes Wita dengan geram.


Disa tidak menyahuti, ia hanya tersenyum dan berjalan dengan yakin mendorong troli menuju kamar Shafira.


Mendorong troli menuju kamar Shafira dengan perlahan dan otaknya masih berputar memikirkan idenya. Apa kalimat awal yang harus ia katakan agar nona mudanya mau membuka pintu dan mengizinkannya masuk. Itu dulu yang lebih penting, setidaknya di dalam sana ia bisa memastikan kalau Shafira baik-baik saja.


Tiba di depan kamar Shafira, Disa menghela nafasnya dalam sebelum memberanikan mengetuk pintu kamar nona mudanya. Ia harus menyiapkan mental dan alasan agar Shafira membuka pintu kamarnya.


“Tok tok tok.” tiga ketukan Disa lakukan, disusul dengan suaranya yang ia buat lembut.


“Permisi nona muda, saya disa pelayan linen. Boleh saya masuk, saya mau merapikan baju yang sudah selesai saya setrika.” ujar Disa.


Tidak terdengar jawaban dari dalam kamar. Satu menit, dua menit, tiga menit, Disa masih mematung di tempatnya. Hanya bisa memandangi pintu yang menjadi batas ia dengan nona mudanya.


Disa tahu benar, mini dress berwarna peach ini adalah baju favorit Shafira sebagai hadiah dari gurunya saat ia memenangkan kompetisi paduan suara. Itu yang ia dengar dari sang empunya.


Disa ingat betul rasa bangga Shafira saat menunjukkan baju itu pada Disa, beberapa hari lalu.


Tapi sayangnya sepertinya ia tidak berhasil. Cara Disa untuk membuat nona mudanya membukakan pintu, gagal total. Lantas ia berbalik untuk kembali mendorong troli di hadapannya.


“Ceklek.” suara kunci terbuka di pintu kamar Shafira dan membuat Disa menghentikan langkahnya.


Disa tersenyum simpul, ia yakin sebentar lagi nona mudanya akan membuka pintu. 1, 2, 3,..


“Hey! Masuklah!”


“Binggo!” suara Shafira yang di dengar Disa.


Disa segera berbalik dan memberikan senyum termanis serta anggukan sopan pada nona mudanya. Ia berpura-pura tidak tahu apa-apa, karena mungkin ini cara yang paling tepat agar Shafira tidak merasa dihakimi oleh pikiran orang-orang yang berada di dalam rumahnya.


“Terima kasih nona.” mengambil keranjang dan membiarkan troli di tempatnya.


Shafira berjalan lebih dulu dan duduk di sofa samping tempat tidurnya.


“Tutup lagi pintunya.” titahnya kemudian.


“Baik nona.” Disa segera menutup pintu.


Tak lama, ia beranjak menuju lemari 3 pintu milik nona mudanya. Di lemari ini, Shafira menyimpan baju-baju kesayangannya. Sementara aksesoris dan baju yang jarang di pakai, di tempatkan di walk ini closet, samping kamar mandi di kamarnya.


“Boleh saya menyalakan lampunya nona? Supaya tidak salah meletakkan bajunya.” izin Disa.


“Hem,.” hanya itu jawaban Shafira.


Ia masih termenung di tempatnya dengan pikiran yang tidak bisa di tebak.


Ruang kamar yang gelap dan hanya di terangi lampu kamar, seolah menggambarkan dengan jelas perasaan Shafira saat ini. Wajah cantiknya pun terlihat lelah, mungkin semalam ia tidak tidur dan hanya duduk di sana.


Disa merasa iba sendiri. Walau ia tidak paham benar seperti apa perasaan Shafira namun satu hal yang pasti, ia tengah sangat sedih.


Selesai dengan urusan menata pakaian, Disa kembali menutup pintu lemari dengan hati-hati.


Untuk beberapa saat ini memandangi Shafira yang lesu. Tidak terlihat lagi kemarahan di wajahnya, namun entah di hatinya. Mungkin ia sudah berada pada fase menyadari kemarahannya tidak bisa mengubah apapun sehingga ia memilih untuk diam.


Ya, terkadang karena kita tidak tahu seperti apa kemarahan itu harus kita kendalikan, lalu kita merasa lelah dan pada akhirnya hanya bisa menerima kemarahan itu dan kembali menelannya. Sangat menyakitkan tapi lebih baik menyimpannya dalam diam. Itu yang pernah Disa rasakan sebelumnya.


“Nona, udara di luar sangat segar, boleh saya membuka gorden dan jendelanya?” bujuk Disa dengan hati-hati.


Berdo’a saja semoga tebakan Disa tentang perasaan nona mudanya benar, agar ia tidak salah mengambil sikap.


“Hem.” lagi jawaban singkat namun menyenangkan yang Disa dengar.


Dengan segera Disa menghampiri jendela. Menyingkap tirainya lalu membuka satu per satu jendela kamar berukuran besar. Udara dingin dan segar seperti meniup wajahnya yang tegang.


“Hey, kamu pernah bertengkar dengan orang tuamu?” suara Shafira kembali terdengar.


Disa segera menoleh, menunjukkan senyumnya kemudian menggeleng.


“Hah, sudah kuduga. Kamu masih bisa menemuiku dengan tersenyum dan berbicara dengan ringan. Tentu dalam hati  kamu sedang menertawakan keluarga ini kan?” cetusnya dengan sinis. Raut kecewa kembali terlihat jelas.


“Tidak nona.” sahut Disa dengan cepat. Shafira kembali menoleh walau malas. “Saya tidak pernah bertengkar dengan orang tua saya, bukan karena kami hidup rukun.” Disa menghela nafas untuk menjeda kalimatnya.


Terlihat Shafira yang mulai fokus memandangnya dari tempatnya. Sepertinya ia penasaran.


“Kami tidak pernah bertengkar karena sudah sangat lama mereka tidak ada di sisi saya.” Disa melanjutkan kalimatnya dengan senyum samar namun suaranya terdengar parau.


Shafira tampak cukup terkejut mendengar pengakuan Disa.


“Mungkin, sesekali saya akan lebih memilih berselisih dengan mereka dan kami berdebat saling melontarkan keinginan kami. Mungkin kami bisa terlibat dalam masalah yang pelik, bertahan dengan ego dan pikiran masing-masing. Merasa marah dan kecewa karena keinginan kami tidak sejalan.”


“ Tapi paling tidak, mereka masih ada di samping saya. Bisa saya peluk saat saya rindukan. Bisa saya genggam tangannya saat saya merasa rapuh. Kami bisa saling berbicara, mengetahui keinginan satu sama lain. Bisa melihat wajah senang, sedih dan kecewa mereka. Lebih dari itu, saya ingin melihat mereka bangga saat melihat begitu kuatnya saya melakukan apa pun untuk mencapai apa yang saya inginkan. Sayangnya, saya tidak seberuntung itu.”


Terlihat raut sendu di wajah Disa. Entah mengapa begitu mudah kalimat itu meluncur dari mulutnya. Mungkin karena ia merasakannya sendiri.


“Tidak semua orang tua bisa di ajak berbicara dan tidak semua anak punya kesempatan untuk berbicara.” Shafira masih dengan kalimat sarkasnya namun raut wajahnya mulai terlihat kecewa. Mungkin ia sedang berusaha mengungkapkan perasaannya.


“Benar nona. Namun setiap orang punya kesempatan untuk mencoba. Dan saya tidak.” Suara Disa terdengar parau. Pada titik ini ia benar-benar merasakan kesendiriannya. Tanpa kawan, tanpa teman atau seseorang yang ia bisa ajak bicara layaknya anak dan orang tua.


Berganti Shafira yang menatap Disa. Terlihat Disa menyeka sedikit air matanya yang menetes tanpa di minta. Namun ia tetap berusaha tersenyum. Seperti biasa, dengan tersenyum ia akan merasa semuanya lebih mudah.


“Apa kamu baik-baik saja?” pertanyaan itu keluar dari mulut Shafira.


Seperti dugaan Disa, di balik sikapnya yang angkuh, setiap orang selalu memiliki sudut hati yang lembut.


“Ya nona, saya baik-baik saja. Terima kasih.”


Shafira tersenyum samar, lalu kembali menatap dedaunan di luar sana yang tertiup angin. Sejenak ia memejamkan matanya, merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


Mungkin Disa harus membiarkannya. Membuat Shafira melewati dan memahami perasaannya sendiri.


“Saya permisi nona.” Pamit Disa yang mengangguk takjim.


Shafira tidak menimpali, mungkin ia tengah terlarut.


*****