Marry The Heir

Marry The Heir
Sarapan Roti Crispy



Pagi yang dingin dan sepi itu, tidak sepenuhnya hening saat dari salah satu kamar terdengar suara lenguhan dua orang yang saling bersahutan. Suara serak dan tertahan itu milik Disa dan Kean yang sudah beraktivitas sepagi ini. Beberapa kali keduanya mengeram kuat saat mereka sama-sama mencapai puncak kenikmatan dari hubungan penuh gairah yang mereka lakukan.


Disa yang mencengkram sprei yang menjadi alas tidur mereka sementara Kean yang terengah menghentakkan tubuhnya pada Disa dan melenguh untuk kesekian kalinya saat puncak kenikmatan itu kembali di gapainya. Pagi yang melelahkan, membuat keduanya bermandikan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.


Kean menjatuhkan tubuhnya di samping Disa, membuka selimut yang tadi membungkus tubuhnya dan menunjukkan bagian atas tubuhnya yang berkilauan berbasuh peluh.


Disa terengah di sampingnya lantas ia peluk dengan erat dan mengecup dahinya kuat-kuat. Matanya masih terpejam menunggu luapan gairah turun seluruhnya.


"I Love you sa," ungkapan cinta itu berulang kali Kean katakan selama mereka berada dalam balutan gairah yang tidak tertahan.


"Love you too," lirih Disa. Menggenggam tangan suaminya yang melingari tubuhnya dengan erat. Seperti ungkapan cinta itu tidak kunjung habis malah semakin tumbuh subur dan mendalam di relung hati keduanya.


Satu bisikan penuh gairah di pagi hari ini, terdengar begitu menggoda membuat Disa menyerahkan seluruh tubuh dan hatinya pada sang suami dengan suka rela. Terlebih saat kecupan Kean yang menelusur seluruh tubuhnya dengan sapuan tangannya yang lembut mengusap setiap lekuk, membuat bulu kuduk Disa meremang hingga gairah itu muncul begitu saja. Tidak ada yang bisa menahan gairah yang di pancing sepagi ini termasuk Disa.


“Makasih sayang,..” suara Kean masih tersengal-sengal dengan hembusan nafas hangat yang meniup tengkuk Disa, membuatnya bergidik geli untuk kesekian kalinya. Sampai saat ini jantungnya masih berdebup kencang, seperti habis lari beberapa keliling lapangan.


Disa hanya terangguk, tenaganya habis terkuras pagi ini.


Kean melonggarkan sedikit pelukannya agar Disa bisa menghela nafasnya dalam. Menyibak helaian rambut yang menutupi wajah Disa lalu ia mengecup pipinya. Hal yang menyenangkan bagi Kean saat ia terbangun dan mendapat Disa ada di pelukannya, seperti hidupnya telah sepenuhnya sempurna.


“Sayang, hari ini kamu gak usah ke butik ya..” bisik Kean. Hidungnya masih saja mengecupi tengkuk Disa membuat wanitanya menggeliat geli. Ia suka wangi asam keringat pagi yang bercampur aroma tubuh alami Disa.


“Kenapa gitu a?” Disa membalik tubuhnya terlentang. Ternyata Kean sedang memandanginya.


“Kamu pasti capek banget, istirahat aja di rumah."


"Ikut keluar sebentar buat sarapan terus aku anterin lagi ke rumah. Tapi inget, jangan nonton drakor seharian.” Drama korea tetap jadi saingannya. Terlebih kalau mengingat hasutan Shafira tentang keromantisan oppa korea yang bisa meluluhkan hati wanita manapun.


“Tapi aku ada janji sama pelanggan yang mau ke butik. Lagian aku gak biasa diem di rumah gak ngelakuin apapun.” protes Disa.


“Kalo diem terus, badan aku malah kerasa pegelnya.” Imbuhnya.


Kean jadi memandangi wajah istrinya yang sedikit pucat karena kelelahan. Ia memang menyatukan tubuhnya dengan Disa beberapa kali, seperti gairahnya tidak juga habis. Sangat wajar kalau istrinya kelelahan.


“Ya udah, kamu gak usah beresin rumah dan hal berat lainnya. Gak usah masak juga, nanti kita makan di luar aja.” Ia meraih tubuh Disa mendekat dan kembali memeluknya. Di sandarkannya tubuh Disa pada dadanya yang bidang dan seksi di hiasi tonjolan otot khas pria maco.


“Dan sarapan pagi ini, aku yang buat. Kamu diem aja di kamar, nanti aku bawain.”


“Hah beneran?” Mata Disa langsung membulat antusias. Tawaran seperti ini tidak bisa dilewatkan.


“Iya lah. Selain bikin roti isi yang kamu ajarin, aku juga bisa bikin roti bakar. Kamu liat aja nanti, kamu pasti suka.” Ujaran Kean begitu meyakinkan. Ia sudah melihat-lihat referensi video membuat sarapan yang terlihat mudah untuk diikuti. Ia sangat yakin ia pun bisa melakukannya.


"Nih list keromantisan oppa korea yang bisa bikin teteh melting, abang mesti coba." pesan itu di kirimkan Shafira semalam.


Banyak sekali hal romantis yang menjadi peer bagi Kean.


"1. Morning kiss. 2. Peluk dari belakang. 3. Bikinin sarapan, (lihat lebih lengkap.)" dan masih banyak lagi imajinasi para wanita yang dikirim Shafira padanya. Jujur, ini bukan keahlian ia sama sekali. Tapi mungkin bisa ia coba.


"Apa-apaan anak ini? Baru 18 tahun tapi otaknya isi beginian semua." gerutu Kean semalam. Tapi kemudian ia berpikir, benarkah Disa pun menyukainya?


Sementara Disa jadi tercenung membayangkan bagaimana Kean memasak untuknya.


“Kenapa? Gak percaya?” Di pandanginya wajah Disa dari pantulan cermin.


Tangannya yang kekar melingkari tubuh polos Disa di balik selimut dan mengeratkan pelukannya membuat Disa sedikit tersentak, tersadar dari lamunannya.


“Hehehe.. Iya percaya.."


"Tapi masa sih aku diem-diem aja. Gabut banget nantinya.”


“Liat kamu pucet banget. Udah seharusnya giliran aku yang melayani kamu.” Bisiknya.


Disa memandangi wajahnya sendiri dari pantulan kaca. Rambutnya yang masih berantakan dengan wajah yang memang terlihat pucat.


“Ini karena belum mandi aja a. Nanti juga kalo udah mandi keliatan seger lagi.” Disa beranjak dari tempatnya hendak mengambil ikat rambut.


“Mau kemana?” dengan segera Kean menahannya. Ia masih enggan melepaskan pelukannya.


“Aku mau ngambil iket rambut a. Liat rambut aku kaya singa.”


“Aku yang iketin.” Kean lebih dulu mengambilkan ikat rambut Disa lalu mengikatnya tidak terlalu kuat. Disa jadi tersenyum sendiri melihat tingakah suaminya yang manis.


“Aa hari ini pulang malem gak?” Diusapnya pipi Kean dengan lembut.


Rambut halus di sekitar wajah dan rahangnya yang kokoh teraba kasar dan menggelikan di waktu yang bersamaan.


“Nggak. Aku ada acara penting di luar. Kamu ikut ya.” ia menempatkan kepalanya di bahu Disa dan menggeleng-gelengkannya membuat Disa menggeliat geli.


“Mau kemana a? Acara apa?” Disa berbalik menatap suaminya.


“Nanti juga kamu akan tau. Pakai baju yang nyaman aja, semi formal kok.” Dikecupnya punggung Disa beberapa kali.


“Nanti kita bakalan ketemu siapa?” Disa jadi panik sendiri. Ia belum pernah menemani Kean ke acara penting setelah ia menjadi istri tuan muda ini. Ia harus memikirkan seperti apa penampilannya nanti.


“Nggak banyak orang kok. Dan kamu tokoh utamanya.” Satu kecupan terakhir di berikan Kean sebelum ia beranjak, seperti menghindari pertanyaan Disa berikutnya.


“Kenapa sayang, masih mau?” Kean tersenyum genit membuat Disa tersipu.


“Ish bukan. Kita belum selesai ngobrol. Nanti aku pake baju apa?”


“Pake baju apapun kamu cantik. Kenapa harus sepanik ini sih?” Kean menjawil pipi Disa dengan gemas.


“Aa, jangan gitu. Nanti kalo aku malu-maluin gimana? Paling nggak kasih tau clue acaranya, biar aku siap-siap.” Wajahnya jadi merengut karena Kean sulit sekali memberi tahu acara apa yang akan mereka hadiri.


“Ya udah, nanti siang aku ke butik. Kita makan siang dan nyari sesuatu yang cocok untuk kamu pake. Hem?” Di tangkupnya wajah Disa lantas ia tatap dengan laman.


“Ya udah.” Lirihnya menurut.


“Gadis pinter.”


“Sekarang aku mau mandi dulu, lengket banget badanku.”


“Oh ya udah, aku siapin dulu airnya.” Disa ikut beranjak. Mencari baju tidurnya yang entah di lempar kemana oleh Kean.


“Nggak usah, kecuali kamu mau ikut mandi.” Lagi Kean tersenyum menggoda.


“Nggak!” Tolak Disa. Ia lebih memilih bersembunyi di balik selimut.


Kean hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Tidak menunggu lama sampai akhirnya ia masuk ke kamar mandi dan barulah Disa keluar selimut untuk berpakaian.


*****


Kejutan masih berlanjut, Kean benar-benar memasak untuk Disa. ia membuat roti panggang yang sebagian besar terlalu matang.


Ya, Disa menyebutnya terlalu matang karena warnanya sudah tidak golden brown lagi melainkan sedikit hitam. Melihat Kean sibuk sendiri dengan masakannya ternyata menjadi pemandangan yang manis. Ia duduk termangu di meja makan menunggu suaminya selesai membuat sarapan.


Tangan kekarnya sibuk bergerak kesana kemari. Lengan kemejanya ia gulung hingga setengah lengan lalu dasinya ia gulung dan di masukkan ke saku. Dahinya sudah kembali berkeringat karena ternyata menyiapkan sarapan tidak semudah yang Kean lihat di video.


Satu bungkus roti tawar habis setengahnya dan hanya menyisakan beberapa lembar saja yang tidak terlalu gosong. Di tengah-tengahnya Kean memberikan selai coklat dan potongan pisang juga keju yang di parut.


Meja dapur berantakan dalam sekejap, mungkin benar adanya pepatah kalau berani kotor itu baik. Tidak, berani kotor itu keren. Ya suaminya sangat keren. Lebih keren dari oppa Korea karena ini versi asli yang bisa Disa lihat secara langsung.


“Okey, selesai!” serunya.


Dengan semangat Ia membawa dua potong roti yang di potong diagonal di atas piring, lengkap dengan potongan strawberry sebagai garnis.


“Ini sayang, kita sarapan dulu.” ujar Kean. Di bawanya juga dua gelas susu putih.


“Eeemmm wanginya enak.” Disa menciumi wangi roti panggang yang membuat perutnya langsung keroncongan minta di isi.


“Iya tapi agak over cook.” Kean menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ternyata menyiapkan sarapan itu tidak mudah seperti kelihatannya, apalagi saat dilakukan oleh seseorang yang tidak terbiasa seperti Kean.


“Tapi sepertinya ini enak. Boleh aku coba?”


“Tentu, ini buat kamu.” Kean langsung mendekatkannya pada Disa.


Memperhatikan Disa yang menggigit pelan roti panggang buatannya sendiri membuat ia penasaran seperti apa rasanya. Ia membiarkan Disa makan sementara ia hanya bisa menopang dagu sambil menelan salivanya kasar-kasar. Sungguh ia penasaran untuk mencicipinya.


“Aa gak makan?” Disa baru tersadar kalau Kean hanya memandanginya.


“Rotinya habis.” Kean menunjuk roti yang gosong di atas meja dapur, dengan sudut matanya.


“Ya ampun, maaf aku malah asyik makan sendiri.” Disa segera tersadar.


“Ini aa makan satunya.” Mendekatkan piring pada suaminya.


“Tapi nanti kamu masih lapar.” Wajahnya terlihat mengkhawatirkan, antara lapar dan tidak tega pada Disa.


“Cukup kok ini.” Desak Disa. Akhirnya Kean ikut makan, menikmati sarapan buatannya sendiri. Mungkin seperti ini definisi makan sepiring berdua dengan istrinya.


“Em, agak kekeringan yaa.. Sama rotinya masih over cook.” Kean mengomentari masakannya sendiri. Ternyata sampai roti terakhir, masih saja agak gosong.


“Lagi ngetrend kok a, roti yang agak crispy gitu.” Disa berusaha menghibur suaminya.


“Tapi bikinanku bukan crispy, ini sih gosong.” Kesal dengan sarapan buatannya sendiri.


“Ya gak apa-apa. Ini lumayan banget buat pemula. Walaupun tidak sempurna di lidah tapi sempurna di hati aku.”


“Siapa lagi coba yang bisa sarapan dengan roti panggang bikinan aa? Cuma aku doang pastinya.” Dengan bangga Disa melahap habis potongan roti di tangannya.


Kean tersenyum gemas melihat tingkah istrinya. Perkara makanan memang tidak hanya harus mengenyangkan dan enak di lidah tapi harus bisa di nikmati dengan sepenuh hati.


“Makasih yaa.. Lain kali aku bikinin sarapan yang lebih baik lagi.” Di usapnya sudut bibir Disa yang menyisakan noda selai coklat.


“Siap!” Disa mengacungkan jempolnya dengan semangat.


Sarapan kali ini cukup memberinya semangat untuk menjalani hari yang akan melelahkan.


****