Marry The Heir

Marry The Heir
Paginya pengantin baru



Terbangun di pagi hari yang baru saat cahaya mentari mulai masuk melalui celah gorden berwarna coklat keemasan. Disa menggeliat, merentangkan tangannya seraya tersenyum menyambut hari yang baru. Rasanya nyaman sekali saat terbangun dari tidur yang lelap dengan tubuh yang segar.


Otot-otot tubuhnya seperti mendapat kembali asupan kekuatan untuk beraktivitas seharian ini.


Masih memandangi langit-langit kamar yang asing, cat ruangan yang di dominasi warna abu-abu dan putih mulai ia kenali. Ini asing, karena ini baru pertama kali Disa terbangun di kamar yang terlalu luas dengan wangi ruangan yang segar khas parfum laki-laki.


"Astaga!!!" Disa langsung terhenyak saat kesadarannya sudah penuh dan mengenali ruangan yang ia tempati saat ini.


Melihat ke sampingnya dan sang empunya kamar sudah tidak ada di tempatnya. Tentu saja, ini sudah siang, hampir jam 7.


"Ya ampun a, maaf. Aku tidur sampe kebablasan gini."


Buru-buru Disa turun dari tempat tidur empuk yang membuat tidurnya sangat lelap hingga tidak bermimpi sedikitpun. Di pakainya sandal rumah, tapi kenapa susah sekali kalau tergesa-gesa seperti ini?


Berlari kecil ke kamar mandi, " A,.. " panggilnya pelan sambil mengetuk pintu.


Tapi sepertinya Kean tidak sedang di kamar mandi. Tidak ada suara gemericik air atau suara lain yang menandakan seseorang ada di dalam sana.


Di bukanya pintu dengan ragu dan memang kosong. Di mana sebenarnya Kean berada? Mana mungkin hari pertamanya sebagai seorang istri ia malah tidak tahu keberadaan suaminya. Memalukan kalau sampai orang tahu Kean bangun lebih dulu dari pada Disa.


Menghampiri balkon dan melewati sebuah cermin tinggi, sejenak Disa menghentikan langkahnya. Lihat muka bantalnya dan rambutnya yang berantakan, aarrrgghh bagaimana bisa ia tampil seperti ini di hadapan Kean setelah kemarin di dandani layaknya ratu. Apa Kean tidak akan merasa tertipu?


"Malu-maluin banget sih kamu sa!" Disa mendengus pada bayangannya sendiri. Sedikit merapikan rambut dan setelah merasa lebih rapi ia melanjutkan langkahnya.


Dibukanya gorden kamar, terlihat cahaya matahari yang cerah menyilaukan matanya, membuat ia menghalau cahaya yang terang dengan lengannya. Seperti jarak kamar Kean lebih dekat dengan sang surya. Mengerjapkan matanya beberapa kali dan setelah mulai beradaptasi dengan cahaya yang masuk, Disa melihat ke sekeliling taman belakang yang terlihat jelas dari balkon kamar.


Ia tersenyum tenang saat ternyata Kean sedang berolahraga. Pria itu terengah setelah melakukan skiping entah untuk ke berapa kali. Pemandangan yang indah saat ia melihat lagi postur tegap Kean yang bermandikan keringat. Saat ia minum dari tumbler-nya saja terlihat sangat seksi. Lihat jakunnya yang bergerak naik turun, hwaaaa....


Kali ini ia tidak perlu memalingkan wajahnya karena yang ia pandangi adalah sosok suaminya yang menawan.


Kean terduduk di bangku taman dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu. Sepertinya ia sudah selesai berolah raga dan melakukan sedikit cooling down untuk melemaskan atau merilekskan otot tubuh yang sebelumnya di buat tegang. Kebiasaannya masih sama, ia sangat memprioritaskan pola hidup sehat.


Asyik memandangi Kean dari kejauhan tiba-tiba saja laki-laki itu menoleh. Seperti sadar ia sedang di pandangi. Disa segera membungkuk dan bersembunyi dari pandangan Kean.


“Aduhh.. malu-maluin banget kalo aa liat aku kayak gini. Harus mandi ini mah.” Gumam Disa yang mengendap-endap masuk ke kamar dan segera menuju kamar mandi.


Terlambat, Kean sudah melihatnya dan ia hanya tersenyum saat melihat wanitanya yang kadang bertingkah konyol.


Disa langsung melepas semua kain yang menempel di tubuhnya. Guyuran kecil dari shower menyegarkan tubuhnya yang seperti kekeringan air. Sesi mandi tidak bisa ia nikmati terlalu lama karena ia harus bergegas menyiapkan semua kebutuhan Kean sebelum berangkat kerja.


Memunguti satu per satu bajunya, Disa baru sadar kalau bagian belakang bajunya terkena darah menstruasinya.


“Hah banyak banget. Jangan-jangan tembus lagi.” Ia segera mengambil underwear ganti dan pembalut dari dalam tas kecilnya. Dua benda yang wajib ada dalam tasnya selain ponsel dan dompet.


“Terus bajunya gimana?” bingung sendiri saat ia sadar kalau ia tidak membawa baju.


“Aduuhhh bodoh kamu disa. Gimana ini?” hanya bisa menggerutu saat membayangkan kalau ia harus keluar tanpa baju.


“Jangan panik, jangan panik.” Mantra itu kembali ia ucapkan sambil memilih handuk yang ada di rak kamar mandi.


Beruntung ada piyama mandi yang bisa ia pakai.


“Pake ini dulu, nanti pinjem baju nina.” Hanya gadis itu yang tubuhnya seukuran dengan Disa.


Selesai berpiyama, Disa segera merapikan penampilannya. Rambut yang ia sisir rapi dan wajah yang ditepuk-tepuk agar tidak terlihat pucat di pagi ini. Satu penyakit ini yang selalu muncul saat ia mengalami periode menstruasinya, kurang darah.


Keluar dari kamar mandi, ia langsung teringat pada sprei dan selimut. Disa langsung naik ke atas tempat tidur dan benar saja banyak noda darah di sprei Kean.


“Tuh kan!” Disa mendengus kesal.


Beruntung sprei Kean berwarna abu sehingga warna merah terang itu tidak terlalu terlihat. Ia gulung spreinya dan selimut yang kemudian ia lipat.


“Makanya, pake yang sayap sa. Pake yang sayap.” Sedikit mengomeli dirinya karena sering malas memakai pembalut berukuran besar karena membuatnya tidak nyaman. Tapi kali ini sepertinya ia harus mengabaikan ketidaknyamaman itu daripada masalah seperti ini terjadi lagi.


“Kenapa sa?”


“Astaga!” Disa langsung terlonjak saat suara Kean terdengar tidak jauh dari tempatnya.


“Aa dari kapan di situ?” memandang tidak percaya pada laki-laki yang duduk santai di sofa sambil memperhatikannya.


Karena fokus menuju tempat tidur dan melepas sprei, ia tidak memperhatikan lingkunan sekitar hingga tidak sadar kalau Kean sudah berada di sana.


“Dari sejak kamu mandi, keluar pake piyama terus ngomel sendiri.” Goda Kean yang beranjak dari tempat duduknya. Lucu juga melihat Disa yang ternyata bisa mengomel.


Ia berjalan santai menghampiri Disa membuat gadis itu melotot kaget.


“Aduuhhh..” dengusnya pelan. Malu rasanya membayangkan Kean melihat apa yang seharusnya tidak ia lihat.


Kean tersenyum simpul melihat ekspresi kaget dan malu Disa yang menurutnya sangat lucu.


“Kamu mau pake sayap apa? Mau terbang?” tanya Kean, entah benar-benar tidak mengerti atau hanya berpura-pura untuk menggodanya.


“Em itu. Maksudnya roti yang ada sayapnya.” Jelas Disa yang ragu dengan suara pelan.


“Hem?” Kean mengernyitkan dahinya tidak mengerti dan Disa semakin bingung untuk menjelaskannya.


“Em bukan apa-apa. Maksudku roti para cewek.” Langsung ia klarifikasi sebelum tambah blunder. Biasanya laki-laki lebih paham dengan istilah itu.


“A, boleh pinjem baju gak, aku lupa gak bawa baju.” Disa mengalihkan pembicaraannya. Ini pilihan lain selain meminjam baju Nina.


Berjalan menghampiri keranjang cucian lalu menaruh sprei, baju, selimut dan semuanya di sana. Bergerak kemana saja yang penting tidak terlihat salah tingkah.


“Apa-apan ini, hari pertamaku sebagai seorang istri berantakan begini.” Gerutu Disa dalam hati. Ia seorang yang well prepare sehingga saat bertemu dengan kecerobohan yang semacam ini, malah jadi kesal sendiri.


Kean hanya tersenyum melihat Disa yang salah tingkah pagi ini. Ia terduduk di tepian tempat tidur dan melirik sedikit sisa noda di permukaan kasurnya.


“Akan aku bersihkan. Pasti akan bersih seperti sebelumnya.” Disa langsung menyahuti, sebelum mendengar Kean protes dan membuatnya semakin malu.


“Tentu! Ingat, harus sangat bersih. Aku gak mau noda itu tersisa dan membuatku ingat kalau malam pertama kita, tidak menyenangkan.” Timpal Kean panjang, seperti peringatan dari seorang petugas ketertiban.


“I-Iya a.” Disa jadi tergagap. Akh dasar ceroboh! Batinnya.


“Bajunya ada di lemari, kamu ambil aja.” Kean menunjuk lemarinya dengan sudut mata.


“Makasih a.” ekspresi Disa berubah dengan cepat, terlihat begitu senang. Ia berlari kecil dan menghampiri lemari. Tubuhnya yang mungil dan bergerak ke sana kemari, mirip bola bekel menurut Kean.


“Wawww!!!” ini ekpsresi pertama yang ia tunjukkan saat melihat isi lemari yang tidak hanya di penuhi baju Kean tapi juga baju wanita. Norak sebenarnya.


Entah sejak kapan baju-baju ini ada di lemari Kean dan semuanya tampak baru.


“A, siapa yang naruh baju sebanyak ini di lemari?” mencoba satu baju dan menempelkan di tubuhnya. Ukurannya pas seperti memang sengaja di pilihkan untuk Disa.


“Bu kinar.” Sahut Kean. Ia menghampiri Disa lantas berdiri di satu sisi lemari yang tertutup.


Bersandar dengan nyaman seraya menyilangkan tangannya di dada sambil memandangi Disa. Ia suka ekspresi senang itu setelah ekspresi kesalnya hilang.


“Bu kinar masuk ke sini?” langsung teringat aibnya, bangun sangat siang.


“Hem.” Jawaban Kean tetap santai.


“Terus dia liat dong aku tidur begitu?” semakin tidak bisa membayangkan apa pendapat Kinar jika melihatnya tidur seperti orang mati.


“Hem. Emang kenapa? Saat tidur kamu cantik.” eh pria ini malah tersenyum gemas melihat wajah Disa yang berubah tegang bercampur malu.


“Aa kenapa gak bangunin aku? Aku kan malu kalau bu kinar tau, setelah jadi istri aku malah males-malesan gini.” Bibirnya langsung mengerucut, seolah aibnya terbuka karena kean.


“Kenapa harus malu? Kamu nona mudanya di sini.” Santai sekali jawaban Kean, membuat Disa langsung terdiam.


Kean menegakkan tubuhnya, menghampiri Disa dan menatapnya dengan lekat.


“Tidak ada yang berhak berfikir apalagi membicarakan hal buruk tentang istriku. Dan bu kinar tahu itu.” tegas Kean, membuat Disa termangu di tempatnya.


Sehebat itukah posisinya sebagai istri dari seorang tuan muda?


Mendapati Disa yang hanya terpaku, Kean mendekatkan tubuhnya pada Disa dan sedikit berbisik.


“Istriku, bisa tolong siapkan aku sarapan? Aku sangat lapar. Kita sarapan di kamar saja, hem?” Bisiknya dengan lembut.


Disa seperti di buai oleh suara lembut namun tegas itu. Manis sekali untuk ia dengar.


“I-iya a.” tergagap kan jadinya.


Mendengar sahutan Disa, Kean mengusap kepala wanita itu dengan lembut lantas mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Disa. Wajah Disa langsung merona, tidak pernah terbayangkan Kean akan semanis ini.


“Aku akan mandi, hanya sebentar. Jangan terlalu rindu.” Godanya seraya berlalu.


“Astogeee…” tubuh Disa seperti mau ambruk mendengar godaan Kean yang membuat jantungnya berdenyut geli. Hey, sejak kapan dia belajar kata-kata gombalan seperti itu?


Kean seperti tidak ambil pusing dengan perkataannya sendiri. Ia masuk ke kamar mandi dan hanya berbalik sekali untuk menatap Disa dan tersenyum manis. Apa memang seperti ini perlakuan seorang suami pada istrinya? Dan apa akan selalu seperti ini?


*****