
Sudah lebih dari 10 menit Shafira mondar mandir di depan ruangan Sigit dengan pikiran dan perasaan yang tidak menentu. Di tangannya ia menggenggam selembar kertas yang rencananya akan ia tunjukkan pada Sigit. Namun hingga detik ini ia masih ragu untuk menyampaikannya atau tidak.
Di kepalanya terus memikirkan kata-kata apa yang akan ia sampaikan pada Sigit nanti. Lalu apa Sigit akan mengerti apa yang ia sampaikan atau ia harus bersiap menerima kekecewaan saat Sigit tidak mau mengerti apa yang ia inginkan. Arrghh membayangkannya saja sudah menakutkan.
Walau belakangan sikap Sigit berubah, namun Shafira tidak bisa menjamin kalau Sigit akan mengerti keinginannya. Ia tahu persis Sigit yang tidak bisa di bantah. Ia penuh kejutan dan Shafira harus menyiapkan mentalnya kalau ternyata kejutan Sigit tidak menyenangkan untuknya.
Berusaha berdiri tegak di depan ruangan kerja Sigit, ia menatap pintu dengan yakin dan mengangkat tangannya yang siap mengetuk. Beberapa saat ia terdiam, berusaha mengatur nafasnya dengan mengingat apa yang pernah Disa ajarkan padanya. Katanya ini berhasil membuat rasa gugup Disa saat naik ke panggung berkurang.
Beberapa saat ia memejamkan matanya, leher dan bahu ia buat serileks mungkin. Lantas ia mengatupkan bibir dan menarik napas perlahan lewat hidung selama dua hitungan. Bibirnya ia kerucutkan seakan hendak bersiul. Lalu di hembuskannya napas dari mulut selama empat hitungan. Cukup berhasil.
Dilanjutkan dengan menarik napas selama lima hitungan dan menghembuskannya selama lima hitungan juga. Hal ini ia lakukan selama beberapa menit dan cukup membuat perasaannya lebih baik.
“Bismillah.” Ini mantra yang paling penting yang diajarkan Disa padanya.
"Awali segala sesuatu dengan bismillah maka kamu akan mendapat pertolongan yang tidak terduga." Shafira sangat percaya dengan afirmasi Disa tersebut.
Perlahan Shafira membuka matanya, menatap dengan berani pintu yang selalu membuatnya takut. Apapun yang akan terjadi nanti, ia siap untuk menghadapinya. “Tok-tok-tok.”
“Dady?” ujarnya dengan perlahan.
“Hem, masuklah.” Suara Sigit seperti permulaan bagi Shafira untuk melangkah dengan berani.
Di tariknya gagang pintu yang ia genggam dengan erat dan terlihatlah Sigit yang sedang berada di meja kerjanya. Ia mengenakan kacamata berbingkai kotak yang membuatnya terlihat mirip tokoh kakek di film animasi “Up”. Hanya saja rambutnya tidak seluruhnya putih.
“Ada apa fir?” melihat Shafira yang ragu masuk ke ruangannya, Sigit langsung bertanya.
“Apa dady ada waktu? Ada yang mau aku bicarakan.” Ia berdiri dengan jarak yang cukup jauh dengan Sigit.
“Hem, kemarilah.” pintanya agar Shafira mendekat.
Shafira tersenyum samar, ia segera mendekat dan duduk di kursi penghadap Sigit. Di taruhnya lembaran kertas yang sedari tadi ada di tangannya.
Mata Sigit jadi memperhatikan lembaran kertas yang ada di hadapan mereka.
“Kamu membutuhkan sesuatu?” melihat bagian bawah kertas yang seperti tempat membubuhkan tanda tangan.
“Hem.” Shafira terangguk yakin.
“Apa?” Sigit mengulurkan tangannya pada Shafira.
Shafira mengambil lembaran kertas itu dan memberikannya pada Sigit, “I need your permission.” Ujarnya dengan yakin.
Sigit mengeryitkan dahinya, menatap Shafira penuh tanya. Butuh penjelasan lebih rupanya.
“Jadi gini,” Shafira berusaha untuk duduk senyaman mungkin agar bisa berbicara dengan jelas. Ini kesempatannya untuk berbicara lugas dengan sang ayah.
“Setelah ujian kemarin, aku coba apply kuliah di salah satu universitas di inggris. Aku berpikir kalau aku ingin kuliah di sana dan mencapai cita-citaku.”
“Aku, mencoba mengajukan beberapa motivation letter ke beberapa universitas, and I got one.” Senyumnya langsung terkembang, menunjukkan kalau ia sangat bangga pada dirinya sendiri.
“I wanna be a singer dad, I love singing. So, aku ingin meminta izin dady untuk kuliah di sana.” takut-takut ia menyampaikan maksudnya. Tatapannya terlihat penuh harap membuat Sigit mengalihkan pandangannya pada kertas yang kini ada di tangannya.
Ia baca dengan lengkap surat jawaban dari pihak universitas itu dan Shafira menunggu dengan tidak sabar jawaban dari sang ayah.
“Kamu dapat beasiswa sekolah musik?” lirih Sigit kemudian. Ditatapnya mata sang putri yang takut-takut meminta izinnya namun penuh harap.
“Yas! Aku juga udah nabung untuk kebutuhan aku selama aku tinggal di sana. It’s my dream dad and I promise, aku gak akan merepotkan dady. Aku bisa mengatasi semuanya. But, I still need your permission.” Terang Shafira dengan penuh rasa percaya diri.
Sigit membalik kertas yang ada di hadapannya lantas memandangi putrinya dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan. “Kenapa harus beasiswa?” tanyanya, singkat namun cukup membuat Shafira berpikir.
“Em,” mental Shafira mulai di uji untuk menghadapi Sigit. Salah jawab mungkin akan membuat ia gagal pergi.
“Aku tau, dady akan memintaku untuk sekolah sesuai dengan standar yang ada di keluarga ini. Maybe, belajar tentang bisnis, manajemen atau administrasi yang berhubungan dengan perusahaan. But I can’t dad."
"Aku tidak secerdas abang yang bisa cum laude di kampus unggulan di amerika sana padahal dia ngambil double degree. Aku berbeda dengan abang, aku gak sesempurna dia.”
“I just love singing dan aku harap dengan aku bisa mendapatkan beasiswa, aku bisa membuat dady sedikit bangga terhadap aku dan aku tidak merepotkan dady. Sure, I can take care of myself, so please dady…” Shafira menyatukan kedua tangannya di depan dada, memohon pada Sigit sambil menundukkan kepala.
Sigit tersenyum kecil, lantas ia meraih tangan shafira yang ia genggam kemudian.
“Fir, don't begging on me and don’t ever begging to everyone.” Ia menurunkan tangan Shafira, membuat gadis itu memandangi ayahnya penuh tanya.
“Dady bangga terhadap kamu, seperti apapun diri kamu. Dady tau, selama ini dady tidak pernah membuat kamu merasa bangga atas diri kamu sendiri. Dady sering membuat kamu merasa tidak berguna untuk banyak hal, and I’m so sorry.”
“Dady ingin memperbaiki semuanya, so just ask me but don’t begging on me. Dady ingin menjadi ayah kamu, bukan malaikat yang menentukan hidup kamu. Hem?” terang Sigit yang membuat mata Shafira berkaca-kaca menahan tangis.
Sigit sadar, selama ini ia telah banyak memberikan contoh yang buruk pada anak-anaknya. Ia tidak pernah mengapresiasi apapun yang di capai anak-anaknya. Dan perdebatannya dengan Kean di rumah sakit, seperti telah menyadarkannya kalau yang ia lakukan selama ini salah.
Ia terlalu mendominasi orang-orang di sekitarnya, merasa paling tahu apa yang terbaik untuk orang di sekitarnya tanpa ia sadari ia telah banyak merendahkan orang lain. Ia ingin keluar dari kondisi itu, ia tidak ingin menjadi Sigit yang dulu, Sigit yang merampas hak anak-anaknya dan menyakiti orang di sekitarnya karena rasa kecewa yang ia punya.
“Are you sure dad?” Shafira masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Hem.” Sementara Sigit terangguk yakin.
“Thanks you dad!” Shafira segera berhambur memeluk Sigit. Mendekapnya dengan erat. Ia tersenyum namun matanya menangis. Jujur ini yang ia butuhkan selama ini. Seorang ayah, bukan hanya seorang kepala keluarga dengan label pebisnis hebat yang memenuhi semua kebutuhan ekonominya tanpa kurang satu sen pun.
“You know dad, I wrote a song for you.” Lirih Shafira. Ia mengusap air mata yang menetes di pipinya dan menggantinya dengan senyuman.
“Oh ya?” sigit mengecup pucuk kepala putrinya dengan sayang.
Shafira melepaskan pelukannya lantas mengeluarkan sebuah flashdisk yang sudah lama ia simpan sebagai alat untuk menyimpan lagu-lagu yang ia buat. Belum sempurna, belum ada alunan musiknya hanya dari suara mulutnya saja yang membuat melodi untuk lagu tersebut.
“Ini buat dady,” membenamkan flashdisk itu di tangan Sigit.
“Aku menulis 4 lagu dan salah satunya special buat dady. Ya, ini memang tidak sebagus lagu-lagu yang biasa dady dengarkan, but when you miss me, please listen this song, hem?” suara Shafiira terdengar bergetar dengan tangis yang ditahannya.
Sigit tersenyum tipis, ia terenyuh dengan apa yang putrinya lakukan saat ini.
“Dady ingin mendengarnya langsung dari mulut kamu, so please sing for me, hem.” Sigit menepuk meja kerjanya dan meminta Shafira duduk di sana.
“My pleasure.” Timpal Shafira sambil mengangguk takzim. Layaknya anak kecil ia duduk di meja Sigit sambil mengayun-ayunkan kakinya.
“EHM!” ia berdehem untuk menetralisir suara di tenggorokannya agar tidak terlalu serak dan Sigit bersiap untuk menyimak. Shafira menggenggam tangan sang ayah dan setelah siap, ia memulai lirih lagu yang ia nyanyikan.
“Dear, dady.
Every single day i wish, You smile for me.
Every second i dream, you say that you love me.
Hey you may big hero, I hope one day you will hold my hand
Walk by my side, and hug me tight
Please just say it once, that you love me like i do love you.”
Barisan lirik itu Shafira nyanyikan dengan tersengau-sengau menahan tangis. Sesekali ia menatap Sigit laman, mengingat saat ia terpuruk di kamarnya sendirian dan berharap Sigit datang dan memeluknya agar ia tidak merasa kesepian. Walau kesempatan itu tidak pernah ada tapi kali ini ia mendapat kesempatan yang lebih baik. Bernyanyi dari hatinya untuk sang ayah.
“Dady i love you even though maybe you don't care. You are my first love, and always be.” Shafira terisak di ujung lagunya, lantas Sigit memeluknya dengan erat.
Sigit tidak pernah menyangka, sebegitu besar harapan putrinya untuk ia sayangi. Ia pun tidak tahu kalau Shafira kerap menyanyikan lagu ini saat ia terbaring di atas tempat tidur dulu.
*****
Saat udara semakin dingin dan langit yang semakin gelap namun urung membuat Sigit terlelap. Ia masih memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna putih sambil memikirkan banyak hal. Di sampingnya ada Arini yang juga masih terjaga dan entah sedang memikirkan apa.
“Rin, kamu udah tidur?” panggil Sigit.
“Belum.” Suara Arini terdengar serak seperti biasanya. Ia menoleh Sigit yang tengah mengatur nafasnya. Seperti banyak beban yang ia pikirkan dikepalanya.
Setelah puluhan tahun menikah dan belasan tahun mereka menjalani hubungan jarak jauh, tidur bersisihan kembali menjadi hal yang baru bagi mereka. Biasanya Sigit akan tidur di kamarnya sendiri yang menyatu dengan ruang kerja dan Arini di kamar terpisah. Baru sebulan ini mereka tidur dalam kamar dan ranjang yang sama. Hal yang tidak biasa untuk pasangan yang sudah menikah cukup lama.
“Ada yang mas pikirkan?” Arini memandangi wajah Sigit yang ada di sampingnya. Rahangnya masih terlihat kokoh walau tidak seperti puluhan tahun lalu saat mereka awal menikah. Sigit yang tampan, berkharisma membuat banyak wanita jatuh hati padanya termasuk Arini. Menjelang usianya senja, pesonanya masih sama, menggetarkan bagi Arini.
“Hem, aku ingin membicarakan sesuatu.” Ia balas menoleh Arini membuat keduanya saling bertatapan.
“Katakan.” Dengan setia Arini menunggu Sigit bercerita. Walau terlambat, tidak ada salahnya belajar membicarakan sesuatu sebelum tidur, katanya pillow talk bisa membuat perasaannya lebih baik saat terbangun esok hari.
Sigit beranjak dari tempatnya, memilih duduk bersandar pada headboard. Sepertinya yang akan ia bicarakan adalah sesuatu yang serius maka Arini memilih melakukan hal yang sama, duduk bersandar di samping Sigit.
"Aku tidak akan menyalahkan kalau setelah ini kamu akan sangat membenciku tapi aku berharap, sebelum aku mati aku bisa mengakui hal ini di hadapan kamu.” Sigit menatap Arini dengan laman membuat Arini semakin penasaran. Suaminya tidak pernah berbicara seterbuka ini sebelumnya.
“Aku pernah sangat marah sama kamu mas, sampai aku berharap aku tidak pernah memiliki hati ataupun otak di kepalaku.”
“Kamu harus tau, kamu sangat beruntung di banding aku karena saat aku membenci kamu, maka kamu akan terus ada di kepalaku dan saat aku mencintai kamu, kamu terus ada di hatiku.”
“Yang akan kamu katakan sekarang, apakah lebih parah dari keduanya?”
“Mungkin.” Sahut pendek Sigit. Ia belum bisa menyelami hati Arini.
“Harus kamu tau, saat aku mengatakan bahwa aku meminta kamu berobat di amerika adalah untuk melepaskan kamu secara perlahan, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku terlalu buruk untuk kamu benci apalagi untuk kamu cintai sampai aku berpikir kalau kamu pergi dan menemukan laki-laki lain, mungkin akan lebih baik buat kamu."
"Tapi, kamu terlalu keras kepala rin,” Sigit menggantung kalimatnya. Ia menatap Arini dengan penuh sesal.
“Aku pernah mencintai seorang wanita, wanita yang membuatku merasakan patah hati karena di tolak di saat aku belum mengungkapkan perasaanku. Dia selalu berpikir, kalau cukup dengan dia disampingku maka kami akan baik-baik saja.”
“Dia bohong, karena kami tidak pernah baik-baik saja. Dia menyiksaku dengan membuatku terpaksa untuk menekan perasaanku dan membuktikan kalau aku memang tidak memerlukan dia dan dia bisa pergi sejauh yang dia mau. Dan dia menyiksa dirinya dengan berpura-pura akan terbiasa ada di dekatku tanpa merasakan apapun.”
“Aku pikir itu penipuan terbesar kami selama hidup, yaitu menipu diri sendiri.”
“Tapi saat aku melihat kamu pulang aku merasa telah menemukan sesuatu yang pernah hilang dan pergi. Aku yang malah terbiasa melihat dia disekitarku dan tidak merasakan apa-apa tapi saat melihat kamu ada didekatku, aku merasa lebih baik. Hanya saja ego dan rasa bersalahku menahanku agar tidak semakin mendekat pada wanita yang sudah seharusnya aku lepaskan agar dia bahagia.”
“Jika aku bilang ini penyesalan, apa aku terlambat?” lirih Sigit dengan dahi berkerut, bertanya atas perasaannya sendiri.
Arini tersenyum tipis, lantas ia menatap ke depan sana, dinding yang dihiasi foto ia bersama Sigit dan Kean dulu.
“Aku tau yang kamu pikirkan walau aku tidak tahu persis apa yang kamu rasakan. Tapi paling tidak aku sadar, kalau wanita itu adalah kinar.” Arini menyebut nama Kinar tanpa ragu, membuat Sigit menatapnya tidak percaya. Apa perasaannya terlihat sangat jelas?
“Kamu tau, seorang perempuan itu dibekali anugrah perasaan yang kuat. Aku bisa merasakan kalau laki-laki yang aku cintai mencintai wanita lain yang ada di dekat kita. Tapi sayangnya, aku tidak bisa meminta kamu berhenti mencintai wanita itu karena aku sendiri tidak tahu mana yang lebih kuat, perasaan wanita itu atau perasaanku terhadap kamu.”
“Tapi dengan kinar berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan kita, aku merasa semakin cemburu karena aku tau, dia sadar kamu mencintainya.”
“Jika kali ini perasaan kalian masih sama, nikahi dia."
"Aku tidak masalah. Aku sudah berdamai dengan rasa marahku, aku sudah berdamai dengan rasa cemburuku dan pikiranku sudah sangat terbiasa membayangkan kalian sebagai dua orang yang saling mencintai.”
“Tapi paling tidak, jangan ceraikan aku. Aku masih ingin memegang kehormatan sebagai istri dari laki-laki yang aku cintai walau kamu tidak pernah mencintai aku mas.” Tegas Arini dengan penuh harap.
Sigit tersenyum tipis mendengar ujaran Arini. Benar adanya kalau Arini itu keras kepala. Suka bertahan tanpa alasan. “Cinta, aku bahkan gak tau apa yang aku rasakan itu benar-benar cinta atau hanya ambisi. Karena kalau aku mencintainya, bukankah aku harus menghormati keputusannya?"
"Tapi selama bertahun-tahun aku seperti tidak pernah rela hingga aku sendiri tidak pernah tau dimana letak ujung dan pangkal perasaanku sendiri.”
“Satu hal yang aku tau, keberadaan kinar sudah tidak berpengaruh apapun pada perasaanku. Aku tidak lagi mengharapkannya apalagi memimpikan dia ada disampingku. Entah sejak kapan, mungkin sudah sangat lama hanya saja aku baru menyadarinya sekarang.”
Sigit dan Arini sama-sama terdiam. Mereka tengah berdialog dengan hati mereka sendiri. Satu hal yang pasti, saat ini Sigit sangat ingin menggenggam tangan Arini dengan erat dan berharap wanita ini akan selalu menjadi istrinya sampai kapanpun.
Tidak terlambat bukan?
*****