Marry The Heir

Marry The Heir
Kondangan



POV Disa:


Ajakan kondangan yang aku pikir hanya sebuah basa-basa ternyata benar-benar terjadi. Sedari sore kak Reza sudah ada di rumah bersama Bu Nita. Mereka membawakan ku sebuah midi gaun pesta berwarna abu-abu yang kini sedang aku pakai.


Pilihan bu Nita memang berkelas. Gaun yang terlihat simple dan elegan ini termasuk cocok untuk tubuhku yang tidak terlalu tinggi namun membuatnya tidak tenggelam dalam pakaian yang aku kenakan. Bagian bahunya tertutup oleh kain brukat dengan beberapa batu Swarovski sebagai aksen yang mempercantik gaun yang aku pakai.


Rambutku aku tata sederhana, hanya di kepang rapi dengan bagian poni depan yang sedikit menjuntai jatuh di kiri dan kanan garis wajahku. Kekurangannya, aku tidak pandai berias, hanya menggunakan bedak tipis dan sedikit perona pipi serta lisptik warna merah yang tidak terlalu terang.


Sejak dulu aku memang tidak bisa berdandan. Saat bepergian aku hanya mengenakan sun screen, bedak tabur dan sedikit pemerah bibir. Itu pun sudah terlalu banyak menurutku.


Aku masih mengingat, setiap aku berdandan sedikit cantik, Damar hanya akan meledekku. Pernah sekali aku pergi ke salon, saat acara perpisahan sekolah. Aku sudah di rias cantik tapi komentar pedas kembali aku dengar dari mulut Damar.


“Lo yakin ke sekolah kayak gini?” Damar menatapku lekat, seperti aku telah melakukan kesalahan besar sampai tidak layak untuk datang ke sekolah.


“Maksud lo? Emang gue keliatan aneh ya?” aku langsung melihat wajahku di cermin. Jujur aku sangat mengagumi karya tangan ibu salon dekat rumah kami. Sangat manglingi sampe aku tidak sadar kalau ini diriku sendiri.


“Menurut lo?” jawaban Damar selalu membuatku berpikir keras. Dengan santainya ia melengos dan mengambil tas tanganku.


“Mong tunggu dong!” aku menahan tangannya, tapi dia hanya diam tidak berbalik. “Kalo lo bilang ini jelek, lo harus ngasih tau gue letak jeleknya sebelah mana?” kesal juga ngasih komentar tanpa alasan jelas.


Damar menghela nafasnya dalam, seperti menyiapkan mentalnya sebelum melihat tampilanku yang katanya jelek. Lagi pula kapan Damar pernah memujiku cantik?


Dia menatapku sejenak sebelum kembali memalingkan wajahnya. “Alis lo ketebelan, kegedean kayak sincan.” Nah komentarnya menyebalkan bukan? Aku refleks mengentuh alisku yang menurutku sangat rapi.


“Pipi lo kayak kena tabok. Mata lo, apaan nyala gitu kayak di kasih bubuk mesiu.” Astaga Damong, ini namanya gliter. Haish, mendengar pendapatnya malah membuatku insecure.


“Dan bibir lo, kayak jadi keliatan habis di gigit tawon terus makan gorengan. Memble!”


“PLAK!!” akhirnya aku memukul bahunya. Jelek banget aku di mata dia.


“Lo ya kalo ngomong! Ini gue di dandanin dari habis subuh tau! Kata periasnya ini dandanan paling cocok buat gue, terlihat manis dan imut. Di majalah-majalah mode tuh ini lagi ngetren. Mata lo aja yang butek!” kesel juga rasanya, mancing aku buat marah aja nih anak.


“Majalah apa? Playboy!” sengitnya semakin mengesalkan.


“Iiihhh elu ya!” Aku mengeram kesal. Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat sama Damar. Buat dia aku tetep cewek jelek. Aku tinggalkan saja dia dengan wajah tertekuk.


“Woy! Lo mau kemana? lo gak malu pergi pake dandanan kayak emak gue? Woy disa!” teriaknya.


Akh! Aku tidak peduli.


Dan kali ini, aku seperti butuh pendapat Damar. Kalau saja waktu itu aku menurut untuk menghapus make up ku, mungkin Damar tidak akan berkelahi dengan anak laki-laki yang terus menggodaku. “Aah.. Damong, gue dandan gini berlebihan gak?” itu yang ingin aku tanyakan.


“Udah siap?” sebuah suara terdengar dari pintu kamarku. Saat aku toleh ternyata kak Reza.


Dia sudah terlihat tampan dengan kaos dipadu blazer resmi berwarna abu seperti gaunku dan warna celana yang lebih gelap. Selalu saja membuatku terpesona sampai menganga.


“Tok tok!” Kak Reza kembali mengetuk pintu kamarku sambil tersenyum, rupanya dia tau kalau aku sedikit melamun.


“Oh sudah kak.” Sahutku sambil beranjak.


Dia menatapku dan tersenyum lantas memalingkan wajahnya. Aku tahu, dia menahan tawa.


“Apa aku terlihat aneh?” jangan-jangan pikiran Kak Reza sama dengan pikiran Damar.


Aku menunggu jawabannya dengan tidak sabar. Sudah berusaha tampil sempurna, jangan sampai malah terlihat memalukan.


“Cantik, kamu cantik.” Sahutnya dengan senyuman yang membuat pipiku langsung merona.


Untuk beberapa saat kami saling terpaku. Kak Reza memandangiku dan aku senyum-senyum tidak jelas. Baru kali ini ada yang memujiku cantik dan itu laki-laki yang aku suka. Hah, aku serasa terbang, melayang di atas awan.


“Yuk!” imbuhnya seraya mengulurkan tangannya padaku, seperti seorang pangeran yang menyambut tuan putri. Apa aku akan menjadi cinderela? Ahh.. Perasaanku tidak menentu. Antara gugup sekaligus senang.


Ku sambut uluran tangannya yang kemudian menggenggam tanganku dengan hangat. Ya, sangat hangat dan aku menyukainya.


Kami berjalan menuruni anak tangga, pikiran halu ku seperti mendengar alunan musik yang di dominasi suara terompet kerajaan. Di ruang keluarga sudah ada Bu Nita yang langsung berdiri dengan mata membelalak saat melihatku. Nyonya Arini pun ikut berusaha tersenyum.


“Astaga!!! Kamu cantik banget sa…” serunya yang refleks memelukku.


Aku cukup kaget dan hanya tersenyum. Tidak menyangka juga kalau respon Bu Nita akan seperti ini.


“Em, makasih bu. Ini karena gaunnya yang cantik.” Timpalku seraya melirik Kak Reza yang masih memandangiku seraya tersenyum.


“Bukan gaunnya yang bikin kamu cantik tapi kamu yang bikin gaunnya jadi cantik.” Timpal Bu nita yang masih lekat memandangiku.


Perasaanku bergemuruh, apa benar aku secantik itu?


“Ya udah, waktunya berangkat kan?” Bu Nita sedikit mendorong tubuhku mendekat pada Kak Reza dan Kak Reza merangkul tubuhku yang hampir jatuh karena oleng.


Ini yang tidak aku sukai, high heels. Aku seperti berjalan di atas tali yang terus bergerak dan membuatku harus menyeimbangkan tubuhku. Susah sekali.


“Iya kalian berangkatlah. Selamat bersenang-senang.” Nyonya Arini menambahkan.


Mendengar suaranya aku benar-benar ragu. Apa aku benar-benar bisa pergi? Dan kemana tuan muda, mengapa jam segini belum juga pulang?


“Kenapa sa? Kean belum pulang.” Nyonya Arini seperti mengerti benar saat melihatku celingukan.


“Saya, belum meminta izin pada tuan muda, nyonya.” Walau tuan muda sudah tahu aku akan pergi dengan kak Reza, tapi tidak enak juga kalau tidak meminta izin langsung.


“Gak pa-pa sa. Kan ada saya yang gantiin kamu jagain arini. Nanti saya yang bilang langsung sama kean kalo dia pulang.” Rupanya Bu Nita mau pasang badan untukku.


“Iya, kamu pergilah. Kean tidak masalah kok.” Nyonya Arini ikut menegaskan.


Ku lirik kak Reza dan dia hanya terangguk seraya tersenyum, akhirnya kami memang harus berangkat.


Perjalanan di habiskan dalam suasana hening. Kak Reza hanya beberapa kali menoleh dan tersenyum membuatku salah tingkah. Tidak ada bahan pembicaraan yang muncul di pikiranku untuk mencairkan suasana yang kaku ini. Perjalanan panjangpun akhirnya menemui ujung saat di hadapan kami sudah terlihat Gedung tempat acara resepsi pernikahan putri Pak Hilman di gelar.


Keluar dari mobil dan Kak Reza yang membukakan pintu untukku. Lagi ia mengulurkan tangannya dan menyambutku dengan senyuman. Ya tuhan, dia terlihat sangat tampan.


Cukup terpesonanya Disa, jangan norak. Aku mengingatkan diriku sendiri.


Setelah berhasil berdiri tegak, Kak Reza menarik tanganku dan melingkarkannya di lengannya. Aku sedikit ragu, tapi kemudian kak Reza menepuk tanganku untuk menenangkanku.


“Kak, aku gak terlalu bisa pake high heels, jalannya jangan terlalu cepat ya.” Bisikku. Jujur aku malu mengatakannya tapi akan lebih memalukan kalau aku tiba-tiba jatuh dan jadi bahan tontonan banyak orang.


“Aku juga tidak ingin berjalan cepat. Aku ingin menikmati waktu kita.” Bisiknya membuat bulu kudukku meremang.


Astaga, apa yang dia katakan? Dia bilang, ingin menikmati waktunya bersamaku, apa itu benar? Jantungku oh jantungku. Jangan dulu copot, tenanglah sebentar.


Ku tarik nafasku yang berantakan lalu menghembuskannya perlahan. Setelah siap aku melangkah dengan hati-hati.


Rupanya pesta pernikahan putri pak Hilman memang bukan main-main. Aku baru tahu kalau istrinya salah seorang pejabat di pemda. Banyak orang-orang pemerintahan yang hadir selain para dosen dan tentu saja banyak mahasiswa yang ikut hadir.


Saat memasuki Gedung, beberapa orang menoleh ke arah kami. Aku tahu, mereka memperhatikan sosok tampan yang berdiri di sampingku. Mereka saja terpesona, apa lagi aku yang ada di sampingnya.


Aku menoleh kak Reza dan dia hanya tersenyum. "Tenanglah, hanya satu jam kita di sini, setelah itu aku mau menghabiskan waktu yang lebih lama sama kamu tanpa ada mereka.” Bisik kak Reza.


“Itu siapa yang sama pak reza?” sayup-sayup aku mendengar suara seorang laki-laki, aku lirik dia anak desain juga.


“Itu disa kan?!” sahut seorang Wanita. Aku ingat, itu suara Rianti. “Sa!” serunya berlari menghampiriku.


“Rianti!” benar saja ini temanku Rianti. Aku refleks melepaskan tanganku yang menyambut pelukan Rianti.


“Wah, lama banget gak ketemu sa. Kamu apa kabar?” suara cempreng Rianti salah satu alasan aku mengingatnya.


“Baik ti. Kamu apa kabar?”


“Baik. Dih kamu cantik banget sih.” Dia mencubitku dengan gemas, membuatku malu saja.


“Kamu juga cantik. Pasti ini gaun yang waktu itu kamu bikin ya? Bagus banget ti.” Aku memandang takjub Rianti yang memakai gaun buatannya sendiri. Dulu ia sering memamerkan sketsa gaun ini dan setelah jadi ternyata lebih cantik. Rianti memang berbakat.


“Kamu masih inget aja.” Timpalnya tersenyum senang. “Eh pak reza apa kabar? Kok kalian bisa barengan?” rupanya dia baru sadar kalau ada kak Reza di sampingku.


“Em, kami,” bingung juga mau jawab apa. Ku lirik Kak Reza dia hanya tersenyum.


“Saya mengajaknya untuk datang.” Timpalnya dengan mantap.


Astaga, kenapa dia suka sekali berterus terang seperti ini, membuat wajahku merah padam saja.


“Ohh… Cieee…..” Riani menyenggol tanganku dengan sengaja dan aku hanya tersipu malu.


“Ya udah, kalian ngobrol dulu. Saya nemuin pak hilman dulu, hem?”


“Iya kak.”


Kak Reza pun pergi dan Rianti masih menatapku tidak percaya. Setelah kak Reza pergi, baru lah Rianti memulai rasa penasarannya.


“Ciee… Kamu manggil pak reza, kak reza?” dia langsung bertanya to the point. Aku hanya mengangguk dan tersenyum. “Ya ampun sa, kalian pacaran?” lanjutnya.


“Hah enggak kok!” ini jawaban refleks ku.


“Trus kalo gak pacaran apa namanya? Adek kakak zone, friend zone, atau jojon?” Rianti kadang memang lucu.


Sedikit berfikir, iya juga, hubunganku dengan kak Reza ini di sebut apa? Mungkin teman. Atau?


“Lo disa?!” ada suara nyolot yang mengagetkanku.


“Hah, iya?” saat aku lihat ternyata Amel. Gadis paling popular di jurusan kami.


“Tuh kan, apa gue bilang. Ini paradisa, si badut ancol!” seru Amel yang membuat teman-temannya tertawa. Sejak kapan mereka mengelilingiku dan merasa punya kesempatan untuk meledekku.


“Hay mel, apa kabar?” aku memilih berdamai, tidak ingin ada masalah. Ku ulurkan tangan , berusaha ramah.


“Gak usah sok akrab!” dia menepis tanganku. “Lo gak salah dateng bareng pak reza?” tanyanya mengintimidasiku.


“Em, nggak. Aku dan kak reza memang,”


“Hahahahahaha… Kak reza dia bilang.” Eh ini anak malah tertawa. Apa yang salah?


“Lo gak malu manggil dia kak reza? Lo nyadar gak lo siapa? Badut ancol!” dia mengulangi panggilan itu dengan lebih tajam.


Sejak kapan dia tahu kalau aku bekerja sebagai badut?


“Lo beneran badut ancol sa?” tanya salah satu anak, yang menatapku dengan remeh.


Aku coba untuk tidak menunduk dan tidak lemah di hadapan mereka. Pada bagian ini, aku bukan cinderela yang bisa mereka tindas.


“Iya. Aku memang pernah kerja di ancol sebagai badut. Apa ada masalah?” sengitku membuat mereka membulatkan mulutnya kaget.


Apa salahnya, aku bekerja dengan cara yang halal walau hasilnya tidak banyak.


“Ya masalah lah. Lo harusnya dateng bukan dengan baju ini, tapi baju badut lo. Siapa tau suasana di sini makin meriah.” Timpal Amel yang menatapku sinis.


Ada apa dengan anak ini? Aku pikir masalah lomba desain yang aku menangkan dulu tidak berlanjut dan membuatnya marah. Kenapa dia masih kesal saja?


Perlu kalian tau, Amel salah satu sainganku dalam lomba desain di kampus beberapa waktu lalu. Aku mengalahkannya dan sepertinya ia masih belum bisa terima.


“Mel, lo wanita cantik. Tapi akan lebih cantik kalo lo jaga kata-kata dan sikap lo.” Aku memberanikan diri untuk menghadapinya yang aku rasa semakin kurang ajar. Dia masih tersenyum dengan sikap angkuhnya.


“Lah emang gue cantik! Berkelas dan lo tau lah gimana gue. Gue bukan perempuan murahan kayak lo yang sebelumnya jadi badut penghibur dan sekarang jadi wanita penghibur. Pantes aja lo keluar dari kampus, duit lo kurang banyak ya kalo cuma jadi badut?!” Amel berbisik tajam pada kalimat terakhirnya, dia benar-benar mengujiku.


“Jaga mulut lo.” Balasku dengan bisikan yang sama. Aku tidak mau orang-orang mendengar perdebatan kami.


Dan apa-apaan ini, kenapa kedatanganku malah menjadi ajang bulian buat mereka.


“Ada apa ini?” tanya sebuah suara yang tidak lain adalah kak Reza.


“Gak ada apa-apa kak.” Aku langsung menahannya untuk tidak terlibat.


“Kamu baik-baik aja sa?” tanyanya cemas.


“Ya, aku baik-baik aja.” Kenapa saat di tanya seperti ini malah jadi sedih ya?


“Amel ngatain disa perempuan penghibur pak.”


Aduh Rianti, kenapa malah bilang? Enteng sekali itu mulut, seperti anak SD yang aduan pada gurunya.


‘Apa?!” suara kak Reza mulai meninggi.


“Gak pa-pa kak, mereka cuma becanda. Mereka cuma,”


“Saya serius kok pak.” Timpal Amel dengan penuh percaya diri.


Akh Amel memag tidak bisa di bawa kompromi. Lihat dalam beberapa saat wajah Kak Reza berubah mengerikan.


“Hati-hati kamu bicara. Terlebih itu soal disa. Kalian bisa bicara apapun, tapi tidak kata-kata merendahkan seperti itu. Dia gadis baik-baik. Jadi, jaga mulut kamu.” Kalimat kak Reza terdengar tegas.


Aku melihat kesungguhan dari kata-kata yang dia ucapkan. Tuhan, kenapa dia begitu baik. Apa pikiranku salah tentang Aku yang ternyata tidak special?


Aku tidak terlalu menyimak apalagi timpalan kalimat yang di ucapkan Amel. Aku serasa tuli. Aku tidak memperdulikan perdebatan mereka selanjutnya. Aku hanya fokus pada laki-laki di hadapanku yang dalam beberapa saat menarik tanganku dan membawaku pergi.


Kak Reza, ini perasaan macam apa? Tolong jangan buat aku berharap.


*****