
“Sayang, belum tidur?” suara Nita menyapa hangat putranya yang masih duduk sendirian di kursi di meja makan. Di tangannya ia memegang sekaleng minuman ringan bersoda.
Penampilannya tidak terlalu baik. Wajahnya yang sayu dan seperti sangat Lelah. Tumben juga Reza pulang ke rumah, biasanya ia lebih suka tinggal di galeri.
“Mah,” sahut Reza yang masih berusaha tersenyum.
Nita mengambil segelas air dan perhatiannya masih pada Reza yang sedang melamun. Ia meneguknya dan membawakan satu gelas lain untuk putranya.
“Minum ini sayang. Jangan minum soda terus.” Sudah ada 2 kaleng soda lainnya yang di habiskan Reza dan di buat ringsek seperti di remas sangat kuat.
“Makasih mah.” Tanpa protes Reza meminum air putih yang di sodorkan Nita.
Perutnya memang mulai terasa tidak nyaman setelah menenggak 3 kaleng minuman bersoda.
“Ada apa anak mamah, kayaknya ada yang di pikirin banget.” Nita menatap Reza dengan khawatir. Tidak biasanya Reza seperti ini.
Sejak Disa menolaknya, putranya jadi tidak sesemangat biasanya. Padahal sudah sering kali Nita mendengar putranya putus cinta, tapi tidak sampai termenung sedalam ini.
“Belum jodoh mah, nanti Reza nyari yang lebih baik. Yang sesuai kriteria mamah.” Kalimat penghibur itu yang biasanya Reza katakan pada ibunya, saat Nita bertanya soal kandasnya hubungan Reza dengan satu gadis.
Tapi kali ini, Reza seperti tidak baik-baik saja. Seperti putranya terlarut terlalu dalam akibat penolakan Disa.
Jika di ingat lagi, Nita memang sangat berusaha mendekatkan Reza dengan Disa. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Ia merasa kalau Disa adalah gadis yang cocok untuk bersanding dengan putranya. Ia sangat yakin kalau Disa akan mengakhiri pencarian putranya.
Hingga tanpa ia sadari, mungkin selama ini ia terlalu memaksa. Kalimat “Gadis yang sesuai dengan kriteria mamah” mungkin memberi beban tersendiri untuk Reza. Ia membuat Reza mencari sosok gadis sesuai kriteria Nita padahal yang Reza butuhkan adalah gadis yang cocok dengan ia sendiri. Toh Reza yang akan menjalani hubungannya dengan wanita itu bukan Nita.
Melihat Reza seperti ini, ia jadi merasa bersalah. Ia sadar kalau selama ini ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Reza.
“Maafin mamah kalau selama ini mamah terlalu banyak memaksakan kehendak mamah sama kamu. Maafkan mamah karena memberi kamu beban yang besar untuk memilih seorang pasangan.”
Nita meraih tangan Reza yang kemudian ia genggam. Tangan mungil yang dulu kerap ia ciumi saat Reza masih bayi, kali ini jauh lebih besar dari telapak tangannya.
Ia selalu merasa kalau Reza tetaplah bayinya yang harus ia jaga, ia lindungi. Dan terkadang ia lupa kalau Reza sudah bisa menentukan langkahnya sendiri, sudah tahu apa yang ia butuhkan untuk hidupnya.
“Mamah selalu memaksakan kehendak mamah. Padahal mungkin kamu tidak suka. Sekarang kamu bebas melakukan apapun dan memilih siapapun. Mamah tidak akan melarang atau memaksa lagi. Mamah percaya, kamu sudah dewasa, bisa memilih sendiri yang terbaik buat kamu.”
Reza terpaku, memandangi tangannya dan tangan Nita yang saling menggenggam. Lantas ia tersenyum tipis seraya menatap wajah ibunya yang diliputi cemas.
“Reza gak pernah ngerasa terpaksa kok mah. Hanya saja, reza lagi sedikit patah hati. Masih belum bisa terima dengan penolakan disa.” Reza berusaha tersenyum di sela kesedihannya. Mencoba baik-baik saja ternyata tidaklah mudah.
“Sayang…” Nita mendekat pada Reza dan memeluk putranya dari samping. Ia pikir hanya ia saja yang kecewa dan Reza merasa bersalah karena gagal memenuhi keinginannya untuk bersama Disa.
Tapi lebih dari itu, Reza lah yang lebih sedih mendapati kegagalan ini.
“Disa, satu-satunya wanita yang membuat reza merasa sangat menginginkannya.”
“Reza pikir, reza memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan disa dan disa akan dengan senang hati menunggu reza sampai benar-benar yakin.”
“Tapi sepertinya reza salah. Bukan hanya butuh kepastian, disa pun butuh usaha reza untuk menganggap dia penting di banding masalah lainnya,”
“Bodohnya, reza malah melakukan hal lain yang membuat reza membuang banyak kesempatan untuk mendekati disa. Reza melepaskan kesempatan itu dan sekarang reza kehilangan disa.”
Reza tertunduk lesu. Ada beribu sesal di dadanya. Baru kali ini ia bercerita tentang seorang wanita pada ibunya. Bukan karena Nita sangat menyukai Disa tapi karena ia sangat butuh seseorang yang mengerti perasaan kehilangannya saat ini.
Sore tadi, setelah banyak berfikir akhirnya Reza memutuskan untuk menemui Disa. Ia ingin berbicara dengan Disa, memperbaiki banyak hal yang mungkin dia lewatkan dan mengambil kembali kesempatan yang mungkin masih tersisa.
Tapi sayang, semua tidak berjalan baik. Ia malah bertemu dengan rasa kecewa, saat ia melihat Disa yang begitu asyik berbincang dengan Kean. Tawanya yang renyah, sikapnya yang apa adanya dan tentu saja tatapan yang terasa istimewa yang ia tujukan pada sahabatnya.
Melihat Kean dan Disa semakin mendekat, semakin menambah rasa sesak di dadanya. Rasanya ia mulai tahu alasan Disa menolaknya. Seseorang yang Disa puja bisa tersingkir oleh seseorang yang selalu ada dan itu bukan dirinya.
Dan Kean, Reza yakin sahabatnya memiliki perasaan yang sama.
“Kenapa ya mah, dada reza sering sesak gini. Apa kayak gini rasanya patah hati?” Reza mengurut-ngurut dadanya sendiri yang terasa sesak. Ia yakin bukan karena ada penyakit yang sedang ia idap tapi karena ia sedang merasa patah hati.
“Sayang… Kuat nak.” Nita menggenggam tangan putranya semakin erat untuk menguatkannya.
“Mamah pernah mengalami hal yang sama. Kehilangan cinta mamah, belahan jiwa mamah dan mamah tahu, rasanya sangat sakit.”
“Tapi percayalah sayang, kamu hanya perlu waktu. Waktu untuk terbiasa menerima dan mengikhlaskan semuanya.” Nita menyandarkan kepalanya di bahu Reza.
Terdengar helaan nafas berat seperti Reza tengah berusaha membuang perasaan tidak nyaman yang bersarang di dadanya. Mungkin Nita benar, ia hanya perlu waktu. Waktu yang lebih lama dan lebih panjang untuk menata semuanya agar kembali pada tempatnya.
*****
Pilihan untuk menginap di rumah Disa sepertinya menjadi pilihan yang tepat bagi Kean. Saat terbangun di pagi hari, suasana yang di rasakan pun berbeda. Udara yang dingin, angin yang berhembus pelan melewati lubang di sela jendela, menyapa Kean membuatnya enggan untuk membuka mata apalagi keluar dari gulungan selimut.
Suara-suara di luar kamar terdengar ricuh tapi malah membuat pendengaran Kean nyaman. Mulai dari suara kokokan ayam, suara anak-anak kecil yang berlarian menuju sekolah hingga suara para ibu yang berbincang membahas masalah domestik rumah tangga.
Semuanya seolah menjadi pengalaman baru bagi Kean. Rupanya, seperti ini yang diimpikan Disa saat mereka sama-sama melihat sebuah lukisan di pameran. Suasana riang di lingkunan sekitar membuat perasaan kita merasa lebih baik, jauh dari rasa sepi.
Kean masih terbaring di atas tempat tidur Disa yang berukuran nomor 3, mungkin. Atau entahlah, karena kakinya harus di tekuk agar muat tidur di ranjang ini. Katanya ini ranjang Disa sampai dia SD sebelum pindah ke Jakarta. Kasurnya bukan kasur pegas melainkan Kasur kapuk yang memiliki wangi tersendiri.
Kata bi Imas, untung kasurnya baru di jemur jadi sangat empuk. Memang benar, mungkin seperti ini rasanya tidur di pulau kapuk yang empuk dan hangat.
Semalaman ia berbincang dengan bi Imas sampai hampir dini hari. Banyak hal yang mereka bicarakan dan membuat Kean jauh dari rasa mengantuk. Bi Imas tipe orang tua yang asyik di ajak bicara. Dia memiliki banyak topik dan pengalaman hidup yang membuat Kean memetik pelajaran. Terutama ceritanya tentang Disa.
Disa hanya keluar sekali dari kamar neneknya, yaitu saat menawari Kean akan menginap di rumah atau mau di pesankan hotel, mengingat rumahnya yang sederhana. Katanya hanya sekitar 3 kilo meter dari sini, mungkin yang dimaksud adalah hotel tempat Kean bertanya pada supir taksi.
Tidak, ia memutuskan untuk tidak keluar lagi dari rumah. Lebih nyaman di sini, karena ada teman bercerita. Tepatnya sumber cerita karena Kean hanya perlu menyimak. Kesempatan langka ia bisa tahu banyak hal tentang Disa tanpa perlu bertanya dan menerka-nerka.
Sedikit mengintip, Kean memperhatikan kamar tempatnya berada. Saat membuka mata ia bisa langsung melihat lukisan seorang wanita dewasa yang tengah berbadan dua. Mirip Disa kalau di perhatikan. Mungkin ibunya yang telah meninggal dunia. Di sisi lain ada lukisan pegunungan dengan signatur Disa di bawahnya. Rupanya sejak dulu lukisan Disa memang sudah bagus dan sekarang lukisannya semakin indah.
Saat menoleh ke sebelah kanan, ada sebuah meja belajar yang di atasnya ada beberapa foto Disa saat kecil. Gadis manis berkerudung memakai toga dengan senyumnya yang menawan. Mungkin saat itu usianya sekitar lima atau enam tahun.
Kean beranjak dari tempat tidurnya. Ranjang yang tanpa headboard membuat ia langsung bersandar ke dinding yang dingin. Di ambilnya foto Disa masa kecil. Tidak banyak kenangan yang tersimpan sepertinya. Hanya ada beberapa piagam penghargaan yang menunjukkan kalau Disa kecil adalah anak yang berprestasi. Patut di banggakan.
Di luar kamar, sayup-sayup terdengar suara obrolan Disa dan Imas yang bersuara keras. Tidak bermaksud menguping tapi suaranya sangat terdengar jelas. Kean masih berdiam diri di kamarnya menyimak perbincangan kedua Wanita tersebut.
“Bi, itu nenek beneran gak usah di bawa ke dokter? Disa khawatir gimana kalo ada luka di dalem yang gak keliatan.” Berbincang sambil memotong-motong sayuran yang akan di masak. Rencananya hari ini mereka akan memasak menu sundaan yang sudah sangat di rindukan Disa.
“Gak apa-apa neng. Kan udah di periksa pak mantri. Katanya cuma kebentur dikit aja, tensi nya juga masih normal terus tangan sama kakinya gak ada yang lemes. Pingsannya mah gara-gara kaget."
"Asal cukup istirahat aja. Soalnya nenek kamu kan udah sepuh jadi banyakin istirahat biar cepet sembuh.” Imas menyahuti dengan santai. Di tangannya ia masih membersihkan sisik ikan yang akan di gorengnya.
“Harusnya disa lebih banyak merhatiin nenek. Waktu disa kecil, nenek yang ngurusin sekarang nenek butuh disa, malah disanya jauh. Disa ngerasa bersalah bi.”
Mendadak melow dengan penuh sesal. Harusnya ia lebih banyak meluangkan waktu untuk sang nenek. Menjaganya, menemaninya agar tidak merasa kesepian.
“Ya mau gimana lagi, anak-anak kan kalo udah dewasa punya kehidupan sendiri. Eneng juga kan pergi bukan gara-gara gak mau ngurusin si ene, tapi ya harus berkembang atuh. Biar keluarga kita teh gak di rendahkan terus sama orang.” Imas mencoba memberi motivasi pada keponakannya yang masih terlihat sedih. Ia tahu keponakannya tidak sedang melakukan hal yang sia-sia.
“Cuma mungkin ini mah ya, bibi nitip. Kalau eneng udah berkeluarga, kalo bisa mah punya anak teh, yang banyak lah. Jangan irit kayak si ene. Cuma punya bapak kamu sama om sugih. Udah mah cuma 2, laki-laki semua, meninggal duluan lagi.”
"Bibi juga nyesel cerai sama si amang. Kalo bukan gara-gara tukang mabok mah, biarin lah cuma di kasih makan sama garam ge. Asal ada usaha buat ngebahagiain bibi. Ini mah meni ga ada usaha.” Imas berdecik kesal kalau mengingat kegagalannya dengan mantan suami.
“Sekarang bibi juga gak punya anak, nggak tau nanti kalo udah tua bibi kayak gimana.”
Acara masak kali ini malah jadi ajang curhat untuk Imas. Keluarga mereka memang keluarga kecil. Beruntung, Imas keponakan satu-satunya bagi Jenar, mau mengurusnya seperti ibu sendiri.
“Biarin lah tunji juga, nanti bibi bantuin jagain.” Imbuh Imas dengan semangat.
Disa hanya tersenyum tipis, memiliki anak bahkan belum masuk ke dalam rencananya.
“Eh jam berapa ini, si aden belum bangun?” menoleh ke arah pintu kamar Disa yang masih tertutup rapat.
“Belum. Capek kayaknya bi. Nganterin disa dari Jakarta ke sini, gak pake istirahat. Tapi biasanya jam segini udah bangun, udah olah raga.” Jadi ikut memandangi pintu kamarnya sendiri. Kalau di pikir-pikir baik sekali tuan mudanya, mau di repotkan untuk mengantarnya pulang.
Jadi sebenarnya siapa yang merepotkan.
“Iya gak apa-apa atuh neng. Lagian enak meureun nginep di kamar anak perawan mah. Wangi, seger, Kasur na masih empuk dan jarang di pake. Pasti mimpinya juga indah.” Goda Imas, membayangkan Kean di dalam kamar Disa dan masih tertidur lelap.
“Aha bibi mah ada-ada aja. Nanti dia dengar lagi, bisi jadi gak enak.”
“Hehehe.. enya nya ya udah atuh bikin sarapan dulu. Bisi keburu bangun belum ada apa-apa.”
Beruntung Imas mengingatkan, kalau tidak Disa akan kebablasan menyiapkan makan siang tanpa membuat sarapan.
“Disa bikin nasi goreng dulu aja kali ya bi.”
“Enya sok. Tuh minyaknya yang baru ada di sana.”
Kean hanya tersenyum di dalam kamar. Ia sedikit membuka celah pintu dan terlihat Disa yang masih memakai dasternya sudah berdiri di depan kompor. Rambutnya di cepol sembarang memperlihatkan lehernya yang putih. Beberapa helai rambut yang berjatuhan membuatnya semakin manis. Kean jadi teringat lagi kejadian semalam.
Ternyata tidak hanya Disa yang sulit melupakan kejadian semalam.
Wangi bumbu halus yang di tumis mulai menyeruak ke seluruh ruangan termasuk kamar Disa. Perut Kean kontan ikut bersuara, lapar juga rupanya. Biasanya pagi-pagi begini ia sudah menghabiskan segelas jus buah dan sayur juga sarapan ringan seperti roti isi atau apapun yang di siapkan Disa.
Tapi kali ini ia tidak akan protes. Membiarkan Disa menikmati waktunya selama di rumah.
“Aduh, meni cantik nasi gorengnya. Belajar dimana ari eneng?” Imas kembali bersuara saat melihat tiga piring nasi goreng buatan keponakannya. Piringnya di tata dengan cantik dengan toping scramble egg dan irisan tomat segar.
“Di ajarin di rumah majikan bi.” Sahut Disa.
Sudah cukup lama ia tidak membuat nasi goreng resep dari Kinar. Terakhir membuat sebelum nyonya besarnya pulang.
“Bibi mau nyicip atuh lah. Boleh ya?”
“Boleh sok. Ini buat bibi.” Menyodorkan satu piring pada Imas dan langsung di sambut riang. Senang sekali ia mencicipi masakan buatan keponakananya.
“Enak neng, enak pisan!” seru Imas dengan mulut penuh makanan
Mendengar suara Imas, Kean jadi ikut membayangkan nasi goreng yang di buat Disa. Ia mengusap perutnya yang terus keroncongan dan akhirnya memutuskan keluar kamar.
“Aden, ayo sarapan.” Ajak Imas. Wanita itu segera menarikkan kursi dan menepuk permukaan kursi yang akan di duduki Kean.
“Em, makasih bi. Saya ke kamar mandi dulu.” bagaimana pun jangan terlalu ketara kalau ia sudah sangat menginginkan nasi goreng itu.
“Eh uda sarapan dulu aja. Nanti sekalian cuci muka sama gosok giginya. Aden mah nggak mandi juga tetep kasep da.” Imas menarik tangan Kean untuk duduk di kursi. Sepertinya Kean sudah memiliki fans baru, Bi Imas.
Disa berusaha menahan Imas tapi bibinya memang tidak bisa di lawan.
“Iya bi, makasih.” akhirnya Kean ikut duduk. Ia melihat dua piring nasi goreng yang masih utuh.
“Kamu belum sarapan?” tanyanya pada Disa.
Disa hanya menggeleng dengan senyum tertahan. Baru kali ini ia melihat tuan mudanya langsung makan setelah bangun tidur.
“Sok eneng juga duduk, temenin si aden makan. Biar lahap makannya. Bibi mau nyuapin dulu emak yaa…”
“Em iya bi, makasih.” Jadi canggung berdampingan dengan Kean. Sementara laki-laki itu hanya tersenyum saat Disa duduk di sampingnya.
“Ternyata, kamu pernah punya gigi hitam juga.” Ledeknya tiba-tiba.
“Maksud tuan?” cukup terkejut dengan ledekan kean.
Kean tidak menyahuti, lebih suka menahan senyum yang membuat Disa berfikir banyak.
“Astaga! Apa tuan melihat foto saya?” jadi teringat pada foto kelas 2 SD saat ia kenaikan kelas.
“Baju overall-nya kegedean tapi lucu juga.” Kean meneruskan ledekannya membuat mata Disa membulat dengan cepat. Tidak terima rupanya.
Pasti yang di bahas adalah foto yang ada di meja belajarnya berdampingan dengan foto wisuda.
“Untuk apa tuan diam-diam melihat foto saya!” dengan kesal Disa menyuap sesendok nasi goreng.
“Saya tidak diam-diam melihat. Foto itu kamu pajang seolah mau semua orang melihat anak kecil bergigi ompong dengan lipstick merah yang tebal. Belum lagi topinya yang di bikin miring. Hah, seleramu sa..” semakin semangat ia menggoda Disa.
Disa hanya bisa menggeram kesal tanpa berani menatap tuan mudanya. Terlalu malu.
“Tapi saya jadi tahu, kalau kamu sudah cantik dari lahir. Apalagi saat tiduran di atas meja tanpa sehelai benangpun. Cerah sekali wajah kamu dengan bedak bayi tebal itu.” Eh, apa ini, pujian apa ledekan lagi?
“Lain kali jangan di ulang, itu tidak baik untuk kesehatan paru-paru anak. Takut terhisap.” Bisiknya di telinga Disa.
“ISH! Tuan!” Disa hanya bisa mengepal tanpa berani memukulkan tangannya pada Kean.
Kean terkekeh dan kembali menikmati sarapannya dengan lahap. Siapa sangka ia bisa menggoda Disa sepagi ini. Hiburan yang menarik.
Dan Disa, pikirannya langsung pada foto-fotonya yang ada di kamar. Karena sudah capek, ia tidak sempat menyembunyikan apapun di kamarnya. Alhasil, Kean bisa melihat semua fotonya sejak ia bayi. Astagaaa, sangat memalukan.
Suara deringan ponsel tidak asing terdengar dari saku celana Kean. Kean segera merogohnya, seketika bibirnya yang tersenyum berubah muram. Ia mengabaikan panggilan itu dan menaruh ponselnya dengan malas. Bagian belakang yang terlihat. Entah siapa yang menelponnya hingga membuat Kean menjadi tidak nyaman.
“Anda tidak menjawabnya tuan?” tanya Disa hati-hati.
“Tidak penting!” ketus sekali jawaban tuan mudanya hingga membuat Disa tidak berani lagi untuk bertanya.
Siapa sebenarnya yang menelpon tuan mudanya?
****