
“Berapa lama anda akan berada di sana tuan?”
“Hanya satu malam. Besok siang saya pulang.”
Disa dan Kean sedang berbicara melalui sambungan telpon. Kean mengabari kalau ia ada acara di luar kota yang mengharuskannya untuk menginap. Disa diminta untuk menyiapkan keperluannya. Walau hanya satu malam tetap saja barang yang ia bawa harus lengkap. Mulai dari alat mandi, pakaian dan barang pribadi lainnya. Di walk in closet lah Disa berada saat ini.
“Seperti apa acara yang tuan ikuti?” masih memandangi deretan baju Kean yang berbaris rapi di dalam lemari. Belum ada ide baju seperti apa yang akan ia siapkan. Padahal pakaian laki-laki tidak akan jauh dari kemeja dan jas.
“Formal. Saya akan bertemu dengan rekanan bisnis yang mengadakan pesta pernikahan anaknya.”
“Mereka orang india dan saya belum kepikiran akan memakai baju seperti apa. Mungkin jas saja.”
Kean terdengar tidak yakin, begitu pun Disa. Jika mengingat rekanan Kean adalah orang India, biasanya baju yang mereka pakai berwarna warni di lengkapi dengan shawl sutra. Tidak hanya bagi para wanitanya tapi juga para laki-laki. Membayangkan Kean memakai baju berwarna terang dan shawl membuat Disa ingin tertawa. Lucu juga kalau melihat Kean memakai baju khas india. Apa justru keren?
“Biasanya mereka memakai Kurta Pyjama atau Sherwani untuk acara pesta. Apa tuan akan mengenakan pakaian seperti itu?” menyebutkan dua jenis pakaian tradisional india yang ia tahu.
“Pakaian seperti apa itu?” tidak paham dengan istilah yang digunakan Disa. Mungkin dari kain sutra dan sejenisnya.
Beruntung Disa sudah membaca-baca tentang pakaian tradisional di asia. Istilah untuk beberapa baju yang cukup unik, membuat Disa lebih mudah menghafalnya.
Kurta Pyjama itu pakaian yang dipakai laki-laki. Berupa setelan atas bawah, dengan atasan seperti jubah namun dengan panjang selutut dan bawahan berupa celana panjang. Kurta Pyjama biasanya dipakai di seluruh India dalam berkegiatan sehari-hari, acara perayaan ataupun upacara adat.
Sementara Sherwani adalah pakaian semacam jubah panjang yang dipakai laki-laki. Sherwani memiliki hiasan berupa bordiran benang-benang emas di bagian di dada. Pakaian Sherwani ini biasaya dipakai dalam acara-acara resmi.
Entah mana yang lebih cocok untuk Kean di antara keduanya.
“Saya kirimkan gambarnya tuan.” Timpal Disa kemudian. Ia berniat memilihkan warna terang untuk Kean dan ingin melihat seperti apa reaksinya.
“Tidak perlu. Saya akan melihat langsung.” Kean menyanggah dengan cepat.
“Hah, melihat langsung dimana tuan?” sedikit bingung, apa mungkin tuan mudanya langsung pergi ke toko untuk membeli baju tersebut? Sultan mah bebas, semua yang mereka butuhkan bisa langsung di beli.
“Di rumah.” Tandas Kean yang mengakhiri panggilannya.
“Hah?” Disa masih dengan wajah cengonya. Ia tidak salah dengar bukan? Di rumah, bukannya tuan mudanya di kantor?
Disa segera keluar dari walk in closet saat mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah. Cukup terkejut saat melihat ternyata yang datang adalah tuan mudanya. Rupanya saat mereka bertelpon Kean sedang berada di jalan. Bagaimana bisa suara mobilnya tidak terdengar?
Jangan bodoh Disa, Kean naik sport car mewah bukan bajaj, aca-aca. Tentu saja nyaris tanpa suara.
Melihat Kean pulang, entah mengapa garis bibir Disa ikut tertarik. Ia tersenyum namun di waktu yang bersamaan hatinya terasa gamang. Laki-laki itu telah berhasil melewati banyak hal yang ia takutkan sementara Disa masih jalan di tempat. Tidak ada yang berubah dari dirinya selain perasaan tidak berharga yang semakin kuat.
Mungkin ia harus keluar dari kondisi ini. Melangkah menjauh dan mencari keadaan yang lebih baik.
“DISA!”
“YA SAYA!” suara Kean selalu mengejutkannya, membuat fokusnya langsung naik 100%.
Kakinya yang panjang dan langkahnya yang lebar membuat Kean begitu cepat masuk ke dalam rumah.
“Seperti apa bajunya?” rupanya ia terburu-buru karena harus melihat langsung apa yang Disa ceritakan tadi.
“Oh ini tuan.” Disa segera menghampiri. Mengeluarkan ponselnya dan mencari beberapa referensi jenis pakaian adat india yang ia sebutkan tadi.
“Ini tuan.” Menyodorkan ponselnya dan menunjukkan beberapa gambar.
Kean mengambil ponsel Disa dan memperhatikan beberapa baju. Ini tampilan yang yang asing dan tidak biasanya tapi kalau ia berani memakai ini, mungkin rekanan bisnisnya akan semakin merasa tersanjung. Ini penting untuk meningkatkan loyalitas rekan bisnisnya. Merasa di hormati dan di hargai.
Melihat Kean yang sibuk memilih, Disa malah terpaku. Ia memandangi tuan mudanya yang berdiri di hadapannya dengan wajah serius. Kenapa begitu menarik ekspresi yang di tunjukkannya? Padahal itu hal yang biasa Disa lihat hampir setiap hari.
Tubuhnya yang gagah, pembawaannya yang berkharisma dan wajahnya yang tampan, Disa yakin kalau Kean adalah tipe laki-laki ideal bagi para Wanita. Namun di saat seperti ini, mengapa ia harus memikirkannya? Mengapa ia membebani pikirannya sendiri dengan hal-hal yang seharusnya ia jauhi.
Setelah melihat gambar-gambar yang di tunjukkan Disa, Kean langsung menghubungi seseorang. Lihat, cara dia bertelpon saja begitu gagah.
“Roy, saya akan mengirimkan beberapa contoh baju. Sebelum ke sini, kamu beli untuk saya dan kamu. Kita akan memakai baju tradisional india.” Kean memberi perintah. Selalu tegas dan jelas.
Tidak ada yang sulit bagi seorang sultan. Kesulitan itu hanya milik Disa yang harus mengeram, menahan dirinya agar tidak terlarut lebih dalam pada pesona seorang Kean.
Waktunya tidak tepat Disa. Harusnya kamu menghindar, bukan malah terpesona. Disa mengingatkan dirinya sendiri. Entah apa perbincangan Kean selanjutnya, Disa hanya fokus pada gestur Kean dan gerakan bibirnya saat memberi perintah. Juga tatapan matanya yang sesekali melirik Disa.
Tuhan, kenapa jantungku berdegub kencang?
*****
POV Kean:
Aku masih sangat kesal kalau mengingat kejadiaan hari ini. Baru berniat untuk makan siang di rumah tapi Roy mengabarkan kalau ia lupa menyampaikan undangan pernikahan dari seorang rekan bisnis.
“Damn!” Menjelang akhir pekan, harusnya aku habiskan di rumah tapi ini malah harus pergi ke Bandung untuk menghadiri acara dadakan.
Asal kalian tahu, kemacetan di hari jum’at apa lagi menuju Bandung, itu bukan sesuatu yang mudah untuk di toleransi. Jalan tol saja masih bisa macet, apa lagi jalanan biasa. Entah berapa jam waktu yang harus aku habiskan untuk sampai di tempat acara.
Di rest area, aku minta Roy menepi. Rasanya sangat gemas saat melihat Roy membiarkan kendaraan lain mendahului kami. Aku meminta bergantian untuk menyertir dan Roy cukup jadi penumpang saja. Dia sempat menolak tapi saat aku katakan, “Kamu terlalu lamban. Saya tidak sesabar itu.” Dia langsung menurut.
Rupanya dia cukup sadar diri kalau aku bisa membawa mobil ini jauh lebih mahir.
Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, aku mengambil peluang sekecil apapun. Roy sampai memegangi seat beltnya dengan wajah terlihat tegang. Seperti mendapat hiburan saat melihat muka Roy yang tegang alih-alih merasa jenuh karena tidak ada perlawanan dari kendaraan lain.
Memasuki batas masuk kota priangan, aku langsung teringat pada Disa. Tadi saat aku bilang aku akan ke Bandung, wajahnya terlihat sedih. Mendengar kata Bandung, aku yakin membuatnya teringat pada keluarganya. Di kota seindah ini, di sudut mana keluarganya tinggal?
“Tuan, berhati-hatilah di jalan. Pulanglah dengan selamat.” Aku masih mengingat kalimat terakhir yang di ucapkan Disa sebelum aku pergi.
Ada apa dengan gadis itu, kenapa dia melow sekali?
Tapi jujur, pesannya membuatku lebih waspada dalam berkendara. Aku memang harus pulang dengan selamat agar bisa melihat wajahnya lagi. Eh?
“Hotelnya di depan tuan.” Roy menunjuk sebuah hotel bintang lima yang di jadikan tempat diselenggarakannya acara.
Kami memang sengaja menginap di sini, untuk lebih memudahkan akomodasi.
Aku langsung berbelok masuk ke area hotel begitu mendapat kesempatan dari kendaraan lain. Cukup sulit menyebrangi jalanan kota Bandung di akhir pekan seperti ini. Kami turun di loby. Hari sudah mulai gelap dan aku harus segera bersiap.
Aku masih memandangi baju yang akan aku kenakan. Satu stel Sherwani berwarna hitam dengan serat kain yang mengandung emas. Sedikit glossy dan ini membuatku tidak terlalu peraya diri. Sementara Roy, dia mengenakan Sherwani warna khaki, mirip lakon protagonis bucin di film india. Mungkin dia sudah bersiap menyanyi atau bersyair untuk menggoda gadis india. Lihat jambulnya yang tinggi menjulang, Roy benar-benar berusaha menciptakan peluang.
Tapi tentu saja, penampilannya tidak lebih baik dariku. Hhahaahha.. Aku harus percaya diri, bukan?
“Anda sudah siap tuan?” langsung berdiri saat melihatku beralih dari cermin.
“Hem.” Sahutku.
Kami langsung keluar dari kamar. Sepertinya acara sudah di mulai.
Musik dan tarian menjadi penyambut kami di acara ini. Kain sari warna warni, hiasan gemerlap serta nyala lampu yang di buat terang memberi kesan mewah pada acara ini.
Dulu aku sering melihat mamah menonton film india dimana fokusnya adalah nyanyian dan tarian. Aku pikir itu hanya terjadi di film mereka, untuk menambahkan kesan hangat mereka memberi suguhan musik yang membuat tubuh ikut bergoyang. Tapi ternyata di dunia nyata pun seperti itu. Tidak terbantahkan, suasana memang menjadi hangat .
“Oh halo Mr kean. Senang melihat anda bisa hadir.” Sapa tuan Anand, sang pemilik acara.
Laki-laki bertubuh tambun ini kabarnya sudah cukup lama tinggal di Indonesia bahkan anak pertamanya katanya lahir di sini. Dia adalah perwakilan dari importir kain yang menjadi rekan bisnis kami. Tidak aneh kalau bahasa indonesianya lumayan fasih.
“Terima kasih atas undangannya. Selamat untuk pernikahan putri anda.” Kami berjabat tangan dengan akrab.
“Terima kasih. Acara ini adalah tradisi di negara kami. Kebetulan menantu saya seorang aktor di sana. Sehingga acara ini murni ide putri saya dan suaminya. Semoga anda menikmatinya.” Anand memuji dengan bangga kedua anaknya yang sedang duduk di pelaminan. Rupanya ini adalah pesta perayaan. Katanya untuk acara pernikahannya sendiri, di buat lebih private agar lebih khidmat.
“Baik, selamat menikmati pestanya. Sebentar lagi, putri saya akan tampil.” Bisik Anand, lagi dengan bangga.
“Terima kasih tuan anand.”
Berusaha menikmati pesta yang disuguhkan dan berbaur dengan beberapa orang yang ia kenal. Kean mengambil minuman yang di tawarkan. Terduduk di salah satu kursi sementara Roy sibuk berkenalan dengan para gadis india yang menurutnya sangat menarik.
Satu tegukan minuman di nikmati Kean. Suasana hingar di ruangan ini tidak lantas membuat perasaannya ikut terbawa ceria. Ada rasa sepi dan kosong yang hinggap di hatinya.
Hah, entah mengapa tiba-tiba saja ia merindukan Disa. Suaranya terus terngiang terlebih suara tawanya sesaat sebelum ia berangkat tadi.
“Jangan lupa untuk mencoba ikut menari tuan. Itu bentuk penghormatan untuk mereka.” Dia seperti meledekku. Mana mungkin aku menari india.
Aku tidak menimpalinya, kesal sekali rasanya di ledek seperti itu. Tapi sayup-sayup ku dengar dia terkekeh. Mungkin otaknya membayangkan aku sedang menari. Gila, seperti apa aku yang ada di pikirannya? Bikin penasaran saja.
Suara musik terdengar merambat pelan. Seorang laki-laki di bawah lampu sorot tengah memainkan pianonya. Orang-orang bertepuk tangan dan suara riuh hanya berlangsung beberapa saat. Seorang Wanita menghampirinya, duduk di samping laki-laki itu dengan senyum yang menggoda. Mungkin itulah putri Tuan Anand.
Melihat sepasang kekasih di hadapanku, mereka terlihat sangat bahagia. Rupanya ini penampilan yang tadi diceritakan Anand.
Aku jadi ikut memperhatikan interaksi keduanya yang intens. Sang laki-laki memainkan melodinya sementara sang wanita menyanyi lagu berbahasa india sambil bersandar manja pada bahu suaminya. Entah apa artinya, namun dari interaksi keduanya, aku menangkap mereka sedang menyanyikan lagu cinta.
Orang-orang menggeram gemas saat gadis itu menggoda sang laki-laki, membuat penonton terbawa perasaan saja. Aku ikut tersenyum sampai tiba-tiba aku merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Dalam pandanganku, kenapa gadis itu mulai mirip seseorang? Disa?
Aku mengerjapkan mataku lantas memincingkannya, untuk mempertajam penglihatanku. Ya, gadis itu mirip Disa. Senyumnya, kerlingan matanya. Cara dia menyentuh sang laki-laki yang begitu menggoda membuat bulu kudukku ikut meremang.
Laki-laki itu balas mencium kening wanitanya yang tersipu malu membuat romantisme keduanya mengundang rasa iri para penonton. Seintim itu kedekatan mereka seperti dunia hanya milik berdua.
Tunggu, kenapa wajah laki-lakinya jadi mirip Reza?
Aku mengucek mataku yang rasanya mulai tidak beres. Semakin mesra adegan pengantin itu semakin aku merasa kalau itu benar-benar Reza dan Disa.
Astaga, apa yang terjadi denganku? Apa aku mabuk? Kenapa dadaku terasa panas saat membayangkan kalau yang aku lihat itu benar-benar Disa dan Reza?
Untuk membunuh rasa penasaran, lebih baik aku mengecek ponselku. Ku lihat dimana posisi Disa saat ini.
Hah, kenapa tidak ada di rumah? Alamat rumahku dan alamat Disa berada saat ini jauh berbeda. Terpaut puluhan kilo meter. Dan saat aku zoom, alamat itu adalah gallery Reza.
Seperti ada pukulan keras yang menghantam dadaku, membuatku merasa mual dan ngilu di waktu yang bersamaan. Pikiranku tidak menentu. Aku sudah tidak ingin ada di tempat ini. Aku harus pergi secepatnya.
“Tuan, ada apa?” Roy menyadari kegelisahanku.
Aku hanya menatapnya sebentar, lantas “Saya harus pulang.” Ujarku.
“Pulang tuan? Apa terjadi sesuatu?”
Argh! Aku tidak peduli lagi apa yang Roy katakan. Aku hanya tahu kalau aku harus segera pulang dan melihat sendiri apa yang Disa lakukan di gallery Reza.
Disa, kamu sedang apa? Kenapa aku segelisah ini?
*****