Marry The Heir

Marry The Heir
“With love, Paradisa Sandhya.”



Di dalam butik.


“Kak, gimana ini, kita mulai packing sekarang?” tanya Ike pada Mila.


“Ya iya lah. Kamu yang ngatur packing ya. Terus kamu monitor orderan. Konfirmasi ulang kalo ada request tambahan. Inget, pelayanan kita harus cepet. Pilih ekspedisi yang paling cepet. Jangan lupa tawarin bundling harga untuk pembelian di atas 3 pcs. Selain itu pastikan *signature card-*nya kamu kasih.” Cerocos Mila dengan semangat\, ia memang ahlinya dalam mengatur teman-temannya.


Sementara Disa hanya terduduk di tempatnya seraya memandangi seisi butik. Ruangan yang penuh dengan barang-barang yang tersusun rapi dan orang-orang yang antusias bekerja. Orang-orang yang berada di sisinya untuk melakukan semuanya ini bersama-sama. Mereka adalah support system terbaik yang Disa punya.


“Ya allah, terima kasih..” lirih Disa dalam hatinya. Entah seperti apa ia harus mengungkapkan rasa syukurnya atas semua pencapaian ini.


Melihat teman-temannya yang sibuk bekerja, Disa memilih membuatkan mereka minum dan cemilan. Minuman segar yang khusus ia buat untuk menyemangati teman-temannya.


“Terima kasih nona muda.” Sahut karyawan Disa kompak.


“Sama-sama. Jangan lupa minum air putih juga ya, supaya gak sakit pinggang.” Timpal Disa.


“Baik nona.” Mereka memang selalu kompak, membuat Disa tersenyum tenang.


Berjalan keluar butik dan membawakan satu baki minuman. Di taruhnya di meja yang ada di taman, tempat Arini dan Sigit duduk santai.


“Kean, jangan cepet-cepet kamu larinya, kasian naka. Ngalah kamu sama anak sendiri.” Seru Sigit saat melihat Naka yang mengejar ayahnya.


“Udah mas biarin. Tuh nakanya juga tambah semangat kok. Kean tau harus kok cara ngajak main anaknya.” Bela Arini. Kecemasan Sigit terhadap Naka memang kadang berlebihan.


Sejak ada Naka, emosi Sigit cenderung stabil. Ia lebih banyak tertawa dengan tingkah menggemaskan cucunya. Ia membiarkan dinding ruang kerjanya di corat coret Naka padahal dulu ia sangat menjaga kebersihan ruangannya. Satu laptop sudah jadi korban karena kreativitas Naka, tapi tidak sekalipun Sigit marah. Maklum, cucu kesayangan.


Dan kali ini, Sigit hanya menggeleng. Andai saja ia masih bisa berlari kencang, mungkin ia yang akan menemani cucunya berlarian di taman.


“Papah kamu iri sama anak dan cucunya, makanya bawel.” Ujar Arini pada Disa.


“Enak aja, aku gak iri kok.” Masih gengsi rupanya mengakui rasa irinya.


“Disa do’ain papah cepet sehat, nanti operasinya lancar jadi bisa main lari-larian sama naka.”  Menaruh beberapa gelas di atas meja lalu duduk di samping Arini.


“Amminn..” timpal Arini. Dan Sigit hanya tersenyum seraya mengusap kepala Disa. Rasanya ia sangat bersyukur memiliki menantu seperti Disa.


“Wah kayaknya seru nih!” suara Shafira terdengar dari kejauhan.


“Darimana kamu, seharian gak keliatan.” Sengit Sigit dengan gaya sinisnya.


“Habis nyelesein masalah dady. Ngegas aja nih kakeknya naka.” Shafira mencium pipi Sigit dan Arini lantas duduk di samping Sigit.


“Urusan apa?” kepo rupanya laki-laki paruh baya ini.


“Urusan hati.” Shafira sedikit berbisik sambil tersenyum pada Disa.


“Anak kecil, ngomongnya urusan hati.” Gerutu Sigit yang masih bisa di dengar oleh Shafira. Bagi Sigit, Shafira tetaplah anak kecil walau usianya sudah menjelang seperempat abad.


“Iya lah. Masalah hati yang matang itu menentukan kedewasaan you know!” sengit Shafira. Meneguk minuman di hadapannya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


Arini hanya menggeleng melihat tingkah putri sambungnya.


“Oh iya teh, aku punya hadiah buat teteh sama abang.” Mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


“Hadiah? Hadiah apa?” Disa jadi penasaran.


“Nih.” Menunjukkan layar ponselnya pada Disa.


“Puisi?” Mengernyitkan dahinya penuh tanya.


“Ini lagu. Aku bikin bareng malvin. Tunggu deh, nanti malvin ke sini bawa gitar. Teteh dengerin langsung lagunya.”


“Malvin?” Arini dan Disa kompak bertanya.


“Hehehehe…” Shafira malah tersenyum, lantas berangsur pergi sebelum banyak pertanyaan lainnya.


“Firr,,,” Disa menahan tangan Shafira. Perlu penjelasan lebih rupanya.


“Aku mau main dulu sama naka. Nanti aku certain.” Menghindar adalah jalan ninjanya. Terlebih saat melihat mata Sigit yang menatapnya penuh selidik. “BYE!” serunya yang berlari menghampiri Naka.


“Nakaaa… Let's play with aunty filaaaa!!!” teriak Shafira memanggil Naka.


“Auntyyy!!!!” balas Naka. Ia berlari pada Shafira dan langsung memeluknya. Tidak sabaran Naka pun menarik tangan shafira untuk bermain bersama Kean.


“Fira gak cerita apa-apa sa?” tanya Arini pada Disa. Tumben sekali Shafira terlihat begitu ceria.


“Nggak mah. Atau mungkin belum. Tapi, belakangan fira kayaknya banyak ngobrol sama aa.” Disa jadi ikut memperhatikan adik iparnya.


“Dia udah dewasa.” Gumam Arini.


Ya, gadis itu sudah tumbuh dewasa, entah sejak kapan.


******


Perayaan itu benar-benar dilakukan Sigit. Marwan di minta membawa armada di rumah utama yang Sigit tahu dekat dengan menantunya. Makanan dan minuman tersaji di atas meja dan tawa suka cita terdengar jelas di hari menjelang senja tersebut.


“Kita bersulang untuk kesuksesan Disa. Cheers!!!” Sigit mengangkat gelasnya tinggi-tinggi dan diikuti orang-orang yang ikut hadir.


“CHEERRSSS!!!” sahut mereka kompak. Meneguk minuman masing-masing dengan semangat.


“Selamat ya sayang..” lirih Kean seraya mengecup pucuk kepala Disa. Tangannya melingkar di pinggang Disa.


Bagi Kean, ini sangat membanggakan melihat Disa berada di awal kariernya yang baik.


“Makasih a. Makasih mah, pah dan semuanya.” Ungkap Disa dengan penuh haru.


“Eits, tidak hanya kita. Ada seseorang juga yang mau ketemu nona muda.” Marwan menyalakan ipadnya dan tampaklah wajah yang tidak asing bagi Disa.


“Ya allah nenek…” seru Disa saat melihat wajah Jenar dan Bi Imas yang tersenyum padanya.


“Ya allah eneng….. Selamat yaaa… Bibi sama nenek meni ikut seneng.” Ungkap Imas dengan mata berkaca-kaca. Sementara Jenar hanya bisa menyusut air matanya yang tidak henti mengalir sejak Mrawan mengatakan ingin memberi kejutan untuk Disa.


Cucu yang ia besarkan dalam segala keterbatasan ternyata bisa meraih mimpinya dengan cara yang tidak pernah terduga. Bisa ia bayangkan seandainya kedua orang tua Disa masih ada, tentu mereka akan sangat bahagia dan bangga melihat Disa yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri.


“Iya bi, makasih ya. Makasih banyak..” Disa ikut menangis. Rasa haru menyeruak di dadanya. Tidak menyangka kalau ia dikelilingi orang-orang yang begitu mencintainya.


“Mama, are you okey?” Naka segera mendekat. Khawatir dengan ibunya yang menangis.


“I’m okey baby.” Disa berjongkok untuk menyesuaikan tingginya dengan tinggi badan Naka.


“Don’t cry mama..” lirih Naka seraya mengusap air mata Disa. Wajah cemasnya begitu menggemaskan.


“I will always take care of you mama.” Imbuhnya lagi. Tangannya mengepal penuh semangat.


“Ooo you’re too sweet…” Disa memeluk Naka dengan erat, membuat mereka tersenyum bahagia melihat sikap manis Naka pada Disa.


“I will always take care booth of you.” Kean ikut memeluk Disa dan Naka membuat suasana haru seketika.


“Emm, so sweet…” suara Shafira yang terdengar jelas, membuat orang-orang yang menyimpan air mata harunya ikut tertawa senang.


“Okey, I have something for your mama and papa, naka.” Ujar Shafira.


“What is it aunty fila?” anak kecil itu sangat penasaran.


“Wait a minute.” Shafira menunjuk Malvin yang baru datang. Laki-laki tampan itu berjalan mendekat dengan sebuah gitar yang ia sampirkan di bahunya.


“Is he your boy friend aunty?” Naka berbalik menatap Shafira.


“Still friend, not boy friend.” Bisik Shafira. Bersama-sama Naka memandangi Malvin yang mendekat


“Is it different?” rasa penasaran Naka belum selesai.


“I don’t know!” Shafira hanya mengendikkan bahunya dengan segaris senyum tipis. Entah seperti apa hubungannya saat ini dengan Malvin. Yang jelas mereka dekat.


Kedatangan Malvin membawa keceriaan lebih. Sesuai janjinya Shafira benar-benar menyanyikan lagu yang ia buat bersama Malvin. Suara petikan gitar mengiringi suara indah Shafira. Katanya lagu ini adalah hadiah ulang tahun pernikahan Disa sebulan lalu.


“My heart soars, when I remember your face.


I never even had as much faith as when I said I love you.


you are the most beautiful i have ever seen


the best one who will accompany me all the time.”


Sepenggal bait yang Shafira nyanyikan seolah menggambarkan Disa dan Kean untuk satu sama lain. Lebih dari cukup, lagu ini memang mewakili perasaan keduanya. Seperti Shafira tahu persis apa yang Disa dan Kean rasakan.


Di tempatnya, Naka mengambil beberapa foto dengan kamera polaroidnya. Ia tertawa riang saat Sigit memuji hasil karyanya yang indah.


Beginilah seharusnya sebuah keluarga bukan? Hangat dan saling menyayangi.


*****


Malam sudah cukup larut dan Disa masih asyik terduduk di meja riasnya, membuka satu per satu halaman buku sktesanya yang sudah habis setengahnya ia gambari.


Jika orang-orang suka bercerita dalam diary-nya maka Disa suka bercerita lewat buku sketsanya.


Tanpa ia duga, kejadian penting yang pernah terjadi dalam hidupnya, ternyata tergambar di buku sketsanya. Ada beberapa sketsa yang ia buat sebagai harapan, dan benar-benar terjadi di kehidupan nyata.


“Aku selalu percaya kalau aku bukanlah cinderela yang memerlukan bantuan ibu peri untuk bisa bertemu dan bersama dengan sang pangeran.”


Sepenggal tulisan itu Disa buat saat malam pertamanya bersama Kean. Keadaan yang sempat membuatnya bingung antara ia di terima atau tidak oleh laki-laki yang dicintainya.


Tapi di gambar-gambar berikutnya adalah saat ia merasa begitu yakin kalau Kean adalah laki-laki yang tepat yang akan menemaninya sepanjang usia. Laki-laki dengan stelan jas lengkap yang mengajaknya makan malam di sebuah hotel berbintang. Juga laki-laki yang mengatakan kalau ia bukanlah seorang badut yang harus selalu tampil baik-baik saja.


Di halaman berikutnya, ada foto-foto desain selama ia di paris dan desain yang ia buat untuk peragaan busana hingga membawanya pada sebuah keberuntungan karena karyanya di sukai banyak orang.


“Psyche”


Nama brand untuk bisnis clothing Disa dengan logo yang ia buat sendiri. Logo ini menjadi interpretasi karyanya yang ia gambar di buku sketsanya.


Dan saat ini ia tengah menggambar suasana sore tadi. Bagaimana orang-orang di sekitarnya tertawa bahagia, saling bertukar cerita dan menunjukkan kalau mereka saling memiliki satu sama lain.


Ada satu foto yang kemudian Disa tempelkan di halaman bukunya. Foto yang diambil Naka sore tadi. Lalu ia pun menggambar Kean dan Naka dalam bukunya. Gambar Kean saat menggendong Naka di pundaknya.


“Hey,..” sebuah suara menyadarkan Disa dari imajinasinya.


Ada Kean yang melingkarkan tangannya di pinggang lantas memeluknya erat dari belakang dan mengecup pucuk kepalanya.


“Hay..” Balas Disa. “Naka udah bobo?” di usapnya pipi sang suami dengan lembut. Rambut halusnya mulai tumbuh di sekitar rahangnya yang kokoh.


“Udah. Dia minta di ceritain tentang singa. Katanya ada singa yang baik yang nggak gigit temennya.” Terang Kean.


“Iya itu cerita favoritnya. Dia percaya kalo singa itu gak jahat.” Suara Disa mulai terdengar melemah, saat kecupan Kean menelusur garis lehernya dan menyesap wanginya kuat-kuat.


“Dia bilang, dia mau jadi abang singa yang jagain baby singa. Apa mungkin dia minta seorang adik?” tangan Kean mulai bergriliya masuk ke dalam baju tidur Disa setelah melepas beberapa kancing.


“Apa papah singa udah siap denger tangis baby singa malem-malem lagi?” bisik Disa, yang balas mencium pipi Kean dengan sensual.


“I’ll care all of you all the time.” Bisik Kean, menggigit daun telinga Disa dengan bibirnya.


“Aku percaya.” Lantas Disa berbalik menghadap suaminya.


Satu tangannya melingkar di leher Kean sementara satu tangannya menutup halaman buku sketsa yang selesai ia gambari. Masih ada setengah halaman yang belum ia gambari tapi saat ini, ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan laki-laki yang mengisi separuh dari buku sketsanya.


Satu halaman terakhir yang ia gambari adalah kebahagiaannya saat ini. Bersama suami dan anaknya serta orang-orang disekitarnya yang bisa menerimanya apa adanya.


Harus Disa yakini, setelah ini ia tidak akan menemukan lagi rasa sepi dalam kesendirian. Terima kasih untuk semua rasa tenang dan bahagia ini.


Dikecupnya bibir Kean lembut, lantas ia tersenyum bahagia melihat sorot mata suaminya yang mulai menuntutnya.


"I love you," bisik Kean.


Mereka terlarut dalam perasaan saling memiliki. Dan saat ini, selamat malam dari nyala lampu yang mulai meredup buku sketsa yang siap ia lukis di hari-hari berikutnya.


“With love, Paradisa Sandhya.”


*****


Spesial foto Naka dan lukisan Disa,




 


 


``````` THE END `````