Marry The Heir

Marry The Heir
Bullying



POV Kean


Bullying, aku pikir hal seperti ini tidak akan pernah terjadi di sebuah sekolah dengan taraf internasional. Atau paling tidak, tidak akan terjadi pada gadis yang seharian ini kami cari. Melihat gayanya yang terlihat sempurna dan memukau dari ujung kaki hingga ujung kepala, aku sangat yakin kalau tidak akan ada orang yang berani mengejeknya karena aku tahu, uang bisa membungkam mulut banyak orang.


Seperti yang ku alami, alasan aku pulang ke rumah ini tanpa bisa protes adalah salah satu bentuk kebungkamanku karena uang. Demi memastikan papah selalu menyiapkan dana untuk biaya pengobatan mamah, aku mengikuti keinginan papah yang sebenarnya lebih terasa sebagai paksaan.


Yang jika di pikir lagi, uang yang kami miliki tidak pernah menjadi solusi dari masalah keluarga kami. Bukan uang inti masalah yang membuat rumah ini terasa panas dan membuatku tidak nyaman. Tidak merasa berada di rumah yang tepat adalah inti masalah keluarga ini.


Lidah lebih tajam dari pedang, sepertinya pepatah itu mulai tergeser dengan istilah, tarian jari lebih tajam dari pedang.


Bukan tanpa alasan hal itu terjadi, karena ketikan jari seseorang bisa sangat mudah melukai hati dan membunuh mental orang lain. Coba ingat lagi berapa banyak tokoh-tokoh terkenal yang bunuh diri karena tidak kuat terus menerus mendapat komentar negative pada sebuah postingan. Orang yang melakukannya mungkin santai saja, mengetiknya sambil rebahan dan merasakan kepuasan tersendiri saat komentarnya berhasil mengundang banyak orang untuk  menimpali atau memberi like pada komentarnya. Tanpa dia sadari, ada orang lain yang mungkin sedang menangis mendapati komentar jahat hingga kondisi mentalnya drop dan membuatnya melakukan hal nekat termasuk bunuh diri.


Ironis, dengan alasan kebebasan berpendapat membuat orang mulai mempermudah dan menganggap sepele apa yang mereka tulis. Mereka lupa cara menyampaikan pendapat pun memiliki aturan dan etika. Walau sebuah tulisan menunjukkan seperti apa kualitas orang-orang yang menulisnya, nyatanya itu tidak membuat orang jera menulis hal yang menjijikan yang menyebalkan. Semakin provokatif sebuah tulisan maka semakin puas orang itu menyampaikannya.


Menyumpahi, merendahkan, menghakimi dan hal buruk lainnya seperti menjadi hal paling menarik yang bisa mereka lakukan saat mendengar skandal sebuah keluarga, termasuk keluargaku.


“Tuan, saya sudah menemukan non fira. Tapi non fira tidak mau pulang. Sejak tadi dia terus melamun dan sesekali menangis. Non fira juga tidak mau makan. Badannya agak demam, saya khawatir terjadi sesuatu pada non fira.”


Begitu bunyi pesan yang aku terima dari Disa. Percaya diri sekali dia memberitahukan hal ini padaku. Dia pikir aku akan peduli?


HAH!


Ini yang menyebalkan. Aku berusaha untuk tidak peduli tapi seketika bayangan wajah Disa saat mengatakan kalimat pesan yang di kirimnya membuat perasaanku tidak nyaman.


Kena mental, mungkin ini lah yang sedang di rasakan anak kecil itu. Kalau saja dia tahu bahwa masalah keluarga kami tidak hanya membuatnya sedih dan malu, ada hal yang lebih besar, yaitu nama baik perusahaan kami yang mulai menjadi sorotan.


Banyak pihak yang tiba-tiba ikut berkomentar dan seolah mengenal keluarga kami. Laman berita online kali ini memang banyak mengulas tentang keluarga kami terutama masalah pribadi papah.


Aku tidak pernah menyangka kalau kepulangan mamah akan jadi pemantik efek domino di keluarga kami. Roy dan Pak Marwan kelimpungan menjawab pertanyaan dari para rekanan bisnis yang mulai turun kepercayaannya. Beberapa pihak tidak segan untuk melempar berita hoax yang semakin memperparah kondisi keluarga dan perusahaan kami.


Ku dengar papah pulang lebih awal. Tekanan darahnya cukup tinggi dan ia mengeluhkan sakit dada.


Tuhan, masalah apa lagi ini? Tidak cukupkah ujianmu hanya dengan memberikan keluarga yang berantakan kepadaku?


“Tuan, saya harus bagaimana?” lagi Disa mengirimkan pesannya untukku.


Ku usap wajahku dengan kasar dan ku lirik sebentar Roy yang masih sibuk bertelpon dengan seseorang.


“Benar tuan, kami pastikan ini hanya berita hoax saja. Kami akan segera mencari sumber beritanya dan kami pastikan masalah ini tidak berpengaruh pada harga saham perusahaan kami.”


Entah janji ke berapa yang Roy sampaikan pada rekanan kami yang terus menerus mengkonfirmasi masalah keluarga kami. Kenapa semuanya terasa semakin runyam. Kepalaku pusing dan rasanya aku mulai marah.


Jika Roy pikir masalah ini tidak berpengaruh pada harga saham, dia salah. Sudah ada penurunan 1,7% saham kami dari sejak pagi tadi. Sangat cepat memang dan tidak terprediksi.


Pikiranku buntu!!


Ku ambil kunci mobil yang biasa di pakai Roy berikut jas yang aku sampirkan di kursi.


“Tunggu di situ, jangan kemana-mana.”


Akhirnya aku menyerah pada rengekan Disa. Ya, Disalah yang membuat sikapku melunak pada anak kecil itu.


“Tuan, anda mau kemana?” Roy segera menghampiriku saat melihat ku melangkah keluar ruangan.


“Saya harus menemui disa.” Jawabku singkat.


“Saya antar tuan!” Roy mengulurkan tangannya meminta kunci di tanganku.


Ku tatap sebentar wajah Roy yang terlihat Lelah. Seharian ini kami memang lebih banyak berbicara di banding benar-benar bekerja.


Ku berikan kuncinya dan ku tepuk bahunya. “Terima kasih atas semua kerja kerasmu.” Ujarku dengan penuh kebanggan.


“Tentu tuan. Saya akan tetap melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita.” Sepertinya ia tahu arah pembicaraanku.


Tidak menunggu lama, kami segera menuju lokasi yang dikirimkan Disa dan ternyata sebuah café dan disinilah saat ini aku berada.


Setelah susah payah mengajak anak kecil ini pulang, akhirnya dia mau keluar dari café walau terlihat sangat malas. Wajahnya sendu dengan kedua mata bengkak dan hidung yang merah. Bisa aku bayangkan kemarahannya yang memuncak seperti saat aku di paksa pulang ke rumah dan mendapati anak kecil ini sebagai adikku.


Jika mengingat kejadian itu, rasanya aku ingin meneriaki semua orang yang menyembunyikan bangkai keluarga kami dengan sangat rapat. Kalau ku tanya alasannya, Bu Kinar hanya mengatakan kalau ia tidak mau memperburuk Kesehatan mamah.


Gila! Apa mereka pikir hanya mamah yang akan kecewa pada kenyataan ini? Tidak kah mereka memikirkan perasaanku?


20 tahun bukan waktu yang sebentar dan selama 20 tahun itu aku tidak tahu apa-apa. Sungguh, papah telah melewati batas toleransinya sebagai seorang ayah. Sekalinya aku diminta pulang, bukan karena dia merindukanku sebagai anaknya. Dia hanya membutuhkan bantuanku untuk meneruskan perusahaan.


Saat pertama aku pulang ke rumah, aku masih ingat saat itu mamah menanyakan kabar papah. Saat di amerika pun ia sering bertanya kabar papah pada Bu Kinar. Mamah sering terlihat gelisah dan bertanya, apa papah baik-baik saja?


Saat ini aku sadar, kegelisahan mamah bukan tanpa alasan. Mungkin feeling-nya sebagai seorang istrilah yang sangat kuat. Selama itu pula, kami hanya berdua, sementara papah sudah bersama wanita itu lebih dari 17 tahun. Papah memang sangat pandai menyimpan rahasianya. Tidak ada yang tahu kondisi keluarga kami. Yang mereka tahu hanya prestasi papah yang memang gemilang sebagai seorang pengusaha.


Aku pikir, mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku tidak mau berbicara dengan anak kecil yang mengekori langkahku di belakang. Apa jadinya kalau ia tahu seperti apa keegoisan orang tua kami. Bukankah cukup aku yang merasa kecewa?


Tapi nyatanya, kepulangan mamah seolah membongkar aib yang selama ini di simpan papah. Sikap bungkam bu Kinar saat di tanya kabar papah ternyata memiliki alasan yang jelas. Label laki-laki sempurna yang di sematkan mamah pada papah hancur seketika saat mamah melihat wanita itu duduk di samping papah dengan foto mereka yang mengisi dinding rumah.


“Mamah lelah, mamah ingin istirahat.” Kalimat itu menjadi kalimat penuh kesakitan yang aku dengar dari mamah beberapa saat setelah ia pulang. Ia tidak mau di temani seperti biasanya. Ia tidak meminta aku tidur di sampingnya dan bercerita pengalaman seharian yang aku lakukan di luar rumah.


Malam itu, mamah menangis sendirian. Aku hanya bisa mengintip dari celah pintu dengan tangan mengepal yang siap menghantam siapapun. Aku merasakan kesakitan yang mamah rasakan. Perasaan di bodohi dan di buang. Bahkan mungkin di anggap sudah mati.


“Tapi ternyata, selama 20 tahun aku hidup sebagai wanita bodoh. Selalu mengharapkan kamu datang menemuiku dan menanyakan kabarku. Tapi 20 tahun itu pula ternyata aku mencemaskan orang yang salah. Kamu bahkan lebih bahagia tanpa aku mas.”


Tangis mamah terdengar pecah. Ia memeluk foto keluarga kami yang selalu ia simpan di dalam dompetnya. Foto itu yang selalu mamah pandangi saat di amerika. Dan rasanya, aku ingin menyobek foto itu agar tidak lagi menyakiti mamah.


“Terima kasih mas roy.” Suara Disa menyadarkanku dari lamunan panjang.


Tepat di hadapanku ada Roy yang membukakan pintu untukku lalu untuk Disa.


“Sama-sama sa.” Timpal Roy dengan segaris senyum.


Ku lirik Disa yang membalas senyuman itu namun saat melihat tatapanku, raut wajahnya segera berubah. Seperti ada rasa bersalah karena tersenyum di waktu yang tidak tepat.


Kenapa harus berhenti? Padahal melihat senyumannya membuat rasa gelisahku sedikit berkurang. Tarikan garis bibirnya seolah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Dan saat mendapati tatapannya yang hangat membuatku merasa menemukan air telaga yang menyengarkan tenggorokanku yang kering. Kekesalanku seharian ini seperti meluruh.


Kenapa aku mulai kecanduan melihat senyumnya yang selalu aku lihat tiap saat? Bukankah itu hal yang biasa?


Tuhan apa yang terjadi padaku?


Penjalanan pulang kami habiskan dalam keheningan. Masing-masing dari kami, tengggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali aku melirik ke belakang melalui spion dan ku lihat anak kecil itu sedang menyandarkan kepalanya ke bahu Disa dengan mata yang sesekali berkedip lamban. Sementara itu, Disa tidak lelah mengusap kepalanya dengan lembut.


Apa mereka benar-benar sedekat itu? Mengapa aku merasa kalau anak itu mulai berani mencuri sesuatu dariku?


Tiba di halaman rumah, aku turun lebih dulu. Ku dengar langkah kaki yang cepat seperti tengah mengejarku.


“Abang! Tunggu fira.” Lagi suara anak kecil itu yang menjeda langkahku. Ia menghadangku dengan merentangkan kedua tangannya. “Fira mau ngomong sekarang. Sebentar aja di taman.” Wajahnya terlihat memelas sekaligus tidak sabar.


Aku hanya menghembuskan nafas kesal namun akhirnya mengikuti permintaan anak kecil ini.


“Katakan!” seruku saat kami sudah berada di taman belakang.


Ia duduk lebih dulu di atas bangku, lantas menujuk tempat di sampingnya dengan sudut mata.


Dengan malas aku menghampirinya dan duduk dengan jarak yang cukup jauh. Ia langsung membalik badannya menghadapku sementara aku lebih memilih memedarkan pandanganku pada beberapa ekor laron yang beterbangan mengelilingi lampu taman.


“Ini kan alasan kenapa abang benci banget sama fira?” ia langsung memulai kalimatnya tanpa basa-basi. Sepertinya keluarga kami memang bukan keluarga yang suka berbasa-basi.


Aku tidak menjawabnya, apa yang harus aku jawab, apa harus ku katakan kalau aku tidak pernah membencinya? Tapi menjaga jarak adalah cara paling baik agar emosiku tidak terpancing.


“Abang! Liat fira dong! Fira lagi ngomong!" Mulai kesal rupanya.


"Kenapa sih semua orang selalu mengabaikan fira? Gak pernah menganggap fira ada. Apa fira emang salah karena lahir di keluarga ini?” dia mulai merepet kesal melihat sikap acuhku.


“Fira gak pernah tau kalau kita lahir dari dua ibu yang berbeda. Fira juga bingung harus bicara sama siapa. Mamih gak pernah jawab pertanyaan fira, dady gak pernah ngasih tau apa-apa dan bu kinar juga. Udah fira paksa masih aja gak ngomong apa-apa. Kenapa sih orang-orang di rumah ini susah banget ngomong sama fira!” dia mulai menangis dengan tangan mengepal yang kemudian ia gunakan untuk mengusap air matanya dengan kasar.


“Hari ini, fira sangat malu. Teman-teman ngebahas tentang masalah keluarga kita yang fira sendiri gak tau. Mereka bilang mamih adalah selingkuhan dady. Fira adalah anak haram. Lalu,” ia tersedu dengan kedua tangan yang menangkup wajahnya.


“Mereka bilang fira gak tau malu karena menikmati semua fasilitas yang bukan hak fira. Fira anak pelakor dan mamih menggunakan sihir untuk menjerat dady. Mungkin aja fira juga lahir sebelum dady sama mamih menikah. Hwaaaa…..” Akhirnya ia benar-benar menangis. Kasihan juga.


Sepertinya bukan hanya karena malu tapi karena kesal dengan keadaan.


Inilah yang membuatku tidak pernah mau membuka tabir masalah keluarga kami. Akan ada orang yang merasa bersalah karena berada bukan pada tempat semestinya. Dan aku tidak menyangka, gossip tentang keluarga kami ternyata begitu liar. Banyak karangan bebas yang di buat oleh pihak-pihak tertentu dengan dasar ilmu cocokologi. Sial! Kenapa masalahnya semakin parah. Siapa sebenarnya sumber berita keluarga kami?!


“Kenapa kamu harus memikirkan semua omongan orang-orang itu kalau kamu tidak merasa?” akhirya aku bersuara. Jujur aku sudah merasa lelah dan ingin segera mengakhiri sesi curhat ini. Tapi kalau tidak ku selesaikan, anak kecil ini akan terus merajuk dan mengekoriku sampai aku muak.


“Ya karena fira gak tau mana yang bener dan mana yang salah!” serunya dengan mata merah yang menatapku tajam.


“Fira gak tau seperti apa keluarga kita sebenarnya. Orang-orang di luar sana lebih bisa membuat cerita yang masuk akal di banding kondisi yang fira lihat sendiri. Kalau mamih sama dady gak bisa jelasin apa-apa, maka itu bentuk pengakuan kalau yang di katakan orang-orang itu benar!”


Gadis kecil ini mulai menujukkan emosinya. Aku bisa melihat kilatan amarah yang menyala-nyala di matanya.


“Kamu tau, masalah orang dewasa bukan urusan kamu untuk memikirkannya. Cukup belajar dengan baik dan abaikan semua omongan mereka.” Aku berusaha menenangkannya dengan caraku. Tapi menghibur orang yang bersedih, bukanlah keahlianku.


“Tapi fira bukan anak kecil bang! Fira udah 17 tahun dan fira gak bisa berhenti memikirkan masalah yang saat ini fira hadapi.”


“Tapi kamu harus tau batasan. Ada kalanya sebuah cerita yang di simpan baik-baik hanya akan membuat luka lama kembali terbuka saat kamu berusaha mengungkapnya. Dan satu hal lagi, berhenti membaca komen-komen tidak penting di media sosial manapun. Bukan kewajiban kamu untuk membalas apalagi menjelaskannya pada semua orang!” akhirnya aku menggertaknya.


Pikiran anak ini semakin melantur. Jika harus menjelaskan, aku pun tidak tahu harus memulainya dari mana.


“IIHH! Abang!”  ia berseru dengan kesal. Sepertinya ia kecewa dengan ucapanku.


“Masuk! Sudah malam.” Hanya itu yang aku ucapkan sebelum berlalu meninggalkannya seorang diri.


Sayup-sayup aku dengar ia berteriak tertahan dengan kedua tangan yang menutupi mulutnya sendiri. Aku tahu ia kecewa tapi ada batasan hal mana yang boleh ia tahu dan tidak. Dan saat ini aku belum bisa memilahnya.


Biarkan saja dulu ia mengeluarkan emosinya. Aku percaya dia cukup kuat untuk kembali berjalan masuk ke dalam rumah.


*****