Marry The Heir

Marry The Heir
Mirror



“Hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku?” kalimat itu menjadi awal pembicaraan sepasang suami istri yang sudah sangat lama tidak pernah terjadi.


Kaku dan langsung pada inti masalah. Tidak ada basa-basi yang menunjukkan kalau mereka memiliki hubungan yang lebih erat selain sebagai lawan bicara.


Sepasang suami istri pada umumnya terbiasa membicarakan banyak hal tentang keluarga mereka. Membahas masalah keluarga mulai dari kondisi Kesehatan mereka, rencana masa depan, kehidupan anak-anak dan sesekali tentang rencana liburan.


Tapi hal itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan rumah tangga Sigit dan Arini. Hampir 30 tahun menikah, mereka masih menjadi asing bagi satu sama lain. Berbicara serius hanya saat mereka ada bahan pembicaraan penting. Tidak ada moment dimana mereka berusaha saling mengenal satu sama lain, layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Mereka terikat sebuah pernikahan namun hati mereka tidak tertaut. Terlalu banyak hal yang terlewat hingga terkadang Arini berfikir, apa ini masih bisa di sebut hubungan suami istri?


Sigit fokus dengan kehidupan yang sebagian besar tercurah untuk perusahaan sementara Arini fokus pada kesehatannya. Mereka berjalan masing-masing, tidak pada satu rel yang sama. Hingga pembicaraan tentang keluargapun menjadi hal yang berat untuk mereka mulai.


“Apa yang kamu lakukan pada putraku?” pertanyaan Arini pun langsung pada intinya.


Setelah berhasil mendesak Kinar agar mau bercerita akhirnya ia tahu semuanya. Apa yang dilakukan suaminya pada sang anak, juga pada Disa yang masih berdiri di luar.


“Tidak ada, aku hanya memastikan kalau putraku memilih wanita yang tepat.” Sahutannya terdengar ringan. Sangat manis, seolah ia seorang ayah yang mengerti benar kebutuhan putranya.


Ia bersandar dengan santai ke meja kerjanya seraya menyilangkan tangan di depan dada. Otoritasnya memang tidak bisa di bantah.


“Putramu? Apa aku tidak salah dengar?”


Arini tersenyum kecil di ujung kalimatnya. Gatal telinganya saat mendengar Sigit mengatakan kalau Kean adalah putranya. Kenapa tidak nampak kalau hubungan mereka seperti ayah dan anak pada umumnya?


“Rin, untuk masalah ini aku minta kamu tidak usah ikut campur. Aku ayahnya, aku tahu apa yang terbaik untuk putraku.” Sigit berusaha menegaskan kalimatnya. Ia tidak ingin memperdebatkan apa yang sudah jadi keputusannya.


“Dan aku ibunya!!” Arini langsung menimpali.


“Aku yang lebih tau apa yang membuat anakku bahagia!” imbuh Arini dengan penuh penekanan. Matanya menyalak menatap Sigit dengan berani.


Selama ini ia hanya menerima apa yang menjadi keputusan suaminya. Tapi kali ini, jika ini menyangkut masa depan Kean, ia tidak akan tinggal diam. Ia berani menghadapi Sigit dan menentang keputusan yang bisa membuat putranya kecewa.


“Rin, aku juga berusaha untuk hal yang sama! Clara itu pilihan yang tepat. Dia perempuan baik-baik dan dari keluarga baik-baik. Aku mengenal benar brata dan seperti apa keluarganya. Ini yang terbaik untuk kean.”


Sigit masih bersikukuh dengan keputusannya. Tidak ingin di bantah untuk alasan apapun. Baginya tidak ada yang lebih baik dari putri sahabatnya.


“Tapi kean gak cinta mas sama clara. Kean mencintai wanita lain. Jangan buat mereka berpisah karena keegoisan kamu!”


“Pelayan itu maksud kamu?!” mata Sigit mulai menyalak. Saat mengingat wajah Disa, kemarahannya seperti bangkit kembali. Bagaimana mungkin seorang gadis dari keluarga terpandang di bandingkan dengan seorang pelayan.


“Ya. Dia pelayan tapi dia punya nama. Dan dia wanita yang dicintai anak kita. Apa yang salah?”


Arini tidak menurunkan sedikitpun pandangannya. Terang-terangan ini menantang untuk menatap Sigit dengan penuh kemarahan. Jika harus berdebat, maka demi putranya ia siap menghadapi.


Sigit tersenyum sarkas pada Arini. “Bodoh! Kamu pikir Kean akan bahagia dengan menikahi seorang pelayan? Perasaan dia itu hanya sementara. Dia lupa memakai nalarnya.” ia melangkah mendekat pada Arini. Kalimatnya di buat pelan namun penuh penekanan.


“YA! Tentu dia akan bahagia!” Arini dengan penuh keyakinan.


“Apa kamu tidak belajar dari apa yang terjadi pada kita?”


“Kamu menikahiku, seorang wanita dari keluarga terpandang, penerus bisnis property, cerdas dan cantik.”


“Tapi itu hanya sebuah topeng untuk terlihat sempurna di hadapan orang lain. Kita bahkan tidak terlihat seperti suami istri. Kita hanya dua orang yang di paksa bersama untuk mempertahankan kekayaan orang tua kita dan citra mereka agar selalu di ingat sebagai keluarga konglomerat dengan kekayaan melimpah.”


“Kita di paksa melahirkan seorang manusia yang akan jadi penerus kekayaan kita tapi tidak pernah bisa menjadi putra kita.”


“Kamu sadar kan kalau memilih pasangan berdasarkan kasta bukan patokan kita bisa merasa bahagia? Apa kita pernah bahagia dengan pernikahan ini?”


Pertanyaan Arini terdengar pedih. Mata kanannya mulai meneteskan air mata saat mengingat apa yang terjadi pada hidupnya saat ini. Bersama Sigit ia memiliki segalanya. Kekayaan yang melimpah, putra yang bisa ia banggakan tapi ia tidak memiliki kebahagiaan. Hal mendasar yang bisa membuat seseorang merasa hidup.


“Kalau kamu tidak bahagia, harusnya kamu tidak perlu kembali dari amerika.” Malah jawaban itu yang kemudian di ucapkan Sigit dengan sinis.


“Aku sudah melepaskan kamu, mencoba memberi kamu kehidupan yang baru dengan tinggal di amerika. Bukan salahku kalau kamu memilih pulang dan mendapatkan kembali perasaan tidak bahagia itu.” Masih dengan angkuhnya kalimat itu di ucapkan Sigit. Dalam pikirnya kebaikannya terlalu besar untuk di salah artikan ole Arini.


“Mas! Perasaan kamu dimana sih?!” suara Arini mulai terdengar gemetar. Bukan karena takut menghadapi Sigit tapi karena kekecewaannya yang mulai memuncak.


“Kamu tidak pernah melepaskanku untuk bahagia. Kamu membuangku!”


“Kamu menganggap aku dan kean adalah aib di keluarga ini sehingga kamu membuang kami sejauh mungkin. Dan agar bisa bersama wanita yang kamu cinta, kamu tega mengkhianatiku."


"Kamu bilang aku bahagia di sana? Padahal kamu bahkan tidak peduli apa aku masih hidup atau tidak? Apa aku masih bisa bernafas, apa aku masih bisa makan dan apa kamu pernah memikirkan hal itu? Tidak bukan?"


Lalu apa kamu pikir aku bisa bahagia dengan apa yang kamu lakukan untukku? Aku harus berterima kasih begitu?”


Terlihat senyum sinis di ujung kalimat Arini. Matanya sudah merah dan basah. Sigit yang di tatapnya malah memalingkan muka, entah ia tidak peduli dengan apa yang Arini rasakan atau ia membentengi hatinya agar tidak tergerak.


“Aku memang tidak menikahi laki-laki yang mencintaiku tapi, aku pikir aku masih menikahi laki-laki yang punya hati.”


“Kamu terlalu dingin. Kepentingan kamu adalah segalanya. Kamu tidak peduli pada orang lain dan saat ini kamu malah mau mengambil kebahagiaan anakku. Kamu masih punya hati gak sih mas?!”


Suara Arini mulai pecah. Ia tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Sigit. Kenapa begitu sulit mengubah pikiran manusia bebal satu ini.


Terlihat tangan Sigit yang mengepal kuat. Entah ia menahan emosinya atau menahan hantaman kuat di dadanya dari apa yang Arini katakan.


“Sekali ini saja, jadilah suamiku. Jadilah ayah dari anakku. Aku mohon.”


Arini mulai menghiba. Jika tidak bisa membentur hati Sigit dengan cara yang kasar, mungkin saja ia akan luluh dengan melihat Arini yang memohon.


Bukankah manusia superior akan mulai lengah saat ia melihat musuhnya lemah?


Ya, Arini tidak lagi merasa kalau laki-laki di hadapannya adalah suaminya. Sigit, seperti manusia yang tidak memiliki hati yang hanya mempertimbangkan semuanya berdasarkan logikanya.


Laki-laki itu kini berbalik menghadap Arini. Menatap wajah istrinya yang sendu penuh dengan harap. Hanya beberapa saat ia mencoba memahami apa yang ada di pikiran Arini dan menyeimbangkan apa yang ada dikepalanya. Tidak ada garis persamaan yang terlintas di pikirannya. Karena memang tidak pernah ada kesimpulan yang sama dari dua acara pandang yang bertolak belakang.


“Kamu boleh meminta apapun, memohon apapun. Tapi tidak untuk memohon agar pelayan itu menjadi bagian dari keluarga ini.” Suaranya pelan, namun penuh penekanan.


“MAS!!!”


Arini meradang. Pertahanannya runtuh. Air mata yang sering sulit keluar dari sudut matanya kali ini menetes begitu saja. Begitu kuat dorongan emosi kemarahannya hingga ia bisa melakukan apa yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan. Menangis.


“AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DARAH PELAYAN MENGALIR DI TUBUH KELUARGA HARDJOYO!” seru Sigit tanpa bisa di bantah.


“Oh jadi hanya karena itu? Karena dia seorang pelayan?!” sahut Arini tidak kalah keras.


"Kean," lirih Arini yang susah payah menahan tangisnya.


*****


Terdiam di luar pintu seperti orang bodoh dan berjalan kesana kemari dengan perasaan tidak menentu. Itu yang Disa lakukan saat ini saat mendengar sayup-sayup perdebatan di dalam ruangan Sigit. Tidak terdengar jelas hanya beberapa kata saja yang bisa ia dengar dengan jelas dan penuh penekanan.


Seraya memilin jarinya yang saling bertautan, otaknya berfikir mencoba mereka ulang apa yang terjadi di dalam sana. Apa nyonya besarnya baik-baik saja? Kenapa suara parau itu terkadang berusaha untuk menaikan nada suaranya menjadi lebih tinggi namun tercekat oleh tenggorokan yang kaku.


Ada emosi dalam kalimat yang di lontarkan oleh kedua majikannya. Disa berusaha untuk tidak mencuri dengar isi pembicaraan tuan dan nyonya besarnya. Namun keberadaannya yang terlalu dekat dengan pintu membuat ia masih mendengar sebagian perdebatan mereka.


Arini dengan penuh kekecewaan dan Sigit dengan otoritasnya tetap pada pilihannya. Kepribadian yang di dukung kehidupannya yang superlative, membuat ia bebas memikirkan apapun dan menjalani kehidupan yang menurutnya paling benar.


Sedari tadi hatinya ikut mencelos saat sayup-sayup ia mendengar nama Clara di sebut. Perjodohan tuan mudanyalah yang mereka perdebatkan. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa tetap berdiri di sini dan memastikan nyonya besarnya baik-baik saja atau pergi menjauh agar tidak perlu mendengar apapun?


Kemana Kinar? Kenapa tidak ada satu orang pun di rumah ini yang terlihat berlalu lalang di sekitarnya? Kemana mereka? Apa hanya Disa saja yang bernafas di rumah ini dan berada dalam kondisi yang tidak bisa menolak apa yang harus ia hadapi?


Datang di waktu yang tepat, mungkin itu yang Kean lakukan saat ini.


Tiba-tiba saja kedua tangan kekarnya meraih pundak Disa hingga gadis itu tersentak. Ia menutup telinga Disa dengan kedua tangannya seolah tahu ada bagian yang tidak seharusnya di dengar oleh gadisnya.


“Tuan?” bibir tipisnya bergetar dengan wajah cemas bercampur takut. Rasanya ia ingin berlindung di balik tubuh Kean namun kemudian ia sadar, kalau saat ini Kean mungkin bukan tempatnya untuk mencari perlindungan. Beban tuan mudanya lebih berat di banding apa yang harus ia pikul.


Kenapa hatinya ikut sakit saat melihat wajah Kean yang dingin dengan kecemasan yang terselip di raut wajahnya yang tampan.


“AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DARAH PELAYAN MENGALIR DI TUBUH KELUARGA HARDJOYO!” seruan Sigit yang kemudian terdengar hingga ke luar ruangan.


Beruntung Kean sudah lebih dulu menutup telinga Disa hingga gadis itu hanya melongo melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Ini cara yang bisa ia lakukan untuk melindungi hati Disa.


Kean menundukkan kepalanya, kalimat Sigit seperti tamparan keras di wajahnya. Tamparan yang memberi bekas kemerahan tidak hanya di wajahnya tapi juga luka di hatinya. Laki-laki itu tidak pernah berubah, selalu memandang sesuatu dari kesetaraan.


“Oh jadi hanya karena itu? Karena dia seorang pelayan?!” sahut Arini tidak kalah keras.


Kean bisa mendengar kemarahan yang coba Arini ungkapkan lewat suaranya yang parau. Ia sadar, ia tidak bisa membiarkan semuanya berlanjut apalagi membuat Disa mendengar semuanya.


Ia memutar tubuh Disa menghadap ke arah anak tangga lalu membungkuk untuk berbisik dan membuka sedikit telapak tangannya, mengganti dengan telapak tangan Disa untuk menutup telinganya.


“Jangan dengar apapun. Pergilah, aku yang akan menjaga mamah.” Lirihnya perlahan. Seperti tahu apa yang Disa butuhkan saat ini, tidak mendengar apapun.


Disa tidak menoleh, hanya terpaku sejenak kemudian terangguk. Kean menurunkan tangannya dan membiarkan Disa mengambil langkah pergi meninggalkannya. Ia hanya bisa memandangi punggung gadis itu yang tegang seperti ada ribuan ton beban di pundaknya.


“Maaf sa, karena aku membuatmu berada dalam kondisi seperti ini.” batin Kean dengan tatapan nanar yang tertuju pada Disa.


Entah seperti apa perasaannya saat ini. Mungkin dipikirannya menyimpan banyak kebingungan. Tapi gadisnya terlalu kuat untuk tidak menghakimi keluarganya yang berantakan. Keyakinannya terlalu kukuh kalau Kean jauh lebih beruntung darinya, karena memiliki orang tua yang lengkap.


Ya, lengkap secara fisik tapi tidak secara emosional.


Terlepas dari pikirannya tentang Disa, Kean segera masuk ke ruang kerja Sigit.


“BRAKK!!” suara hantaman pintu terbuka menjadi penanda kedatangannya.


Dua orang dihadapannya tampak termangu sekaligus terkejut melihat kedatangan Kean yang tiba-tiba. Sorot matanya yang tajam dan dingin, menatap sejenak mata Sigit yang masih menyalak. Perhatiannya segera beralih pada Arini dan tertunduk di tempatnya dengan tetesan air mata yang ia usap pelan.


“Mamah baik-baik aja?” Kean bertekuk lutut di hadapan Arini, memperhatikan ekspresi wajah ibunya lekat-lekat.


Arini hanya terangguk tanpa mau menunjukkan wajahnya pada Kean. Ia tahu, apa yang ia tunjukkan kemudian akan menjadi beban bagi putranya. Namun Kean sangat peduli dengan apa yang ibunya rasakan. Ia meraih dagu Arini, membuat mata layu itu menatapnya sedih.


Diusapnya air mata Arini dengan perlahan dan mengusap pipinya dengan ibu jari.


Satu helaan nafas berat di ambil Kean sebelum menghadapi Sigit. Ia beranjak dari tempatnya lantas berdiri menantang sang ayah.


“Apa harus seperti ini cara papah memperlakukan mamah?” nada suaranya sudah tidak bersahabat.


Terlalu banyak kemarahan yang bergemuruh di dadanya.


Arini segera meraih tangan Kean, menggenggamnya dengan erat agar putranya tidak hilang kendali.


Sigit tersenyum sarkas, ia bisa melihat aura kemarahan yang putranya simpan. “Papah hanya melakukan apa yang seharusnya papah lakukan.” Sahutnya ringan. Ia mendekat Kean membuat jarak mereka sangat dekat. “Memastikan tidak ada darah pelayan yang bercampur dengan darah suci keluarga hadjoyo.” Imbuhnya yang di akhiri dengan senyuman yang sama.


“Apa hanya itu yang ada di kepala papah? Apa papah tidak bisa mempertimbangkan sedikit perasaan orang lain? Apa papah tidak merasakan bagaimana hangatnya melihat orang lain bahagia dengan pilihannya?” protes Kean tanpa bisa di tahan.


Ia melepaskan genggaman tangan Arini dan tangannya mengepal dengan kuat. Kemarahannya semakin menyala namun masih coba ia tahan.


Sigit berbalik memunggungi Kean. Menatap foto sang ayah di hadapannya. Bibirnya tersenyum tipis namun kemudian wajahnya berubah dingin.


“Papah hanya berusaha menjaga semuanya tetap pada tempatnya.” Ujarnya dengan penuh keyakinan.


“Pah! Tidak semua orang harus berfikir seperti papah.”


“Papah mungkin tidak tahu rasanya bahagia, tidak tahu rasanya ketenangan dan kenyamanan. Tapi bukan berarti perasaan itu tidak ada. Papah tidak bisa memaksa semua orang merasakan apa yang papah rasakan. Dan papah juga tidak bisa membunuh perasaan orang lain yang berbeda dengan papah.” Bantah Kean tidak kalah yakin.


Seseorang yang tidak bisa menerima perasaan orang lain atau melihat apa yang dirasakan orang lain, adalah orang yang terlalu banyak menelan kekecewaan. Sigit mungkin salah satunya hingga laki-laki angkuh ini tidak bisa mentolelir apa yang dirasakan Kean saat ini.


Terdengar tawa kecil dari mulut Sigit. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, seperti sedang berfikir, berusaha mencerna apa yang putranya katakan. Tapi, nonsense. Tidak ada bayangan yang terlintas di pikirannya saat mendengar ucapan Kean. Semuanya hanya semu, hanya kebodohan yang dirasakan seseorang yang sedang jatuh cinta.


“Terserah apa yang mau kamu katakan.” Laki-laki gagah itu berbalik menatap Kean. “Satu hal yang harus kamu tahu, suatu hari kamu akan merasakan apa yang papah rasakan. Berbicara dengan gaya papah dan bersikap seperti yang papah lakukan saat ini.”


“Darah itu kental kean, kamu tidak bisa mengingkarinya. Dan suatu hari, kamu akan sadar kalau yang papah lakukan ini adalah hal yang paling benar.” Kalimatnya diucapkan setenang mungkin membuat Kean semakin muak.


Bagaimana bisa ayahnya memiliki hati sekeras batu? Kenapa sulit sekali mengubah pikiran Sigit?


Sigit memandang remeh putranya yang hanya termangu. Ia tersenyum puas karena seperti berhasil menanamkan bibit pikiran di benak putranya. Ini tujuannya. Menjadikan Kean berfikir seperti apa yang ia mau.


*****