
Beberapa jam lalu saat Kean pulang dari kantor, berkali-kali ia menerima telepon dari Marwan. Ia berusaha mengabaikannya namun deringan itu sepertinya tidak mengenal kata menyerah. Berulang kali menelpon hingga akhirnya Kean menyerah dan menjawabnya.
“Tuan besar sakit, tuan.” Kalimat itu yang menjadi inti alasan Marwan menelponnya.
Apalagi ini, gerutu Kean saat mendengar kabar tersebut. Ia mematikan ponselnya saat Marwan terus merajuk memintanya untuk datang menjenguk sang ayah. Ia sangat enggan masuk kembali ke dalam rumah yang tidak pernah menjadi rumahnya. Baginya, rumah ini hanya mengingatkan kejadian saat Sigit memaksanya untuk pergi keluar negeri dan melarang pulang lalu ia kembali di paksa pulang saat laki-laki paruh baya itu memerlukan tenaganya.
Ya, itulah yang terlintas di pikiran Kean. Sigit baru akan memintanya datang saat ia membutuhkan sesuatu dari dirinya. Bukan, lebih tepatnya saat ia akan memaksakan sesuatu padanya.
“Tuan muda sudah datang, tuan.” Suara Marwan terdengar jelas dari luar pintu kamar Sigit, menghentikan pikiran Kean yang berjalan di belakangnya.
Membukakan pintu perlahan tanpa menunggu respon Sigit, seolah laki-laki itu memang tengah menunggunya.
Saat daun pintu terbuka, terlihat Sigit yang sedang terduduk di atas tempat tidurnya dengan sebuah berkas yang ia baca. Kean berdecik sebal, saat sakit pun laki-laki ini tetap menjadikan pekerjaan sebagai dewanya. Sepertinya tidak cukup puas ia bekerja saat badannya sehat.
“Kamu sudah datang.” Sambutnya seraya menurunkan berkas yang tengah ia baca.
Kean masuk ke dalam kamar dan duduk di salah satu kursi dengan jarak yang cukup jauh dari Sigit.
“Papah pikir kamu akan datang siang tadi, ternyata sudah selarut ini.” Sigit mencoba berbasa-basi tapi sungguh, basa-basi itu tidak cocok untuk mereka berdua terlebih Sigit.
Ia sudah terlihat malas bahkan sejak memutuskan untuk datang menemui laki-laki yang sebelumnya membuangnya jauh keluar dari rumah ini.
“Ada apa papah memanggilku?” Kean langsung bertanya pada maksud Sigit. Tidak ingin berbasa-nasi lebih panjang yang ujungnya hanya membuatnya muak.
“Kenapa kamu sulit sekali di hubungi dan di minta datang kemari?” tanyanya seraya menatap Kean yang memandangnya dengan malas.
“Aku sibuk bekerja, seperti yang papah perintahkan.” Jawabnya ketus. ia memalingkan wajahnya, bertahan agar tidak bersitatap dengan Sigit.
“Oh ya? Lalu apa progress yang berhasil kamu buat?” timpal Sigit yang masih ingin memperpanjang obrolan mereka.
Kean menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. “Bukankah sudah pasti papah akan menerima laporannya dari orang-orang kepercayaan papah?” sinisnya seraya melirik Marwan yang masih ada di ruangan ini.
Sigit hanya tersenyum samar, seraya menggerak-gerakkan pergelangan tangannya yang terasa kebas. Harus ia akui, semua pergerakan putranya memang ia ketahui. Tidak hanya masalah pekerjaan melainkan apa yang Kean lakukan sehari-hari.
“Apa pantainya indah?” tanyanya dengan segaris senyum yang ia tujukan pada Kean.
Kean tersenyum sarkas, benar saja hingga hal seperti itu pun Sigit memantaunya.
“Berapa banyak orang kepercayaan papah yang papah kerahkan untuk mengintaiku? Apa merekapun memberitahu papah berapa lama biasanya aku berada di dalam toilet? Atau mereka melaporkan makanan apa yang aku suka, apa keinginanku dan bagaimana perasaanku saat di paksa harus masuk ke tempat ini?” suara Kean mulai terdengar tinggi. Sepertinya batas kesabarannya mulai tipis.
“SHIT!” ia pun mendengus saat merasa hidupnya semakin tidak nyaman dengan semua yang Sigit lakukan terhadapnya.
Menatap Kean sejenak lalu mengalihkan pandangannya pada sebuah berkas yang tadi ia baca. Sepertinya ia mulai sadar kalau tidak ada baiknya memperpanjang perdebatan mereka.
“Papah sakit kean.” Kalimat itu yang akhirnya keluar tanpa menimpali kekesalan Kean sebelumnya.
“Aku bukan dokter.” Timpal Kean dengan cepat.
“Ya, tapi kamu bisa menjadi obat untuk papah.”
“Obat untuk papah tapi menjadi racun untuk diriku sendiri.” Lagi Kean menimpali dengan sinis.
Sigit mengangguk-angguk pelan. Begitu sulit berkomunikasi dengan putranya yang selalu menempatkannya sebagai musuh. Ia pun sadar, sikap Kean saat ini adalah buah dari perbuatannya selama ini.
“Melihat apa yang kamu tunjukkan belakangan ini, papah rasa papah bisa menyuruh mereka untuk tidak memperhatikan kamu lagi. Hanya saja, papah ingin memastikan kalau kamu siap menjadi pewaris dari semua usaha papah.”
Sigit menjeda kalimatnya dan meminta Marwan mendekat. Dengan sigap laki-laki itu segera menghampiri tuannya. Mengambilkan satu berkas di atas meja dan memberikannya pada Sigit.
“Marcel selalu mengincar ini. Papah harap kamu bisa,” kalimatnya menggantung namun sudah terbaca apa maksud yang hendak ia sampaikan.
Kean menghela nafas kasar saat sudah pasti ada syarat yang harus ia lakukan agar terbebas dari orang-orang yang selama ini mengintainya. Sigit menoleh, rasanya ia mulai mengerti kekesalan putranya. Namun apa boleh di kata, hal ini memang harus ia lakukan.
“Kean, semua ini demi kebaikan perusahaan. Demi kebaikan kamu juga.” Tegasnya seraya membuka berkas dan menunjukkannya pada Kean.
“Kenapa tidak papah selesaikan dulu pertikaian papah dengan om marcel? Aku tidak mau menjadi bagian dari drama perebutan tahta yang kalian lakukan."
"Aku tidak pernah mau menjadi pewaris dari semua hal yang sudah papah ciptakan. Jika papah merasa lelah, kenapa tidak lepaskan saja? Jangan memaksaku menjadi laki-laki penuh ambisi akan kekuasaan seperti papah.” Suara Kean terdengar jelas sebagai sebuah penolakan.
“Kean!” Hardik Sigit. “Apa kamu mau dia yang menanggung akibat dari keras kepalanya kamu?!” gertaknya yang terdengar kembali sebagai sebuah ancaman.
Kean kembali tersenyum sarkas. “Ya begitulah papah. Hanya bisa mengancam saat tidak bisa mendapatkan apa yang papah mau.” Timpalnya dengan penuh kemarahan.
Tanpa menunggu lama, Kean segera keluar dari kamar Sigit. Baginya, perbincangan mereka sudah selesai.
"KEAN!! teriaknya.
Sudahlah, ia tidak peduli.
*****
Ada hal yang berubah pagi ini. Saat Disa tiba di rumah Kean, laki-laki itu sudah terduduk di sofa dan menonton tayangan nasional geographi favoritnya. Entah perburuan apa yang saat ini sedang di simaknya, yang jelas ia duduk bersandar di sofa tapi tatapannya seolah kosong.
“Kamu sudah datang?” ujarnya saat melihat Disa menghampirinya untuk menyapa.
“Benar tuan, selamat pagi.” Sapanya seraya mengangguk sopan.
“Hem,” begitu sahutnya.
Lantas ia membaringkan tubuhnya di sofa dengan tatapan tetap tertuju pada layar televisi di hadapannya.
Disa memperhatikan penampilan laki-laki yang tidak bersemangat di hadapannya. Rambut yang berantakan, lingkar mata yang hitam dan wajahnya dengan ekspresi dingin, sepertinya pikiran dan perasaannya tidak baik-baik saja.
Ada beberapa cangkang biscuit di atas meja juga botol minuman soda ringan yang berjumlah lebih dari 5. Mungkin ia menghabiskan malamnya ditemani makanan dan minuman itu.
“Tuan, apa anda memerlukan sesuatu? Mungkin ingin saya buatkan sarapan lebih awal?” tawarnya yang merasa iba melihat Kean meringkuk di sofa. Ia pun membayangkan bagaimana tidak nyamannya perut Kean setelah menghabiskan beberapa botol minuman bersoda tersebut.
Ia hanya menggeleng tanpa menimpali.
Disa undur diri. Mengecek sebentar bahan masakan lalu mencatatnya pada selembar kertas. Ini bahan belanjaan yang harus ia beli.
“Kamu akan ke pasar?” suara berat itu kembali terdengar.
“Benar tuan. Apa ada yang ingin anda beli?”
Kean tidak menimpali. Ia lebih memilih mengambil kunci mobil lantas membuka pintu garasi.
“Masuklah.” Ujarnya seraya menunjuk pintu mobilnya.
“Hah? Tidak usah tuan, saya bisa pergi ke pasar dengan sepeda.” sahut Disa yang cukup terkejut.
“Bisakah kamu tidak membantah?” suaranya terdengar lemas, seperti sudah lelah berdebat. Ada apa dengan tuan mudanya kali ini?
Tidak ingin membuat masalah, akhirnya Disa menurut. Mengambil barang-barangnya dan segera menghampiri Kean. Abaikan saja jika nanti orang-orang memandanginya karena ke pasar dengan sport car mewah di pagi buta. Hah, ada-ada saja.
Disa dan Kean masuk ke dalam mobil. Dalam beberapa saat mereka sudah keluar dari rumah dan menuju pasar semi modern.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” tanyanya dengan perhatian tetap tertuju pada laki-laki di sampingnya.
“Hem,..” hanya itu jawaban Kean.
Ia membuka atap mobilnya, membuat angin pagi menyapa mereka dan memberi kesegaran. Terlihat Kean menghela nafasnya dalam, mengganti udara di rongga parunya agar tubuhnya mendapat asupan oksigen yang lebih baik.
“Di depan nanti belok kanan tuan. Tempat parkirnya sedikit jauh jadi sebaiknya tuan menunggu di mobil.” Terang Disa memberi petunjuk.
Kean hanya terdiam namun ia menuruti petunjuk Disa untuk berbelok. Disa tersenyum sendiri mengingat tingkah tuan mudanya yang sedikit random, mengantarnya ke pasar dengan sport car mewah. Sangat jarang bukan?
Tiba di area pasar, pagi ini sudah sangat ramai. Para pedagang berlomba menjajakan barang dagangannya berpadu dengan calon pembeli yang hilir mudik mencari lapak langganan mereka.
Mobil Kean berbelok ke tempat parkir yang memang lumayan jauh lalu berhenti di depan sebuah Gudang kosong tempat kendaraan beroda empat biasanya terparkir. Tidak ada petugas parkir yang terlihat, ia masih harus mengatur parkirnya sendiri.
Berderet dengan angkot dan mobil pengangkut barang, mobil Kean tentu terlihat kontras. Disa turun dari mobil yang disusul Kean.
“Tuan, anda bisa menunggu di mobil. Di sini sangat dingin dan banyak preman, takutnya mereka mengganggu tuan.” Bisiknya dengan pandangan berpedar ke sekeliling tempat parkir.
“Saya bukan anak kecil lagi.” Timpal Kean dengan acuh.
Ia menyandarkan tubuhnya pada mobil seraya memainkan ponselnya.
“Pergilah kalau mau belanja.” Imbuhnya tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangannya.
“Baik tuan. Saya akan kembali 15 menit lagi.” Timpal Disa tanpa sahutan.
Berjalan dengan cepat menuju lapak penjual sayur langganannya lalu menuju penjual ikan dan bumbu lainnya. Perasaan Disa tidak terlalu tenang meninggalkan tuan mudanya sendirian di tempat parkir sehingga ia begitu tergesa-gesa.
“Bu, ikannya dua kilo. Jangan yang terlalu besar.” Pesan Disa ada seorang penjual ikan.
“Iya neng. Bentar ibu bersihin dulu sisiknya.” Mengambil beberapa ekor ikan untuk ia timbang.
“Gag usah bu, saya bersihin sendiri aja di rumah.” Sahutnya dengan cepat. Ia tidak ingin membuang waktunya lebih lama.
Disa sadari, Pasar bukan tempat dimana seharusnya tuan mudanya berada. Ia pun masih berfikir mengapa tuan mudanya mau ikut ke pasar. Setelah semalam memutuskan pulang dan tidak menginap, sepertinya sepanjang malam ia terjaga. Hal itu terlihat benar dan penampilannya yang kuyu.
“Ini uangnya bu.” Memberikan beberapa lembar uang dengan jumlah yang pas karena ia tahu sepagi ini biasanya akan sulit mendapat uang kembalian.
“Iya, makasih ya neng.” Sahut sang penjual yang menepuk-nepukkan uangnya ke barang dagangan sambil berseru “Penglaris, penglaris.” Katanya.
Menuju ke lapak lain dan membeli beberapa bahan untuk ia masak. Setelah tas belanjanya penuh ia bergegas kembali ke parkiran. Suasana pasar yang sepi di titik yang tidak biasanya membuat Disa merinding. Di tempat ini biasanya ada penjual ikan laut tapi sepertinya hari ini ia tidak berjualan.
Langkahnya terhenti sejenak untuk mencium tubuhnya sendiri. Ia ingin memastikan apakah tubuhnya bau amis atau tidak.
“Em iya sih, bau ikan.” Cuping hidungnya menguncup, saat ia mencium bau tidak enak dari bajunya. Beruntung ia belum memakai baju seragamnya sehingga ia bisa berganti pakaian nanti. Tapi bagaimana nanti selama ia dalam perjalanan?
Huft, Disa menghela nafasnya pendek. Berdo’a saja semoga tuan mudanya tidak protes mencium bau bajunya yang amis.
Terus berjalan menuju tempat parkir dan terlihat Kean masih berdiri di tempat yang sama, bersandar pada mobilnya. Ia tertunduk serius memandangi layar ponselnya yang memberikan cahaya temarang di wajahnya.
Namun tiba-tiba saja, “BRUG!” seorang laki-laki tinggi besar menabrak Disa hingga ia jatuh terhuyung. Di tariknya tote-bag Disa, membuat Disa sontak berteriak.
“COPEETTT!!!!!!”
Laki-laki tinggi besar itu sangat terkejut, dengan cepat ia lari membawa tote bag Disa.
“DISA?” seru Kean yang bergegas berlari menghampiri Disa.
“Copet tuan!” seru Disa menunjuk seorang laki-laki yang berlari menjauh darinya.
Ia bangkit dengan segera tanpa mempedulikan rasa perih di telapak tangannya yang mengelupas saat terjatuh.
Tanpa menunggu lama, Kean segera berlari mengejar pencopet itu. Mereka kejar-kejaran di pagi yang masih gelap.
Cepat juga laki-laki itu berlari. Kean melepas sandalnya lalu melempar sandal itu ke arah pencopet.
“BUK!” tepat mengenai leher pencopet membuatnya terhuyung hingga terjatuh.
Kean segera berlari menghampiri laki-laki yang tengah mengggelengkan kepalanya karena rasa pusing terkena hantaman sandal tebal Kean.
“BUK!” satu pukulan mendarat di wajah pencopet setelah ia mencengkram kerah kaos laki-laki itu.
Pencopet tidak tinggal diam, ia melakukan perlawanan saling baku hantam melayangkan kepalnya ke wajah rivalnya.
“Tolooonggg, toloooong…..” teriak Disa meminta pertolongan.
Beberapa orang tampak berlarian menghampiri tapi tidak berani untuk mendekat.
Pencopet yang mulai panik melihat orang-orang mendekat, refleks mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebilah pisau tajam yang terlihat mengkilap di ujungnya yang runcing.
“Tuan, awas!!” teriak Disa.
Satu pukulan dai Kean kembali melayang ke arah kepala pencopet namun laki-laki itu berbalik menyerang dengan menghunuskan pisaunya,
“SRET!!”
Punggung kanan Kean yang kena hingga ke lengan dan meneteskan darah segar.
“TUAANN!!!!” Disa semakin panik. Berlari secepatnya menghampiri Kean.
Melihat lawannya yang mengeluarkan banyak darah dan kerumunan orang yang semakin banyak membuat laki-laki itu mengayunkan kembali bogemnya pada Kean yang masih bisa di tahan namun tetap membuat Kean mundur beberapa langkah dan terhuyung. Cukup terlatih rupanya pencopet ini.
Dengan cepat laki-laki itu berlari menjauh meninggalkan Kean setelah melemparkan pisau dan tote bag Disa lalu menghilang di balik bangunan Gudang yang gelap dan kosong.
“Astaga tuan.” Pekik Disa saat melihat lengan kanan Kean yang terluka hingga ke punggung. Cukup dalam luka yang membekas hingga membuat kaos yang di pakai Kean sobek dan mengeluarkan darah segar.
Disa panik, ia memandangi darah yang ada di lengan Kean dan tangannya. Laki-laki di hadapannya tampak meringis.
“Segera bawa ke dokter mba!” seru seorang bapak yang mendekat pada mereka.
Mereka berkerumun mengelilingi Kean membuat udara di sekitar Kean terasa pengap. Kean menggelengkan kepalanya yang terasa pusing. Seperti tersekap di antara orang-orang yang mengerumuninya dan membuatnya sesak, tidak bisa menghirup udara. Nafasnya tersengal dan tak lama,
“TUAN!!!!”
Kean jatuh tidak sadarkan diri.
******