
Malam belum sepenuhnya larut saat Disa tiba di rumah utama selepas menyelesaikan pekerjaannya di rumah Kean. Siang tadi, setelah merapikan ruang kerja Kean saat sang empunya sibuk dengan rapat manajemennya, Disa langsung di ajak pulang.
Sore hari mereka sudah sampai di rumah dan selepas maghrib mereka langsung makan malam. Karena itulah ia bisa pulang lebih cepat ke rumah utama.
Di kamarnya, Disa tengah memasukkan dua buah dress ke dalam sebuah kotak berwarna merah jambu yang ia beri pita di atasnya. Ini adalah dress yang ia jahit khusus untuk Shafira.
Disa tersenyum sendiri memandangi kotak merah jambu yang ada di hadapannya. Sejenak ia memajamkan mata seraya berharap nona mudanya akan menyukai apa yang sudah ia buat.
Walaupun ingatannya tentang kalimat Clara beberapa hari lalu terus membekas di pikirannya, namun hal itu tidak mematahkan semangatnya. Setelah di pikir-pikir, kalau saja waktu itu Clara memberikan alasannya tidak menyukai desain Disa, mungkin Disa akan menerimanya. Namun jika hanya melontarkan ketidaksukaannya tanpa alasan, maka itu hanya cara Clara untuk menjatuhkan mentalnya.
Maka kali ini, sesuai janji ia akan memberikan dress ini untuk nona mudanya dengan penuh rasa percaya diri. Jika nanti Shafira tidak menyukainya ia berniat untuk bertanya langsung alasan Shafira tidak menyukainya agar ia bisa memperbaiki desain yang ia buat.
"Bismillah.." Disa melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dengan sedikit mengendap-endap agar tidak terdengar oleh yang lainnya. Nona mudanya sepertinya sudah masuk ke kamar dan mungkin sedang mengerjakan tugasnya yang menumpuk seperti yang ia keluhkan akhir-akhir ini.
Saat melewati ruang keluarga, suasana sudah sangat hening. Tidak ada Pak Marwan yang biasanya duduk di sofa menunggu perintah dari tuan besarnya. Kalau di pikir-pikir, rumah ini seperti castle kosong yang penghuninya sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak ada interaksi layaknya sebuah keluarga yang biasa berbincang dan bertanya keseharian satu sama lain.
“Tok tok tok.” Disa mengetuk pintu kamar Shafira perlahan.
“Nona muda, saya disa. Boleh saya masuk?” ujarnya dengan perlahan.
“Masuk mba.” Teriak Shafira dari balik pintu. Dari suaranya sih sepertinya mood nona mudanya sedang tidak terlalu baik.
Disa memutar handle pintu dan mendorong daun pintu hingga terbuka.
“Selamat malam non fira.” Sapanya. Terlihat Shafira yang sedang terduduk di hadapan meja belajarnya.
“Malem mba disa. Masuk. Tumben mba disa masih sore udah pulang?” Shafira beranjak dari meja belajarnya menuju ke tempat tidur. Bisa di lihat buku yang bertumpuk di atas meja belajarnya. Rambutnya pun ia ikat dengan sembarang. Wajahnya terlihat lelah, sepertinya benar kalau ia memang sedang banyak tugas.
“Iya non, tuan muda pulang lebih awal. Jadi saya bisa pulang cepat.” Disa berjalan menghampiri Shafira dengan kotak merah muda yang masih ia sembunyikan di balik tubuhnya.
“Sini duduk.” Shafira menepuk tempat di sampingnya.
“Makasih non.” Dengan ragu Disa duduk di atas tempat tidur Shafira. Ia menaruh kotak yang tadi ia sembunyikan di tengah-tengah mereka.
“Saya ada sesuatu untuk non fira, semoga non fira suka.” Mendorong kotak tersebut ke arah Shafira.
“Wah cantik banget. Apa nih isinya?” mata Shafira langsung membulat melihat kotak merah muda yang disodorkan Disa.
“Bukalah.” Sahut Disa. Ia ikut tersenyum melihat reaksi Shafira.
“Okey, aku buka ya.” Dengan semangat Shafira melepas pita yang mengikat kotak tersebut. Lantas membuka kotaknya dan, “Waaw….” Matanya membulat sempurna dengan senyum yang mengembang.
Ia mengangkat tinggi-tinggi dress merah muda berbahan kain crepe tersebut. Bagian kerahnya berbentuk sabrina dengan jahitan berbentuh diagonal yang melengkung hingga sebatas lutut.
“Mba disa, ini cantik bangeettt….” Seru Shafira yang masih mengagumi dress yang ia pandangi.
“Syukurlah kalo non fira suka. Ayo Cobain, sama ini ada yang warna item.” Disa mengeluarkan satu lagi dress dan menaruhnya di atas kotak.
“Wah iya, ini sih harus langsung di coba.” Shafira meloncat dari atas tempat tidurnya dan berdiri di depan cermin yang berukuran sama dengan tinggi tubuhnya.
Ia menanggalkan satu per satu pakaiannya, tidak peduli kalau ada Disa di kamarnya. Disa hanya terkekeh melihat tingkah nona mudanya yang menurutnya sangat acuh.
“Pas banget ini mba.” Shafira berputar di depan cermin lalu berpose. Tangannya mengusap bagian dada yang bersudut tajam.
“Wah iya, sangat pas.” Disa mendekat menghampiri Shafira yang menatapnya dengan kagum.
Rambut yang ia ikat sembarang, ia urai begitu saja. Sangat cantik. Shafira memang mempesona. Ternyata, masih ada orang yang menyukai desainnya dan mau memakai baju yang ia buat. Melihat Shafira yang menyukai baju buatannya, membuat rasa percaya diri Disa semakin tumbuh.
“Nanti aku pake baju ini pas papih ulang tahun. Rambutnya aku kepang bagian ini lalu agak di bikin updo gitu.” Celotehnya seraya memainkan rambutnya yang ia gulung sembarang.
“Akan sangat cantik kalau non fira memakai kalung jenis collar yang menempel pas di leher.” Disa memberi komentar. Bisa di bayangkan, leher Shafira yang jenjang akan terlihat sangat indah saat memakai kalung yang pas menempel pada leher.
“Iya bener banget. Gak boleh banyak aksesoris supaya kesannya cantik dan elegan.” Masih memandangi dirinya di cermin seraya membayangkan seperti apa penampilannya kelak. “Tapi kok mba disa kepikiran sih bikin baju kayak gini buat aku?” Shafira menatap Disa di cermin.
“Em, karena saya pikir non fira cocok memakai baju seperti ini. Sangat anggun.” Timpalnya yang merapikan bagian bahu Shafira lantas menatapnya di cermin.
“Cantik. Aku sangat suka bajunya. Aku upload di ig boleh ya?”
“Hem, silakan.”
Dengan semangat Shafira mengambil ponselnya. Mengarahkannya pada beberapa sudut kamar. “Nah di sini kayaknya bagus. Mba disa bisa tolong pegang kameranya kayak gini?” tanyanya.
“Baik non.” Disa menggantikan posisi Shafira di tempatnya. Gadis cantik itu pun berjalan ke salah satu sudut kamar dimana terdapat sofa panjang berwarna gold. Ia duduk di sana, merapikan bajunya dan rambutnya.
“Okey, aku siap.” Ujarnya seraya berpose.
“Satu, dua, tiga. Cekrek! Cekrek!” beberapa foto Disa ambil. Shafira memang piawai berpose dan mengarahkan Disa untuk mengambil sudut yang bagus. Hasilnya, jangan diragukan lagi. Tuan putri ini terlihat sangat cantik dan elegan.
“Waaaww!!!” Shafira berseru senang melihat foto-fotonya yang terlihat artistisk. “Aku ganti baju yang item dulu. Ini mau aku pake pas padus.” Ujarnya yang dengan cepat mengganti bajunya di hadapan Disa.
Disa memalingkan wajahnya dan berusaha menahan tawanya.
“Mba disa pegang kameranya di sini ya. Aku pose di deket pagar situ. Okey?!” serunya seraya mengacungkan jempol.
“Baik non.”
Kembali Disa mengambil beberapa foto. Shafira bergerak dengan cepat dan teratur dari satu pose ke pose lainnya. Lagi, hasilnya tidak diragukan.
“Aku suka, aku suka.” Seru Shafira saat melihat hasil fotonya. “Aku post dulu. Ig mba disa apa, biar aku tag.” Ujarnya.
“Oh iya non, boleh.” Dengan senang hati Disa memberikan ussername IG nya.
Beberapa foto mereka posting, foto-foto terbaik versi Shafira. Walau ia tidak memoles wajahnya dengan make up ternyata saat di kamera ia tetap terlihat cantik.
Mereka tampak begitu antusias, saat beberapa orang menyukai dan memberikan komentar terhadap foto Shafira. Keduanya asyik sendiri membalas komentar yang memuji kecantikan Shafira dengan dress yang di pakainya. Rasanya semangat Disa untuk mengikuti loba desain itu semakin menyala.
****
Hari-hari mulai terasa menyenangkan bagi Kean. Setiap pagi ia berangkat ke kantor dengan semangat, tentunya setelah perutnya terisi penuh oleh sarapan yang dibuat Disa. Langkah kakinya terasa ringan. Saat tiba di loby ia langsung masuk ke dalam lift dan menuju ruangan barunya di lantai 9.
Ia tersenyum sendiri, memandangi mural yang di buat Disa di dinding lift.
“Bener-bener berasa jadi pilot.” Gumam Kean seraya merapikan jas dan rambutnya. Berada di ruangan sempit ini selalu membuat imajinasinya berputar. Ia memajukan kedua tangannya seolah tengah memegangi yoke atau Joystick pesawat. Tangan kanannya menggerakkan yoke untuk pitch (bergerak ke atas atau ke bawah) dan roll (bergulir), benar-benar terasa seperti berada di dalam pesawat. Untuk beberapa saat ia bermain dengan imajinasinya, hingga semuanya harus berakhir saat pintu lift terbuka.
Lantai baru dengan suasana baru. Di depan ruangannya sekarang sudah ada satu set sofa untuk tamu. Kean melangkahkan kakinya dengan ringan, keluar dari lift tanpa rasa ragu sedikit pun.
“Selamat pagi tuan muda.” Roy yang sudah bersiap menyapa dari meja kerjanya.
“Pagi roy. Meeting kita jam berapa pagi ini?” berhenti sejenak di depan meja Roy. Wajahnya terlihat cerah dengan semangat yang terlihat menggebu. Auranya pun sangat terasa berbeda, seperti Kean terlahir sebagai manusia baru.
“Jam 9 tuan. Kontraktor akan membawa rancang bangun pabrik yang baru berikut presentasi estimasi waktu pengerjaan proyek.” Terang Roy dengan jelas. Semua agenda kerja memang sudah ia hafal di luar kepala. Itu lah mengapa Roy sangat bisa di andalkan.
“Baik. Beritahu saya saat semuanya sudah siap.”
“Baik tuan.” Roy terangguk patuh.
Kean melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya. Ia tersenyum lebar saat daun pintu terbuka dan menunjukkan ruang kerjanya yang rapi dan bersih. Tercium wangi dari pengharum ruangan yang kemarin di pilihkan Disa. Ia memasangkannya di dua tempat, di atas pintu dan rak gantung dekat sofa.
Kean masih mengingat saat Disa naik ke atas bangku untuk menaruh pengharum ruangan di rak gantung yang ada di dinding. Kaki pendeknya berjinjit berusaha mensejajari tinggi rak gantung tempat ia menaruh pewangi itu.
Kean tersenyum sendiri melihatnya. Ia menghampiri Disa untuk berdiri di belakangnya.
“Saya bantu.” Ujarnya yang meraih benda di tangan Disa dan membuat tangan keduanya berhimpitan.
Disa menoleh dengan wajah terkejutnya saat tubuh jangkung Kean mengungkung tubuhnya yang mungil. Bisa Kean lihat wajahnya yang memerah seketika dengan mata membulat kaget.
Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan tanpa melepaskan genggaman tangan keduanya dari benda yang sama-sama mereka pegang. Seperti drama. Dan sekarang Kean tahu alasan mengapa dalam drama adegan seperti ini selalu di buat slow motion.
Ya, karena rasanya waktu seperti berhenti. Hanya ada mereka dalam keheningan dengan detak jantung yang terdengar berdebar kencang. Tidak salah memang jika adegan seperti itu selalu membuat para wanita terbawa perasaan dan menjerit gemas. Dan yang Kean dan Disa rasakan saat ini, seperti suhu ruangan meningkat drastis. Lebih panas hingga membuat keduanya berkeringat dengan wajah memerah.
“Te-terima kasih tuan.” Disa segera tersadar dari keterpakuannya.
Ia melepaskan genggaman tangannya dari benda berbentuk tabung dengan lengkungan di ujungnya yang menyerupai daun.
“Hem. Turunlah. Kamu bisa jatuh.” Timpal Kean yang segera berlalu setelah menaruh pengharum ruangan di tempatnya.
Dan saat ini, ia tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Harusnya saat itu ia meraih tangan Disa dan membantunya turun. Namun ia memilih menghindar. Ia tidak ingin perasaannya semakin tidak menentu.
Kembali melangkahkan kakinya menuju meja kerja. Disa pula yang merapikannya. Di atas meja kecil di samping kursinya, Disa menaruh air humidifier lengkap dengan beragam essensial oil yang ia taruh di dalam laci.
“Tuan, kalau anda merasa sakit kepala karena banyak pekerjaan, tuan bisa pakai oil yang ini. Masukkan sedikit ke sini dan wanginya akan membuat pikiran anda lebih tenang.” Cerocosnya dengan semangat, mirip sales yang biasa Kean lihat di mall.
“Apa mereka bisa membantu saya menyelesaikan pekerjaan?” goda Kean, bertanya sembarang. Ia suka memancing Disa berbicara lebih banyak.
“Bisa!” ia sangat yakin hingga membuat Kean mengernyitkan dahinya. “Pakai oil yang ini. Ini akan membantu anda fokus sehingga pekerjaan jadi cepat selesai.”
“HAHAHAHA….” Kean tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Disa. Pertanyaan seperti itu pun masih saja ia jawab dengan serius.
“Hehehhe.. apa saya salah bicara tuan?” tanyanya dengan ragu.
Kean hanya menggelang tanpa bisa menghentikan tawanya. Ini tawa paling nikmat yang ia rasakan dalam beberapa waktu ini.
Lantas, saat bayangan Disa menghilang, Kean memilih duduk di kursinya. Memasang laptopnya dan mulai ia nyalakan. Menunggu system operasi laptopnya siap, Kean benar-benar melakukan apa yang Disa sarankan. Ia mengambil beberapa essensial oil dari dalam laci lalu membaca buku petunjuknya dengan serius. Ya, mungkin oil ini yang harus ia pilih agar pekerjaannya cepat selesai.
"Kita mulai, pekerjaannya menunggu untuk aku selesaikan dengan segera." gumamnya dengan semangat menggebu.
*****