Marry The Heir

Marry The Heir
Ajakan Clara



Siang itu, Kean dan Disa mendapat undangan makan siang tiba-tiba dari Clara. Model cantik itu sudah membuat reservasi di salah satu restoran yang tidak jauh dari butik Disa. Saat Kean dan Disa tiba, meja sudah penuh dengan makanan yang mewah khas restoran bintang 5.


“Gue tau waktu lo gak banyak, jadi gue udah pesenin makanan duluan. Terserah lo mau makan yang mana.” Ujar Clara dengan tergesa-gesa.


“Kalo dia udah menjamu kayak gini, kamu harus bersiap dia akan meminta sesuatu dari kamu, sa.” Ujar Kean saat menarikkan kursi untuk sang istri lalu mendudukan tubuhnya di samping Disa.


“TEPAT! Lo emang sobat gue!” sahut Clara dengan semangat.


Wanita di hadapan mereka ini memang tidak bisa berbasa-basi. Berbicara langsung pada tujuannya adalah keahlian Clara.


“Tapi kamu tidak usah takut karena permintaannya kali ini cukup menyenangkan walau ya sedikit menjengkelkan.” Marcel yang duduk di samping Clara ikut menambahkan.


“Oh ya? Emang ada apa?” Disa menatap Clara penuh tanya.


Ia tidak pernah membayangkan Clara akan bersikap baik apalagi mengajaknya makan satu meja dengannya. Masih Disa ingat saat dulu Clara menyebut Disa tidak layak makan satu meja dengannya.


“Mending lo makan dulu, biar gak terlalu kaget.” menunjuk piring di hadapan Disa. Ada apa dengan hari ini kenapa orang-orang suka sekali menyuruhnya makan?


Disa masih terdiam, bukan lapar yang sekarang ia rasakan melainkan rasa penasaran melihat Clara yang senyum-senyum padanya.


“Udah, lo ngomong sekarang. Dia gak bakal makan kalo lo giniin.” Kean membaca benar ekspresi Disa yang menunggu penjelasan.


Disa menoleh suaminya dan mengangguk dengan wajah menyedihkan. Terharu sekali melihat suaminya yang mulai peka.


“Susah ya ngasih kejutan sama orang kayak lo. Pasti pikirannya negatif mulu deh.” Clara kembali menaruh sendok yang sudah ada di tangannya.


“Gak semua orang suka kejutan sayang.” Bela Marcel, membuat Disa semakin penasaran saja.


“Iya, lo buruan ngomong ada apa sih? Kalo sampe lo bikin disa sedih, gue batalin lo jadi tante gue.” Ancam Kean.


“Ish elo ya, amit-amit.” Clara mengetuk pelan meja dan kepalanya bergantian.


Ngomong-ngomong, benar juga ya kalau Clara sekarang adalah calon tante Kean dan Disa. Tante muda yang cantik dan seorang model terkenal.


“Ya udah, nih.” Clara menunjukkan layar ipadnya pada Disa.


“Apa ini?” dengan penasaran Disa mengambil ipad itu dan terlihatlah laman email yang di tunjukkan Clara.


Wajahnya tiba-tiba kaget, cerah tapi kembali mendung dan tampak bingung beberapa saat.


“Ini beneran claire?” tanyanya tidak percaya.


“Ya beneran lah. Itu undangan resmi.” Clara dengan yakin.


“Apa sih?” Kean ikut melihat tulisan di layar ipad Clara.


“Gue sama disa, di undang ke acara ulang tahun sebuah majalah fashion terkenal di singapur. Gue di minta jadi salah satu perfomer di fashion show mereka pake baju yang disa bikin buat gue.”


“Dan buat disa, majalah itu pengen wawancara exclusive sama dia, karena di anggap jadi inspirasi teman ulang tahun majalah fashion tersebut. Goddes, keren kan?” terang Clara dengan senyum mengembang.


“WAW!!” seru Kean.


“Congratulation sayang...” dipeluknya Disa dengan erat serta di ciumi pipinya.


Disa masih mematung, tentu ini sangat keren. Suatu pencapaian yang tidak pernah di sangka Disa. Wawancara exckusive dengan majalah terkenal? Membayangkannya saja jantungnya nyaris copot karena terkejut dan senang di waktu bersamaan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Hey, lo kok kayak gak seneng sih?” Clara menggebrak meja penasaran dengan ekspresi Disa. Ia pikir Disa akan menari-nari saking senangnya mendapat kesempatan langka ini.


“Hah? A-aku,” Disa gelagapan sendiri. Kesadarannya sebelum sepenuhnya hadir.


“Aku masih gak nyangka aja. Ini beneran kan claire?” lagi Disa bertanya pada Clara.


“Ya iyalah. Lo baca sendiri kan email undangannya? Gue yakin, bentar lagi juga assitant lo ngabarin hal yang sama.” Timpal Clara dengan yakin.


Disa hanya bisa menghela nafas lega. Masih tidak percaya sebenarnya sebelum ia benar-benar merasakan menginjak tanah negara singa putih itu dengan telapak kakinya.


“A,” di tolehnya Kean yang memandanginya dengan rasa bangga.


Seperti mimpi menjadi kenyataan saat semua keberuntungan ini berpihak padanya.


“Kamu yang terbaik sayang, dan kamu berhak atas semua ini. Kamu briliant dan aku bangga sama kamu.” Lagi Kean memeluknya dengan erat seraya mengecup pucuk kepala Disa dengan rasa bangga.


Disa dengan rasa bahagia yang berkumpul di dadanya, hanya bisa mengucap syukur atas semua pencapaiannya saat ini. Ia tidak pernah menyangka kalau ia akan mendapat apresiasi sebesar ini.


“Dan berita tidak menyenangkannya adalah,” Clara menjeda kalimatnya menunggu respon Disa.


Lihat wajahnya yang semakin penasaran.


“Sayang,” Marcel menggenggam tangannya. Seperti ini usilnya Clara, membuat orang lain penasaran dengan merubah suasana begitu cepat. Atau mungkin ini bagian menarik dari seorang Clara. Hobi membuat kejutan. Mengejutkan dengan sikapnya yang kadang angkuh, kadang baik dan kadang seperti saat ini.


“Lo harus bikinin gue gaun malam.” Ucapnya dengan senyum samar di ujung kalimatnya. Ia ragu apa Disa akan menerima permintaannya atau tidak.


“Ooh, kirain apa.” Disa bisa menghela nafas lega karena ternyata hanya masalah membuat gaun saja.


“Sehari jadi, karena lusa kita berangkat.”


“HAH?” mata Disa melotot tidak percaya. Sehari jadi mana bisa pikirnya.


“Tapi Claire,”


“Iya gue tau gue emang janjiin gue akan ngasih tau acara-acara gue satu bulan sebelumnya supaya lo bisa siap-siap. Tapi ini mendadak sa. Lo juga liat kan kalo emailnya baru gue terima tadi pagi? Dan lagi ini untuk membuktikan kalau lo emang yang terbaik. Gue akan merasa terhormat menjadi model pertama yang memakai baju-baju rancangan lo.” Clara beralasan sambil mengangguk takzim penuh hormat. Mungkin ini salah satu yang merubah sikap Clara terhadap Disa. Rasa hormat.


Disa tampak berpikir, apa ia bisa menyanggupi permintaan Clara?


“Lo juga harus bikin buat lo sendiri.” Imbuhnya dengan percaya diri.


Disa menghela nafasnya dalam-dalam lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bayangan desain seperti apa yang akan ia buat saja belum terpikirkan.


“Claire, lo gak kira-kira ya.” Kean jadi ikut kesal dengan tingkah sahabatnya.


“Ikh lo gmana sih, ini tuh namanya challenge. Kalo dia udah terkenal, dalam setahun bisa ratusan atau ribuan desain yang harus dia buat. Anggap aja ini pemanasan sebelum dia sampe di gerbang itu. Iya gak sih yang?” Clara menoleh Marcel meminta pembelaan.


“Iya sa, bukan maksud aku membela Claire, tapi wawancara exclusive dengan majalah terkenal ini seperti pintu gerbang untuk kamu. Kamu akan di kenal banyak orang dan yang mengenal kamu bukan orang-orang sembarangan.”


“Mereka tahu kualitas karya kamu dan orang-orang dari kalangan superior dalam hal fashion pasti nyari kamu dengan tuntutan dan ekspektasi yang lebih besar.”


“Sekarang aja butik kamu udah rame kan? Padahal belum satu bulan berjalan.” Tumben-tumbenan kalimat Marcel terdengar panjang untuk menyemangati Disa.


Disa menoleh suaminya yang menggenggam tangannya dengan erat. Kean mengangguk setuju. Ia percaya pada kemampuan istrinya.


“Kalo kamu punya mimpi, jangan setengah-setengah, hajar!!! Jadilah desainer yang hebat dan profesional.” Lagi Marcel menambahkan.


“Ya sayang, aku percaya kamu pasti bisa.” Imbuh Kean ikut menyemangati.


Disa tersenyum samar, mendengar ucapan semangat dari ketiga orang ini. Seperti sesuatu dalaam diri Disa telah bangkit. Selama ini, Ia telah berusaha untuk banyak hal lalu ia pasti bisa melakukan hal yang lebih baik lagi.


“Iya Claire, aku setuju.” Tutur Disa dengan yakin.


“YEAAYYY!!!” seru Clara dengan penuh semangat.


Di hampirinya Disa lalu ia peluk dengan erat. Disa tidak pernah menyangka Clara akan memeluknya. Ini pelukan kedua setelah pelukan yang dilakukan Clara di atas panggung dulu. Sikap Clara belakangan ini membuat Disa merasa seperti ia telah mendapat teman baru. Clara yang sikapnya sangat bertolak belakang dengan dirinya, siapa sangka semakin lama mulai akrab dengannya. Itulah kenapa magnet hanya bisa tarik menarik dengan kutub yang berlawanan, hal ini berlaku juga untuk pertemanan.


“Bismillah…” akhirnya Disa hanya bisa mengucap mantra tersebut dalam hatinya. Untuk semua hal, ia harap bisa melakukan yang terbaik.


*****