
“Nyonya, kita akan kemana?” tanya Disa saat Arini memintanya mengambilkan sesuatu dari dalam lemari.
“Ke rumah utama. Kamu ikut dengan saya.” ujaran Arini seperti tidak memberi celah untuk di bantah.
Disa langsung tercenung. Mendengar rumah utama, ketakutan Disa seperti kembali muncul. Ingatan saat ia di seret paksa oleh seorang laki-laki bertubuh besar masuk ke dalam rumah dengan tertatih-tatih, seperti film yang kembali berputar di kepalanya. Pergelangan tangannya kembali merasakan sakit akibat cengkraman kuat dari tangan laki-laki itu.
Di tambah suasana dingin dan mencekam saat berada di ruangan Sigit dan tatapan tuan besarnya yang mengintimidasi. Jantungnya kempis kembung tidak karuan dan menyisakan kengerian yang sulit untuk ia lupakan. Seperti itu rasanya ketakutan yang menggila hingga tubuhnya menjadi lemas dan hanya bisa duduk bersimpuh di hadapan tuan besarnya yang memegang kekuasaan penuh. Sigit Hardjoyo yang tidak terbantahkan, benar-benar berdiri dihadapannya dan melihatnya hanya sebagai lalat pengganggu di dunianya yang sempurna.
Lalu, kali ini ia harus masuk lagi ke rumah itu. Rumah yang membuatnya merasa menjadi orang asing dan orang rendah di waktu yang bersamaan. Tidak ada yang peduli padanya, pada ketakutannya terlebih pada kesakitannya.
Semua orang pura-pura tidak melihat, pura-pura tidak mendengar dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Mereka terlalu takut hingga yang mereka tahu hanya menyelamatkan diri masing-masing dari kemurkaan tuan besarnya.
Dan saat ini, apa ia punya cukup keberanian untuk masuk ke rumah itu? Kenapa membayangkannya saja sudah memberinya rasa takut yang mengancam?
“Kamu kenapa sa?” Arini menyadari perubahan ekspresi Disa yang tiba-tiba muram.
Sedari tadi Disa terus berkicau, menceritakan hal remeh tentang apa yang terjadi di pasar. Mulai dari harga cabe yang naik, tukang parkir yang sembarangan menyenggol sepedanya hingga dapat diskonan dari penjual ikan langganannya.
Tapi saat mendengar Arini akan ke rumah utama, tiba-tiba saja ia jadi terdiam. Tidak banyak bicara namun juga tidak protes.
“Em tidak nyonya, tidak apa-apa.” Ia mencoba berkilah dan berusaha terlihat setenang mungkin.
Tapi Arini bisa melihat ekspresi wajahnya penuh kecemasan. Disa bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaannya sehingga saat suasana hatinya berubah bisa langsung terlihat dari mimik wajahnya.
“Nyonya mau bawa apa saja? Apa akan menginap?” ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arini tidak memperhatikan kekikukannya. Ini sudah cukup sore dan ke rumah utama sudah pasti memakan waktu yang tidak sebentar.
“Nggak, saya hanya akan menemui suami saya. Ada yang perlu kami bicarakan.” terang Arini tanpa mengalihkan pandangannya dari memperhatikan mimik wajah Disa.
Disa hanya terangguk. Mengambil beberapa obat Arini yang kemungkinan harus di minum saat ia berada di rumah utama.
Arini sadar Disa tidak baik-baik saja setelah mendengar ajakannya. Ia memutar kursi rodanya dan menghampiri Disa yang sedang mengepak barangnya ke dalam tas kecil.
“Sa, saya bisa berangkat sendiri naik taksi. Kamu di rumah aja, takutnya nanti kean pulang, butuh sesuatu dan nyariin kamu.” Arini mengusap pundak Disa yang terlihat tegang. Rasanya ia mengerti benar apa yang dirasakan Disa saat ini.
“Saya akan ikut nyonya. Saya akan mengabari tuan muda kalau kita ke rumah utama dan saya akan menyiapkan makan malam untuk tuan muda, sebelum kita berangkat. Apa nyonya bisa menunggu?”
Tentu tidak mungkin Disa membiarkan nyonya besarnya pergi sendiri. Walaupun ia pulang ke rumahnya sendiri namun Disa harus memastikan kalau nyonya besarnya sampai di rumah utama dalam keadaan baik-baik saja. Lagi pula, ketakutan hanya sebuah bayangan, maka ia harus menghadapinya agar bisa mengalahkannya.
“Hem, baiklah. Kamu masak aja dulu, saya tidak terburu-buru.” akhirnya mereka sepakat. Arini menunggu di ruang keluarga sementara Disa menyiapkan makan malam.
Bukan menu sulit yang ia buat sehingga tidak perlu memakan waktu lama. Tiga jenis lauk kesukaan Kean dan nasi matang sudah siap di atas meja.
“Tuan, saya ke rumah utama dengan nyonya. Saya sudah menyiapkan makan malam untuk anda.”
“Mungkin kami akan pulang sedikit terlambat tapi tidak akan menginap.”
Begitu bunyi pesan yang dikirim Disa saat perjalanan menuju rumah utama. Ia bisa menghela nafas lega saat pesannya sudah terkirim walau belum di baca tuan mudanya. Paling tidak, ia sudah berkabar dan tidak membuat tuan mudanya cemas.
Pekerjaan yang menumpuk membuat Kean tidak menyadari ada pesan yang di kirim Disa. Pekerjaannya cukup banyak hingga ia tenggelam dalam pekerjaan yang harus ia selesaikan dengan segera. Ia kerjakan semuanya dengan cepat agar bisa pulang tepat waktu.
“Nyonya, anda datang.” Sambut Kinar saat melihat kedatangan Arini dan Disa.
“Iya. Apa mas sigit ada?” seperti bertamu pada orang asing padahal Arini datang ke rumahnya sendiri.
Ya semua yang ada di rumahnya, saat ini terlalu asing. Ia seperti tidak mengenali rumah yang khusus di buatkan mendiang ayah mertuanya untuk ia dan Sigit. Banyak hal yang berubah, setiap sudutnya adalah sentuhan Liana.
“Ada nyonya, tuan besar akan makan malam. Mari nyonya.” Kinar meraih pegangan kursi roda Arini dan membawanya menuju ruang makan.
“Kamu pergilah temui teman-temanmu.” Imbuh Kinar memberi perintah pada Disa.
“Baik, saya permisi.”
Disa memilih berbalik keluar pintu utama dan menuju pintu belakang. Pintu inilah yang seharusnya menjadi pintu masuk satu-satunya untuknya. Sudah sangat lama ia tidak melewati pintu ini. Terakhir kali masuk ke rumah ini pun Kean membawanya pulang melalui pintu utama.
Sayup-sayup ia mendengar obrolan dari dapur. Suara Wita yang begitu dominan terdengar. Obrolan ringan yang kerap membuat Disa rindu pada ketiga temannya. Ia masih berdiri di tempatnya, mendengarkan apa yang teman-temannya bicarakan.
“Ya aku sih mending di kasih tiket makan di banding tiket jalan-jalan ke tempat beginian. Gak bisa menikmati.” Tolak Wita saat di sodori sebuah gambar taman hiburan oleh Tina.
“Ih kamu mah jiwa petualangannya kurang. Seru tau naik kora-kora sama halilintar. Menantang adrenalin!” Nina merentangkan tangannya hingga nyaris mengenai wajah Wita.
“Ih apaan sih. Biasa aja kali!” di tepuknya tangan Nina yang panjang dan mengenai wajahnya.
“Heheheh ya maaf. Galak amat sih pacar aa rahmat.” Gadis manis itu malah terkekeh. Ia mencolek dagu Wita untuk menggodanya.
"Ih nina!!" tuh kan, kesal jadinya. Bukan Nina namanya kalau akhirnya ia hanya tertawa geli karena berhasil menggoda temannya.
“Kamu kalo takut paling naik bianglala aja. Seru kalo liat pemandangan dari atas.” Tina memberi alternatif permainan. Mereka memang berencana untuk pergi liburan saat mendapat jatah libur. Ancol, tempat yang mereka perbincangkan saat ini.
Kalau ingat ancol, jadi ingat banyak hal yang terjadi di sana. Bekerja di balik kostum winnie the pooh dan melihat tawa riang anak-anak yang mengelilinginya. Sudah sangat lama ia tidak ke sana dan Disa mulai merindukan suasananya.
“Ih nggak ah, tinggi banget!” masih dirasa tidak cocok juga bagi Wita.
Disa yang mendengarkan jadi ikut tersenyum. Sudah sangat lama ia tidak memiliki teman bercerita hal tidak penting seperti Nina, Wita dan Tina. Rasanya sangat rindu.
“Ngobrolin apa sih, seru banget.” Disa memberanikan diri untuk mengampiri. Ia berharap teman-temannya tidak lagi menghindar.
“Disa!” seru Nina yang segera berdiri dan menghampiri Disa. Di peluknya Disa dengan erat. “Kangen kamuuu…” lirihnya manja.
“Aku juga kangen. Kalian apa kabar?” menatap satu per satu wajah teman-teman yang ia rindukan.
“Baik. Kamu apa kabar sa?” Tina bergantian memeluk Disa.
“Baik kak.” Rasanya sangat hangat mendapat pelukan dari Tina.
“Kamu tumben main ke sini? Di panggil tuan besar apa bu kinar?” Wita yang selalu negative thinking. Pikirnya Disa datang hanya karena kemarahan majikannya saja.
Tidak aneh memang karena terakhir Disa datang ke rumah ini, setengah di seret oleh orang suruhan Marwan.
“Em nggak, aku nemenin nyonya arini. Katanya mau ketemu tuan besar.”
“Hah ada nyonya besar? Duh aku gak mau keluar ah, masih malu kalo ketemu beliau.” Nyali Wita langsung menciut. Mungkin ia teringat kejadian beberapa waktu lalu.
“Justru kamu jangan menghindar. Udah tau salah, malah menghindar. Kalo ketemu, baiknya di sapa, lebih bagus lagi sekalian minta maaf.” Tina si bijak yang mengingatkan. Ia memang paling dewasa di antara para pelayan.
“Iya sih. Tapi liat nanti deh. Aku masih belum cukup berani.”
“Uuhhh dasar, cemen!” Nina menyikut Wita dengan sengaja.
Saat Wita akan membalasnya, ia segera menghindar. Acara kejar-kejaran pun tidak terhindarkan.
“Disa!” panggil Kinar dari pintu dapur. Suara wanita tegas itu sudah pasti milik Kinar.
“Iya bu.” Disa segera berbalik.
“Nyonya arini meminta obatnya. Kamu siapkan.” titahnya selalu terdengar lugas.
Sepertinya Arini sudah selesai makan malam. Ia sudah bisa memakan makanan yang biasa sehingga tidak harus dimasakan khusus oleh Disa.
Yang menjadi perhatian saat ini adalah sikap Kinar. Wanita paruh baya ini seperti masih menyimpan kekesalan padanya. Pandangannya tidak terlalu bersahabat dan langsung membuat nyali teman-temannya ikut mengkerut.
“Baik bu, sebentar saya siapkan.” Diambilnya sebuah baki kecil, piring kecil dan air mineral dalam gelas. Beberapa butir obat di taruh Disa di atasnya.
Sebelum pergi, Disa menghela nafas dalam-dalam. Berusaha mempersiapkan mentalnya jika harus bertemu dengan tuan besarnya.
“Tundukan pandanganmu. Jangan bertingkah yang aneh-aneh.” Kinar sudah mengingatkan di sampingnya.
“Baik bu.” Hanya itu jawaban Disa seraya mengikuti langkah kaki Kinar menuju ruang makan. Tingkah aneh apa sebenranya yang dimaksud Kinar. Apa pelayan yang hanya bernafas juga sesuatu yang aneh?
Memang sudah seharusnya bertemu, tuan besarnya terlihat duduk dengan gagah di kursi makannya. Ia masih menikmati makan malamnya yang belum selesai.
“Mba disa!” seru Shafira dari tempatnya. Ada banyak hal yang tidak bisa di kendalikan salah satunya teriakan Shafira. Gadis itu terlalu girang melihat kedatangan Disa, sehingga tidak mungkin Disa hanya terdiam tidak menimpali sapaan nona mudanya.
“Selamat malam tuan, nyonya dan non fira.” Ia memutuskan untuk menyapa. Jantungnya langsung berdebar kencang saat Tuan besarnya melambatkan gerakan sendok di atas piringnya. Mungkin tidak menyanyi kalau Disa ikut datang.
“Aku kira mba disa gak ikut. Nanti ke kamar aku ya, ada yang mau aku kasih liat.” Sahut Shafira dengan ceria.
Disa hanya tersenyum, tidak mengiyakan atau pun menolak ajakan Shafira.
“Fira, habiskan makanmu.”
Suara Liana yang terdengar sinis. Ia ikut memandangi Disa dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Disa berusaha mengabaikannya. Toh tatapan sinis Liana tidak membuat perutnya sakit. Ia sudah sangat terbiasa.
“Ish mamih!” decik gadis kecil itu yang melanjutkan makannya dengan tidak terlalu berselera. Bisa terlihat bibirnya yang mengerucut kesal pada Liana.
“Silakan nyonya, obatnya.” Disa menyodorkan obat milik Arini.
Sigit melirik dengan sudut matanya saat Arini meminum obatnya. “Kamu masih berkonsultasi dengan Austin?” suara beratnya terdengar seperti petir di siang bolong. Menggema di telinga Disa dan mengingatkannya pada kalimat-kalimatnya yang mengintimidasi.
“Tentu, aku harus sehat agar tidak menjadi beban untuk putraku dan di jadikan alat untuk melemahkannya.” Kalimat Arini terdengar sinis. Ternyata nyonya besarnya yang selalu tenang bisa juga berkata sinis.
Sigit tidak lagi menimpali. Ia meneguk minumnya kemudian beranjak tanpa permisi.
“Kita perlu bicara.” Seru Arini. Suara paraunya berhasil menghentikan langkah kaki Sigit.
Sigit tidak menjawab, sepertinya laki-laki ini sangat irit berbicara. Tidak mengeluarkan kata-kata kecuali dia memang menginginkannya. Tapi diamnya saja, bisa menakuti banyak orang.
“Disa, antar saya.” Arini menarik tangan Disa dan menempatkannya di pegangan kursi roda. Sekilas Disa menoleh Kinar namun wanita itu hanya mengangguk pelan seolah menyetujui Disa untuk mengantar nyonya besarnya pergi.
Sigit melewati anak tangga, sementara Arini melalui jalan memutar yang biasa digunakan Disa untu mengantar linen ke kamar majikannya. Perasaannya tidak menentu. Semakin mendekat ke arah ruang kerja Sigit, semakin besar ketakutannya.
Beberapa kali Disa membatin mengingatkan dirinya sendiri kalau rasa takut itu harus dihadapi. Berulang kali juga ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan untuk menetralisir perasaannya. Tapi rasa takut itu masih terasa.
“Kamu tunggu di sini saja.” Pinta Arini saat tiba di mulut pintu.
“Baik nyonya.”
Disa membukakan pintu dan terlihat sosok tuan besar yang memunggunginya. Ia tidak berani melihat lebih dari itu. Setelah Arini masuk, ia segera menutup pintu dan mematung dengan wajah bingung di depan pintu.
Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tetap disini dan memastikan nyonya besarnya baik-baik saja atau pergi diam-diam tanpa harus mendengar pembicaraan mereka?
Kenapa jadi serba salah? Apa tidak masalah kalau ia tetap berada di sini? Atau ia siap mendengar rencana pembicaraan yang lebih mengarah pada perdebatan?
*****