Marry The Heir

Marry The Heir
Ira dan Tantri



“Tadi itu majikannya disa?” tanya Eko pada Damar yang sedang berada di kolong mobilnya.


“Minta baut 10.” Malah itu jawaban Damar.


Eko memberikan apa yang di minta sahabatnya.


“Majikannya disa tajir banget kayanya.” Tetap, tentang Disa yang di bahas Eko.


“Kalian ketemu siapa? Tuan sigit?” suara Rina yang terdengar di belakang sana.


Ia membawakan minuman dingin untuk dua laki-laki yang tengah memperbaiki sebuah mobil SUV. Menaruhnya di atas meja kecil lalu duduk di sofa.


“Tajir banget ya dek?” Eko masih dengan rasa penasarannya.


“Banget! Punya 4 pabrik kain dan karyawannya rata-rata 40 ribuan per pabrik.  Lo ketemu sama siapa?” berganti Rina yang bertanya.


Eko masih membulatkan mulutnya membayangkan seberapa banyak uang yang dimiliki majikan


Disa.


“Anaknya.” Damar yang menjawab, ia memunculkan kepalanya dari kolong mobil, sepertinya pekerjaannya telah selesai.


“Kalian ketemu tuan muda kean? Kok bisa?” Rina menatap Eko dan Damar bergantian.


Damar memilih untuk bangkit terlebih dahulu, mengelap tangannya yang kotor karena oli lalu meneguk minuman dingin yang di siapkan Rina.


“Tadi di halte bis pas kita nyamperin disa.” Eko yang menjelaskan.


“Disa bareng tuan muda?” Rina semakin penasaran.


“Iya kali, soalnya dia ngenalin damar sebagai kakak sepupunya. “Tuan muda perkenalkan, ini kakak sepupu saya.”


Gitu kurang lebih.” Mengubah tone suaranya mirip perempuan dan kembali menjadi Eko yang gagah.


“Wah, hebat disa.” Puji Rina tidak percaya.


“Emang kenapa?” kali ini Eko yang melongo penasaran.


“Aku selama kerja di sana, gag pernah ketemu sama tuan muda apa lagi ngomong. Cuma bisa liat fotonya doang.


Waktu aku berhenti kerja, tuan muda baru di usir sama tuan besar. Gag kebayang disa jadi pendukungnya tuan muda, pasti kelimpungan deh.”


“Kelimpungan kenapa?” Eko yang bertanya dan Damar yang menunggu jawaban walau pura-pura tidak peduli.


“Ya namanya orang kaya, banyak maunya, banyak aturannya dan banyak juga masalahnya." Rina memulai ceritanya dengan sedikit horor. "Aura rumahnya bawaannya panas, hampir tiap hari ada aja yang berantem. Hebat banget disa bisa bertahan di sana. Kalo aku sih mending diem di sini.” Pembicaraan Rina mulai terdengar provokatif.


Dan Damar lah yang tersulut. Ia mengambil helm dan kunci motornya lalu mulai menyalakan mesin.


“Lo mau kemana bro?” Eko yang kaget melihat Damar tiba-tiba pergi.


“Ada urusan bentar.” Sahutnya singkat. Ia bahkan tidak mencuci tangannya dengan benar, malah main pergi saja.


Dengan sekali tarikan gas, Damar meninggalkan Eko dan Rina yang masih mematung di tempatnya. Hanya sisa asap knalpot yang masih bisa mereka lihat dan membuat keduanya terbatuk.


Damar melajukan motornya menuju rumah dengan pagar tinggi tempat ia mengantar Disa dahulu. Di bawah pohon rindang Damar terdiam dan memandangi bangunan kokoh yang di dominasi warna putih itu.


Dalam pikirannya seperti tengah merefleksikan apa yang tengah Disa lakukan di dalam rumah mewah ini berdasarkan cerita Rina. Sebuah dengusan nafas kasar terdengar jelas di mulut Damar yang berusaha melepaskan kegundahannya.


Tidak ada orang yang keluar masuk dari rumah ini. Tampak hening dan sepi namun semakin membuat Damar cemas. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Disa.


Satu, dua panggilan ia lakukan namun Disa tidak menjawabnya. Ia mengecek pesan yang di kirim Disa, selalu setelah jam 10 malam Disa baru membalas pesannya. Sesibuk itu Disa dengan pekerjaannya dan pikiran Damar semakin tidak tenang.


“Sa, lo lagi ngapain?” akhirnya ia mengirim pesan singkat pada Disa.


Terkirim tapi sepertinya belum di baca.


Sekitar setengah jam Damar di sana dan terlihat sebuah sedan mewah memasuki gerbang rumah. Tidak terlihat siapa yang ada di dalam sana karena kacanya yang sangat gelap.


“Huh!  Sa lo kok gag bales pesan gue?” mengacak rambutnya dengan frustasi karena Disa membuatnya semakin cemas.


Sayangnya kecemasannya tidak berarti apa-apa.


Hari sudah semakin sore dan tidak ada bayangan Disa keluar dari rumah ini. Mungkin untuk beberapa saat ia harus bersabar menunggu kabar dari Disa.


Dan kali ini Ia memutuskan pulang walau perasaannya belum menentu. Berdo'a saja, semoga Disa baik-baik saja.


*****


Memakai baju serba hitam, topi dan kaca mata besar, dilakukan Shafira sebelum keluar dari rumahnya. Ia sudah memesan sebuah taksi online yang saat ini tengah menunggunya di depan rumah. Ia mengendap-endap turun lalu berlari keluar gerbang.


“Selamat sore non fira.”


“Astaga!” Samsul lah yang mengagetkan Shafira. Ia memegangi dadanya yang berdebar kencang karena kehadiran Samsul yang tiba-tiba.


“Non fira mau kemana?” tanyanya kemudian.


Susah payah usahanya untuk pergi diam-diam malah gagal. Sepertinya Shafira harus mengakui kalau ia akan keluar rumah.


“Ketemu temen. Buka gerbangnya.” Gayanya tetep sok tenang padahal tidak.


“Baik nona.”


Samsul membukakan pintu gerbang untuk Shafira dan ia langsung berlari keluar lalu masuk ke taksi online yang sedari tadi menunggunya.


Berbekal alamat yang di berikan Kinar, Shafira mulai memberikan perintah, kemana sopir ini harus membawanya pergi.


Beberapa hari ini, perasaan Shafira diliputi rasa tidak tenang. Setelah pertengkarannya dengan teman-teman satu geng-nya, rasanya semuanya semakin memburuk. Pergerakannya mulai terasa sempit dan rasanya musuhnya bertambah semakin banyak.


Tiga malam ke belakang, Shafira menceritakan perasaan tidak nyamannya pada Disa. Seperti biasa mereka berbincang santai sebelum tidur.


“Mba, apa aku orang yang jahat?” tanya Shafira yang terbaring di samping Disa dengan tatapan menerawang tertuju pada langit-langit kamar berwarna putih gading.


Terlihat gadis muda itu menghela nafasnya dalam sebelum memulai ceritanya.


“Aku memiliki 3 orang teman perempuan. Kami satu genk, princess nama genk tersebut." Shafira tersenyum di awal ceritanya.


"Kami berteman sejak masuk kelas 1 SMA dan di tempatkan di kelas yang sama."


"Nara, yang anggun. Fia yang lembut dan Ira yang pintar. Mereka memberi warna dalam hidupku, membuatku merasa kalau aku tidak perlu berusaha keras menarik perhatian orang tuaku lagi dengan berulah karena aku memiliki sahabat yang baik. Cukup menjadi teman yang baik bagi mereka, maka mereka akan selalu ada di sampingku selamanya." Menghela nafas dalam yang terlihat mulai berat.


“Entah sejak kapan semua mulai berubah. Mereka sering berbincang tanpa memperdulikan keberadaanku, seperti tidak satu frekuensi lagi. Mereka sibuk dengan obrolan mereka dan aku, hanya jadi penyimak. Aku mulai merasa kalau mereka bersikap baik padaku karena ada yang mereka butuhkan dariku, yaitu uangku.”


“Aku mengabaikannya walau perlahan aku mulai sadar mereka hanya memanfaatkanku. Aku pura-pura bodoh dan apa saja aku berikan, agar mereka tetap mau berteman denganku."


"Tapi beberapa hari lalu, aku mulai meyakini kebenaran semuanya. Aku mulai yakin kalau aku hanya menjadi pelengkap untuk mereka. Mereka temanku tapi aku bukan teman mereka.”


“Mereka bilang aku egois, aku sok penting dan lebih dari itu mereka tidak peduli pada apa yang aku pikirkan dan aku rasakan. Satu hal yang baru aku tau, salah satu pelayan yang dulu pernah bekerja di sini adalah kakak sepupu ira.”


“Bodoh, bagaimana bisa aku tidak tau kalau mereka bersaudara? Dan bagaimana bisa ira tidak mengatakannya padaku?” mendengus kesal namun wajahnya terlihat sedih. Mungkin ia tengah menyesal tidak mengenal baik teman-temannya.


“Suatu hari, aku membuat kesalahan. Aku melukai tangan sepupu ira tanpa sengaja. Saat itu, aku mani padi di rumah. Aku memintanya untuk mengambil air hangat untuk merendam kakiku. Tapi dia malah membawa air panas tanpa memberi tahuku. Saat aku memasukkan kakiku, refleks aku menendang tempat air tersebut hingga airnya tumpah dan mengenai tangannya.”


“Ira bilang, wanita itu sekarang cacat dan itu gara-gara aku. Saat ira mengatakannya padaku, aku melihat kemarahan yang menyala di matanya. Aku benar-benar tidak mengenalinya. Tidak mengenal sama sekali ira yang selama ini menjadi temanku. Ia menjadi orang asing dan selama ini dia menyembunyikannya dariku dan baru beberapa hari lalu dia mengatakan kalau dia membenciku karena kelakuan jahatku terhadap sepupunya. Ternyata aku sejahat itu mba.”


Shafira memejamkan matanya dan tanpa sadar air mata menetes di sudut matanya. Ia mengusapnya dengan lembut dan perlahan terisak.


Disa yang semula terbaring, kini memiringkan tubuhnya menghadap Shafira. Gadis itu membuka matanya dan menoleh Disa dengan matanya yang merah dan basah.


“Apa kamu pun akan membenci dan meninggalkanku mba?” lirihnya dengan tangis tertahan.


Disa menggeleng lalu tersenyum. Ia pun mengusap air mata Shafira perlahan.


“Setiap orang pernah melakukan kesalahan tapi tidak semua orang menyesalinya dan ingin memperbaikinya. Semua kembali kepada dirinya, mau membiarkannya atau memperbaiki semuanya.” Tutur Disa dengan perlahan.


Shafira menatap Disa laman. Ia mencoba mencerna kalimat yang di utarakan Disa.


“Apa aku bisa memperbaikinya?” tanyanya kemudian. Ia benar-benar gamang. Mungkin bagi sebagian orang, kesalahannya tidak bisa di maafkan dan itu yang sangat ia takutkan.


“Tentu. Nona muda masih bisa memperbaiki semuanya. Nona gadis yang baik dan saya yakin semua masalah nona akan selesai dengan baik.”


Tanpa berkata-kata Shafira mendekatkan tubuhnya pada Disa. Ia memeluk Disa dengan erat kemudian kembali terisak di pelukan Disa. Ia menumpahkan semua rasa sesalnya dalam sebuah tangis yang ia coba redam.


Disa mengusap pungggung Shafira dengan lembut dan membiarkan saja nona mudanya mengenali perasaannya sendiri. Mungkin nanti ia akan merasa lebih lega.


Untuk alasan inilah Shafira pergi diam-diam.


Menurut Kinar, saat ini wanita bernama Tantri itu berjualan makanan di warung kecil samping rumahnya. Jalanan yang mengecil dan berada di tepian sungai, membuat Shafira harus turun dari taksi online yang di tumpanginya.


Ia segera menaikan hoodie-nya dan memakai kaca mata hitam serta topi untuk menyamarkan penampilannya. Tidak lupa sebuah masker ia gunakan untuk menutupi separuh wajahnya.


Ia berjalan melewati jalan kecil sambil memperhatikan secarik kertas yang ada di tangannya.


Langkahnya terhenti saat tiba-tiba ia melihat Ira keluar dari sebuah rumah dengan pakaian alakadarnya. Shafira sampai membuka kacamatanya untuk meyakinkan bahwa yang dilihatnya benar-benar Ira atau hanya mirip saja.


Ya, yang dilihat Shafira benar-benar Ira. Ira mengikat rambutnya tinggi-tinggi lalu masuk ke sebuah warung yang di jaga oleh seorang perempuan. Tampak wanita yang dihampiri Ira adalah wanita dengan luka bakar di tangan dan sebelah pipinya.


Mungkin itu lah Tantri.


Shafira Kembali mengenakan kacamatanya, hendak menghampiri Tantri, namun langkahnya kembali terhenti saat ia memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan nanti. Atau mungkin saja Tantri tidak mau menemuinya dan belum bisa memaafkannya.


Saat ini, mental Shafira tidak sekuat itu untuk kembali mendapat sebuah penolakan.


“Permisi.” Sebuah suara membuat Shafira melonjak kaget.


Seorang laki-laki paruh baya dengan sebuah gerobak yang ia dorong berdiri tepat di belakang Shafira.


“Oh, silakan pak.” Sahut Shafira.


“Nyari siapa de?” laki-laki itu memilih berhenti dan menyapa Shafira.


“Hah? Oh enggak pak, saya ke sasar, sepertinya salah jalan.” Shafira terpaksa berbohong.


Jika di perhatikan, laki-laki itu cukup mirip dengan seseorang yang di kenalnya, ya Ira. Namun Shafira belum yakin benar.


“Ayo mampir dulu ke rumah bapak, atau mau bapak antar cari alamat?” tawarnya saat melihat Shafira memegang secarik kertas dengan sebuah alamat tertulis di atasnya.


“Oh gag usah pak, makasih.” Shafira segera memasukkan kertasnya ke dalam saku.


“Ya sudah kalau gitu, bapak permisi.”


“Silakan pak.” Shafira merapatkan tubuhnya ke dinding agar laki-laki paruh baya itu bisa lewat.


Setelah laki-laki itu pergi, Shafira kembali mengintip dan memperhatikan Tantri.


Tanpa di sangka, Ira keluar dari warung tersebut. Membawa segelas air dan salim pada laki-laki paruh baya yang tadi ditemui Shafira. Shafira cukup terkejut, rasanya ia mulai yakin kalau wajah laki-laki itu mirip dengan Ira.


“Papahku kerja di dinas lingkungan hidup, membawahi bidang penghijauan.” Ingatan Shafira membawanya pada saat awal pertama ia dan Ira berkenalan, dua tahun lalu.


Shafira hanya bisa menyandarkan tubuhnya ke dinding seraya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Siapa Ira dan bagaimana latar belakang keluarganya bahkan ia tidak tahu.


Ira memang tidak pernah mengajaknya main ke rumahnya. Ia pun tidak banyak menceritakan tentang keluarganya. Dan Shafira memang tidak pernah memaksa untuk mencari tahu, hingga akhirnya ia dibuat terkejut.


Ira yang selalu tampil modis dengan ponsel berharga fantastis ternyata dari keluarga yang sederhana. Bukan Shafira merasa kecewa karena di bohongi tapi perasaannya berdesir ngilu saat beberapa kali ia memaksa Ira untuk ikut berlibur ke banyak tempat.


Beruntung ia yang menanggung biaya selama ia dan teman-temannya berlibur namun tetap saja, hatinya mencelos membayangkan kesulitan Ira untuk mengimbangi gaya hidupnya dengan kedua temannya yang lain.


Sepertinya hari ini langkah Shafira harus terhenti di sini. Selain ia belum siap untuk bertemu Tantri, ia pun belum tahu harus seperti apa menghadapi Ira.


Mungkin sebaiknya ia kembali di lain waktu, dengan persiapan yang lebih matang.


*****