Marry The Heir

Marry The Heir
Semut-semut merah



Nita tampak tergesa-gesa menyiapkan makanan yang ia masukkan ke dalam kotak makanan yang cukup besar. Menata beragam kue yang sengaja ia buat untuk dijadikan buah tangan saat menemui Arini nanti.


Sejak mendengar kabar kepulangan Arini, Nita sudah tidak sabar untuk bertemu sahabat lamanya. 20 tahun bukan waktu yang singkat dan ia hanya bisa mendengar kabarnya melalui telpon atau sambungan video call. Air matanya tidak henti berderai saat mengingat ia akan bertemu dengan sahabat yang sangat di rindukannya.


“Mah, tante arini gak makan semua ini. Jangan terlalu banyak, nanti mamah kecewa.” Ujar Reza yang sedari tadi menemani Nita menyiapkan semuanya.


Sudah dari pagi Nita memasak semuanya. Tubuhnya sudah berkeringat dan wajah yang mulai berminyak karena seharian di dapur. Ia membuat kue nastar kesukaan Arini juga puding buah yang tampak cantik dan menggoda selera. Semuanya ia buat dengan senang hati.


“Ya kalo tante arini gak makan juga kan ada orang rumah yang lainnya.” Timpal Nita seraya menyusut air matanya.


Reza tersenyum sendiri melihat kesungguhan Nita menyiapkan segalanya. Masih ada salad buah yang belum ia masukkan ke dalam kotak makanan berwarna tosca, warna kesukaan Arini. Rasanya ia tidak tega jika ternyata nanti Arini tidak menyentuh sedikitpun makanan yang di buat Nita. Mungkin ibunya akan merasa sangat kecewa.


“Iya, bener juga sih. Orang-orang di rumah tante arini pasti seneng banget di bawain kue dan makanan kayak gini sama mamah.” Reza berusaha menghibur sang ibu yang sudah sangat bekerja keras.


“Nih mamah juga bikin kue bawang asin, buat kamu nyemil sama kean nanti.” Menunjukkan setoples kue bawang pada Reza.


Dulu saat di amerika Nita sering mengiriminya makanan kering salah satunya kue bawang yang menjadi favorit Reza dan Kean. Katanya satu putaran main PS bisa habis setengah toples oleh mereka berdua.


“Sambil minum teh kayaknya enak ya mah.”


“Pasti dong. Kamu siap-siap gih, bentar lagi mamah selesai.”


“Okey. Reza tunggu di depan ya.” Timpalnya seraya menyuapkan satu butir nastar yang masih berada di atas loyang.


Nita hanya menggeleng melihat tingkah sang anak yang kadang masih seperti anak kecil.


Perjalanan menuju kediaman keluarga Hardjoyo berjalan lancar tanpa hambatan. Sekitar jam 4 sore Nita dan Reza sudah tiba di sana. Adalah Kinar yang menyambut Nita dan langsung mengajaknya ke kamar Arini.


“Rin,…” seru Nita saat melihat sahabatnya yang sedang terbaring di kasur.


“Ta,” Arini yang terkejut. Ia nyaris tidak percaya melihat Nita yang berlari menghampirinya kemudian memeluknya.


“Ya allah rin, aku kangen banget. Kamu apa kabar hem?” Nita mengeratkan pelukannya pada sahabatnya. Semua kerinduannya ia tumpahkan saat itu juga.


“Aku baik ta, alhamdulilah. Kamu apa kabar?”


“Aku baik.” Sahut nita seraya terisak. Ia menarik tubuhnya menjauh dari Arini, ditatapnya wajah sahabatnya dengan mata berair. “Kamu kok gak bilang kalo mau pulang sih?” suara Nita terdengar serak bercampur tangis


“Aku sengaja gak ngasih tau, kan biar jadi kejutan.” Arini menimpali dengan tangis haru yang coba di tahannya.


Nita memandang dengan lekat wajah sahabatnya. Di genggamnya kedua tangan Arini dengan erat. Banyak hal yang berubah dari sahabatnya tidak hanya secara fisik tapi juga secara kepribadian. Arini yang ceria tidak lagi energik seperti dulu. Banyak hal yang menghalanginya salah satunya kedua kakinya yang belum kuat berdiri tegak.


Melihat Arini yang sekarang rasanya hati Nita ikut meringis sedih. Namun ia bangga melihat sahabatnya yang selalu berusaha terlihat kuat dan baik-baik saja. Mungkin hal ini lah yang tidak berubah dari seorang Arini.


“Aku seneng banget bisa ngeliat kamu dalam kondisi yang lebih baik rin. Maaf karena selama kamu di amerika aku gak datang berkunjung. Aku hanya mendengar kabar kalau kamu di rawat di ruangan yang steril dan di jaga oleh perawat. Dan sekarang saat aku bisa melihat kamu secara langsung, aku bener-bener bersyukur rin.” Ungkap Nita yang kembali memeluk sahabatnya.


Rasanya belum habis rasa rindunya hanya dengan memeluk Arini erat-erat.


“Aku juga seneng bisa ketemu kamu lagi.” Mereka berangkulan untuk waktu yang cukup lama. Untuk beberapa saat bayangan masa muda mereka seolah mengisi ingatan mereka. Semuanya sangat indah. Masa muda yang ceria dan penuh semangat, tidak akan pernah mereka lupakan.


“Tunggu, ini reza kan?” Arini mengenali sosok laki-laki yang berdiri di belakang Nita.


“Iya tan, ini reza.” Reza segera menghampiri Arini lantas mencium tangannya.


“Wah kamu tambah ganteng aja.” Puji Arini seraya memandangi Reza. Sudah cukup lama ia tidak bertemu dengan Reza.


“Iya anak-anak kita emang ganteng. Tapi sayang pada jomblo!” ledek Nita seraya mengusap punggung sang putra.


“Hahahaha bukan jomblo mah, tapi lagi fase memilih yang bisa diseriusin. Kan gak boleh asal, iya kan tan?” Timpal Reza dengan tawanya yang renyah.


“Bisa aja kamu. Kalau nyari cewek, ajak kean juga ya.. Tante agak takut, soalnya tante gak pernah liat dia ngenalin perempuan, padahal banyak cewek seksi yang ngedeketin dia waktu di amerika.”


Arini masih mengingat beberapa gadis yang sengaja datang ke rumahnya hanya untuk bertemu Kean. Sayangnya tidak pernah ada satu pun yang di tanggapi Kean. Putranya terlalu dingin pada lawan jenis. Alasannya, belum ada yang membuatnya yakin untuk menjalin sebuah hubungan. Entah seperti apa kriteria perempuan yang di harapkan putranya.


“Iya tan, makanya reza pernah nyaranin kean biar jadi biksu aja sekalian. Hehehe…” Reza terkekeh di ujung kalimatnya.


“Enak aja, nanti tante gak punya cucu dong. Tante kan udah tua, udah pengen gendong cucu, iya kan ta?”


“Iyaa. Kita udah berumur tapi anak-anak kita masih aja kayak bocah.” Nita mengusap kepala Reza dengan lembut.


Reza hanya terkekeh mendengar kalimat kedua wanita di hadapannya. Sudah pasti saat bertemu dengan para ibu yang seusia Nita dan Arini, pertanyaan yang pertama ia dengar adalah,


"Mana pasangannya?"


Lalu, "Kapan nikah?"


Berganti tahun pertanyaannya berkembang menjadi, "Belum ada rencana punya anak nih?"


Setelah anak pertama lahir pertanyaannya berikutnya adalah, "Kapan si kakak di kasih ade? Kasian anaknya sendirian terus."


Hah, never ending question yang selalu menjadi pertanyaan favorit ibu-ibu. Untuk seusia Reza pertanyaan seperti itu cukup membuatnya malas. Bagi mereka, bukan tidak ingin mengikuti alur normal sebuah hubungan hanya saja menemukan kecocokan dengan lawan jenis tidak semudah menang lotre. Perlu pemikiran yang tepat karena memilih pasangan tidak bisa hanya berdasarkan pada keberuntungan.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Ada seseorang yang membawakan minuman untuk menjamu tamu yang di sebutkan Kinar.


“Masuklah.” Ujar Arini.


Nita dan Reza ikut menoleh pada wanita yang dimaksudkan Arini.


Adalah Nita yang cukup tercengang saat ia melihat gadis yang dikenalinya berjalan menghampiri.


“Disa?” lirihnya.


“Bu nita…” Disa ikut tercengang. Ia tidak menyangka kalau tamu yang di maksud Kinar adalah Nita dan Reza.


Untuk beberapa saat mereka saling terpaku. Disa melihat penampilannya sendiri dengan baju seragam pelayan dan Nita, tentu dengan salah satu pakaian terbaik mereka.


“Kalian saling kenal?” Arini yang memecah ketegangan di antara Disa dan Nita. Sepertinya Nita tidak pernah menyangka kalau gadis berseragam pelayan itu adalah Disa.


Disa menghela nafasnya dalam, ia berusaha tersenyum pada kedua wanita di hadapannya.


“Iya nyonya, saya pernah belajar melukis di tempat bu nita.” Aku Disa tanpa ragu. Baginya tidak ada alasan untuk tidak mengakui kalau mereka saling mengenal.


“Benar nyonya.” Hanya Disa yang menimpali sementara Nita masih dengan keterkejutannya. Melihat penampilan Disa dari atas hingga ke bawah dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.


Beberapa minuman Disa hidangkan di atas meja. Ia pun menoleh Reza yang menatapnya.


“Silakan.” Ujarnya sebelum ia berlalu.


“Makasih sa.” Sahut Reza.


Dalam beberapa saat Disa pun pergi setelah pamit.


“Aku pikir, bu nita yang disa maksud bukan kamu ta. Aku sampe gak ngenallin padahal yang dia certain, ciri-ciri kamu semua. Ternyata dunia itu memang sempit ya. Bener kata pepatah, tidak selebar daun kelor.” Ungkap Arini.


Nita hanya tersenyum samar. Ia masih dengan pikirannya yang tidak menentu. Jujur ia tidak pernah menyangka kalau Disa bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Hardjoyo.


*****


“Mana disa?” tanya Kean yang tiba-tiba masuk ke dapur dan bertanya pada Tina.


“Di-disa tuan?” mendadak Tina tergagap melihat Kean yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan berbicara padanya.


“Ya ampun, dia ganteng bangeettt…” Tina masih sempat terpesona melihat tampilan Kean yang masih mengenakan kemejanya yang ia gulung bagian tangannya hingga ke sikut. Dadanya terlihat bidang, bisa ia bayangkan barisan roti sobek yang ada di balik kemeja berwarna navy.


“CTAK!” Kean menjentikkan jarinya di hadapan Tina, membuat gadis itu segera tersadar dari lamunannya.


“Ma-maaf tuan. Disa,” Tina menggantung kalimatnya. Sungguh, pesona Kean telah menyihirnya.


“Dimana?!” suara Kean terdengar lebih tegas dan membuat jantung Tina seolah berhenti berdetak.


“Ta, ta, ta-man, tuan.” Ia menyebut taman belakang dengan tergagap. Astaga saraf-saraf di mulutnya mendadak kaku.


Tanpa menunggu lama Kean segera menuju taman belakang. Melewati jajaran kamar para pelayan dan langkahnya terhenti saat ia tiba di taman belakang.


“Heh! Ngomong apa tadi kak tina? Ta, ta, ta, tak mau tak! Ku tak mau tak!” ledek Nina yang baru keluar dari ruang linen. Mereka tertawa melihat Tina yang masih bengong seraya memegangi rahangnya yang dirasa kaku.


“Gilaaaa, tuan muda ganteng banget yaaa…” lirih Tina yang masih tersihir dengan pesona Kean. Ia mengusap pipinya yang menghangat lalu ke leher dan menyelipkan rambutnya di sela telinga seraya tersipu. Ia senyum-senyum sendiri seperti tengah membayangkan sesuatu.


“Ah elah! Masih aja terpesona sama tuan muda. Dia tuh makan orang tau!” dengus Wati yang tiba-tiba teringat saat ia dimarahi oleh Kean. Sudah dua kali pula dan semuanya membekas di benaknya. Walau ia akui tuan mudanya sangat tampan, tapi saat marah, tubuhnya mendadak kaku. Seperti Kean akan melahapnya hidup-hidup.


“Gimana perasaan disa yaa, sehari-hari bareng tuan muda?” Tina mulai membayangkan kalau ia berperan sebagai Disa. “Apa dia gak dag dig dug tiap hari ya?” Dengan leye-leye manjanya ia bersandar lemah pada Nina.


“Iya gimana perasaannya ya? Beberapa menit lalu tuan reza yang nyariin, sekarang tuan muda. Astaga disa most wanted-nya cogan, kak tina.” Nina ikut berhalusinasi seraya meremas baju Tina dengan gemas.


Keduanya sama-sama menerawang ke langit-langit seolah mereka tengah membayangkan Disa di kelilingi dua cowok ganteng.


“Ish! Halu!” decik Wati yang kesal sendiri.


Rupanya pesona Kean tidak berlaku bagi gadis yang sudah dua kali kena bentak ini. Ia meninggalkan kedua temannya yang masih asyik mengkhayal seraya senyum-senyum sendiri membuatnya merasa geli sendiri.


Di taman, Kean melihat Disa yang sedang duduk di bangku bersama Reza. Mereka tampak serius berbincang, entah apa yang mereka bicarakan.


Berbekal rasa penasarannya, Kean mencoba mendekat dann berusaha mencuri dengar perbincangan dua orang tersebut.


“Aku minta maaf atas sikap mamah tadi. Tidak sepantasnya mamah menatap kamu seperti itu.” Reza memulai kalimatnya dengan ragu.


Ia berfikir, mungkin Disa tidak nyaman dengan sikap yang di tunjukkan oleh Nita.


“Kak reza gak perlu minta maaf. Aku tau, ibu nita tidak bermaksud seperti itu. Lagi pula, sangat wajar kalau bu nita kaget melihat aku ada di sini.” Timpal Disa yang masih bisa tersenyum tipis.


Reza menoleh Disa yang duduk di sampingnya lantas mengubah posisi duduknya menghadap Disa.


“Kamu gak marah atau tersinggung?” Reza mengulang pertanyaannya.


Disa menggeleng dengan segaris senyum yang ia tunjukkan. “Saya cukup mengenal bu nita. Beliau bukan seseorang yang bisa bersikap seperti itu. Jadi, untuk apa saya marah?” lagi Disa berusaha menetralkan kekhawatiran Reza.


Terdengar helaan nafas lega dari mulut Reza. Ia tersenyum tipis mendengar ucapan Disa. Ternyata gadis di hadapannya memiliki pengertian yang tinggi.


“Makasih sa, karena kamu selalu melihat segala sesuatu dari sudut yang berbeda.”


"Aku pikir kamu akan tersinggung dengan sikap mamah. Tapi aku bisa lega kalau kamu berfikir seperti itu."


“Buat aku pandangan kamu tentang mamah itu penting.” Ungkapnya dengan penuh kesungguhan.


Disa hanya tersenyum, ia masih memikirkan maksud perkataan Reza. Entah apa maksud dari kalimat Reza beberapa detik lalu.


“Em, maksud aku, aku seneng kalau kamu berfikir positif tentang mamahku.” Reza berusaha mengklarifikasi kalimatnya yang terdengar sedikit rancu. “Dan aku harap, aku masih bisa ngajak kamu main ke gallery.” Imbuhnya dengan tatapan laman.


Disa hanya mengangguk, ia mencoba memahami maksud Reza. Tentu saja ia tidak mungkin berfikiran negatif tentang wanita yang mau memberinya dukungan untuk meneruskan mimpinya.


“Hah aku lega udah ngomong gini sama kamu. Makasih sa.” Reza menyandarkan tubuhnya ke bangku. Sepertinya bebannya telah benar-benar terlepas. Ia menatap Disa dan perlahan tangannya menepuk tangan Disa yang terkumpul di atas pangkuannya.


Disa cukup kaget dengan tubuh yang terlihat tegang mendapati perlakuan tiba-tiba Reza. Dengan cepat wajahnya memerah dan ia berusaha memalingkan wajahnya dari Reza. Sungguh, jantungnya masih berdebar kencang. Ia berusaha melepaskan tangannya dari tangkupan Reza. Ia tidak ingin semakin salah tingkah.


Di balik pohon sana, ada Kean yang tengah sibuk mengusap leher dan tangannya sendiri. Karena mencoba mencuri dengar, ia sampai tidak sadar kalau beberapa semut masuk ke bajunya dan menggerayangi tubuhnya.


“SHIT!” dengusnya dengan badan yang terus bergerak karena merasa gatal.


Reza dan Disa kompak menoleh ke arah datangnya suara dan dengan segera Kean membungkam mulutnya lalu kembali bersembunyi di balik pohon.


“Aaarrggghh!!!! Semut sialan!” dengusnya dengan kesal.


Mungkin untuk beberapa saat ia harus berteman dengan para semut sambil menunggu Reza dan Disa masuk ke rumah.


“Tuhaaaannn…. Kenapa rasa penasaran ini begitu menyiksaku!” batin Kean dengan rasa kesal pada semut-semut merah di tubuhnya.


******