
“Goceries timeeee....” seru Tina saat tiba di sebuah super market besar dengan beragam barang yang sangat lengkap tanpa perlu merasa sulit untuk mereka cari.
Disa sempat ternganga melihat besarnya arena belanja yang memanjakan mata. Ia memang pernah masuk ke supermarket namun tidak pernah ke supermarket sebesar ini.
Tempatnya sangat luas, tidak terlalu ramai dan didominasi dengan orang-orang yang berpakaian santai namun branded.
Biasanya orang yang duitnya bejibun memang malah terlihat lebih adem dalam hal penampilan tapi kalau kita cari tahu harga sandal jepitnya saja, mungkin lebih mahal dari gaji yang diterima Disa dalam sebulan.
“Kamu udah bawa catatannya kan?” suara Tina membuyarkan lamunan Disa yang masih terpaku.
“Hah, iya udah.” masih terkejut.
“Udahan dong terpesonanya, kamu bakalan sering ke tempat kayak gini.” Tina mengusap wajah Disa untuk menyadarkan temannya.
“Kak tina kayaknya udah biasa ya ke tempat kayak gini?” masih dengan rasa takjubnya.
Mengambil 1 troli besar dan memberikannya pada Disa, sementara ia mengambil troli lainnya. Disa dengan sigap menerimanya.
“Iya, kita sering belanja kayak gini.” Mulai mendorong troli menuju area sayur mayur dan daging-dagingan. “Selain hoby berbelanja, tuan dan nyonya besar juga hoby mengadakan pesta. Apa lagi sebentar lagi ulang tahun tuan besar, pasti bakal ada acara besar di rumah.”
Sambil menjelaskan, Tina asyik mengambil satu per satu barang yang harus ia beli. Ia memang yang paling lama bekerja dengan Kinar, sehingga ia sangat hafal apa saja yang harus ia beli tanpa memerlukan catatan seperti Disa.
“Apa acara besar kayak gitu emang sering diseleggarain di rumah? Bukannya orang kaya biasanya ngadain acara di hotel berbintang gitu?” Disa mulai mengikuti jejak Tina, mengambil barang sesukanya tanpa memperdulikan masalah harga.
“Iya, di hotel juga sering. Tapi kalo yang tujuannya ngundang orang-orang terdekat, tuan besar lebih suka ngadain di rumah. Mungkin biar kesannya lebih family man kali ya.”
“Sepertinya tuan besar memang menyayangi keluarganya. Sangat pantas di sebut family man.”
“Sok tau!" mencolek hidung Disa dengan telunjuknya. "Kamu gag tau kan alasan tuan muda keluar dari rumah sebesar itu?”
Disa mengernyitkan dahinya saat kalimat Tina membuatnya mulai penasaran.
Melihat tatapan Disa, sepertinya Tina bisa mengira apa yang dipikirkan pelayan bungsu di hadapannya.
“Di banding dengan orang tuanya, tuan muda lebih deket sama bu kinar. Mereka bisa ngobrol berjam-jam di kamar tuan muda tapi aku gag pernah liat tuan muda ngeteh bareng sama tuan dan nyonya besar.”
“Kok bisa?” Disa semakin penasaran.
Tina mengendikan bahunya. “Kamu tau kan istilah gedung tua?” Tina malah bertanya.
“Lagu dangdut?”
“Hahhahahaha bukan disa.” Tina menjembel pipi Disa dengan gemas. Yang di cubit hanya mengkerut dan mengusap pipinya yang pasti memerah.
“Itu istilah buat rumah besar.” menjeda kalimatnya dengan mengambil bawang yang ia masukkan ke dalam plastik lalu ia timbang. “Besar, kokoh, seperti castil tapi seperti tidak ada kehidupan.” lanjut Tina dengan ekspresi dramatis.
“Se sepi itu?”
Tina mengangguk pasti. “Mereka ada di tempat yang sama dan di waktu yang sama tapi tidak pernah ada untuk satu sama lain.” Tina dengan ekspresi sedihnya.
Disa terpaku sejenak mencerna kalimat Tina. Sepertinya seniornya ini lebih cocok jadi psikolog di banding jadi pelayan.
“Aku pernah kuliah psikolog tapi cuma 2 semester. Sama kayak kamu, putus di tengah jalan.”
Mulut Disa membulat membentuk huruf O tanpa suara. Tebakannya benar, Tina memang spesial.
“Aku pikir, aku gag akan ketemu dengan orang yang bernasib sama sepertiku, ternyata tuhan mempertemukan kita untuk menyadari kalau aku gag sendirian merasakan kekecewaan itu.” senyum tipis Tina kali ini membuat Disa merasakan kesedihannya.
Mereka sama-sama harus mengubur mimpinya dan terkurung di balik seragam yang mereka kenakan. Beruntung Disa bertemu dengan orang yang berfikiran positif seperti Tina dan teman-temannya.
“Dih, kok ngelamun sih? Omongan aku makjleb ya?” Tina menyenggol lengan Disa dengan sengaja.
Disa tersenyum tipis, secepat itu air muka temannya berubah menjadi konyol hanya untuk menghiburnya.
“Dah lah! Jangan melow lagi. Kita harus menikmati moment ngabisin duit yang langka ini.”
“Anggap aja kita idol korea yang lagi syuting dengan pakaian kayak gini. Kita nikmati peran kita setelah itu, kita pulang pake daster lagi dan sesekali pake gaun seksi, hem?!” Tina dengan ide gilanya.
“Hayuk!!!!” Disa menyahuti dengan tidak kalah semangat. Ya, anggap saja mereka sedang bermain peran, salah satu bagian dari perjalanan kehidupan mereka.
Mereka kembali meneruskan langkah dengan begitu menjiwai layaknya idol korea yang dipikirkan Tina. Sudah seharusnya belanja memang se-menyenangkan ini. Sesekali mereka masih tertawa dan berbincang santai.
“Kak, sekali-kali aku mau konsul masalah over thinking dong,” suara Disa terdengar di kejauhan.
“Boleh, nanti aku pelajari dulu. Buat kamu, ada sesi gratisnya.”
Mereka sama-sama terkekeh. Biarkan saja hari berlalu dengan sedikit lebih menyenangkan.
******
Malam minggu selalu menjadi hari yang dinanti bagi banyak orang terutama kawula muda. Shafira, tengah berdiri di depan cermin dan memadu padankan baju yang akan ia gunakan ke pestanya dengan para sahabatnya.
“Ada dress code gag?” tanya Shafira di group chatnya.
“Gag ada, pake baju sesuka lo.” balas Nara.
Shafira kembali melempar ponselnya lalu berbalik melihat baju yang di pegang oleh kedua belas pelayannya. Ia memperhatikannya satu per satu dan dahinya tampak berkerut.
“Menurut kalian baju mana yang cocok saya pakai untuk hang out dengan teman-teman saya?” Shafira yang kebingungan memilih bertanya pada para pelayannya.
“Em, mungkin yang ini nona. Kulit nona putih, cocok pakai baju warna pink.” Tina menunjukkan mini dress merah muda pada Shafira.
“Lo pikir gue PL? Gue konsumennya, mana ada pake baju gitu! Dasar selera babu.” sinis Shafira dengan kasar membuat Tina beringsut.
Ia melirik teman-temannya yang mulai ikut pucat pasi.
“Kalian bisa gag sih milihin baju yang berkelas dan manis buat saya? Jangan norak deh seleranya!” Shafira mendudukan tubuhnya di tepian tempat tidur dengan wajah tertekuk dan tangan tersilang di depan dada. Ia pun melihat jam yang ada di dinding kamarnya, 10 menit lagi ia harus berangkat.
“Ada gag?!” gertaknya yang membuat mereka cukup terkejut.
“Maaf nona, mungkin nona bisa menggunakan rok ini, di padu dengan kaos yang hitam dan sneaker. Untuk tas tangannya nona bisa menggunakan sling bag yang ini.” Disa menunjukkan beberapa benda pada Shafira.
Shafira menatap Disa dengan tajam. Sepertinya ia tengah mempertimbangkan. “Ya udah! Keluar kalian, kecuali kamu.” Shafira mengambil rok dari tangan Wita dan tetap menatap Disa yang ia minta untuk tetap di tempatnya.
“Baik nona.” sahut mereka bersamaan.
Shafira mulai mengenakan pakaiannya. “Ikat rambutku dengan gaya yang cocok.” memberikan ikat rambut berwarna hitam pada Disa.
“Baik nona.” mengambil sisir dan mulai mendekati Shafira.
“Seperti ini nona?” Disa menatap pantulan wajah Shafira di cermin.
“Seleramu boleh juga!” puji Shafira. Disa hanya tersenyum simpul mendengar pujian mahal dari nona mudanya. “Siapa namamu?” Shafira membalas tatapan Disa di cermin.
“Disa, nona.” sedikit mengangguk dengan sopan.
“Hem. Rumah ini memiliki terlalu banyak pelayan dan sering berganti-ganti. Aku kesulitan menghafal nama kalian.” akunya seraya memoles bibirnya dengan lip tint.
Disa hanya tersenyum tanpa menimpali.
“Sebaiknya nona membawa jaket bomber ini, khawatir pulang malam.” Disa memberikan jaket berbahan jeans pada Shafira.
“Iya, sepertinya aku akan pulang malem. Aku akan berpesta dengan teman-temanku.” Shafira terlihat sangat antusias.
“Selamat bersenang-senang nona. Jaga diri nona baik-baik.” ungkap Disa dengan tulus.
Shafira menoleh Disa yang ada di belakangnya. Ia tersenyum simpul mendengar kalimat terakhir Disa. Padahal selama ini tidak ada yang mengingatkannya untuk menjaga dirinya baik-baik.
“Kamu juga carilah teman untuk kencan. Aku yakin kamu juga bisa mendapatkan teman kencan yang menyenangkan.” mendadak Shafira terdengar manis.
“Iya nona, saya akan berkencan dengan pekerjaan saya.” Disa tersipu mendengar kalimatnya sendiri.
“Candaan lo lucu juga!” timpal Shafira yang terkekeh.
Baru kali ini Disa mendengar suara kekehan nona mudanya yang renyah.
****
Selesai dengan urusan nona mudanya, Disa segera turun dan menuju kamarnya. Ia mengambil jaket tebal miliknya dan memakai sneaker untuk membungkus kakinya. Ia harus segera ke rumah tuan mudanya yang sedang lembur di kantor. Ia khawatir makan malamnya belum siap sementara tuan mudanya keburu pulang.
“Disa, hp kamu!” seru Tina dari dapur.
“Astaga, hampir aja lupa!” Disa menghentikan langkahnya dan berbalik berlari menghampiri Tina. “Makasih kak.” mengambil benda pipih di tangan Tina dengan cepat, kemudian kembali berlari menuju halaman belakang.
“Kamu hati-hati sa, jangan ngebut.” teriak Tina yang dihadiahi pelototan oleh Kinar. “Maaf bu, lepas kontrol.” imbuhnya seraya menutup mulutnya rapat-rapat.
Yang dimintai permintaan maaf hanya melengos.
Disa kembali melajukan sepedanya menuju jalanan. kakinya dengan cepat mengayuh pedal sepeda. Beberapa gang kecil ia lewati untuk mempercepatnya menuju rumah tuan muda. Dalam perjalanan Ia pun mencoba memikirkan makanan apa yang akan ia masak untuk tuan mudanya nanti.
“Tumis tahu buncis sama telor puyuh, ayam goreng tepung sama perkedel jagung. Enaknya pake sambal, tapi tuan muda suka gag ya makan sambal?” gumam Disa di sela kayuhannya. "Ah coba aja dulu." imbuhnya.
Tiba di gerbang rumah tuan mudanya, Disa segera masuk dan hanya melempar senyum pada Wahyu yang tengah bertugas. Entah apa yang dikatakan laki-laki berkumis itu, yang tidak terlalu jelas. Ia hanya ingin cepat sampai dan segera memasak.
Memarkirkan sepedanya lalu melepas sneaker dan berganti dengan sandal rumah. Disa membuka pintu dengan cepat dan langsung menuju meja makan. Masakannya siang tadi sepertinya dimakan oleh tuan mudanya dan cukup membuat Disa bersemangat untuk memasak makan malam.
Masih tersisa satu jam untuk ia menyiapkan makan malam sebelum tuan mudanya pulang. Berasa seperti memasak di dapurnya master chef, tangan Disa bergerak dengan cepat. Sesekali ia tampak termenung membayangkan rasa yang tidak bisa ia cicipi.
“Semoga enak.” ujarnya seraya menutup pan nya dengan tutup kaca agar matang merata.
Kali ini giliran ia menyiapkan tepung untuk melumuri ayam fillet yang sudah ia siapkan pagi tadi. Membumbuinya dan sedikit memberinya air agar tepung menempel sempurna. Penggorengan mulai mengepulkan sedikit asap dan minyak telah panas. Disa mulai menggoreng dan bau wangi makanan semakin tercium.
“Dari baunya sih enak banget.” menghibur dirinya sendiri dari rasa tidak yakin.
Ia mencoba membuat sambal, tidak terlalu banyak karena mungkin saja tuan mudanya tidak suka. Buku masakan yang diberikan Kinar tidak begitu terpakai. Tuan mudanya tidak memakan satu pun menu yang ia buat berdasarkan buku itu.
Malah masakan rumahan yang tampak disukai oleh majikannya.
Mengulek bahan sambal hingga setengah halus dan menyisakan potongan cabe dan tomat yang masih agak kasar. Biasanya ini sangat enak apalagi saat disiram minyak panas. Waw dan benar saja, asapnya memberikan aroma wangi yang membuat perut kerucukan nyaring.
“Duh kok aku yang laper ya..” Disa mengusap perutnya sendiri. Ingin sekali ia mencicipi masakannya sendiri tapi apa jadinya kalau tuan mudanya tahu. Mungkin ia akan langsung di pecat.
Tahapan akhir adalah plating. Ia menempatkan makanan di atas piring-piring cantik. Memberinya sedikit garnis agar terlihat menarik dan Voila, masakan pun jadi.
Wanginya yang enak dengan tampilan cantik. Berdo’a saja semoga majikannya menikmati makan malamnya.
Dalam hening, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Disa dengan wajah yang berubah tegang seketika segera menaruh piringnya di atas meja makan.
“Astaga, apa ada orang di rumah?” Disa segera mengambil sapu dan mengendap-endap berlindung di balik dinding.
Jantungnya berdebar sangat kencang, menebak siapa orang yang turun dari lantai 2. Ia menyempatkan mengecek ponselnya dan tidak ada pesan kalau tuan mudanya akan pulang lebih cepat. Pikiran Disa semakin tidak karuan. Mungkin ada maling yang masuk ke rumah dan membuat Kinar bertanya dengan pertanyaan yang sedikit aneh beberapa hari lalu.
Saat di anak tangga yang terakhir dipijak, Disa melihat kaki besar yang turun dan berhenti untuk beberapa saat. Disa menelan salivanya kasar-kasar berusaha memberanikan dirinya dengan sisa nyali yang hampir habis menciut. Dengan segera ia berlari lalu menghantamkan sapunya ke tubuh orang tersebut.
“Mau apa kamu hah? Ngapain di rumah tuan muda saya hah?” teriak Disa.
Ia terus memukulkan gagang sapunya pada laki-laki tersebut hingga ia mundur beberapa langkah.
“AW sakit! Hey sakit!” gertak suara besar yang membuat tangan Disa gemetaran.
Ia sedikit menjauh dari laki-laki tersebut dan dengan takut-takut ia mengangkat wajahnya melihat wajah laki-laki di hadapannya.
Laki-laki bercelana pendek selutut warna cream, dengan baju kaos putih bertulisan LA, laki-laki itu menatap Disa dengan mata menyalak.
“Masih mau mukul?!” teriak laki-laki tersebut seraya menarik sapu di tangan Disa dengan kuat. Tidak terkontrol, Disa ikut tertarik dan menabrak tubuh jangkung yang ikut terjerembab, terjatuh.
Dalam beberapa saat Disa terjatuh di atas tubuh laki-laki yang tidak lain adalah Kean. Beruntung ada sofa tempat Kean mendaratkan tubuhnya.
Disa mengendus wangi baju yang dipakai Kean dan ia mengenal wangi itu. Wangi dari pewangi yang ia gunakan untuk menyertika baju tuan mudanya. Rasanya ia pun mulai mengenali baju dan celana yang dikenakan Kean.
Disa mengangkat wajahnya membuat mata keduanya bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba menyadarkan dirinya dari sorot mata yang terasa melumpuhkannya.
Benar yang di katakan Nina, tuan mudanya sangat tampan. Wajah asia dengan hidung bangir. Kulitnya putih untuk ukuran laki-laki. Alisnya yang tebal, rahangnya yang kokoh dan di tumbuhi rambut halus, serta bibirnya yang kata Nina Kiss-able.
Disa menelan salivanya kasar-kasar, ia sedang berusaha mengendalikan dirinya dan jantungnya yang berloncatan entah karena kaget atau apalah.
“APA?!” teriak Kean yang membuat Disa tersentak.
Disa segera bangkit dan berdiri dengan wajah tertunduk. Sepertinya ia mulai sadar apa yang terjadi saat ini.
*****