
Siang yang cerah menjadi milik Shafira bersama teman-temannya. Saat istirahat dari latihan paduan suara, mereka berkumpul di kantin, menikmati traktiran gratis dari guru paduan suaranya. Mereka tampak asyik berbincang, bersenda gurau, membayangkan hari yang dinanti segera tiba.
“Fir, kita jadinya pake dress yang mana? Punya gue udah kekecelan, pendek banget.” Keluh Diana, seraya menggaris setengah pahanya dengan tangan kanan.
“Hahahaha.. Gak pa-pa kali di, seksi tau.” Cetus Shafira yang terkekeh geli membayangkan teman di hadapannya memakai rok kependekan.
“Ya kali gue pake dress sependek itu. Bisa abis gue sama abi dan umi.” Menenguk minumannya dengan kesal. Sudah terbayang bagaimana garangnya abinya Diana kalau tahu anaknya memakai rok pendek. Diana memang dari keluarga yang memiliki agama yang kuat. Batasan penampilannya jelas dan ketat.
“Hahahahha.. Gak cuma lo. Gue juga bisa ikut di gantung. Lo inget kan waktu acara ulang tahun ade lo dan gue dateng short pants, gue di ceramahin lebih dari 1 jam sama abi. Kapok gue di. Berasa diingetin kalo besok siap-siap gue masuk neraka.” Kenang Shafira yang mengingat tegasnya peringatan dari abinya Diana.
“Iya. Abi gue emang gitu. Lulus SMA gue diharuskan kerudungan. Kebayang kan lo, gue bakalan keliatan kayak bola bekel. Gelinding ke sana atau ke sini.” Keluh Diana yang kemudian mengerucutkan bibirnya. Tidak terbayang bagaimana ia memakai pakaian tertutup dengan gamis-gamis yang sudah di siapkan uminya. Alasannya sih masuk akal, agar terhindar dari pandangan buruk terutama laki-laki.
“Tapi gue iri sama lo di.” Ujar Shafira yang kemudian memainkan sedotan di dalam gelas minumannya. Ia tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari minuman yang hanya ia aduk-aduk.
“Elo, iri sama gue?” menunjuk Shafira dan dirinya bergantian, dengan kalimat penuh penekanan. “Iri sama apanya? Berat badan gue, apa mata empat gue?” ledek Diana seraya memainkan kacamata yang bertengger di hidungnya naik turun. Shafira sungguh aneh pikirnya. Mana mungkin seorang tuan putri iri pada dirinya.
Shafira menggeleng, lantas ia menatap Diana dengan sendu. “Lo punya banyak hal yang gue gak punya. Tapi yang terpenting, lo punya abi sama umi.” Ujar Shafira, parau. Mulut Diana yang ternganga dengan cepat mengatup, menyimak kalimat Shafira yang terdengar serius.
“Mereka perhatiin lo. Ngatur lo. Ada waktunya marahin lo dan seringnya manjain lo. Lo punya semua yang gue gak punya.” Shafira berujar dengan sendu. Hanya sebuah senyum tipis yang ia tunjukkan pada Diana sebelum akhirnya menatap jauh ke depan sana.
“Gue iri, setiap denger abi sama umi ngomelin lo gara-gara nilai lo turun. Gue iri, setiap denger abi sama umi muji lo karena padus kita dapat juara. Gue iri, setiap lo cerita lo pergi belanja bulanan boncengan naik motor ke mall. Gue juga iri, setiap kali lo kesel gara-gara umi lo bikin nasi goreng yang terlalu asin.” Shafira kembali tersenyum kelu.
“Sekali-kali, gue pengen ngerasain nasi goreng asin bikinan mamih. Sekali-kali gue pengen di omelin kalo gue keasyikan main di luar. Sekali-kali gue pengen mereka denger gue nyanyi. Dan sekali-kali gue pengen di tanya, gimana hari-hari gue di sekolah.”
“Gue gak butuh laporan pak Marwan kalo uang jajan gue udah di transfer. Gue gak butuh ada pengacara yang nyelesein masalah gue kalo gue berulah. Gue juga gak butuh, label tuan putri yang bikin gue ngerasa di asingkan.”
“Gue cuma butuh waktu, waktu mereka sebentar aja untuk nemenin gue. Liat gue tampil di padus, nonton drama korea di ruang tv atau sesekali belanja bulanan kayak lo sama abi dan umi. Itu yang gue mau di.”
Shafira tersenyum samar lalu menyeruput kembali minumannya yang terasa hambar. Rasanya seperti bongkahan batu di dadanya sedikit demi sedikit terkikis saat ia menceritakan hal ini pada Diana. Sedikit melegakan tapi sisa serpihannya membuat lukanya semakin perih.
“Fir,…” lirih Diana yang mendekat pada Shafira, lantas mengusap dan memeluk punggungnya. Ia bisa merasakan kesedihan yang di rasakan Shafira. Ternyata lahir di keluarga yang memiliki segalanya tidak lantas membuat hidupnya sempurna.
“Gue baik-baik aja. Gue udah terbiasa kok.” Suara Shafira terdengar parau, dengan helaan nafas berat. Terasa benar kesedihan yang selama ini tersembunyi di balik sikap dinginnya dan kadang tiba-tiba ceria. Ternyata, seperti itu cara Shafira menyembunyikan perasaannya.
“Fir,” panggil sebuah suara dari belakang Shafira dan Diana.
Mereka kompak menoleh dan menarik tubuhnya masing-masing menjauh. Terlihat Ira yang berdiri di depan mereka dengan wajahnya yang tampak kesal.
“Lo ada waktu? Gue perlu ngomong sama lo.” Imbuhnya seraya menyilangkan tangannya di depan dada.
“Hem.” Shafira beranjak dari tempatnya, tentu ia harus menghadapi Ira. Lambat laun, ia pun harus memperbaiki hubungannya dengan Ira.
Dengan sudut matanya Ira menunjuk arah toilet dan kemudian berjalan lebih dulu di depan Shafira.
“Fir,” Diana masih menahan tangan Shafira.
“Gue baik-baik aja di. Lo ke ruang musik duluan aja. Bilangin gue ada urusan bentar.” Ujarnya seraya melepaskan genggaman tangan Diana dari pergelangan tangannya.
Diana hanya mengangguk. Walaupun ia merasa cemas, ia tidak berhak mengatur apa yang mau dilakukan Shafira.
Di lorong toilet saat ini Shafira dan Ira berdiri berhadapan. Shafira bersandar pada dinding sementara Ira berdiri tegak menatap Shafira dengan kesal.
“Lo kan yang ngirim barang-barang itu ke rumah gue sama kak tantri?” ujar Ira tanpa berbasa basi. Ia menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan foto rumahnya dengan banyak barang yang datang berkali-kali.
Shafira segera menegakkan tubuhnya. Ia cukup terkejut karena Ira mengetahui kalau beberapa kali ia mengirimkan bahan makanan serta pakaian ke rumahnya dan rumah Tantri.
“Lo pikir gue pengemis? Lo pikir gue sama kak tantri gak bisa hidup kalo lo gak ngirim barang-barang itu?”
“Apa sebenernya yang lo mau? Lo mau ngasih liat kalo lo tuan putri dan gue rakyat jelata? Itu yang lo maksud hah?!” seru Ira yang meninggikan suaranya seraya mendorong dada Shafira.
Shafira hanya tertunduk lesu. Ia bahkan tidak berani menatap mata Ira yang menyalak dengan penuh kemarahan.
Melihat Shafira yang hanya terdiam, membuat Ira semakin kesal. Tangannya mengepal, meremas pinggiran roknya. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Shafira.
“Apa lo seneng karena akhirnya lo tau siapa gue? Lo seneng karena akhirnya lo tau kalo bokap gue cuma pemulung? Dan lo seneng karena lo berhasil nunjukkin kalo lo dunia ini punya lo dan gue bukan apa-apa?” gertaknya dengan mata berkaca-kaca.
Ira merasa walaupun ia bukan orang berada tapi ia bukan pengemis yang menunggu kebaikan dari Shafira.
“Susah payah gue ngelakuin semuanya. Bersikap semua baik-baik saja dan bersikap gue layak ada di antara lo, fia dan nara. Tapi, lo udah nginjek semuanya fir. Lo nyakitin harga diri gue.” Akhirnya Ira terisak dengan bahu bergerak naik turun seirama tangisnya. Kedua tangannya menangkup wajahnya. Pertahanannya benar-benar hancur.
“Ra,…” suara Shafira terdengar serak. Ia berusaha meraih tangan Ira, namun Ira mengibaskannya.
“Sumpah demi apapun, gue gak pernah bermaksud gitu sama lo ra.” Memandangi dengan rasa bersalah. “Gue ngelakuin ini semua, karena gue sadar gue banyak ngelakuin kesalahan. Tapi gue terlalu pengecut, gak berani minta maaf langsung dan malah ngelakuin hal yang bikin lo kesinggung.”
“Gue kira, dengan gue ngelakuin ini, gue sedikit bisa mengurangi rasa bersalah gue. Tapi ternyata gue salah. Gue minta maaf ra.” Shafira ikut terisak di ujung kalimatnya.
Keduanya saling terdiam, dengan air mata yang menetes dari kedua matanya. Mungkin sebentar saja, mereka memerlukan waktu untuk memahami maksud satu sama lain.
*****
Jam 10 pagi, Disa sudah berada di kantor Kean. Ia menunggu di loby karena katanya tuan mudanya sedang pergi untuk bertemu dengan kliennya. Sambil menunggu Kean pulang, mata Disa berkeliling melihat sekitar kantor tempat Kean biasa melakukan banyak hal. Sudah setengah jam ia menunggu tapi mobil sport milik tuan mudanya masih juga belum terlihat.
Di tempat meeting, Roy tampak sibuk dengan benda pipihnya. Sepertinya ia sedang mengirim pesan, berupa pesan text atau pesan suara.
“Bentar lagiii.. tungguin yaaa…” bisiknya yang samar-samar masih di dengar Kean.
“EHM!” Kean berdehem dan membuat Roy cukup terperanjat. “Sepertinya kamu lebih sibuk dari saya.” sindir Kean dengan penuh penekanan.
Dengan cepat Roy menyembunyikan ponselnya ke dalam saku, rasanya seperti maling yang tertangkap oleh pemiliknya. “Maafkan saya tuan.” Lirihnya yang berusaha terlihat tenang.
“Fokus!” dengus Kean seraya melirik rekanan mereka yang masih membolak-balik berkas yang mereka baca.
Roy mengangguk patuh dan kembali fokus memperhatikan kliennya.
“Em, mungkin kami akan survey kembali tempat yang akan di bangun. 3 hari dari itu, kami akan mengabari perkembangannya berikut rancang bangun yang akan kami buat.” Ujar laki-laki berkaca mata di hadapan Kean.
“Baik. Kalau begitu, kami tunggu kabar selanjutnya.” Kean mengulurkan tangannya.
“Baik. Kami kabari secepatnya.” Laki-laki itu pun menyambut uluran tangan Kean lalu keduanya saling menjabat tangan dengan erat.
Roy menghela nafas lega, akhirnya meetingnya berjalan dengan lancar. Harus ia akui, kemampuan tuan mudanya memilih rekanan memang patut di acungi jempol. Walau ia belajar semuanya dari bawah tanpa panduan dari siapapun, ia bisa dengan cepat berada di titik ini. Suatu pencapaian yang luar biasa menurutnya.
Selesai dengan pekerjaan pentingnya, Kean langsung bergegas pulang. Wajahnya terlihat cerah karena kerjasamanya untuk pembangunan pabrik baru berjalan sesuai rencana.
“Apa kita akan langsung ke kantor tuan?” tanya Roy yang sudah berada di balik kemudi.
“Apa tidak sebaiknya kita menemui orang yang sedang menunggu kamu?” sahut Kean tanpa mengalihkan pandangannya dari ipad yang ia pegang.
“Dia bukan sedang menunggu saya tuan tapi menunggu anda.” Gumam Roy yang tidak terlalu di dengar oleh Kean.
Mobil Kean pun melaju dengan kencang menuju kantor. Roy memang cukup piawai mengendalikan mobilnya. Hanya 30 menit saja mereka sudah tiba kembali di loby perusahaan.
Kean tampak mengernyitkan dahinya saat ia melihat seseorang yang cukup di kenalnya. Di kejauhan tampak Disa menyambutnya dengan senyum yang terkembang. Kean melihat jam di tangannya, baru jam sebelas siang dan Disa sudah ada di kantornya tanpa membawa kotak makanan yang biasa ia tenteng.
“Selamat siang tuan.” Sapa Disa seraya membungkuk dengan hormat.
“Siang. Kenapa kamu menunggu di sini? Apa ruangan saya di kunci?” tanya Kean yang mengernyitkan dahinya tidak paham. Ia menoleh Roy yang hanya mengendikan bahunya santai.
“Apa tuan bisa ikut saya sebentar?” tanya Disa yang melangkah mendekat pada Kean.
“Kemana? Saya ada meeting dengan manajemen jam 1 siang nanti.” Sahutnya yang kembali melihat jam yang melingkar di tangannya. Menurutnya, ini sangat aneh karena Disa tiba-tiba mengajaknya pergi.
“Hanya sebentar tuan. Mungkin sekitar 1 jam dan tuan bisa langsung makan siang.” Sepertinya Disa cukup bersikukuh.
“Hanya satu jam, tidak lebih.” Ancam Kean seraya mengacungkan jari telunjuknya.
“Siap!” seru Disa dengan hormat singkatnya.
Senyuman samar terlihat di wajah Kean. Ia menoleh Roy di belakangnya dan Roy hanya mengangguk.
“Kamu tidak ikut?” kali ini Kean bertanya pada Roy.
“Tidak tuan. Saya akan menyusul nanti.”
“Okey.” Akhirnya Kean menurut. “Mau kemana?” Disa yang ia tanya.
“Sebelah sini tuan.” Disa memberi jalan pada tuan mudanya dan membuat langkah beriringan menuju lift.
“Disa, saya,..” Kean menghentikan langkahnya saat ia menyadari arah yang dituju Disa.
"Tunggu sebentar tuan."
Disa menahan tangan Kean yang nyaris beranjak. Kean menoleh tangannya yang di genggam Disa, sangat erat dan hangat.
“Jangan bermain-main. Saya tidak suka naik lift.” Berusaha melepaskan cengkraman tangan Disa yang semakin erat.
“Sebentar saja tuan, saya mohon.” Disa masih enggan melepaskan genggaman tangan Kean.
Disa menekan salah satu tombol untuk membuka pintu lift. Tangan Kean sudah berkeringat dingin begitupun dengan punggung dan dahinya. Ia menarik nafas dalam-dalam tapi rasanya sangat sesak walau hanya membayangkan jika pintu lift itu terbuka.
Ia mulai gelisah, rasanya ia ingin berlari menjauh dari lift yang menujukkan angka semakin turun. Dan tidak lama, “Ding!” lift tepat berhenti di hadapannya.
“Bertahanlah tuan, sebentar saja.” Bisik Disa dengan senyum terkembang.
Lutut Kean rasanya gemetar, seperti tulang-tulang kakinya melunak dan kehilangan keseimbangan untuk menopang tubuhnya.
Perlahan pintu lift terbuka, Kean berusaha mengatur nafasnya yang terengah. Bayangan ia berada di ruang tertutup yang dipenuhi nyala api dan asap tergambar jelas di pikirannya. Namun tiba-tiba, Ia terperangah melihat pintu lift yang terbuka. Bukan lapisan besi warna abu-abu yang ia lihat, melainkan warna kombinasi putih dan biru dengan sedikit efek transparan seperti kaca. Hampir saja tubuh Kean roboh jika Disa tidak menahannya.
“Disa, ini?” tanya Kean seraya menoleh Disa yang memegangi tubuhnya.
“Hem, ini ruangan Kokpit anda tuan.” Tutur Disa seraya tersenyum memandangi lukisan tiga dimensi yang ia buat beberapa hari ini secara diam-diam.
Perlahan Kean menegakkan tubuhnya. Ia berjalan masuk ke dalam lift dan melihat lukisan mural yang dibuat Disa. Ia nyaris tidak percaya, semuanya terasa seperti nyata. Ada warna biru yang menggambarkan langit yang cerah, warna putih dengan bentuk awan dan tentu saja, sisi kiri dan kanannya terasa seperti dinding kaca.
Kean menyentuh permukaan dinding lift, sangat halus. Entah bagaimana Disa membuatnya. “Apa, ini kamu sendiri yang membuatnya?” tanya Kean dengan penuh rasa takjub.
“Iya tuan. Apa anda menyukainya?”
“Hem.” Sahutnya tanpa memalingkan pandangannya dari mural yang di buat Disa.
Disa tersenyum senang. Perlahan ia membiarkan pintu lift tertutup dan menekan tombol lantai paling atas, lantai 9.
“Terasa seperti meluncur di dalam pesawat luar angkasa bukan?” Disa bersandar pada dinding lift seraya memandangi Kean yang masih terlihat takjub.
“Hem. Terasa seperti saat saya menerbangkan helicopter. Adrenalin saya melonjak. Rasanya saya telah keluar dari kurungan yang menyekap saya selama ini.” Ungkap Kean yang kemudian berbalik menatap Disa.
“Tapi, untuk apa kamu melakukan semua ini?” tanya Kean kemudian.
Wajah Disa yang menunjukkan senyum, kini berubah tegang. Ia tidak menyangka Kean akan bertanya alasannya. Dan dihadapannya, Kean seperti tengah menunggu jawabannya.
“Em, alasannya.. ” bimbang, seperti apa ia harus menjawabnya.
*****
Kira-kira apa alasan Disa membuat mural di dinding lift sang direktur?