
Selalu ada hal yang membuat seseorang tersenyum seharian dan hanya ingin terdiam, tenggelam dalam lamunannya. Mengingat banyak peristiwa yang hanya bisa di kenang tanpa bisa di ulang. Itulah yang dilakukan Damar saat ini.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa dengan ponsel di atas kepalanya yang selalu ia pandangi. Ia masih sangat betah membaca pesan yang dikirim Disa dan sesekali berdecak kesal merutuki pesan yang dikirimnya dan tidak seharusnya seperti itu.
Sejenak ia berfikir, apa mungkin kali ini ia harus mengirim pesan lebih dulu untuk menyapa Disa?
Dahinya tampak berkerut, memikirkan pertanyaan apa yang akan ia kirim pada Disa saat ini.
“Sa, lo lagi ngapain?” Damar mengeja kalimat yang di tulisnya dalam hati.
“Em, kebacanya agak sedikit kasar gak sih?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Ternyata cukup sulit juga memikirkan kalimat pertama untuk membangun sebuah komunikasi yang menyenangkan. Salah-salah bicara, bisa-bisa pesannya tidak di balas oleh disa.
Sambil memikirkan kalimat yang akan ia kirimkan, perhatiannya teralih pada foto profile Disa. Ia menggunakan potret sebuah mural gambar awan dengan sosok seorang laki-laki yang membelakanginya di sisi kanan sebagai foto profile. Tidak terlihat jelas wajah laki-laki yang mengenakan stelan jas tersebut. Yang terlihat hanya bahunya yang tegap dan diyakini sosok ini pasti berwibawa.
“Ini dimana sa?” gumam Damar, mencoba membayangkan tempat yang di potret Disa. Tampak asing dan tidak pernah di lihatnya.
Melihat gambar ini membuat Damar kembali teringat saat-saat ia dan Disa dulu menggambar di tembokan lapangan sekolah. Mereka menggunakan cat semprot untuk melukis di dinding tersebut.
Disa yang tidak terbiasa dengan media gambarnya, sesekali tampak kesal saat gambar yang ia buat tidak sesuai harapannya.
“Mong, ini gimana sih cara bikin efek di area yang bersudut gini? Kok gue gagal mulu ya?” keluh Disa kala itu.
Damar yang sedang fokus dengan grafitinya pun mulai mengalihkan perhatiannya. Bibir Disa yang mengerucut kesal terlihat menggemaskan bagi Damar.
“Coba lo berdiri sebelah sini.” Damar memegangi bahu Disa dan menggeser tubuhnya sedikit ke kiri. “Semprotin catnya dari arah sini.” Ia mengangkat tangan Disa dan mengarahkan cat semprotnya ke dinding.
“Ssstttt!!!” Damar menekan telunjuk Disa agar menyemprotkan catnya.
“Udah itu, lo kasih gradasi warna netral, supaya gambar lo terlihat hidup.” Imbuhnya seraya memberikan satu lagi cat semprot pada Disa.
Disa menyemprotkan cat ke arah yang di tunjukan Damar dan seketika senyumnya terbit saat gambar yang ia buat terlihat lebih baik.
“Waw! Colour is magic, mong!” seru Disa dengan wajah cerianya.
Ia menaruh kembali cat semprotnya lantas berjalan mundur menjauh dari gambarnya. Ia tersenyum puas, melihat hasil gambarnya yang beberapa hari ini ia buat. Sungguh tidak menyangka kalau hasilnya akan terlihat sebagus ini.
Di sampingnya, Damar ikut memandangi gambar buatan Disa. Ia ikut tersenyum saat melihat wajah senang Disa di hadapannya.
“Lo emang suhu gue.” Ujar Disa seraya mengangkat kepalnya dan menunjukkannya pada Damar. Damar melakukan hal yang sama, mengajak Disa tos dengan kepalnya.
Hah, kalau mengingat kebersamaan itu, rasanya Damar sangat rindu. Tertawa bersama Disa, mengganggunya saat belajar, beli jajanan yang murah dan patungan serta banyak lagi hal menyenangkan yang membuat mereka tertawa lebar. Dan saat ini ia merindukan masa-masa itu.
Lalu, gambar ini dimana Disa membuatnya?
Damar membalik tubuhnya menyamping. Setelah melihat foto profil Disa, ia beralih stalking media sosialnya namun kemudian,
“WA!!!” seru Eko mengagetkan Damar. Rupanya sedari tadi ia duduk di lantai, di samping sahabatnya yang senyum-senyum sendiri.
“ASTAGA!” dengan cepat Damar bangun saat melihat wajah Eko yang begitu dekat dan mengagetkannya.
“HAHAHAHAHA… Lo anteng banget liatin disa sampe gak nyadar gue ada di sebelah.” Ledek Eko yang beranjak dari tempatnya.
Dengan segera Damar menyembunyikan ponselnya yang menampilkan wajah Disa. “Lo kebiasaan gangguin privasi gue.” Damar beranjak dari tempatnya, ia cukup kesal karena Eko mengintipnya diam-diam.
“Privasi apaan? Liat muka cewek cakep tuh hak segala bangsa kali.” Timpalnya kemudian.
Damar hanya berdecik, lantas ia mengambil helmnya. Ia perlu berjalan-jalan sebentar untuk menjernihkan pikirannya.
Begitulah Eko. Terkadang menyenangkan tapi seringnya menyebalkan.
*****
“Tuan, makan malam sudah siap. Apa tuan akan makan malam sekarang?” tawar Disa pada tuan mudanya.
Sejak tadi sore, Kean terus berdiam diri di balkon rumahnya. Ia menghabiskan waktunya dengan di temani segelas kopi dan cemilan yang sama-sama sudah habis. Sejak kepulangan Marcel, Kean lebih banyak diam dan menghabiskan waktunya sendirian. Ia memilih berdiam diri di balkon alih-alih menonton tayangan favoritnya di televisi.
Terlihat Kean yang memasukkan ponselnya ke dalam saku. Sedari tadi benda pipih itulah yang selalu ia pandangi. Ia menghela nafas dalam yang kemudian dihembuskan perlahan, seperti ada beban berat yang mengganjal perasaannya saat ini.
“Kemarilah.” Ujarnya.
Disa terlihat ragu untuk mendekat. Entah apa yang terjadi pada tuan mudanya hingga menjadi begitu pendiam.
“Kamu tidak mendengar saya?” Kean menoleh dan menatap Disa sejenak. Wajahnya tampak sendu dengan garis kerut di dahinya.
Disa bergegas menghampiri Kean. “Ada yang bisa saya bantu tuan?” ia berusaha menunjukkan wajah tenangnya saat melihat Kean yang terlihat tidak baik-baik saja.
“Duduklah.” Tunjuk Kean pada kursi yang terhalang meja kecil darinya.
Melewati Kean dan Disa duduk di sana. Ia menoleh Kean sejenak yang tengah menatap entah ke titik mana. Yang jelas, tatapannya terlihat kosong.
“Apa kamu pernah merasa berada dalam kekangan seseorang yang tidak kamu inginkan?” tanya Kean tiba-tiba. Ia tidak menoleh Disa. Matanya masih menatap langit malam yang mulai gelap. Sudah jam setengah 7 malam dan langit mulai menunjukkan warna kehitaman.
“Tidak tuan.” Jawab Disa dengan cepat. “Tidak ada yang peduli pada pilihan saya, maka tidak pernah ada yang mengekang saya.” imbuhnya.
Ia ikut menatap jauh ke depan sana. Mencoba memikirkan kembali pertanyaan Kean.
“Apa yang akan kamu lakukan jika seseorang mengekangmu?” Kean masih dengan pertanyaannya tentang mengekang. Mungkin ini yang ia rasakan saat ini.
“Bergantung pada hal apa yang mereka kekang."
"Namun saya pikir, saya punya hak untuk memilih sendiri apa yang saya mau dan saya butuhkan.” Disa menjawab dengan ringan. Tentu saja, selama ini ia tidak pernah merasa ada yang mengekangnya. Ia mengatur hidupnya sendiri, mau menjadi apa dan seperti apa bergantung pada pilihannya serta kedua kaki dan tangannya. Ia tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya di kekang.
“Bagaimana kalau masa depan kamu yang di kekang. Kamu di atur harus menjadi apa dan seperti apa. Apa yang kamu lakukan?” Pertanyaan Kean terdengar lebih terarah. Ia menoleh Disa dan menunggu jawaban dari gadis itu.
Disa tersenyum samar. Entah mengapa Kean seperti sedang memaksanya untuk menjawab sesuai apa yang ingin ia dengar.
“Orang-orang, siapa pun itu bisa memaksakan kehendaknya pada saya. Tapi, bukan suatu keharusan bagi saya untuk mengikutinya.”
“Saya punya cara sendiri untuk mengatur hidup saya. Saya memiliki tanggung jawab sendiri pada diri saya dan orang-orang di sekitar saya. Dan kalau orang tersebut peduli pada kita, harusnya mereka menghormati pilihan kita.” Tutur Disa tanpa beban.
Kean tampak termenung mendengar jawaban Disa.
Terlintas dalam benaknya, apa yang akan terjadi jika ia datang atau tidak datang ke acara makan malam tersebut. Undangan Marcel tentu memiliki maksud tertentu. Di tambah Marwan yang ikut memintanya untuk datang. Semua orang memaksanya tanpa memberi alasan yang jelas.
“Bangunlah, kita pulang.” Ujar Kean seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Sekarang tuan?” Disa tampak terkejut mendapat ajakan tiba-tiba dari tuan mudanya. Sejak mendapat undangan, tuan mudanya tampak enggan untuk ke rumah utama, tapi ternyata pikirannya bisa berubah.
Kean menghentikan langkahnya, ia menoleh Disa yang ada di belakangnya. “Kamu sudah masak?”
“Sudah tuan. Tapi, tidak masalah jika tuan tidak memakannya.” Jawab Disa dengan cepat.
“Kenapa? Apa kamu tidak kesal sudah memasak tapi tidak saya makan?” Kean sedikit mengernyitkan dahinya. Setahu ia, seorang wanita akan sangat kesal saat masakan yang sudah susah payah ia buat malah di abaikan.
“Tidak tuan. Tuan akan malam dengan keluarga tuan. Makan di rumah utama pasti akan terasa lebih nikmat.” Timpal Disa dengan yakin.
Rasanya Kean ingin tertawa mendengar jawaban Disa. Ia begitu yakin makan malam di rumah utama akan sangat menyenangkan padahal tidak pernah ada interaksi yang menyenangkan di rumah itu. Termasuk moment yang di sebut makan malam.
Kean tidak lagi menimpali kalimat Disa. Ia bergegas pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil.
Mobil Kean mulai melaju membelah jalanan yang masih cukup ramai. Sepertinya orang-orang sedang menempuh perjalanan pulang. Suara klakson saling bersahutan dengan tidak sabar. Masing-masing ingin di beri jalan agar bisa segera sampai ke tujuan masing-masing.
Hanya keheningan yang ada di antara mereka sampai kemudian Kean bertanya, “Kenapa kamu berfikir kalau makan dengan keluarga itu lebih nikmat?” Kean melanjutkan perbincangan mereka yang terjeda. Pandangannya masih tetap tertuju pada jalanan di lajur kanan yang membuat kendaraan saling berkejaran dengan kecepatan tinggi.
“Karena saya merasakannya tuan.” Timpal Disa. Perlahan seperti ada bayangan saat-saat ia makan bersama keluarganya di kampung.
Sang nenek yang biasanya sibuk membuat makanan yang ia khususkan untuk Disa dan sang bibi yang sibuk mengomentari rasa makanan neneknya.
“Udah atuh imas, jangan di cicipin terus. Nanti habis. Itu teh buat si eneng.” Kalimat itu yang biasanya Disa dengar dari sang nenek.
Jika di hitung, sudah hampir 1 tahun ia tidak pulang. Sudah sangat lama dan ia sudah sangat merindukan sambal terasi buatan sang nenek.
“Walau masakan yang di buat hanya makanan sederhana, tapi akan menjadi mewah saat dinikmati bersama orang-orang yang kita sayangi.” Ungkap Disa dengan pandangan yang terlihat jauh ke depan sana.
Dalam pikirannya tergambar saat Jenar menyuapinya dengan tangannya yang sudah mulai gemetaran karena usianya yang tidak muda lagi namun hal itu membuat rasa makanannya jauh lebih nikmat.
“Masakan sederhana apa yang biasa kamu nikmati bersama keluarga kamu?” Kean semakin tertarik dengan cerita Disa. Wajahnya terlihat senang mengenang saat-saat makan bersama keluarganya.
“Nenek saya biasanya masak tumis ikan asin peda dan sambal terasi. Lalapannya rebus rebung. Terus nasinya di masak di atas tunggu. Sangat enak di nikmati kalau masih hangat.” Cerita Disa membuatnya menelan salivanya sendiri. Rasa masakan sang nenek tergambar jelas di ujung lidahnya.
“Mungkin sesekali kamu bisa memasakkannya untuk saya.” melihat ekspresi Disa saat menceritakan masakan sang nenek, sepertinya ia harus mencoba makanan yang menurutnya asing tersebut.
Seperti apa bentuk makanan itu bahkan tidak bisa ia bayangkan.
“Saya tidak yakin tuan akan suka.” Disa ragu sendiri membayangkan tuan mudanya makan dengan ikan asin.
“Kenapa, kamu belum mencoba memasaknya.” Kean ikut tersenyum melihat Disa yang tersenyum tipis.
“Jangan, jangan di coba tuan. Itu tidak cocok untuk lidah anda.”
“Masaklah dulu, dan saya yang akan memutuskan suka atau tidak.” Tandas Kean tanpa bisa di bantah.
“Baik tuan. Akan saya memasaknya untuk anda saat musim hujan.” Tidak ada pilihan lain bagi Disa selain mengabulkan permintaan tuannya walau ia ragu tuan mudanya akan menyukainya.
“Kenapa harus menunggu musim hujan?” Kean mengernyitkan dahinya. Dalam pikirnya, sederhana apanya kalau harus menunggu musim hujan untuk menikmati makanan tersebut.
“Iya tuan, karena rebung hanya tumbuh di musim hujan. Sebelum dia tumbuh besar jadi bambu, kita ambil lebih dulu.”
“Bambu?” Kean tidak percaya dengan yang di dengarnya.
“Iya tuan. Rebung itu dari bambu kecil. Makanya saya tidak yakin kalau tuan akan suka.”
Kean hanya terkekeh mendengar cerita Disa. Ternyata perkara ikan asin dan rebung bisa mengalihkan sedikit pikirannya hingga tanpa sadar mereka tiba di rumah utama.
Sampai di rumah utama, mobil Marcel sudah terparkir di halaman. Rupanya ajakannya untuk makan malam memang sungguh-sungguh.
“Tuan, saya permisi lebih dulu. Selamat menikmati waktu anda.” pamit Disa yang memilih untuk lewat pintu belakang.
Kean hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya menuju rumah utama.
“Wah, akhirnya kamu datang juga.” Sambut Marcel yang menghampiri Kean dan merangkulnya. Ramah sekali pamannya malam ini.
Kean menanggapinya dengan dingin. Dalam pikirnya, semakin banyak basa basi, pasti semakin besar kejutan yang disiapkan sang paman untuk dirinya.
Kean pun melihat Sigit, Liana dan tentu saja Shafira yang tersenyum padanya.
Sigit menghampiri putranya dan merangkulnya seraya menepuk punggung Kean. “Terima kasih sudah datang.” Ujarnya.
Kean hanya terangguk, ia tidak terbiasa dengan suasana seperti ini. Setelah melepaskan pelukannya, Sigit memandangi putranya dengan rasa bangga. Perlahan, putranya mulai menunjukkan kemampuannya memimpin perusahaan. Menurutnya, tidak sia-sia ia sedikit memaksakan kehendaknya karena ternyata Kean memang mampu.
“Apa anda akan makan malam sekarang tuan?” tawar Marwan.
“Tunggu sebentar, kita masih menunggu seseorang.” Marcel yang menimpali seraya melihat jam di tangannya.
“Siapa lagi yang kamu undang?” sepertinya Sigit pun tidak mengetahui tamu berikutnya.
“Tenanglah mas, ini kejutan untuk putra mas.” Timpalnya dengan santai.
Kean menoleh Marwan seperti meminta jawaban. Namun Marwan hanya menggeleng, ia pun tidak tahu siapa orang berikutnya yang akan datang.
Terdengar suara mobil yang memasuki parkiran. Selintas terlihat, mobil yang cukup asing dan belum pernah di lihat Sigit. Suara pintu mobil terdengar terbuka kemudian kembali tertutup. Dan tidak lama kemudian, tampak seseorang yang mendorong kursi roda dengan seseorang terduduk di atasnya.
Kean tampak tercengang, begitu pun dengan Sigit, Liana dan Marwan. Hanya Marcel yang tersenyum puas melihat ekspresi orang-orang di hadapanya.
“Arini?” lirih Sigit dengan kalimat yang seolah tercekat. Kean hanya mematung, ia masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Memandangi sosok wanita di hadapannya, “Benarkah itu dia?”
*****