Marry The Heir

Marry The Heir
Danau Part 2



“Buat apa a, aku kan gak bisa naik. Aku liatin aja deh, aa yang naik kuda.” Tolak Disa dengan takut-takut.


Jujur ia tidak seberani itu kalau harus menunggangi seekor kuda.


“Masa mau nontonin doang. Buat apa kita ke sini. Ayo, kemarilah.” Lagi, Kean mengulurkan tangannya pada Disa. Kenapa belakangan ini ia jadi suka sekali melakukan hal kecil namun manis ini?


“Nggak ah a, aku takut. Aku nunggu aja di sini. Ngasih makan ayam kek atau apalah. Tapi jangan di suruh naik kuda ya..”


“Iya, tapi sini sebentar kamu kenalan dulu sama kudanya.” Kean memaksa Disa mendekat.


“Cuma kenalan ya?”


“Iya, cuma kenalan.” Kean tersenyum gemas melihat tingkah istrinya yang takut namun penasaran.


Disa mengulurkan tangannya pada Kean dan Kean membawanya mendekat pada kuda tersebut. Menyentuhkannya pada kepala kuda yang ia usap,


“Neeigghh!!!” kuda itu bersuara membuat Disa terperanjat.


“Ih aa…” dengan cepat ia melepaskan tangannya.


“Hahhahaa… Itu dia nyapa kamu sa, gak usah takut.” Kean tertawa puas melihat Disa yang kaget seperti ini.


“Nggak mau ah, nanti kalo dia nendang aku gimana?”


“Nggak akan, dia tau kok kamu orang baik. Ayo sini.” Lagi Kean mengulurkan tangannya.


“Bener ya a, dia gak bakal nendang aku?”


“Iya gak akan.” Kean dengan begitu meyakinkan.


Akhirnya Disa Kembali mendekat. Di usapnya wajah kuda dengan lembut dan benar saja kuda itu hanya terdiam, seperti menyukai sapuan lembut Disa di wajahnya.


“Iishh lucu banget sih. Gemes jadinya.” Gumam Disa. Rasa ingin mencubit pipi kuda.


“Kalo gitu, naiklah.”


“Ih nggak akh.”


“Coba dulu sa, nanti kita keliling naik kuda ini. Kamu gak penasaran apa sama keseruannya?”


Hasutan Kean memang selalu berhasil memantik rasa penasarannya. Ia seperti tahu cara membangkitkan jiwa petualangan Disa.


“Atau kamu liat dulu cara aku ngendaliin kuda supaya nggak bingung.”


"Iya aku liatin dulu aja."


Kean mengeluarkan kuda pilihannya dari istal. Di tubuh kuda ini sudah terpasang pelana juga tali kekang dan perlengkapan lainnya. Sepertinya Kemal sudah menyiapkan semuanya sesuai perintah Kean.


Dengan mudah ia naik ke atas punggung kuda.


“Kaki kamu tempatin di sini. Kalau mau minta dia jalan, kamu gerakin kayak gini.” Kean menggerakkan kakinya menyentuh tubuh kuda hingga kuda itu berjalan dan mengelilingi Disa.


“Ini tali kekangnya. Jangan terlalu kamu pegang kuat-kuat supaya kudanya gak ngerasa di cekik. Kamu tarik sedikit aja kalo mau dia berhenti. Mudah kan?” tanya Kean kemudian.


Yang di lakukan Kean memang terlihat mudah tapi kalau Disa yang mempraktekannya, belum tentu.


“Mau coba?” lagi Kean bertanya.


Disa memang tidak yakin bisa tapi ia sangat penasaran.


“Nggak, aku takut kudanya ngamuk.” menggeleng lemah.


Kean hanya tersenyum, ia tidak ingin lagi memaksa Disa. Tidak tega melihat wajah takutnya. Lantas ia turun dari kuda. “Kalau gitu, kita naik sama-sama.” Ajaknya kemudian.


“Hah, maksudnya gimana?”


Cukup kaget saat tiba-tiba Kean berdiri di belakangnya dan memegangi pinggang Disa.


“Kamu percaya kan sama aku?” pertanyaan itu sepertu kunci Kean saat akan melakukan hal yang baru bersama Disa.


Disa terangguk pelan. Tidak ada yang ia sangsikan dari Kean hanya hatinya saja yang belum yakin pada kemampuannya.


Mendapat persetujuan dari Disa, Kean membawa Disa naik ke atas kudanya. Memegangi pinggangnya saat meminta Disa untuk menginjak sanggurdi (pijakan) dan mengangkat tubuhnya agar naik ke punggung kuda. Setelah itu, ia menyusul kemudian, duduk di belakang Disa dengan tali kekang yang di genggamnya.


Seperti di peluk dari belakang, ragu-ragu Disa menoleh suaminya yang duduk menempel dengannya. Perasaannya tidak karuan, antara gugup, takut tapi mendebarkan saat tangan Kean melingkari tubuhnya.


“Kita berangkat.” Suara Kean terdengar seperti bisikkan yang hangat dan meremangkan bulu kuduknya.


Ia menggerakkan kakinya, kuda pun mulai berjalan perlahan.


Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam, entah harus memulai perbincangannya dari mana. Keduanya hanya ingin menikmati saat-saat seperti ini, duduk berdekatan dan merasakan hangat tubuh masing-masing.


Mengelilingi peternakan dengan seekor kuda, Disa baru tahu kalau peternakan ini sangat luas. Banyak spot cantik seperti tempat ini sengaja di tata sedemikian rupa untuk membuat betah siapapun yang datang.


“Peternakan ini, satu-satunya peninggalan keluarga mamah yang tidak di jual saat bisnisnya hancur.” Suara Kean terdengar di belakang Disa.


“Setelah mamah sakit dan berangkat ke luar negeri, satu per satu asset perusahaan mamah di jual. Manajemen peninggalan kakekku dulu tidak bisa menangani gejolak perusahaan tanpa mamah. Jadi ya, yang tersisa hanya ini.” Kean menyesalkan.


Peranan Arini di perusahaan milik keluarganya memang sangat besar. Wanita cerdas yang mumpuni mengelola perusahaan besar menjadi tokoh central dalam perkembangan perusahaan. Saat Arini berangkat ke luar negeri, pengawasan terhadap usaha propertinya seolah melonggar. Banyak penyelewengan di sana sini yang berujung pada jatuhnya perusahaan ini.


Sigit sibuk dengan group Hardjoyo yang juga sedang berkembang hingga akhirnya perusahaan milik Arini mengalami kebangkrutan.


“Apa aa dulu sering main ke sini?” Disa mulai memberanikan diri untuk bertanya. Tempat ini seperti memiliki sentimen pribadi bagi Kean.


Suasana hari yang tidak terlalu terik dengan banyak pohon yang memayungi mereka, mulai membuat Disa nyaman berbincang sambil menikmati suasana ini.


“Seingatku beberapa kali pernah ke sini. Biasanya saat liburan atau saat mamah ingin merefresh kesuntukannya."


"Dulu ada keponakan-keponakan papah yang biasanya ikut dan membuat suasana jadi cukup seru.”


“Aku selalu suka saat pulang ke sini karena aku merasa kalau aku sedang di beri kebebasan. Bebas melakukan dan memikirkan apapun dengan orang-orang yang hangat menyambutku.”


Kean menghela nafas dalam membuat hembusan nafasnya terasa hangat di leher Disa. Sedikit meremang membuat Disa bergidik.


Rasanya ia ingin mengulang masa itu, menikmati perasaannya sebagai seorang anak bukan hanya sekedar penerus perusahaan.


“Kamu mau ke sana?” Kean menunjuk sebuah hamparan rumput yang di selingi bunga berwarna warni. Mungkin ia harus mengalihkan pikirannya agar tidak melow seperti ini.


Disa tidak berhak ikut sedih karena memikirkan masa lalunya yang tidak menyenangkan.


“Boleh.” Sahutnya.


Kean turun lebih dulu lantas membantu Disa. Mereka berjalan bersisihan menuju hamparan rumput itu.


“A, ada bunga yang bagus.” Seru Disa saat melihat bunga liar yang berwarna kuning.


Dengan semangat ia menghampiri bunga itu.


“Jangan kesana!” seru Kean.


“BYUR!” terlambat. Disa sudah terjatuh lebih dulu ke dalam air.


“SA!!!!” seru Kean yang berlari menghampiri. Jantungnya nyaris copot saat melihat Disa jatuh ke dalam air.


Tanpa Disa tahu, tanah tempat tumbuhan itu tumbuh ternyata tanah berawa yang d bawahnya adalah air dengan kedalaman yang cukup.


“Kamu gak apa-apa?” tanya Kean saat kepala Disa kembali terlihat di permukaan. Beruntung wanitanya bisa berenang.


“Aduh kakiku keram.” Keluh Disa yang meringis.


“Jangan panik, aku tarik kamu.” Kean segera mengulurkan tangannya dengan panik.


Tapi tiba-tiba saja Disa menariknya dengan kuat.


“BYUR!!!” Kean pun ikut masuk ke dalam air.


“HAHAHAHAHHA…” puas sekali ia tertawa saat berhasil membawa Kean turut serta masuk ke dalam air.


Ia memang hanya berpura-pura kakinya kram agar bisa membawa Kean ikut jatuh ke air. Pembalasan dendam karena Kean memaksanya naik kuda.


Akhirnya mereka sama-sama berenang di dalam air danau yang dingin.


“Astaga kamu ngejain aku, hem?” Kean mencipratkan air ke wajah Disa dengan gemas.


“Hahhahaa maaf… Habis aa telat sih ngasih tau aku. Nyemplung kan akhirnya.” Timpal Disa kesal.


Bibirnya mengerucut antara menahan malu dan kesal.


“Hahahahhaa… Lagian kamu main pergi aja. Udah bener jalan di sebelah aku.” Kean jadi ikut tertawa. Tercebur ke air danau yang dingin ternyata jadi hiburan tersendiri.


“Habis bunganya cantik.” Tukas Disa. Menatap dari kejauhan bunga liar yang menari-nari di terpa angin.


“Kamu suka? Mau aku ambilkan.”


Disa terangguk pasti.


Kean sedikit berenang mendekat pada bunga liar yang tidak jauh darinya. Memetik beberapa dan membawanya pada Disa.


“Kemarilah.” Ia lebih mendekat pada Disa.


“Aa mau apa?”


Tanpa menjawab Kean menyematkan beberapa bunga yang di petiknya di sela telinga kiri Disa. Disa hanya terdiam, membiarkan Kean melakukan apa yang ingin di lakukannya. Lihat wajahnya yang semakin tampan saat basah seperti ini. Adududuh.. Jantungku.


Beberapa bunga sudah tersemat di sisi telinga Disa. “Cantik.” Lirih Kean seraya menatap netra bening milik istrinya penuh kekaguman.


Disa hanya tersipu lantas mengalihkan pandangannya dari Kean. Dadanya selalu bergemuruh saat netra pekat itu menatapnya terlalu laman penuh perasaan.


Kean semakin lekat menatap Disa tidak ingin mengalihkan pandangannya dari sosok cantik yang malu-malu di hadapannya. Seperti ada dorongan yang membuat ia menyentuh tengkuk Disa pelan, merapikan helaian anak rambut yang basah di leher Disa. Beberapa saat ia mendekat, lebih dekat dan dekat lagi.


Disa menatap mata suaminya yang terlihat menyimpan banyak gairah. Tubuh mereka yang basah dan berada di dalam air, seperti tidak menolak untuk saling mendekat dan menghangatkan.


Sejenak mereka bertatapan, lantas pelan namun pasti Kean mengecup bibir Disa dengan lembut. Rasa hangat nafas satu sama lain seperti memberi perasaan tidak biasa bagi keduanya.


"Istriku yang cantik." lirih Kean terdengar menggoda bagi Disa.


Satu kecupan lagi mendarat di bibir Disa. Kecupan itu tidak bertahan lama, berganti dengan sebuah gigitan lembut yang melekat sempurna di bibir Disa. Disa melingkarkan tangannya di leher Kean membuat Kean lebih leluasa untuk menyesap bibir Disa yang ia pagut dengan rakus.


Nafasnya sampai menderu menahan gairah yang tiba-tiba datang. Mereka terengah bersamaan saat nafas keduanya hampir habis.


Perlahan Kean mulai mengalihkan kecupan kecil-kecil ke pipi Disa, lalu telinga yang membuat tengkuk Disa meremang dan tentu saja ke leher jenjang yang terlihat seksi saat basah. Disa hanya bisa memejamkan matanya, menikmati setiap kecupan yang di berikan Kean di tempat-tempat yang membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak.


“A,” lirih Disa.


Tidak mungkin ia melakukan hal yang lebih dari ini di permukaan air danau yang cukup dalam.


“Hem,..” Kean masih berusaha mengendalikan hasratnya. Ia mengerti apa yang di pikirkan istrinya. Di tempatkannya dahinya di dahi Disa seraya berusaha mengatur hela nafasnya yang memburu.


Keduanya memejamkan mata, menelan saliva yang tiba-tiba terkumpul di rongga mulutnya sambil menenangkan diri. Sebentar saja ia ingin seperti ini sebelum badai gairah kembali menggulung keduanya.


*****