
Ketenangan bumi ternyata tidak bertahan lama saat negara api mulai menembakkan bola apinya sebagai tanda memulai peperangan. Hal itu yang dilakukan Sigit saat memaksa Kean untuk menemuinya di rumah utama.
Berdebat, sudah pasti hal itu yang akan mereka lakukan. Dua kepala yang memiliki idealisme dan keinginan yang berbeda selamanya memang tidak akan pernah bertemu pada satu simpulan yang sama. .
Kembali Kean berdiri di hadapan Sigit dengan memendam kekesalan yang sama. Yang berbeda ia tidak lagi memiliki rasa takut karena ia yakin telah menguasi apa yang seharusnya ia kuasai sehingga Sigit tidak akan berkutik.
“Tekanan darah anda sudah membaik tuan. Pastikan untuk cukup istirahat dan minum obat secara teratur.” Masih ada dokter yang memeriksa kesehatan Sigit secara rutin, membuat Kean harus bersabar bertanya alasan Sigit memaksanya untuk datang.
Datang, ya ia lebih suka menggunakan kata itu di banding menggantinya dengan kata pulang. Bagi Kean, rumah ini hanya bangunan yang tidak pernah bisa ia sebut rumah sebagai tujuan untuk ia pulang. Tidak ada kenangan indah yang tersimpan di rumah ini selain kengerian dan perasaan di abaikan.
“Baik dok, akan saya perhatikan.” Marwan yang memberi jawaban karena tuan besarnya hanya terpaku, memandang ke luar jendela kamar yang ada di hadapannya. Seperti ia tengah memikirkan sesuatu.
“Baik, saya permisi.” Dokter muda itu mengangguk takzim sebelum pergi dari hadapan orang-orang di ruang ini.
“Mari saya antar.” Marwan memilih pergi, memberi kesempatan untuk Kean dan Sigit memulai pembicaraan.
Bisa menghela nafas dengan lega karena pada akhirnya Kean bebas berbicara dengan Sigit. Entah apalagi yang laki-laki paruh baya ini inginkan setelah perusahaan sepenuhnya berada di bawah kendali Kean.
“Papah dengar, kamu merombak habis anak perusahaan. Beberapa jajaran manajemen bahkan ada yang kamu ganti. Apa itu menyenangkan?” tanya Sigit yang akhirnya menoleh Kean dan menatap putranya dengan dingin.
Kean yang sangat sulit untuk di paksa masuk ke perusahaan tapi sekarang malah merombak total tatanan yang sudah ia buat. Kean bahkan menyingkirkan orang-orang yang ia tempatkan sebagai orang kepercayaannya untuk tetap memperhatikan kondisi perusahaan agar ia tetap memiliki kendali.
Kean tersenyum tipis, sekarang ia paham rupanya ini alasan Sigit memanggilnya.
“Ya, ternyata sangat menyenangkan bekerja di ladang sendiri. Bisa melihat mana saja hama pengganggu dan menyingkirkannya. Desiw..” Kean menjentikkan jarinya seolah membuang sesuatu dari sela kuku jarinya.
“Langkahku cukup hebat bukan sebagai pewaris dari hardjoyo group?” sindirnya pada Sigit. Ia tidak sabar mendengar apa itu pujian atau makian yang akan terlontar dari mulut sang penguasa.
Sigit tersenyum sarkas untuk beberapa saat sampai kemudian wajahnya kembali dingin. Seperti baru saja ia mengejek progress pekerjaan yang susah payah Kean lakukan.
“Kamu memang berhasil merubah banyak hal. Tapi anwar, bukan orang yang seharusnya kamu singkirkan.” Sigit menatap Kean dengan tajam dan membuat pria itu tersenyum tenang.
Sekarang ia benar-benar yakin kalau Sigit sebenarnya tahu apa yang dilakukan salah satu pimpinan perusahaan yang baru saja ia pecat.
“Papah telah membuat perjanjian dengan ku, aku akan penjadi pewaris yang baik dan papah akan menjadi ayah yang baik. Aku sudah melakukan tugasku walau papah tidak pernah menepati janji papah.”
“Tapi sepertinya, aku juga telah menyingkirkan salah satu pion yang menjadi mata untuk papah dan melihat apa yang aku lakukan sekarang. Maaf, karena aku terlalu bersungguh-sungguh melakukan semuanya.” kalimat ini sengaja Kean lontarkan sebagai bentuk sindiran telak pada sang ayah.
Baik dulu hingga sekarang, tidak pernah ada komunikasi yang membaik di antara keduanya. Masing-masing menyimpan intrik yang diselipkan lewat kata-kata. seolah hal itu menjadi kalimat biasa sebagai awal perdebatan mereka.
“Dan bukankah seharusnya papah mulai memikirkan cara untuk menepati janji papah?” Kean seperti mengingatkan Sigit pada perjanjiannya saat menerima untuk menjadi pewaris dari perusahaan.
Tangan Sigit mengepal kuat, seperti ia tengah menahan kemarahan yang lebih besar. Namun bukan Sigit kalau ia tidak bisa mencapai tujuannya.
“Tidak masalah. Papah akan memenuhi janji papah dengan menikahkan kamu dengan putri brata secepatnya. Cukup adil bukan?” sebuah senyuman sarkas kembali ia tunjukkan, Sigit memang licik namun Kean tidak pernah menyangka kalau laki-laki ini akan sepicik ini.
“Apa maksud papah? Papah masih belum mengerti apa kemauanku? Atau papah pura-pura tidak mengerti?” timpal Kean yang mulai memanas.
“Tentu papah mengerti. Bahkan papah sangat mengerti apa kebutuhanmu dan apa yang akan membuatmu bahagia. Tidak hanya kamu, semua orang akan berbahagia.” Sahut Sigit dengan penuh percaya diri.
“Satu hal lagi yang harus kamu mengerti, darah keluarga ini suci. Pewaris hardjoyo group berikutnya pun harus berdarah suci. Dan kamu tentu tahu, darah seorang pelayan, tidak cukup baik bercampur dalam tubuh pewaris hardjoyo berikutnya.” Tegas Sigit.
“BRAK!!!!” Kean memukul dengan keras meja di hadapan Sigit. Matanya menyalak penuh kemarahan yang sudah siap untuk pecah.
“Ini yang papah pikir akan membuatku bahagia? Paksaan ini?!” seru Kean yang mulai lepas kendali.
Sigit hanya mengendikan bahunya acuh dengan senyuman tipis yang tidak pernah luntur.
“Aku pikir, aku masih berhadapan dengan papahku. Atau paling tidak masih berhadapan dengan seorang manusia yang memiliki hati.”
“Aku pikir aku bisa memaafkan semua kesalahan papah di masa lalu dan memberi kesempatan papah di masa Sekarang.”
“Tapi sepertinya aku salah. Papah tidak pernah berubah karena papah memang tidak mau berubah.”
“Aku sudah menuruti kemauan papah untuk menjadi pewaris dan penerus dan hardjoyo group. Tapi papah tidak pernah mau menepati janji papah padahal itu tidaklah sulit. Sepertinya harus aku beritahu satu hal,”
Kean mendekatkan tubuhnya pada Sigit, mengikis jarak mereka hingga sangat dekat lalu membisikkan sebuah kalimat dengan penuh penekanan dan intimidasi hingga mata Sigit membulat. Helaan nafas Kean yang berat saat mengucapkan kalimat itu seperti menegaskan kalau kata-katanya tidaklah sembarangan. Ada kemarahan dan kekecewaan yang bercampur di dalamnya.
Sigit tampak terpaku untuk beberapa saat hingga nalarnya mulai mencerna dan, “KEAN! Cabut sumpahmu!” seru Sigit kemudian.
Kean menarik tubuhnya menjauh. Ia hanya tersenyum dengan mata merah dan sedikit berair. Ini sumpah yang terpaksa ia buat. Sumpah yang pasti akan menyakitinya dan orang-orang disekitarnya. Ada banyak kekecewaan di dadanya namun berhadapan dengan Sigit dan berusaha meluluhkan hatinya ternyata memberinya kekecewaan terbesar karena Sigit memang tidak akan pernah berubah.
Kean memilih pergi dengan langkah gontai. Setiap langkahnya terasa begitu lemas seperti kehilangan arah dan tujuan.
“KEAN! Berhenti!” teriak Sigit. Namun Kean tidak menggubrisnya, ia bahkan tidak ada niatan untuk berbalik.
“KEAN!!!” panggil Sigit dengan sekuat tenaga hingga kepalanya berdenyut pusing.
Kean tetap dengan langkahnya, meninggalkan ruangan itu lantas menghilang di balik pintu yang kemudian tertutup rapat. Satu butir air matanya menetes, ternyata semuanya sia-sia sampai ia harus mengucapkan sumpah itu di tengah kemarahannya yang memuncak.
“Maaf,,” bisik hatinya yang entah ia tujukan pada siapa.
“BRUK!”
Sigit menjatuhkan tubuhnya di atas kursi, nafasnya masih terengah menahan rasa marah dan takut di saat yang bersamaan. Jika Kean benar-benar melakukan sumpahnya, maka ia dan Hardjoyo group kemudian akan hancur. Ya, hancur tanpa sisa apapun.
Kepergian Kean masih menyisakan kemarahan di dadanya. Lalu seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga saat ada seseorang datang untuk menambah kesakitannya.
Adalah Marcel yang datang beberapa saat saja setelah Kean pergi. Ia tersenyum santai seperti biasanya seperti tengah menertawakan apa yang terjadi padanya.
“Wah keponakanku sepertinya habis membentur mental ayahnya hingga seperti ingin menyerah saja. Apa keras kepala itu kali ini tidak menyenangkan?” Marcel duduk di hadapan Sigit dengan kaki yang tersilang.
“Mau apa kamu? Saya tidak akan lagi memberikan apapun yang kamu minta.” Tegas Sigit dari awal.
Ia sudah memperkirakan di tengah kericuhan semacam ini Marcel lah yang akan diuntungkan.
“Memang mas pikir aku akan meminta apa? Perusahaan? Hahahaha… Kean bahkan sudah pernah menawarkannya pada ku dan aku menolaknya mentah-mentah."
"Setelah ku pikir, kekayaan dan kekuasaan yang mas punya sekarang adalah bentuk hukuman sesungguhnya dari papah. Karena dengan seperti ini, terlihat jelas kalau mas tidak punya siapapun.” Marcel memelankan suaranya di ujung kalimat namun penuh penekanan dan senyum sinis.
“Oh ya, aku lupa mas masih punya Marwan. Laki-laki bodoh yang mendewakan mas dan menuruti semua kemauan mas."
"Sayangnya, saat mas tidak punya apa-apa, dia pun akan pergi. Seperti belatung-belatung malang yang di singkirkan kean dengan satu jentikan jari dari hardjoyo group. Hahahaha… Mas memang memiliki putra yang hebat. Brilian!”
Marcel bertepuk tangan ringan dengan tawa yang mengembang, seolah menertawakan kemalangan sang kakak.
“Apa maumu sebenarnya? Saya sedang tidak ingin berdebat.” Sigit memilih memalingkan wajahnya dari Marcel. Rasanya ia sudah sangat lelah dan tidak ingin meladeni basa-basi Marcel.
“Lepaskan clara. Akhiri perjodohan mereka.” Tegas Marcel dengan penuh keyakinan.
Ia menatap tajam sang kakak yang tampak acuh dengan keinginannya.
Sigit tersenyum sinis, ternyata benar yang Marwan katakan kalau Marcel memiliki hubungan dengan Clara sejak saat ia di amerika.
“Kamu pikir, saya akan menuruti kemauan kamu?” ia menoleh Marcel dengan sinis.
“Tentu. Saya punya sesuatu yang akan membuat mas menurut tanpa harus bersusah payah merajuk seperti kean. Dia cerdas tapi dia tidak tahu kalau untuk menghadapi mas tidak bisa dengan cara yang benar. Seringnya harus licik dan picik seperti yang mas lakukan saat ini.” Lagi, kalimat Marcel terdengar meyakinkan.
Sigit akhirnya benar-benar menghadapi Marcel. Ia menatap tajam mata sang adik. “Tidak.” Ujarnya dengan penuh keyakinan.
“Oh ya?” Marcel masih terlihat santai saja.
Ia merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. Selembar foto yang kemudian ia tunjukkan pada Sigit.
“Bagaimana dengan ini? Em, aku pikir ini akan memberi ledakan yang jauh lebih besar di banding saat aku membawa mba rini pulang.” Ujarnya dengan seringai tipis.
Mata Sigit langsung membulat melihat foto tiga remaja bersama seorang wanita yang berfoto di depan panti.
“Mau aku bongkar? Aku sudah tau cerita lengkapnya.” Ia bahkan menaruh sekeping CD di hadapan Sigit.
“BRENG SEK KAMU MARCEL!!” seru Siggit dengan mata menyalak.
Kali ini berganti Marcel yang tersenyum santai seraya mengendikkan bahunya. Ia beranjak dari tempatnya dan merapihkan jas yang ia kenakan.
“Pilihan ada di tangan mas. Bijaklah!” ia menepuk bahu Sigit beberapa kali sampai kemudian memilih untuk pergi dengan langkah mantap. Ia sangat yakin kalau apa yang ia lakukan telah memantik Sigit untuk mengingat masa lalu yang ia coba kubur. Satu langkah lagi, ia yakin Sigit akan menyerah.
Sepeninggal Marcel, Sigit masih memandangi foto yang ada di tangannya. Wajahnya yang dingin berubah sendu, seperti menunjukkan luka yang nyaris sembuh kembali terbuka.
“SHIT!” dengusnya seraya melempar CD yang ada di hadapannya.
Ia mengguyar rambutnya kasar, ingatan di masa lalu seperti kembali datang dan membuatnya masuk ke dalam lubang hitam yang sudah lama ia tutup dengan rapat.
Satu hal yang ia lakukan sekarang adalah menelpon Marwan.
“Iya tuan, ada yang bisa saya bantu? Saya masih ada di depan.” Suara Marwan terdengar jelas di telinga Sigit.
“Tidak, jangan masuk.” Ujarnya dengan lemah.
“Jangan biarkan siapapun masuk ke ruangan saya.” nafasnya terdengar tersengau. Ia meremas rambutnya sendiri dengan kasar untuk mengusir bayangan-bayangan yang tiba-tiba hadir di benaknya. Ia tidak ingin siapapun melihatnya dalam kondisi seperti ini.
“Tuan, apa terjadi sesuatu?” Marwan terdengar semakin panik. Tidak biasanya Sigit meminta hal seperti ini.
“Tidak, saya baik-baik saja.” Sigit menghela nafasnya dalam namun tidak mengurangi rasa sesak yang justru semakin bertambah.
“Apa kamu sudah mentransfer uang CSRnya ke panti?” ia berusaha fokus pada pikirannya bukan perasaannya, walau sulit.
“Belum tuan, persetujuannya masih di meja tuan muda.”
“Tapi tuan, kalau tuan muda melihat berkasnya, mungkin tuan muda akan curiga. Apa tidak masalah?” Marwan mulai panik, sesuatu yang mereka sembunyikan dari tuan mudanya, mungkin kali ini akan di ketahui.
“Sudahlah, tidak masalah. Lagi pula, mungkin sudah saatnya dia tau.” Suara Sigit terdengar semakin lemah.
Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya, Sigit memutus sambungan telponnya dan menaruh ponsel sedikit menjauh darinya.
Untuk beberapa saat ia terpekur sendirian mengingat apa yang ada di kepalanya. Mungkin marcel benar, pada akhirnya ia hanya akan sendirian.
*****