
Suasana ruang tunggu UGD terdengar ricuh sekali. Ada dua orang yang sedang berdebat terus saling berargumen, menyalahkan satu sama lain. Kean dan Sigit, ya dua orang itu yang sekarang dengan semangat saling menyalahkan atas kondisi yang Disa hadapi.
Sudah berulang kali Arini melerai keduanya tapi dua laki-laki yang sama-sama keras kepala ini tidak mau berhenti berdebat sampai salah satu mengakui kesalahannya.
“Makanya, kamu perrhatiin istri kamu. Ajak makan yang bener, kalau perlu beliin makanan langsung kirim ke butik. Jangan sampe kamu makan enak di kantor tapi istri kamu kelimpungan, banyak pekerjaan sampe lupa makan.” Lagi, Sigit yang protes pada sikap putranya yang ia duga pasti masih sangat egois.
“Tiap hari aku ngajak disa makan keluar pah. Kadang kami makan di butik bareng-bareng, aku gak pernah biarin disa makan sendiri kok. Aku selalu mmemantaunya. Coba aja papah tanya sama assistant-nya.” Sanggah Kean yang tidak terima di salahkan.
“Lagian, ini tuh gara-gara papah, hampir tiap malem jam 10 malam baru masuk kamar. Itu tuh udah waktunya yang tua istirahat dan yang muda bekerja keras. Ini disa malah terus aja di ajak ngobrol.” Berganti Kean yang menyalahkan sang ayah. Memang seperti itu kebiasaan Sigit belakangan ini.
“Bekerja keras apanya?” sengit Sigit tidak terima.
“Kean, papah, udah dong! Kalian bukannya do’ain disa malah terus main salah-salahan.” Arini sudah memijat pelipisnya yang mulai pening mendengar perdebatan ayah dan anak ini.
“Sebentar, anak kamu ini harus di kasih paham.” Sigit menjeda kalimat Arini.
Mulut Arini yang sudah terbuka kembali mengatup dan Shafira hanya mengusap punggung Arini menenangkannya agar Arini tidak ikut terpancing dan masuk dalam perdebatan.
“Kalau mau istirahat ya istirahat saja. Jangan istri kamu di kerjain siang malam. Istri kamu bukan alat ternak anak, bukan juga hanya alat pemuas kebutuhan biologis kamu. Kamu terlalu egois, membuat disa harus memenuhi segala kebutuhan kamu. Tanya yang punya badan, dia mau apa nggak, setuju apa nggak, jangan main hantam saja.” Imbuh Sigit dengan berapi-api.
“Astaga mas!!! Kamu ngomong apa sih!” Arini sampai memegangi tangan Sigit dengan kuat, melihat ke sekelilingnya dan memperhatikan banyak mata yang memandangi mereka.
“Jangan bahas hal kayak gini di sini dong!” suaranya di buat pelan namun penuh penekanan karena gemas dengan kelakuan dua orang di hadapannya.
“Sebentar mah!”
“Sebentar mah!” ucap dua orang ini bersamaan.
Arini hanya melongo, kaget melihat protes ayah dan anak yang kompak ini.
“Aku gak pernah maksa disa. Aku juga merhatiin disa dan menghormati disa. Bukannya papah yang sejak dulu suka mendominasi orang, membuat orang tidak bisa memilih atau menolak seperti yang selalu papah lakukan?" tanpa sadar Kean seperti membuka kembali ingatan mereka di masa lalu.
"Papah juga harusnya perhatian sama disa. Udah tau disa kram perut, malah papah paksa jalan-jalan. Papah liat kan tadi disa pingsannya di taman? Bukan di atas Kasur?” entah pembelaan macam apa yang Kean lakukan, hanya saja ia tidak terima di salahkan.
“Iya, tapi.”
“MAS!!! KEAN!!!” seru Arini dengan suara yang lebih tinggi.
Keduanya langsung terdiam. Kalau suara serak Arini sudah berganti sopran, dah lah mereka lebih baik diam.
“Ini tuh rumah sakit!! Kalian debatin apa sih?! Gak liat apa kalau orang-orang merhatiin kita? Mereka keganggu loh dengan perdebatan gak meaning kayak gini! Makin lama makin ngaco.” seru Arini menyudahi perdebatan ayah dan anak ini. Entah sejak kapan Kean dan Sigit jadi suka berdebat hal-hal kecil seperti ini yang berbuah pada mengungkit hal besar di masa lalu. Seperti masing-masing sedang mengklaim siapa yang lebih berhak mendapat perhatian dari Disa.
“Kalian tuh kayak bocah! Disa sakit, lagi butuh perhatian kita. Dan kalian, astagaaaa!!! Mamah gak ngerti, kenapa kalian bersikap kekanak-kanakan kayak gini. Udah bukan waktunya main salah-salahan, ini waktunya mikirin gimana kondisi disa sekarang dan apa yang dia butuhkan untuk sembuh.” Tegas Arini, sampai mengepalkan tangannya karena geram.
Dipandanginya dua orang yang terduduk di hadapannya dengan tajam. Kean dan Sigit hanya saling menoleh kemudian saling terdiam, seperti merenungi kesalahan mereka.
“Tapi rin,”
“Udah! Diam!” tegas Arini saat Sigit baru akan berbicara lagi. Ia sudah tidak mau menengar perdebatan apapun.
Sigit mengalah, ia tertunduk lesu di tempatnya. Mungkin Kean benar, ia terlalu mendominasi Disa selama ini, sangat wajar kalau anaknya kesal. Ia jadi teringat apa yang sehari- hari ia lakukan bersama Disa. Setelah makan malam, ia memang selalu minta Disa menemaninya nonton televisi, berbincang di ruang keluarga dan hal lainnya yang mungkin justru mengganggu waktu istirahat menantunya. Benar juga, kalau ia terlalu banyak meminta perhatian Disa dan membuat menantunya kelelahan. Padahal ia tidak pernah bermaksud seperti itu.
Melihat Sigit yang tertunduk lesu, akhirnya Shafira mendekat.
“It’s okey dady, teteh akan segera sembuh. She’s strong, she’s gonna be okey, hem?” Shafira mengusap-usap punggung Sigit untuk menenangkan ayahnya dan Sigit hanya mengangguk lesu.
Kean menoleh Sigit dan memandanginya dari tempatnya. Ia sadar, karena kesal dengan keadaan ia jadi mengungkit masa lalu. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ia ungkapkan karena hanya akan membuat orang yang sedang berproses memperbaiki semuanya menjadi merasa sia-sia.
"Sorry pah," lirih Kean pada akhirnya. Ia jadi merasa bersalah dengan ucapannya sendiri. Ternyata ia belum cukup dewasa untuk memilah mana yang seharusnya ia katakan dan mana yang harus ia simpan walau dalam suasana tegang seperti ini.
"No Promblem." sahut Sigit yang berusaha tersenyum di ujung kalimatnya. Ia sadar, masih banyak hal yang harus ia perbaiki untuk membayar kesalahannya di masa lalu. Ia tidak ingin mengulang hal itu dan membuat orang-orang kecewa lagi terhadapnya.
“Keluarga ibu paradisa?” panggil seorang perawat dari mulut pintu ruang pemeriksaan. Suara itu berhasil memecahkan keheningan di ruang tunggu dan mengalihkan pikiran Kean dan Sigit.
“SAYA!”
“SAYA!” sahut Sigit dan Kean bersamaan. Keduanya kompak berdiri, membuat perawat menatap kaget.
“Oh baik bapak, silakan satu keluarganya masuk, dokter akan memberikan penjelasan.”
“BAIK!”
“BAIK!” keduanya kompak beranjak masuk ke pintu.
“Maaf bapak, satu orang saja.” Tahan sang perawat menahan kedua laki-laki itu di pintu.
“Papah aja, kamu tunggu sama mamah. Kamu bilang papah yang salah kan, jadi papah yang masuk untuk memastikan disa baik-baik saja.” Sigit mulai berargumen dan Arini mulai bersiap adanya perdebatan berikutnya.
“Aku aja pah. Aku lebih berhak atas disa. Papah tunggu di sini aja.” Kilah Kean yang berusaha masuk ke dalam ruangan.
“Sebentar kean! Papah ikut!” menarik baju Kean agar tidak masuk sendiri.
“Mohon maaf bapak, satu orang dulu ya. Nanti kalau sudah masuk ruang perawatan baru boleh banyak keluarga yang masuk.” Tahan perawat.
“Udah papah diem dulu, kean yang masuk.” Kean memberi saran. Nah kan, duo ini tetap tidak bisa saling mengalah.
“Ya udah, tapi kasih tau saya dulu menantu saya kenapa baru saya gak masuk.” pinta Sigit pada perawat.
Perawat itu menghela nafas dalam, ternyata butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi duo Hardjoyo ini.
“Singkatnya, bu paradisa sedang mengandung.”
“Oh iya, ya udah kamu yang masuk.” Sahut Sigit santai.
"Ya udah, papah tunggu." keduanya tidak sadar dengan apa yang mereka dengar. Tapi baru akan berbalik, seperti dua orang itu kompak tersadar,
“APA? MENGANDUNG?!”
“APA? MENGANDUNG?!” ujar keduanya bersamaan. Mereka baru sadar dan terkejut dengan apa yang mereka dengar.
“I-Iya pak.” Perawat sampai tergagap mendengar seruan dua orang dihadapannya.
Kean buru-buru masuk dengan perasaan membuncah di dadanya. Ia harus segera menemui Disa. Sementara Sigit, “Kalau begitu minggir, saya mau masuk!” bukan Sigit namanya kalau tidak bisa memaksa. Ia sedikit mendorong perawat agar menjauh dari pintu masuk.
“Ma-maaf pak. Tapi,”
“DIAM!” Seru Sigit tidak bisa di bantah.
“Diam, sssttt!” desis Sigit dengan matanya yang melotot walau suaranya sudah lebih rendah.
Akhirnya perawat itu mengalah, mengangguk lemah membiarkan Sigit masuk. Harus ia catat, menghadapi dua Hardjoyo ini sebaiknya mengalah saja, sebelum mentalnya kena hantam.
“Sayang…” di dalam sana Kean segera menghampiri Disa yang terbaring di atas tempat tidur dengan wajah pucatnya.
“Aa, papah..” sambut Disa saat melihat kedua orang terkasihnya masuk.
“Dok, beneran ini anak saya lagi hamil?” Sigit langsung bertanya pada dokter yang baru selesai memeriksa Disa.
“Benar bapak.” Sahut dokter dengan yakin.
“Alhamdulillah…”
“Alhamdulillah…” Lagi, Kean dan Sigit bersuara bersamaan. Ada yang tahu sejak kapan mereka bisa sekompak ini?
“Sayang, terima kasih.” Kean mengecup dahi Disa dengan penuh perasaan. Ia sampai menitikkan air mata merasakan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya. Kean junior datang secepat ini, kenapa tuhan baik sekali pikirnya.
Disa hanya terangguk, tidak hanya Kean yang sangat bersyukur, ia pun sama.
Sigit menghampiri Disa dan menggenggam tangannya dengan erat. Ia sampai tidak bisa berkata-kata mengungkapkan rasa bahagianya saat ini. Hanya bisa ia pandangi wajah pucat itu dengan perasaan yang bercampur aduk dan mata yang berkaca-kaca.
“Pah, kean akan menjadi seorang ayah dan papah akan menjadi kakek.” Ungkap Kean di antara rasa harunya.
Sigit tersenyum lega, di helanya nafas dalam kemudian menghembuskan nafasnya perlahan. Dulu, saat ia tahu Arini hamil ia sangat bahagia, membayangkan akan ada generani penerus di keluarga Hardjoyo dan sekarang perasaan yang sama dirasakan Sigit bahkan lebih dari perasaan yang dulu ia rasakan.
“Selamat nak,” ungkap Sigit dengan mata berkaca-kaca. Di usapnya kening Disa lantas ia kecup dengan penuh kasih.
“Kean, kamu harus lebih menjaga disa dan calon anak kamu. Jadi suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk mereka. Ingat, kamu tidak hanya menjaga seorang anak dan istrimu tapi kamu juga menjaga cucu dan menantuku.” Di tepuknya bahu Kean dengan kuat untuk menyemangati putranya. Sigit tidak pernah menyangka kalau ia akan menjadi seorang kakek dalam waktu secepat ini.
Dulu ia pernah melakukan kesalahan dan cukup ia saja yang melakukan kesalahan tersebut.
“Iya pah, kean akan lebih baik lagi menjaga disa.” Sahut Kean dengan penuh kesungguhan. Ia memandangi Disa dengan laman, lagi ia merasa telah jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada Disa.
“Lalu bagaimana kondisi putri saya sekarang dok? Tadi dia pingsan, apa dia baik-baik saja?” tanya Sigit yang mulai bisa menguasai dirinya. Ia duduk di kursi hadap dokter dan bersiap menyimak penjelasan.
“Iya pak, secara keseluruhan kondisi kesehatan putri bapak baik-baik saja. Beliau sempat pingsan dikarenakan keram perutnya yang cukup kuat juga tekanan darahnya yang rendah. Setiap ibu hamil memang memiliki kondisi yang berbeda-beda, termasuk ibu paradisa.”
“Beliau hanya perlu istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi tinggi, juga vitamin. Di trimester awal saya sarankan beliau mengurangi akivitasnya agar tidak kelelahan. Mengurangi naik turun tangga, bedrest selama satu minggu ini dan tidak melakukan aktivitas seksual terlebih dahulu.”
“Saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk mengembalikan stamina ibu paradisa selama hamil.” Terang dokter dengan panjang lebar.
“Kamu denger itu kean?” Sigit menoleh putranya yang sedang menemani Disa. Bisa di pastikan yang di garis bawahi dan di cetak tebal oleh Sigit adalah mengurangi hobi Kean mengganggu Disa siang dan malam.
“Iya pah. Semuanya akan aku lakukan untuk istri dan calon anakku.” Tegas Kean tanpa ragu. Diusapnya perut Disa yang masih rata lantas mengecupnya dengan penuh sayang.
“Kuat dan sehat di dalam sana ya nak.” Lirihnya dengan senyum terkembang.
Sigit ikut tersenyum senang melihat apa yang dilakukan putranya. “Kami akan menjaganya.” Tegas Sigit pada dokter.
Dokter itu hanya tersenyum seraya terangguk. “Baik pak.”
******
Penolakan Disa untuk dirawat inap, akhirnya membawanya kembali pulang ke rumah utama. Untuk beberapa bulan ke depan, mereka akan menempati kamar di lantai 1 yang sudah di buat senyaman mungkin untuk Disa tempati. Bukan tanpa alasan, seperti yang dokter katakan, Disa harus mengurangi aktivitas naik turun tangga dan bedrest total selama 1 minggu ke depan.
Kean menggendong Disa saat turun dari mobil. Kinar dan para pelayan serta Marwan menyambut mereka di mulut pintu.
“Selamat atas kehamilannya, nona dan tuan muda.” Ujar Kinar yang diikuti pelayan lainnya.
“Terima kasih.” Sahut Kean dan Disa bersamaan.
“Semoga nona muda dan calon tuan atau nona kecil selalu sehat dan dilindungi Allah swt.” Ungkap Kinar dengan penuh kesungguhan.
“Aamiin… Terima kasih bu kinar.” Sahut Disa.
Sebenarnya ia malu karena masuk ke rumah sambil di gendong oleh Kean. Terlebih saat melihat teman-temannya yang tersenyum melihat sikap manis Kean padanya. Tapi apa boleh di kata, baik Sigit ataupun Kean selalu mengingatkan kalau Disa harus bedrest dan tidak boleh berjalan lama-lama. Ternyata seperti ini dampak dari keram perut yang sering ia rasakan.
Tiba di kamar, Kean membaringkan Disa dengan hati-hati lantas ia ikut membaringkan tubuhnya menyamping menghadap Disa.
Dikecupnya pipi Disa dengan lembut, lalu dahinya, kedua matanya dan tentu saja bibirnya. Lantas ia pandangi wajah cantik yang masih terlihat pucat itu dengan laman.
“Kamu harus tau kalau aku sangat menyayangi kamu, sa. Aku tahu ini akan sulit karena kamu tidak hanya harus mengurus diri kamu sendiri tapi juga calon anak kita. Banyak hal dan kebiasaan yang akan berubah tapi aku pastikan, aku akan selalu menemani kamu untuk melewati semuanya dan kamu akan selalu menjadi prioritasku di atas segalanya.” Lirih Kean dengan penuh kesungguhan. Diusapnya dahi Disa dengan lembut.
Disa tersenyum tipis, ia ikut memiringkan tubuhnya menghadap Kean. Di usapnya pipi Kean dengan lembut lantas ia kecup bibir suaminya.
“Terima kasih suami dan calon ayah dari anak kita.” Disa mengusap lembut bibir Kean dengan ibu jarinya. Entah sejak kapan suaminya mulai pandai berkata manis tanpa di minta.
Jika kalian pikir ini berkat Disa, No! tidak akan ada orang yang berubah karena orang lain. Seseorang hanya akan berubah jika ia memang mau berubah, seperti halnya Kean. Disa hanya memberikan pilihan, apa Kean akan tetap menjadi Kean yang dulu, dingin dan tidak tersentuh atau Kean yang sekarang, laki-laki hangat yang bisa merasakan bahagia.
“Aa tau, saat tadi aku pertama kali mendengar dokter memanggilku dengan panggilan ‘Bu paradisa’ jantungku berdebar sangat kencang. Seperti panggilan itu memberi kekuatan yang berbeda buat aku. Terlebih saat aku tahu kalau itu bukan hanya sebuah panggilan.”
“Aku benar-benar akan menjadi seorang ibu bagi anak dari laki-laki yang aku cintai. Suatu hal yang aku pikir dulu tidak akan pernah terjadi apalagi dalam waktu secepat ini.”
“Aku mungkin bukan ibu yang sempurna tapi, aku akan berusaha menuju ke sana. Katanya, perjalanan menjadi seorang ibu itu sulit-sulit gampang tapi aku percaya, aa akan menemaniku melewati banyak fase dan aku akan melakukan yang terbaik di setiap kesempatan yang aku punya.” Di genggamnya tangan Kean dengan erat.
“Terima kasih sudah percaya sama aku. Terima kasih sudah memberiku kehormatan yang tidak bisa aku tukar dengan apapun. Terima kasih karena telah membuktikan kalau bukan hanya seorang putri cantik yang bisa menjadi pendamping seorang pangeran. Dan terima kasih karena telah mencintai aku apa adanya.” Ungkap Disa dengan penuh rasa haru.
Matanya yang merah dan berair, perlahan meneteskan buliran air mata di dan membasahi pipinya. Sungguh ia sangat bahagia dan bersyukur di waktu yang bersamaan.
Kean menggenggam tangan Disa yang kemudian ia kecup. “I love you.” walau tidak cukup mewakili perasaan bahagianya saat ini, hanya kalimat itu yang kemudian Disa dengar dari mulut suaminya. Kean menempatkan dahinya di dahi Disa, membuat hidung mereka bertemu dan memberi hawa hangat yang mengusap lembut wajah masing-masing.
Tidak ada yang bisa Kean ungkapkan selain perasaan kalau ia sangat mencintai Disa dan bersyukur atas apa yang ia miliki sekarang.
Lantas jika ada yang bertanya pada Kean, apa yang paling ia syukuri syukuri saat ini, maka ia akan menjawab, Semuanya.
Lalu jika bisa memutar waktu di untuk merubah masa lalu, apa yang ingin ia ubah di masa lalu? Ia akan menjawab tidak ada.
Dengan melewati masa lalu yang sulit, membuat ia bisa merasakan masa sekarang yang begitu indah. Tidak ada yang perlu ia sesali di masa lalu. Disa benar, ia memang tidak tahu seperti apa sosok ayah yang tepat untuk anaknya nanti tapi, ia pernah menjadi anak yang tahu kebutuhan apa yang ia butuhkan dari seorang ayah, maka biarkan semuanya berjalan alami.
Karena semuanya hanya tentang belajar memahami. Baik itu menjadi ayah untuk anaknya kelak atau menjadi anak untuk Sigit seperti saat ini. Terlebih memahami posisinya sebagai seorang suami. Ya, semuanya hanya tertang belajar memahami.
******