Marry The Heir

Marry The Heir
Kantor polisi



Kantor polisi, bukanlah tempat yang ingin Shafira sambangi saat ini namun keadaan memaksanya untuk berada di tempat yang terasa begitu menakutkan baginya.


Masih terbalut outfit yang di pilihkan Disa, ia duduk berhadapan dengan seorang polisi yang tengah menginterogasinya. Tatapan laki-laki berkumis di hadapannya sangat menakutkan, lebih menakutkan dari kepala sekolah tempat ia bersekolah saat ini.


Beberapa jam lalu, Shafira datang ke cafe sekaligus tempat karaoke yang dijadikan tempat janjian bertemu dengan sahabat-sahabatnya.


Di luar cafe, ada sebuah mobil double cabin dengan 2 laki-laki tinggi besar berpakaian serba hitam berdiri di samping mobil tersebut. Shafira merasakan perhatian laki-laki tersebut yang memperhatikannya sejak saat Shafira turun dari taksi sampai ia masuk ke dalam cafe.


“Dasar om-om genit, liat cewek mulus dikit langsung ngelirik.” mengibaskan rambutnya dengan anggun lantas masuk ke dalam cafe dengan langkah ringan.


“Kak, room atas nama shafira nomor berapa?” bertanya pada laki-laki jangkung yang terlihat tegang memandangi layar komputernya di meja reservasi.


“Shafira?” laki-laki itu menyebut nama Shafira dengan tatapan lurus.


“Iya gue.” jawab Shafira santai. Ia menyandarkan tubuhnya ke meja reseptionis dengan sikut kanan sebagai tumpuan.


Laki-laki itu tidak menyahuti, ia malah terus memandangi Shafira dan sesekali seolah melihat seseorang di belakang Shafira. Shafira menoleh ke belakang dan terlihat seorang laki-laki yang tengah bertelepon di belakangnya.


“Lo kenapa bang, kayak aneh banget denger nama gue? Butuh tanda tangan?” mengernyitkan dahinya sendiri melihat respon laki-laki di hadapannya.


Hanya menggeleng mendengar pertanyaan Shafira, lalu “104, lorong VIP.” jawabannya dengan gugup.


“Euuhh, ngeselin lo! Dari tadi kek.” dengus Shafira seraya memukul meja resepsionis.


Ia berlalu pergi menuju ruangan yang di maksud. Tidak terdengar suara dentuman musik dari tiap bilik karaoke, mungkin peredamnya sangat baik hingga tidak terdengar keluar.


Tiba di depan room 104 Shafira merapikan dandanannya sejenak dan menunjukkan segaris senyum di bibirnya. “Hay gaisss!!!!” serunya seraya mendorong daun pintu ruang karaoke.


Ekspresi wajahnya berubah dengan cepat, terkejut, bingung dan tidak tahu apa yang sedang terjadi.


“Kamu shafira?” tanya seorang laki-laki paruh baya yang terlihat sedang membuka-buka bawah sofa ruang karaoke.


Tidak ada teman-temannya di sana, hanya ada sisa makanan yang memenuhi meja serta botol minuman asing yang sepertinya bukan botol minuman bersoda.


“Iya, kok om tau? Temen-temen saya mana om?” Dia kebingungan sendiri. Ia berfikir segila ini teman-temannya sampai menyewa om-om tampan untuk menjadi PL (Pemandu lagu)-nya.


Laki-laki itu tidak menjawab. Ia mengambil beberapa plastik kecil dari bawah sofa lalu menghampiri Shafira. “Ikut kami.” menarik tangan Shafira dengan kasar.


“Eh apaan nih main tarik-tarik aja?! Lepasin gag?!” Shafira mengibaskan tangan laki-laki tersebut namun cengkramannya terlalu kuat. “Bang, teleponin polisi, gue di culik om-om gila!” seru Shafira saat melewati meja reseptionis.


Laki-laki jangkung itu tidak bergeming, hanya mengangguk pada laki-laki yang membawa Shafira.


“Lo apaan sih, lepasin gue pedofil!” teriak Shafira yang masih mencoba berontak.


Laki-laki itu menghentikan langkahnya. “Kamu ikut baik-baik, atau kamu akan di paksa masuk ke dalam mobil polisi!” gertak laki-laki itu seraya menunjuk mobil double cabin yang bertuliskan Satresnarkoba diikuti nama polresnya.


Ia baru sadar akan tulisan itu.


“Eh tunggu pak, saya gag pake narkoba.” kilah Shafira dengan cepat. “Saya juga gag ikutan syuting 86.” mengangkat tangannya dengan cepat.


“Kamu yang sewa room 104 kan?”


“I-iya, tapi...”


“Ikut saya, kamu bisa ngasih keterangan di kantor.”


“Tunggu pak. Jangan nge-prank kayak gini dong, gag lucu.” wajah Shafira berubah panik. Suaranya mulai parau.


Laki-laki itu tidak bergeming. Ia lebih memilih memasukkan Shafira secara paksa ke dalam mobil.


Shafira hanya bisa pasrah. Ia sudah ingin menangis karena tidak ada yang bisa ia lakukan.


Di hadapan petugas polisi saat ini Shafira terduduk.


“Untuk acara apa kamu menyewa room itu?” tanya penyidik dengan mata tajam yang menelisik.


Ini pertanyaan berikutnya setelah 3 pertanyaan sebelumnya. Wajah Shafira semakin tegang, tenggorokannya begitu kering hingga tidak ada air liur yang bisa ia telan kembali.


“Sumpah demi alek pak, saya di ajak temen-temen saya. Bookingnya memang atas nama saya tapi saya gag ngelakuin apa-apa. Malah saya gag sempet ketemu sama mereka. Pas bapak ngacak-ngacak room itu, saya baru dateng. Sumpah. Beneran.” suara Shafira yang parau karena ketakutan begitu mengkhawatirkan.


Ia mengacungkan dua jarinya dengan sungguh-sungguh.


“Kamu tau, pesta sudah berjalan 2 jam sebelumnya. Dan saat kami melakukan penggrebekan, mereka sudah kabur.” laki-laki itu kembali menatap Shafira dengan tajam.


“Jadi mereka pesta tanpa saya? Emang sialan itu si michael!” dengus Shafira tanpa sadar.


“Ehh bukan gitu pak.” Shafira salah tingkah. Ia menoleh ke pintu masuk ruangan untuk beberapa saat, berharap kedua orang tuanya segera datang.


Ia sangat butuh pertolongan karena sedari tadi pertanyaan dan pernyataan polisi di hadapannya terasa seperti tengah menjebaknya.


“Mih, dady, kok kalian masih belum dateng sih. Aku takut.” batin Shafira berbisik.


Ia memandangi layar ponselnya namun sudah lebih dari satu jam sejak ia menelepon kedua orang tuanya, tidak ada satu orang pun yang datang.


Ia hanya bisa menghela nafasnya dalam, bukankah sudah biasa ia akan menghadapi masa sulitnya seorang diri? Tidak hanya kali ini tapi sejak dulu.


“Saya ceritain kronologisnya ya pak...” tidak ada pilihan lain bagi Shafira selain bekerja sama dengan polisi dan menghadapi semuanya seorang diri.


“Silakan...” laki-laki itu semakin fokus pada Shafira. Tangannya bersiap di atas keyboard komputer, hendak mencatat pernyataan Shafira.


“Okey.” kembali menghela nafas, berusaha menenangkan dirinya, bukan hanya dari rasa takut namun dari rasa kecewa dan terabaikan.


“Saya memang janjian dengan teman-teman saya untuk karaokean di cafe tadi. Kami berjanji untuk bertemu jam 7 malam. Saya, ira, nara sama fia. Anak laki-lakinya mungkin Michael, Wiliam, thomas, aldo sama angga."


"Tapi saat saya datang, saya tidak bertemu mereka. Mungkin sengaja, mereka menggunakan saya sebagai mesin uang untuk membayar kesenangan mereka, seperti sebelumnya.”


“Seperti sebelumnya?” mengutip sebagian kalimat Shafira.


Shafira mengangguk dengan lemas. “Saya memang selalu dimanfaatkan oleh teman-teman saya. Bayar makan di kantin. Ngadain pesta ulang tahun buat mereka. Di paksa jadi donatur akomodasi lomba yang mereka ikuti dan lainnya. Saya menyedihkan kan pak?”


Suara Shafira tercekat. Ia menatap polisi di hadapannya dengan berkaca-kaca. Sudah beberapa kali ia mengalami hal serupa namun baru kali ini ia sadar kalau mungkin selama ini ia hanya dimanfaatkan oleh teman-temannya.


Laki-laki di hadapan Shafira menghela nafas dalam. Ia menyodorkan air minum dalam kemasan yang kemudian di teguk oleh Shafira.


“Kamu tau kalau salah satu temanmu pengguna sekaligus pengedar narkoba?” kali ini suara pak polisi lebih rendah, tidak ngegas seperti tadi.


Shafira menggeleng. Ia bahkan tidak tahu, seperti apa latar belakang kehidupan teman-temannya. Sepertinya ia salah kalau selama ini ia menganggap mereka sahabat.


“Selamat malam.” sebuah suara berat mengalihkan perhatian Shafira dan pak polisi.


Adalah Marwan yang tiba-tiba berdiri di samping Shafira dan menunjukkan senyuman 3 cm-nya.


Shafira hanya mendengus pelan, selalu orang ini yang di kirim orang tuanya untuk menyelesaikan masalahnya. Untuk bertemu guru BK, terima raport, laporan nilai dan tentu saja, membebaskannya dari kantor polisi.


“Saya marwan, pengacara sekaligus wali dari nona muda kami, nona shafira. Beliau akan menggunakan haknya untuk tutup mulut.” Marwan menyerahkan sebuah dokumen pada pak polisi.


Ia pun menoleh Shafira dan tersenyum, yang di toleh hanya menunduk dengan perasaan tidak menentu. Bukan kehadiran Marwan yang ia butuhkan saat ini.


“Silakan.” ujar pak polisi setelah membaca berkas yang diserahkan Marwan.


“Terima kasih.” tenang dan meyakinkan, begitulah Marwan. “Nona bisa menunggu saya di mobil. Saya sudah membelikan makanan untuk nona.” bisik Marwan yang mengusir Shafira secara halus. Ia bahkan tidak merasa kalau Marwan sedang membelanya.


Mengambil tas dan beranjak. “Saya permisi pak.” pamit Shafira pada pak polisi.


“Silakan.” tatapan pak polisi berubah iba dan itu dirasakan benar oleh Shafira.


Shafira berlalu pergi menuju mobil. Ia menoleh sejenak untuk melihat Marwan dan sang polisi, mereka berbicara serius.


Dengan menahan sesak di dada, Shafira segera menuju mobil Marwan. Ia duduk di jok belakang seraya menyandarkan tubuhnya. Di sampingnya ada bungkusan makanan take away, burger kesukaannya dan hanya Marwan yang tahu apa saja isinya.


Ia mengambil satu lalu menggigitnya. Bukankah butuh tenaga yang besar untuk menghadapi kenyataan menyebalkan yang dihadapinya?


Satu gigitan ia kunyah perlahan. Burgernya masih hangat tapi bukan rasa hangat ini yang ia inginkan. Bukan pula perhatian Marwan yang ia harapkan. Mengingat hari ini dan hari-hari sebelumnya, tanpa terasa air mata menetes di pipi Shafira.


Ia mengunyah makanannya seraya terisak. Tidak hanya dimata orang tuanya, di mata orang-orang yang ia anggap sahabat pun ternyata Shafira tidak berarti apa-apa. Tidak ada yang peduli dengannya. Selama ini ia hanya dimanfaatkan dan parahnya ia baru sadar.


Kemana saja ia selama ini?


Atau mungkin ia sadar namun ia mengabaikan perlakuan teman-temannya. Ia bertahan dengan teman-temannya tidak lain untuk menghibur dirinya sendiri dan menyakinkan dirinya yang kesepian bahwa masih ada yang peduli dan mau bersama dengannya. Tapi nyatanya tidak. Pada akhirnya ia tetap sendirian dan kesepian.


Shafira terisak. Burger di tangannya tidak ia lanjutkan untuk ia makan. Ia sudah lebih dahulu kenyang dan selera makannya hilang. Mungkin sementara ia hanya ini seperti ini. Menangis sendirian tanpa ada orang yang melihat.


*****