
“Mba disa!!” seru sebuah suara di pagi itu.
“Non fira?!” Disa yang sedang merapihkan rumah sontak terkejut melihat kedatangan Shafira.
Shafira berlari menghampiri Disa dengan nafas terengah. Wajahnya terlihat tegang. Masih terlalu pagi untuk ia datang ke rumah Kean dengan memakai piyama.
“Ada apa non fira? Apa non fira baik-baik saja?” Disa memperhatikan Shafira lekat-lekat. Gadis cantik itu tampak baik-baik saja hanya sedikit kelelahan karena berlari.
“Mba disaa…” tiba-tiba memeluk Disa dengan erat. “Selamat,..” imbuhnya kemudian.
“Selamat?” Disa dengan wajah bingungnya mengutip kata yang diucapkan Shafira.
Shafira melepaskan pelukannya lantas menatap Disa dengan segaris senyum. “Udah buka email belum?” tanyanya penuh selidik.
“Email? Email apa non?” masih belum paham dengan pertanyaan Shafira dan ekspresinya yang senyum-senyum sendiri.
Shafira mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Membuka sebuah halaman web yang kemudian ia tunjukkan pada Disa.
“Aku liat pengumuman ini semalam. Mba disa masuk 10 besar!!!” teriak Shafira yang kembali memeluk Disa dengan erat. Ia ikut bahagia karena artinya kesempatan bagi Disa terbuka lebar.
Disa masih mematung, berusaha mengumpulkan kesadarannya beberapa saat lalu. Masuk 10 besar? Apa benar? Pertanyaan itu yang muncul di pikirannya.
“Yeeaaaa!! Selamaaatt!! Mba disa hebat! Muach!” refleks Shafira mencium pipi Disa.
Tapi yang dicium masih terdiam. Ia masih tidak percaya dengan kabar yang di dengarnya. Beberapa malam lalu, ia memang mengirimkan desain baju casual jam 11 malam, tepat 1 jam sebelum waktu pengumpulan karya di tutup. Dan hari ini seperti mimpi, saat ia mendengar kabar berhasil masuk ke babak 10 besar.
“Ya ampun, mba disa masih kaget ya? Sorry udah ngagetin.” Shafira merangkul Disa dari samping, lantas menyandarkan kepalanya di bahu Disa.
“Saya masih gak percaya non. Saingan saya pasti orang-orang hebat dan berbakat semua saat kemarin saya mengirimkan desain kedua.” Gumam Disa seraya menatap Shafira. Ia tidak menyangka kalau Shafira datang sepagi ini hanya untuk memberinya kabar menyenangkan ini.
“Makanya aku bilang mba disa itu hebat!” Shafira berseru dengan yakin.
Disa hanya tersenyum, lantas mengusap wajahnya yang di selipi rasa syukur. Pencapaian tidak terduga di dapat Disa dan tentu saja jalan ke depannya tidaklah mudah.
“Minggu depan mba disa harus dateng ke hotel tempat di adainnya acara. Katanya challenge nya masih rahasia. Tapi aku yakin mba disa bisa lanjut ke babak berikutnya.”
Shafira berusaha menyemangati Disa. Selama ini Disa selalu ada saat ia merasa sendiri dan butuh sandaran. Dan kali ini, ia yakin kalau Disa pun saat ini membutuhkan dukungan semangat.
“Tapi, saya tidak yakin bisa pergi non. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya.” wajahnya berubah sendu. Walau ini bagian dari mimpinya tapi meninggalkan pekerjaan yang sama pentingnya sangat tidak mungkin. Seharian ia berada di luar rumah dan bagaimana kalau nyonya besarnya membutuhkan bantuannya.
“Mba disa, denger aku.” Shafira meraih tangan Disa kemudian menggenggamnya dengan erat. Ia menatap Disa dengan hangat, seperti tengah mengalirkan semangat untuk wanita di hadapannya.
“Mba disa percaya kan kalau ini kesempatan yang bagus untuk membuat semuanya lebih baik?” tanya Shafira dengan tatapan lekat. Disa mengangguk, ya ini memang kesempatan yang bagus. Jika semuanya berhasil, ia bisa memiliki kebanggan tersendiri pada dirinya.
“Sebelumnya, aku udah bilang sama bu kinar soal mba Disa ikut lomba ini dan bu kinar setuju. Aku yakin kali ini pun bu kinar setuju. Percaya sama aku.”
“Tapi kali ini keadaannya berbeda non fira. Saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Saya,”
“Nggak ada yang beda mba disa. Banyak pelayan yang bisa gantiin tugas mba disa di sini. Aku yakin tante arini juga paham.” Shafira berusaha meyakinkan.
Disa tampak termenung, berusaha menimbang pendapat Shafira.
“Ada apa ini?” tanya sebuah suara serak tiba-tiba.
Disa dan Shafira kompak menoleh. Mereka begitu terkejut saat melihat Arini yang berada di pintu kamarnya. Saking seriusnya berbincang sampai tidak sadar kalau Arini sudah ada di mulut pintu kamarnya.
“Ma-maaf nyonya, kalau suara saya membangunkan nyonya.” Disa yang langusung merasa bersalah. Ini belum waktunya Arini bangun namun karena kegaduhan yang ia buat bersama Shafira telah mengusik tidur Arini.
“Tidak apa-apa disa. Hanya saja, ada apa, kenapa sepertinya shafira sangat senang?” menatap Disa dan Shafira bergantian, sementara yang di tatap saling menoleh bisu.
Disa menggelengkan kepalanya, isyarat agar Shafira tidak berbicara apapun. Ia tidak ingin kepentingan pribadinya menjadi masalah baru.
Shafira malah tersenyum lantas menghampiri Arini. Mata Disa sontak membulat melihat arah gerak Shafira. Kenapa nona mudanya tidak bisa di ajak kompromi?
“Maaf karena fira udah ganggu tante pagi-pagi.” Shafira memulai kalimatnya dengan hati-hati.
“Fira gak bermaksud begitu hanya saja ada hal penting yang fira sampaikan sama mba disa.” sambung Shafira yang tersenyum seraya melirik wajah Disa yang pias.
“Ada apa? Apa saya boleh tau?” Tidak biasanya ada hal yang membuat Disa terlihat cemas dan itu membuatnya penasaran.
“Mba disa, mengikuti lomba desain. Semalam fira liat pengumuman kalo mba disa masuk 10 besar."
"Dia di undang untuk hadir di tahap selanjutnya di salah satu hotel di Jakarta. Apa boleh mba disa dateng tante? Fira mohonn…”
Shafira menatap Arini penuh harap. Ia tahu Disa tidak akan berani meminta izin langsung pada Arini ataupun Kinar dan mungkin mengakibatkan kesempatannya hilang begitu saja.
“Kenapa bukan kamu sendiri yang minta izin?” suara berat milik Kean terdengar dari arah tangga. Entah sejak kapan Kean berdiri di sana, lengkap dengan pakaian olah raganya.
Sepertinya ada yang merasa tidak di hargai. Disa menghela nafasnya pendek dengan perasaan yang mulai tidak nyaman. Harusnya memang ia tidak mengikuti lomba ini apalagi tanpa sepengetahuan majikannya.
“Mba disa sungkan mengatakannya langsung.” Timpal Shafira yang memberanikan diri menatap Kean.
“Kenapa? Takut ibu saya tidak mengizinkan?” berjalan mendekat pada Disa lantas duduk di pinggiran sofa dengan bersidekap. Tatapannya begitu tajam hingga membuat Disa serba salah.
“Bukan seperti itu tuan.” Suara Disa terdengar serak. Karena tegang suaranya ikut tercekat. “Saya tau saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya jadi sebaiknya saya tidak meneruskan perlombaan itu.” Imbuh Disa yang menelan salivannya kasar-kasar.
Ada sedikit rasa kecewa dari kata-katanya sendiri tapi menurutnya ini lebih baik. Harusnya sebelum ia memutuskan untuk mengikuti lomba ini, ia meminta persetujuan Kean dulu. Paling tidak, ia tidak harus merasa kecewa karena harus mengakhiri usahanya di tengah jalan.
“Memangnya siapa yang memutuskan kamu bisa ikut atau tidak kalau kamu tidak mengatakan apa-apa? Bagaimana kamu akan bersaing dengan orang lain, mendebat pendapat orang-orang yang mungkin menjatuhkan kamu kalau kamu sendiri tidak bisa berbicara dengan jelas tentang masalah seperti ini?”
Kean mulai kesal. Baginya pikiran Disa terlalu sempit. Terlalu sering merasa tidak enak, hingga akhirnya ia tidak mengatakan hal yang seharusnya di katakan secara terbuka.
Disa tidak bisa menimpali apapun. Hanya matanya yang berkaca-kaca dan perasaan serba salah atas sikapnya yang sembarangan.
“Kean, sayang, udah nak.” Arini mencoba menengahi.
Ia paham, posisi Disa memang terasa serba salah. Di satu sisi ia memiliki sebuah mimpi namun di sisi lain, ia memiliki rasa tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya. Dan harusnya ia bersyukur karena Disa tidak meninggalkan tanggung jawab pekerjaannya begitu saja.
Kean menghela nafasnya kasar, menatap Disa sejenak kemudian kembali memalingkan wajahnya. Ia merasa kesal karena Disa masih menganggap ia dan Arini sebagai orang luar yang tidak perlu tahu apa-apa. Apa ia pikir Arini dan dirinya akan mengabaikan masalah seperti ini tanpa memberinya solusi? Dangkal sekali pikirnya.
“Disa, kemarilah.” Arini mengulurkan tangannya pada Disa. Layaknya seorang ibu yang ingin meraih putrinya yang tengah bersedih.
Disa mendekat dan berdiri di hadapan Arini dengan ragu. Arini meraih tangan Disa kemudian menggenggamnya dengan erat.
“Kenapa kamu gak membicarakan hal ini sejak awal? Kenapa kamu tidak memberi kami kesempatan untuk tahu mimpi kamu, hem?” tanya Arini perlahan.
Arini yang menatapnya nanar membuat Disa merasa semakin bersalah. “Maafkan saya nyonya.” Hanya kalimat itu yang kemudian terdengar lirih.
“Dengar, saya tahu kamu memang suka melukis, bisa mendesain dan mungkin banyak hal lain yang bisa kamu lakukan tanpa saya tau.”
“Itu anugrah disa, tidak semua orang memilikinya.”
“Tapi, dengan kamu menyembunyikan hal itu, kamu mengubur bakat kamu sendiri. Kamu menutup kesempatan yang mungkin bisa membawa kamu pada keadaan yang lebih baik.
“Kamu tidak perlu takut mengatakan apa yang ada di pikiran kamu. Kamu juga tidak perlu takut untuk menunjukkan kemampuan kamu.”
“Lakukan apa yang kamu sukai dan membuat kamu merasa hidup. Jangan redam keinginan kamu yang nantinya hanya akan membuat kamu menyesal.”
“Walau saya tidak bisa membantu banyak, paling tidak saya dan putra saya bisa mendukung dan menyemangati kamu. Hem?” tandas Arini seraya meremas tangan Disa, memberinya kekutan yang lebih. Sangat disayangkan kalau mimpinya pupus begitu saja.
Disa memberanikan diri untuk menatap Arini. Seketika air matanya menetes begitu saja tanpa bisa ia tahan. Ia merasa benar-benar beruntung ada di tengah-tengah keluarga ini. Tidak disangka kalau Arini dan Kean peduli padanya. Mereka bahkan memberi dukungan tanpa Disa minta.
“Terima kasih nyonya, terima kasih.” Lirih Disa yang kemudian terisak.
“Ssstt… Kemarilah.” Arini menarik tangan Disa kemudian memeluknya. Ia mengusap kepala Disa dengan lembut dan semakin lama tangis Disa semakin terdengar. Sudah lama ia tidak menemukan seseorang yang memeluknya dengan erat tanpa syarat.
“Menangislah kalau kamu merasa itu lebih baik. Tapi setelah itu, kuatlah. Hadapi mereka yang akan jadi lawanmu dengan berani, hem?”
Disa hanya terangguk seraya menyeka air matanya. Bagaiman bisa pagi harinya di mulai dengan suasana mellow seperti ini.
Shafira ikut menghela nafas lega. Ia merasa bersyukur karena akhirnya Disa bisa memulai mimpinya.
Dan di belakang sana, ada Kean yang menyembunyikan senyumnya di balik wajahnya yang dingin. Sedikit tidak menyangka kalau ibunya akan memberikan dukungan total untuk Disa.
“Bodoh! Kamu menyemangaiku tapi kamu sendiri malah belajar untuk menyerah disa. Dasar gadis bodoh.” Batin Kean yang masih betah memandangi Disa di pelukan Arini.
****
POV Kean:
Aku baru tahu kalau Disa seorang yang gigih. Walaupun ia bilang menjadi desainer bukan cita-citanya sejak awal namun saat sudah melangkah masuk dan seiring berjalannya waktu ia mulai jatuh cinta pada dunia seni yang mengubah selembar kain menjadi pakaian yang memiliki harga jual tinggi.
“Kalau kamu tidak bercita-cita menjadi desainer, kenapa kamu melangkah masuk ke dunia itu?” tanyaku menjeda ceritanya tadi sore.
“Em,, Karena ada harapan orang-orang di dalamnya.” Jawabnya pendek.
Aku sedikit mengernyitkan dahiku dan tidak setuju dengan pendapat Disa. Menurutku, kita harus menjadi sesuatu yang kita inginkan bukan karena permintaan orang lain. Kalau Disa suka melukis, kenapa tidak jadi pelukis saja, jalannya akan lebih terbuka lebar dan menyenangkan karena mengerjakan apa yang kita sukai.
“Saya memang menyukai melukis bahkan sangat mencintainya. Tapi saya sadar, kecintaan saya itu tidak mendapat dukungan dan do’a restu dari orang-orang yang penting dalam hidup saya.” kalimatnya selalu diplomatis.
“Saya bisa saja mengikuti keinginan hati saya tapi prioritas saya saat itu adalah mengikuti permintaan paman dan nenek saya.”
“Seiring berjalannya waktu saya sadar, dorongan dari orang-orang bukan alasan yang paling kuat. Yang membuat saya meneruskan untuk mendesain karena dalam perjalanannya saya merasa jatuh cinta pada dunia desain. Imajinasi saya tidak terbatas dan di sisi lain saya bisa mengikuti dorongan semangat dari orang-orang di sekitar saya. Untuk itu saya bertahan.” Tegasnya yang membuatku terdiam.
Satu hal lagi yang tidak aku ketahui tentang Disa namun mulai aku kenali. Dia orang yang jatuh cinta pada setiap proses. Ia berserah pada apa yang terjadi pada dirinya dan mencintai apa yang ia lakukan tanpa merasa terpaksa. Terdengar tulus.
Aku sedikit iri. Karena aku tidak bisa seperti Disa. Saat aku menginginkan sesuatu maka itulah yang akan aku cintai dan aku kejar tanpa memperdulikan proses lain yang harus aku terima. Padahal bisa jadi itu lebih menyenangkan dari sekedar mendambakan angan yang tidak bisa aku gapai. Mungkin itulah yang membuatku sering merasa kecewa dan merutuki keadaan.
Hingga malam menjelang dan mataku sudah mulai lelah karena terus menatap layar televisi. Saat menuju kamarku, aku masih melihat lampu kamar Disa menyala. Pintunya sedikit terbuka dan ku lihat, dia masih memandangi mannequin yang ada dihadapannya.
Sejak kapan ada benda itu di kamarnya? Aku bahkan tidak menyadari kalau sekarang benda itu menjadi partner-nya untuk berlatih.
Aku berdiri beberapa saat di depan pintu Disa, memperhatikan dia yang serius mendesain dan sesekali menghampiri mannequin buatannya. Satu hal lagi yang aku tahu, keadaan yang sulit dan terbatas tidak pernah menghalangi langkah Disa. Segala cara ia lakukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kesempatan yang dia punya.
Aku sadar, belakangan ini Disa banyak membantuku. Tidak hanya tentang pekerjaan tapi banyak kebutuhanku yang ia urusi hingga tuntas. Mungkin aku memang harus mulai membantunya.
“Kamu belum tidur?” tanyaku tiba-tiba.
“Astaga!” dia tersentak. Rupanya suaraku cukup mengagetkannya. “Selamat malam tuan.” Dia mulai tersadar.
Selalu merasa beruntung saat aku bisa melihat penampilan lain dari Disa. Setiap hari aku melihatnya dengan pakaian pelayan, penampilan yang rapi dan senyum yang terkembang. Tapi kali ini terasa spesial karena aku bisa melihat dia dengan daster tidurnya yang hanya selutut, rambut yang di cepol tinggi-tinggi dan memperlihatkan lehernya dan tentu saja ekspresi wajah serius yang jarang dia perlihatkan. Aku yakin, tidak semua orang bisa melihat penampilan lain Disa seperti ini.
“Boleh saya masuk?” tanyaku meminta izin. Aku tahu, kamar adalah area privasi setiap orang yang tidak boleh asal aku masuki.
“Silakan tuan.” Timpalnya walau terlihat ragu.
Aku melangkah masuk dan memperhatikan mannequin yang ternyata terbuat dari koran dan kain. Kreatif juga.
“Kamu membuatnya sendiri?” tunjukku pada mannequin di hadapan kami.
“Em iya tuan. Beberapa hari lalu.” Sahutnya.
Ia menatap mannequin buatannya dengan bangga. Aku tahu rasanya menikmati sesuatu yang susah payah kita buat, sangat mendebarkan.
“Apa ukuran tubuh modelmu setinggi ini?”
“Iya tuan.” Mengangguk dengan yakin.
“Em,, Boleh saya berpendapat?"
"Silakan tuan."
Aku mulai menilai mannequin di hadapanku. Ada beberapa yang janggal. "Kalau boleh berpendapat, menurutku ini terlalu pendek. Di dunia modeling, tinggi bagian tengah tubuh model terutama laki-laki, lebih dari ini. Terkecuali kamu memiliki rasio sendiri.” Aku sedikit paham dengan postur seorang model karena beberapa temanku di amerika dulu berprofesi sebagai model.
Dia tampak berfikir, cukup serius hingga dahinya berkerut. “Em, saya memang belum pernah bertemu dengan model laki-laki asli. Maksudnya tidak memperhatikan detail tinggi seperti yang tuan katakan tadi.”
Dia serius memikirkan tinggi mannequin-nya. Lucu menurutku. Pensil yang terselip di sela telinganya dan bibirnya yang sedikit mengerucut, suatu pemandangan langka untukku.
“Em, mungkin kamu harus memikirkan baju itu nanti di pakai oleh siapa. Apakah model asia atau eropa. Itu saja.” Sedikit memberikan saran karena aku tahu dia sedang kebingungan.
Dia memandangi mannequin-nya lalu beralih menatapku, seperti tengah membandingkan. Aku refleks menurunkan tanganku yang tersilang di depan dada, agar dia bisa melihat dengan jelas.
“Dengan tuan saja, perbedaannya cukup besar.” Dia bergumam, benar-benar membandingkanku dengan mannequin-nya. Tentu saja, tubuhku atletis, jauh berbeda dengan mannequin yang ia buat.
“Aish! Ini karena saya tidak suka menggambar manusia, jadinya tidak punya gambaran perspektif untuk ukuran manusia.” Dengusnya kesal pada dirinya sendiri.
“Hem, maksud kamu, kamu gak suka melukis manusia?”
Disa mengangguk.
Aku membulatkan mulutku terkejut. Jika aku ingat-ingat memang yang biasa di gambar Disa adalah pemandangan tidak pernah menggambar wajah apalagi tubuh manusia.
“Kenapa kamu tidak suka melukis manusia?” aku penasaran. Terlalu aneh menurutku karena lukisan manusia biasanya memiliki nilai jual yang lebih seperti halnya Monalisa.
“Karena saya takut.” Jawabnya pendek.
“Loh, apa yang kamu takutkan? Takut beda dengan aslinya? Itu wajar disa, tangan kamu dan tangan tuhan itu beda.” Timpalku menghiburnya.
Disa menggeleng, wajahnya terlihat serius.
“Karena pengalaman yang menakutkan mungkin.” Ia menolehku dan wajahnya masih terlihat sendu. Aku menyimaknya, sepertinya ada cerita yang akan ia ungkap.
“Dulu, ayah saya pun seorang pelukis. Ia bilang, ia tidak suka melukis manusia karena setelah ia melukis ibu saya, ibu saya meninggal saat melahirkan saya.” Disa menghela nafasnya kasar, seperti ada beban yang ia coba angkat namun terlalu berat.
“Awalnya saya tidak percaya, tapi kemudian saya mengalaminya sendiri. Saya iseng melukis ayah saya yang sedang tertidur dan tidak lama dari itu, saya kehilangan ayah saya.” Kembali menghela nafasnya kasar. Aku tahu, ia sedang mengenang masa yang paling tidak menyenangkan untuknya.
Baik aku ataupun Disa, sama-sama memiliki ketakutan kami sendiri. Hanya saja kami mengemasnya dengan cara yang berbeda.
“Tapi kamu percaya kan, kalau kematian itu di tangan tuhan, bukan di tangan pelukis?” pertanyaanku sedikit random tapi ternyata sedikit mengalihkan pikirannya.
“Tentu tuan. Saya sangat percaya.” Tegasnya yang berusaha tersenyum. Aku tahu, itu sulit.
“Kalau begitu, jangan takut. Seperti yang kamu katakan pada saya, hadapi rasa takut itu dan jangan pernah di sisakan supaya kamu bisa melangkah ke depan.” Aku mengulang kalimatnya yang begitu membekas di pikiranku.
Dia terdiam, lalu tersenyum. “Anda masih mengingatnya tuan?”
Aku mengangguk. Melihatnya tersenyum, selalu membuatku merasa lebih baik.
Ingin mengakhiri keterpakuannya karena masalah lukisan, akhirnya aku menawarkan sesuatu yang entah tepat atau tidak. “Begini saja, anggap saya mannequin kamu, kamu bisa mengukur tubuh saya dan mendapat gambaran yang jelas untuk tubuh seorang model.” Tawarku. Tentu saja aku sangat percaya diri karena aku sadar aku memiliki tinggi tubuh di atas rata-rata laki-laki di Indonesia.
Dia sedikit berfikir tapi kemudian mengangguk setuju. “Baiklah! Berapa tinggi anda tuan?”
“176 cm.” sahutku dengan bangga.
Lagi dia tersenyum, mungkin menertawakan rasa percaya diriku yang berlebih.
“Baiklah, mohon bantuan anda tuan.” Dia setuju. Ternyata tawaranku tidak sia-sia.
“Hem. Mulailah pekerjaanmu.” Aku berdiri tegak di samping mannequin dan bersiap membantunya. Mungkin dengan menjadi model bisa menjadi cara untuk membalas kebaikan Disa akhir-akhir ini.
Dia kembali tersenyum, menghampiriku lalu berjinjit di hadapanku. Ia mengalungkan meteran di leherku dan aku refleks membungkuk.
“Tidak perlu membungkuk tuan, saya masih bisa meraihnya.” Ujarnya sambil menahan senyum. Cuping hidungnya mengembang, membuatku memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum.
“Baiklah.” Aku menurut saja dengan kembali menegakkan tubuhku. Ku perhatikan ia lekat dan membuatku betah. Ini dadaku kenapa, debarannya kencang sekali.
Aku merasakan Disa mulai mengukur lingkar leherku. Sapuan tangannya yang halus membuat bulu kudukku meremang. Sebisa mungkin aku menahannya agar tidak bergidik. Ia beralih mengukur pundahkku, bibirnya bergumam membaca angka lalu berpindah mengukur panjang jarak bahu hingga ke pinggang.
Setelah mendapat ukuran yang pas, ia berpindah ke belakangku, mengukur punggung dan kembali kurasakan sapuan tangannya. Lembut, membuatku hampir bergidik.
Tuhan, ada apa dengan tubuhku? Kenapa sangat sensitive saat Disa yang menyentuhnya?
Sedikit kaget saat tiba-tiba Disa melingkarkan tangannya di pinggangku. Tangannya yang pendek nyaris mendekap tubuhku.
“KLIK!” rasanya aku ingin menghentikan waktu sebentar saya dan membuat tangannya lebih lama melingkari tubuhku.
Astaga, pikiranku mulai travelling kemana-mana. jangan sampai dia melakukan hal ini pada orang lain. Kenapa waktu begitu singkat dan aku merasa sangat kecewa saat Disa sudah mengambil langkah menjauh dariku?
“Sudah tuan. Terima kasih.” Ungkapnya.
Sungguh aku kecewa. Tunggu, apa dia tidak berniat membuat celana panjang juga?
******