
POV Disa
“Tuan, tuan..” panggilku beberapa kali pada tuan muda yang masih tertidur. Ia sendiri yang minta di bangunkan tapi malah sesulit ini.
Sudah dari tadi aku membangunkannya, menyebut namanya pelan tapi belum ada tanda-tanda kalau tuan muda akan bangun.
Aku semakin mencondongkan tubuhku mendekat padanya. Ku lihat dia yang begitu lelap tertidur seperti anak bayi yang menggemaskan. Matanya yang tertutup rapat, wajahnya yang tenang dan bibirnya yang sedikit terbuka, membuatku sangsi kalau ia akan segera bangun.
Aku berniat mengusap wajahnya, atau mungkin sedikit menepuk bahunya tapi akhirnya tanganku hanya tergantung di udara. Aku tidak tega mengusik tidur lelapnya dan akhirnya hanya ku pandangi saja wajah tampan di hadapanku. Sudah sangat lama aku tidak melihatnya dan rasanya rindu.
Tuan, apa sebenarnya yang membuat anda tiba-tiba datang ke sini dini hari tadi? Masih memakai pakaian kerja dengan wajah lelah dan kuyu, tidak seperti biasanya. Bahunya sedikit melorot seolah beban yang ia pikul terlalu berat di pundaknya.
Melihat wajah ini, hatiku kembali berdesir. Perasaan yang aku coba redam dan anggap biasa seperti terbangun kembali setelah mengalami mimpi buruk beberapa waktu lalu. Ya, aku merasa kalau apa yang aku alami bersama tuan muda beberapa waktu lalu adalah mimpi buruk sehingga kami harus terpisah. Kenyataan yang sebenarnya, hati kami masih tertaut dengan rasa peduli yang begitu besar.
Aku bahkan masih harus menekan dadaku agar tidak berguncang hanya karena melihat sepasang bibirnya yang tipis dan pernah mengecupku dengan lembut.
Astaga, pikiran macam apa ini? Bukankah semuanya sudah berakhir? Ingat, aku sudah merelakannya. Bukan, berupaya merelakannya.
Aku segera menegakkan tubuhku, “EHEM!” sedikit berdehem agar menetralisir perasaanku yang tidak menentu. Setelah bisa mengendalikan diri, aku kembali membungkuk, sedikit lebih mendekat dan memanggil tuan muda.
“Tuan, sudah siang.” Bisikku di telinganya.
Bukan tanpa alasan aku memanggilnya seperti ini, kalau terlalu keras aku bersuara, aku takut membuatnya kaget. Hasilnya tidak bagus, selain jantung yang berdebar kencang, juga ada rasa mual saat perpindahan dari alam bawah sadar ke kesadaran penuh itu terlalu cepat.
Hey, apa yang terjadi, tiba-tiba saja tangan tuan muda menarikku hingga aku terjerembab dan terjatuh di atas tubuhnya. Jarak kami sangat rapat hingga aku bisa merasakan hembusan hangat nafas tuan muda yang menerpa wajahku.
Apa-apaan ini, kenapa tangannya malah memeluk tubuhku dan membuatku tidak bisa bergerak? Atau mungkin tubuhku yang memilih untuk menyerah dan tidak berontak. Hey, sadarlah! Ini tidak boleh terjadi!
“Disa, tolong jangan membenciku.” Gumamnya yang samar-samar aku dengar.
Aku tidak salah dengar bukan?
Tadi dia benar-benar bersuara bukan?
Aku mendekatkan telingaku ke mulutnya, mungkin saja ia masih bicara. Tapi tidak ada lagi suara selain hembusan nafasnya yang menerpa telingaku dan membuatku bergidik geli.
“Saya, tidak membenci anda tuan. Tapi tolong lepaskan.” Kali ini kesadaranku penuh, aku berusaha berontak dan melepaskan pelukan tuan muda.
Perlahan mata tuan muda terbuka, membuatku berhenti bergerak dan kami jadi saling bertatapan. Ia tersenyum tipis tapi matanya belum sepenuhnya terbuka. Sedikit mengangkat kepalanya, hingga wajah kami semakin mendekat dan hidung kami nyaris bersinggungan.
Astaga, rasanya jantungku akan pecah. Ini tidak aman untuk proses move on-ku
“Jangan tuan.” Aku segera memalingkan wajahku, membuang pandangan darinya. Aku perlu menghela nafas lega, meredam debar jantung yang tidak beraturan.
Sepertinya tuan muda benar-benar terbangun. Tapi tidak hanya ia yang terbangun, melainkan juga,
Adiknya.
Astaga! Aku bisa merasakannya. Aku segera mendorong dada tuan muda sebagai landasan untukku menegakkan tubuh dan menjauh darinya. Ini seperti pembuktian dari teori guru biologi tentang hal alami yang bisa terjadi pada laki-laki normal di pagi hari.
Aku segera bangkit dan menjauh darinya.
“Disa,” masih sempat dia memanggilku dan mana berani aku menolehnya.
“Ya saya.” gugup rasanya hingga aku langsung meneguk teh hangat yang aku buat, untuk menghilangkan gugup.
“Awh!” gila, masih panas.
Mendengar seruanku tuan muda segera bangun dan terduduk. “Kamu tidak apa-apa?” oh, kesadarannya sudah penuh rupanya.
“Tidak tuan. Hanya keteledoraan saya saja.” Ku taruh lagi cangkir itu di tempatnya dan sedikit menjauh dari laki-laki di belakangku.
“Maaf, tadi..”
“Tidak perlu di bahas tuan. Saya hanya berniat membangunkan anda. Tidak ada yang terjadi.” Refleks aku menimpalinya membuat tuan muda bangkit dari sofa dan menghampiriku. Dia memang bangun, tidak hanya tubuhnya, mungkin juga dengan perasaan dan gairahnya. Dan itu karena kebodohanku.
Ia menatapku dan aku selalu menghindari tatapan matanya. Terlalu malu.
“Saya benar-benar minta maaf, saya tidak bermaksud melecehkan atau,”
“Anda sudah terlambat tuan. Sudah hampir jam 7 dan anda belum bersiap.” Aku malah mengatakan hal random. Jujur aku tidak ingin membahas hal tadi karena terlalu malu.
Tuan muda mematung bingung melihatku yang berjalan ke sana kemari tidak tentu arah tanpa berani memandangnya. Heeyy Aku salah tingkah.
Untung tadi aku berhasil meminta Wita untuk mengirimkan baju kerja tuan muda. Walaupun ia banyak bertanya, aku berhasil membuat alasan yang semoga bisa di terima.
“Baiklah. Handuknya?” masih saja tuan muda bicara denganku, buatku gugup saja.
“Sudah ada di kamar mandi.” Aku menunjuk arah kamar mandi.
Tuan muda tidak menimpali lagi. Ia memperhatikanku sampai akhirnya ia melepas pandangaannya saat masuk ke dalam toilet.
“Huft!” akhirnya aku bisa menghela nafas lega. Menjatuhkan tubuhku di sofa yang masih menyimpan hangat tubuh tuan muda. Aku mengusapnya dan bayangan bodoh itu kembali hadir.
“Berhenti disa, berhenti. Itu hanya ketidak sengajaan.” Pekikku pada pikiranku yang sembarangan. Aku harus menyudahi ini daripada membuatku tidak fokus bekerja.
****
Cukup lama Kean berada di kamar mandi. Setelah terkena air, pikirannya mulai sadar sepenuhnya. Entah sebagian mimpi atau kenyataan saat tadi ia merasa memeluk Disa. Ia jadi memandangi dirinya sendiri di cermin kamar mandi seraya berusaha mengingat dengan jelas apa yang terjadi barusan.
Sikap Disa yang canggung dan menghindar saat bertatapan dengannya memberi satu keterangan kalau sepertinya yang tadi terjadi bukanlah mimpi. Reaksi yang terjadi pada tubuhnya nyata, bukan karena ia mimpi basah.
Kean menghembuskan nafasnya kesal, seraya menatap wajahnya dingin. Lagi, tubuhnya tidak bisa ia ajak kompromi. Sudah jelas otaknya mengatur agar ia sedikit menjauh dari Disa tapi, malah semakin mendekat dan membuatnya sulit meredam perasaannya.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Kean memaki dirinya sendiri. Ia membasuh lagi wajahnya dengan air dingin, agar pikirannya lebih jernih dan menerima realita yang ada.
Keluar dari kamar mandi, ia melihat Disa yang masih asyik dengan pekerjaannya. Sesekali tampak melamun seperti berfikir tapi kemudian ia melanjutkan pekerjaannya dengan tenang dan santai.
Baju kerja Kean sudah tergantung di hanger, stelan yang pas yang selalu Disa pilihkan. Ia kenakan dengan cepat dan memilih untuk tidak melibatkan Disa dalam hal remeh ini. Ini bagian dari caranya menjaga jarak.
Di dekat tempat tidur, sudah terlihat menu sarapan khas hotel. Disa yang mendengar suara langkah kaki Kean dan segera menghampiri.
“Anda akan sarapan sekarang tuan?” refleksnya memang selalu cepat.
“Hem.” Hanya itu sahutan Kean.
“Anda akan sarapan dengan apa, biar saya siapkan.” Mengambil satu mangkuk dan membuka wadah tempat oat.
“Tidak perlu, saya bisa melakukannya sendiri.” Diambilnya mangkuk dari tangan Disa, membuat gadis itu tercengang dan memandangi tangannya.
Memasukkan beberapa sendok oat ke dalam mangkuk dan mencampurnya dengan susu dalam gelas. “Kamu tidak perlu memanggil saya tuan muda atau bersikap terlalu formal karena saya sudah bukan majikan kamu lagi.” Imbuh Kean dengan banyak penekanan yang membuat kalimatnya terdengar sinis.
Disa hanya mematung, memandangi tuan mudanya dengan nanar. Guyuran air hangat rupanya sudah membuat Kean sadar pada kenyataan dan berhenti melakukan hal-hal yang seolah sedang berusaha mengulang kedekatan di masa lalu.
“Baik.” Hanya itu jawaban Disa. Ia pun harus melakukan hal yang sama. Jangan menghambat langkah orang lain untuk membebaskan perasaannya dari hal-hal yang tidak boleh ia simpan.
Kean hanya melirik sedikit, berusaha tidak peduli dengan rasa kecewa Disa. Bukankah seharusnya memang seperti ini?
Ia mengaduk oatnya dengan susu dan saat di cicipi, “SHIT!” dengusnya. Rasanya tidak enak, tidak seperti buatan Disa.
Disa melihat benar kekesalan yang terlihat di wajah tuan mudanya. Entah pada makanannya atau pada dirinya.
Memasukan beberapa potong pisang ke dalam campuran oat yang ia buat, juga beberapa buah blueberry sebagai pemanis.
“Silakan.” Ia menyodorkan makanan itu pada Kean.
Kean memandanginya sejenak, masih berfikir apa ia harus memakan sarapan buatan Disa atau mengabaikannya.
“Anggap saja sarapan buatan seorang teman.” Tegas Disa berusaha acuh.
Ia mengganti sarapannya dengan selembar roti yang di lapisi butter lalu di taburi kismis kering dan sedikit gula. Bagimana rasanya, kalian coba saja. Disa hanya butuh makanan ini untuk mengganjal perutnya dan glukosa yang cukup untuk menghadapi hari yang berat
Setelah berfikir akhirnya Kean menyantap sarapannya. Tidak ada perbincangan yang berarti di antara keduanya, sampai akhirnya Kean pergi tanpa berbasa-basi.
Di tempat tidurnya kini Disa terduduk. Memandangi tiga baju di manekin yang belum juga selesai. Pikirannya jadi tidak karuan setelah melihat sikap Kean yang berubah 180 derajat. Tiba-tiba datang, tiba-tiba memeluknya dan tiba-tiba pergi dengan wajah dingin. Apa semudah itu bagi Kean untuk mempermainkan perasaannya? Rasanya ia mulai seperti tempat persinggahan, yang di datangi saat iseng dan di tinggalkan saat serius. Ini membuktikan kalau Kean tidak sungguh-sungguh dengan apa yang terjadi tadi. Benar-benar ketidaksengajaan.
Tubuh Disa jadi lemas sendiri saat mengingat apa yang terjadi beberapa saat lalu. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memandangi baju kotor Kean yang bertumpuk di lantai. Kebiasaan laki-laki itu masih sama, menaruh barang sembarangan termasuk bersikap sesukanya.
Pikiran Disa jadi tidak karuan, mood yang ia bangun sejak kemarin hancur begitu saja dalam beberapa detik. Imajinasinya terputus dan saat ini ia hanya ingin terbaring seperti ini saja. Menikmati waktu yang lambat merambat seraya memikirkan apalagi yang salah dengan dirinya.
“Kean, “ bisakah ia memanggil laki-laki itu dengan nama tersebut? Kenapa jadi asing?
*****