
Perlu waktu hampir satu bulan sampai Shafira berani untuk mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan masalahnya. Masalah yang terjadi karena sebuah kesalahpahaman atas perhatian Reza selama ini.
Ya, masalah ini memang harus di selesaikan. Entah suka atau tidak, entah akan berakhir baik atau buruk, yang jelas masalah ini tidak boleh berlarut-larut dan membuat suasana hatinya semakin tidak menentu. Tidak hanya hatinya yang tidak menentu melainkan ada wanita lain yang mungkin sedang ragu dan terluka.
Di sebuah café dekat universitas akhirnya ia memutuskan untuk menemui Ellen. Wanita yang menurut Shafira pasti mendapat dampak paling besar atas masalah yang terjadi saat ini.
“Mau minum apa fir?” tanya Ellen pada gadis cantik yang terlihat canggung.
“Aku galao aja,” pesan Shafira.
Ellen tersenyum simpul, sampai minuman berbahan dasar kopi saja sama persis dengan yang pernah dikatakan Reza sebagai jenis minuman favorit Shafira.
Katanya minuman tersebut sering di konsumsi Shafira sebagai temannya saat ia ada tugas untuk membuat musik atau sekedar latihan. Harus Ellen akui kalau Reza memang sangat mengenal Shafira hingga ke kebiasaan kecilnya.
“Saya jus strawberry aja. No sugar.” Pesan Ellen. Menutup kembali buku menu dan memberikannya pada waitress.
“Baik kak, di tunggu sebentar.” Sahut pelayan muda yang kemudian berlalu.
Sepeninggal pelayan, keduanya kembali terpaku. Bingung untuk mengawali percakapan mereka dari titik mana.
“Aku,”
“Aku,”
Ucap keduanya bersamaan. Keduanyapun kompak tersenyum, ternyata masing-masing sedang berusaha memikirkan kalimat untuk mencairkan suasana.
“Kak ellen duluan.” Tawar Shafira.
Ellen hanya tersenyum. “Karena aku lebih tua?” sahutnya dengan senyum tipis.
“Ya, anggap saja seperti itu.” Shafira ikut tersenyum.
“Hahahhaa…” mereka kompak tertawa ringan
“Gimana kabar tangan kamu?” Ellen memulai kalimatnya. Menatap lekat pada shafira yang sedang berusaha santai.
“I’m good.” Sahutnya yakin. Ia memang sudah merasa lebih baik, bukan perkara tangannya melainkan perasaannya.
“Ternyata kembang api memang tidak cocok dimainkan oleh seseorang yang masih kekanakan.” Imbuhnya, tersenyum simpul.
“I’m so sorry fir.” Ellen dengan rasa bersalahnya.
“No, ini bukan kesalahan siapapun. Masalahnya ada di fokus aku, but now, I’m better.” Lagi Shafira berusaha setenang mungkin.
Ellen mengangguk pelan, Shafira memang jauh berbeda. Cara bicaranya dan cara bersikapnya jauh lebih tenang dari pertama kali mereka bertemu.
“I’m sorry kak,” kalimat menggantung itu dikatakan Shafira seraya menatap lekat Ellen. “Udah bikin kak ellen merasa tidak nyaman dengan sikapku tempo hari.” Lanjutnya dengan penuh kesungguhan.
“Aku memang masih kekanakan dan membuat masalah untuk kak ellen dan kak reza.” Ia tersenyum samar, terlihat jarinya yang saling mencengkram dan memilin meredam rasa gugup.
“I’m wrong, karena berpikir kalau setiap bentuk perhatian itu adalah cinta. Yaps, stupid me.” Mengendikkan bahunya santai. Ini yang berhasil Shafira simpulkan setelah berpikir cukup lama dan ia sudah bisa menerima itu.
“NO… Nggak gitu fir.” Ellen meraih tangan Shafira untuk kemudian ia genggam.
“Aku yang bersalah karena mengambil sesuatu yang selama ini menjadi milik kamu.” lanjut Ellen dengan rasa bersalahnya.
Saat Shafira pergi dengan kemarahannya, ia sadar kalau ia telah mengambil sesuatu yang sangat besar dari Shafira. Ya, harapannya kalau Reza akan tetap ada di sampingnya.
“Milik aku? Nope! Kak reza gak pernah jadi milik aku. He’s free. It’s just, let’s say, kesalahpahaman.” Shafira berusaha menjelaskan.
“Sejak awal dia baik. Tidak pernah berusaha lebih baik. Hanya aku saja yang mempersepsikan kalau setiap hal baik itu memiliki niatan yang lebih, but sebenarnya tidak.”
“Setiap kebaikan kak reza, perhatian kak reza sejak awal selalu sama. He always be as my big guy. Hanya saja, aku yang dibuat nyaman oleh pikiran dan perasaanku sendiri. That’s all.” tegas Shafira.
Ellen tertegun mendengar ucapan Shafira. Kalimat yang diucapkan dengan penuh kesadaran malah sangat terasa kekecewaannya. Perasaan seperti itu juga yang pernah di rasakan Ellen saat ia sebagai orang ketiga yang menjadi alasan Disa menolak Reza, dulu.
Gadis muda yang kata Reza manja dan kekanakan ternyata sudah banyak berubah. Shafira telah menjadi seorang wanita yang cukup dewasa untuk ukuran wanita seusianya.
“Dan kak ellen, selalu menjadi wanita yang dia bicarakan dengan penuh perasaan. Itu yang membuat kita berbeda.” Kalimat Shafira kali ini terdengar seperti sebuah penegasan atas kesalahpahamannya selama ini.
“Fir,” walau berusaha di tepis, rasa bersalah itu nyatanya ada di hati Ellen.
“Aku sungguh-sungguh. Kak ellen harus tau, bagaimana dulu kak reza bercerita tentang kak ellen. Penuh rasa kagum, penuh rasa cinta sampai aku merasa telah melihat seorang wanita sempurna versi dia yang seharusnya menjadi wanita yang memang satu-satunya di cintai kak reza. He’s lucky to meet you kak. He really love you. So please, forgive me and forgive him.”
Mereka kembali terdiam, terjeda oleh kedatangan minuman yang mereka pesan. Masing-masing mulai mencicip minumannya, menenangkan perasaan mereka yang perlu di kendalikan.
“Fir, masalah aku sama reza bukan karena kamu. Ini murni dari rasa percaya aku. Aku,”
Entah seperti apa Ellen harus menjelaskannya. Yang jelas sikap Reza pada perempuan manapun selalu sama. Penuh perhatian dan berlebih untuk sekedar di pahami sebagai sesuatu kebaikan.
“But, I make you worry.” Timpal Shafira.
Keduanya saling bertatapan berusaha memahami pembicaraan masing-masing.
“Aku tidak akan menilai apa yang kak ellen rasakan tapi biar aku luruskan perasaanku. He only love you. And me, aku salah karena menganggap kalau semua perhatian itu bentuk cinta, seperti yang aku katakan di awal.”
“Kak ellen merasa ragu karena mungkin berpikir akan cukup banyak wanita yang merasakan hal yang sama seperti aku saat ada di dekat kak reza. Maybe It’s true, but it’s not my concern. Apa yang harus kak ellen tau, perhatian kak reza sama aku, bukan karena dia cinta. It’s just care. Walau mungkin bisa terjadi pada wanita lain, but please believe him. You still the one.”
“Wanita yang membuat kak reza berpikir kalau ia harus menjadi laki-laki yang lebih bertanggung jawab. Menjadi alasan kalau wanita itu ada untuk di lindungi dan wanita yang selalu ada dalam hatinya. It’s you, just you. Not me.” Tegas Shafira.
Ia kembali meneguk minumannya. Merasakan saat foam lembut di kopinya terasa lembut melewati tenggorokannya menyisakan rasa manis di lidah. Ternyata setenang ini perasaannya setelah mengakui apa yang seharusnya ia sadari sejak awal.
Waktu-waktu yang sulit untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya telah ia lewati. Bukan, ini adalah waktu yang sulit untuk menyadari apa yang ia rasakan dan tidak seharusnya ia simpan.
“See you.” Tandasnya seraya beranjak dari tempatnya dan diangguki Ellen.
Baginya semuanya sudah selesai. Apa yang harus ia katakan, sudah semuanya ia katakan. Permasalahan pikiran Ellen tentang Reza, ia hanya perlu memberi Ellen waktu untuk memikirkannya.
Dan entah mengapa, langkahnya terasa begitu ringan. Benar yang Kean katakan, “Lo masih bocah. Masih banyak yang mesti lo pahami dari sikap orang lain terhadap lo. Jangan lo pikir semua yang terasa manis buat lo adalah hal terbaik yang harus lo pertahankan. Kadang melepaskannya membuat lo merasa jauh lebih baik.”
Kalimat itu menjadi satu-satunya kalimat yang Kean katakan saat ia tengah terpuruk, mengurung diri di dalam kamar. Dan siapa sangka, kalimat Kean benar. Sekarang, ia merasa lebih baik. Paru-parunya tetap bisa mengembang sempurna saat mengingat Reza. Tidak ada lagi rasa sesak apalagi perasaan kalau seseorang telah merampas kebahagiaannya. Ia jauh lebih baik.
“Thanks abang, you make me feel better.” batinnya seraya melangkah pergi.
Meski tidak pernah banyak bicara, ternyata Kean memperhatikannya bahkan mencemaskannya. Dan pembicaraan terakhir ia dengan Kean telah banyak membuka pikirannya hingga ia berani untuk menemui Ellen.
Memandangi Shafira yang melenggang pergi meninggalkannya, Ellen hanya terpaku. Gadis muda itu telah berdamai dengan perasaannya. Kesadarannya sangat tinggi sementara ia masih di tempat yang sama. Rasa trauma yang pernah ia rasakan, dan kebingungan atas sikap Reza seperti menjadi puzzle yang belum bisa ia susun.
Di satu sisi ia tahu, ia harus melangkah pergi meninggalkan keraguan dan masa lalu yang menyakitkan. Namun di sisi lain ia masih tidak tahu, apa ia berpegangan pada tangan yang tepat atau tidak. Bagaimana kalau hatinya kembali di patahkan? Apa ia bisa tetap tegak berdiri seperti sebelumnya, seperti saat Reza yang ada di dekatnya dan menguatkannya?
Bagaimana kalau ternyata Shafira salah tentang Reza?
Ellen hanya bisa menghela nafasnya seraya memejamkan mata. Di raihnya ponselnya dan membuka pesan chat Reza yang belum sempat ia jawab.
“Len, aku butuh ketemu kamu. Please sekali aja, aku ingin kita bicara. Bisakah?” tulis Reza. Pesan terakhir yang ia terima beberapa hari lalu di antara banyaknya pesan Reza yang ia abaikan.
Haruskah ia memulai kembali kepercayaannya pada Reza atau meninggalkan laki-laki itu dengan segera agar tidak semakin kecewa?
“Huft…” Ellen menghembuskan nafasnya pelan. Ia harus mengambil langkah yang tegas.
“Aku di sweet café, kalo kamu perlu bicara.” Tulis Ellen yang kemudian ia kirimkan pada Reza. Shafira benar, ia harus percaya pada Reza. Mungkin sekali ini lagi.
Di taruhnya ponsel sambil menunggu balasan Reza dalam pikiran yang mulai terarah. Diseruputnya jus strawberry yang terasa sedikit asam dan menyegarkan. Cukup membuat matanya terbuka lebar.
******
“4027, 4028, 4029, 4030, ya ampun, aaaa!!!!” seru Mila saat memandangi laman web official store milik Disa.
“Gila!!! 4082 orderan!!!” serunya.
“Hwaaaa!!! Kereennn!!!” timpal pegawai lain yang membuat mereka berseru kegirangan. Sambil berpelukan dan meloncat-loncat seperti anak kecil.
Belum satu hari mereka memposting produk terbaru yang Disa luncurkan, sudah sebanyak ini pesanan yang masuk. Suatu pencapaian yang tidak terduga.
“Itu nona muda datang!” seru Ike, saat mendengar suara mobil Kean yang berhenti di halaman butik.
Mereka kompak melihat ke jendela dan benar saja Disa datang bersama keluarganya setelah makan siang.
“Papa!!! Let’s take a pic!” seru Naka sambil berlari menjauh dari Kean dan menunjukkan kamera polaroid yang di belikan Sigit.
“Easy boy, wait..” seru Kean mengejar putranya.
“Naka gak ada capeknya. Aktif banget ya sa.” Ujar Arini yang berjalan di samping Disa.
“Iya mah, apalagi habis makan makanan favoritnya, pasta.” Timpal Disa. Memandangi Naka dan Kean yang asyik mengambil beberapa foto. Naka seperti cermin bagi suaminya. Semua yang ada di diri Naka adalah gambaran Kean secara utuh.
Kean semakin telaten saja mengikuti kemauan putranya.
“Dek!” suara Mila terdengar jelas memanggil Disa. Ia sampai berlari menghampiri nona mudanya.
“Iya, kenapa kak?” Disa sampai tercengang melihat Mila yang terengah menghampirinya.
“Orderan kita,” nafasnya tersengau-sengau. Tentu saja, tubuhnya yang tambun membuat rongga dadanya sulit mengembang sempurna. Tapi tunggu, kenapa wajahnya secerah ini?
“Okey, tenang-tenang. Ada apa dengan orderan kita?” Disa membawa Mila duduk.
“NYAMPE 4000 ORDERAN LEBIH!!!!” teriaknya kegirangan.
“APA?” Disa melongo tidak percaya.
“HAHAHHAAH!!! AKU SENENG BANGEETTT!!!” Mila tertawa sampai menangis seraya memeluk Disa. Terlihat jelas kebahagiaannya.
“Alhamdulillah…” setelah beberapa saat, barulah ia tersadar. “Aku mau liat kak. Mah, disa tinggal dulu ya..” seru Disa antusias.
“Iya sayang.” Timpal Arini.
“Kenapa?” suara Sigit menyusul kemudian.
“Orderan baju disa sampe 4000 orderan mas!” terang Arini dengan semangat.
“Wah hebat! Gimana kalo kita bikin perayaan? Biar Disa tambah semangat.” Tawar Sigit tiba-tiba.
“Perayaan?” Arini sampai mengenyitkan dahinya. Tidak pernah menyangka kalau ide itu datang dari Sigit.
Tanpa menimpali Sigit memilih sibuk dengan ponselnya. Memberi beberapa perintah yang Arini dengar di tujukan untuk Marwan.
“Ya, kamu suruh mereka juga kemari, disa pasti seneng.” Hanya itu yang di dengar Arini.
“Udah siap.” Ujar Sigit seraya tersenyum pada Arini. Manusia batu ini telah benar-benar menjadi beruang berhati hangat.
*****