
“And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you'll finally see the truth
That a hero lies in you
That a hero lies in you
Mmm, that a hero lies in you.”
Bait terakhir lagu milik Mariah Carey terdengar menggema di aula sekolah. Hanya dua hari lagi menjelang saat mereka akan tampil dan sepertinya semua sudah sangat siap. Aula sudah di dekor dengan tema "Wanita." Bunga-bunga di sebar di beberapa area untuk mempercantik panggung tempat mereka akan tampil. Mereka bertepuk tangan saat do terakhir di mainkan Malvin sebagai penutup dari lagu indah tersebut.
“YES!!!!” seru mereka seraya berpelukan satu sama lain. Perlahan dentingan piano pun tergantikan oleh suara riuh anak-anak paduan suara. Mereka asyik berbincang tentang rencana untuk tampil dan apa yang akan mereka lakukan sebagai bentuk perayaan.
“Fir lo keren, soft voice di ujung lagunya ngena banget!” seru Diana seraya memeluk Shafira. Penampilan Shafira memang selalu memukau dan penuh penjiwaan. Tidak terbayang seperti apa jadinya saat mereka benar-benar tampil nanti.
Dengan adrenalin yang meningkat dan semangat untuk menunjukkan yang terbaik, biasanya penampilan akan lebih spektakuler. Diana sangat menunggu-nunggu respon penonton yang selalu di buat terpukau oleh penampilan mereka.
“Agak meleset dikit di, suara gue agak gak enak.” Mengusap tenggorokannya yang memang sedikit kering.
Beberapa hari ini Shafira merasa tubuhnya tidak terlalu nyaman. Terasa sakit dan kadang di selingi demam. Mungkin karena beberapa hari ini ia tidak bisa beristirahat dengan cukup. Di malam hari seringnya ia tidak bisa tertidur. Banyak pikiran yang muncul di benaknya hingga akhirnya saat dini hari ia baru bisa memejamkan mata.
“Tapi buat gue, lo selalu keren. Penampilan lo gak pernah mengecewakan. Latihan aja suara lo bikin gue merinding, apalagi pas tampil nanti. Gue yakin kalo bokap nyokap lo liat penampilan lo nanti, mereka pasti bakal bangga banget sama lo fir.” Diana memang paling bersungguh-sungguh kalau masalah memuji tapi kalimat manis itu tidak lantas membuat Shafira tersenyum senang. Banyak pujian biasanya selalu menjadi titik lengang untuk menyepelekan hal penting. Dan Shafira tidak suka itu.
Ada kegetiran yang dirasakan Shafira saat kalimat Diana yang manis sangat jauh dari kenyataannya. Membayangkan kedua orang tuanya melihat penampilan Shafira, hanya bisa menjadi sebuah cita-cita.
Semalam, Shafira mencoba mencari tahu tentang sosok Arini. Di mulai dari membuka website perusahaan tempat dady-nya bekerja, lalu website perusahaan properti yang sudah lama tidak aktif. Namun ternyata yang muncul hanya profil tentang perusahaan dengan beragam prestasi dan sanjungan dari pebisnis lain.
Kalau pun ada gossip tentang Sigit Hardjoyo, maka semuanya adalah tentang perusahaan yang dimilikinya. Tidak ada yang spesial sampai akhirnya Shafira membaca sebuah berita lama puluhan tahun lalu.
Berita tentang kebakaran kediaman Hardjoyo dan penunjukkan dady-nya sebagai penerus kerajaan bisnis Hardjoyo menjadi berita yang cukup menarik di zamannya. Banyak yang berkomentar dan membagikan tautan berita tersebut dalam jumlah ribuan.
Ternyata, semua tentang Sigit Hardjoyo adalah tentang citranya yang baik dalam pekerjaan. Tidak ada proffil tentang keluarganya termasuk siapa yang menjadi istri dan putra-putrinya. Tidak pernah ada berita tentang kehidupan pribadi Sigit Hardjoyo karena orang tuanya termasuk orang yang sangat menjaga privasi dan kehidupan pribadinya.
Dalam kebuntuannya, Shafira memilih untuk bertanya pada Kinar. Ia satu-satunya orang yang bisa di tanya karena menjadi saksi apa yang terjadi di rumah ini. Yang Shafira tahu, Kinar sudah bekerja lebih dari 30 tahun di rumah ini. Tentu banyak hal yang ia ketahui tentang keluarganya.
“Saya memang sudah puluhan tahun bekerja di rumah ini. Semua orang yang berada di sini sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Tapi, lamanya saya bekerja tidak lantas memberi saya hak untuk ikut campur apalagi mengomentari dan memperbincangkan kehidupan masing-masing orang di rumah ini.”
Skak! Dengan tegas Kinar menolak untuk memberikan informasi apapun pada Shafira. Satu-satunya pintu yang Shafira harapkan bisa memberinya pencerahan, bener-benar tertutup tanpa bisa ia paksa untuk terbuka.
Sekuat itu Kinar menyimpan rahasia apa yang ia lihat, dengar dan rasakan. Ia bahkan tidak berani menjawab satu pun pertanyaan Shafira tentang keluarganya.
Benang merah yang ia coba urai akhirnya hanya menjadi bola kusut yang mungkin harus ia lupakan sedikit demi sedikit.
“Fir, fira.” Sebuah suara memanggil Shafira yang masih terpaku dalam lamunannya.
Ia menoleh pada pemilik suara dalam itu yang tidak lain adalah Malvin.
“Hem?” Shafira masih belum sepenuhnya tersadar dari lamunannya.
“Fir, gue perlu ngomong sesuatu sama lo. Bisa?” wajah Malvin terlihat serius saat berbicara dengan Shafira.
“Ngomong apa? Ngomong aja.” Shafira masih menunjukkan sikap acuhnya pada Malvin. Ini sikap standar yang ia lakukan saat Malvin mendekatinya. Baginya ini lebih baik daripada menimbulkan prasangka tidak menyenangkan bagi beberapa orang.
Malvin menyodorkan ponselnya pada Shafira, menunjukkan sebuah laman percakapan ia melalui apliaksi Chat.
“Apa ini?” Shafira hanya melirik sedikit.
“Em, gue ngunggah video beberapa tampilan padus kita sama waku lo nyanyi solo.” Malvin memulai kalimatnya dengan ragu.
“Terus, ada seorang manajer sebuah EO yang ngehubungin gue. Katanya mereka tertarik buat kerjasama sama kita sebagai bagian dari tim art-nya.” Malvin menyelesaikan kalimatnya sambil memperhatikan perubahan ekspresi Shafira yang datar.
“Terus?” Shafira tidak menghindar saat mendengar penuturan Malvin, membuat Malvin bisa menghela nafas lega karena Shafira tidak tiba-tiba pergi.
“Mereka EO dalam acara besar dengan review yang bagus dan profesional. Bayaran yang di tawarkan pun cukup besar. Ya gue tau mungkin buat lo uang yang mereka tawarkan recehan tapi lo bisa ngembangin hobi nyanyi lo soalnya mereka juga kenal dengan beberapa produser musik.”
“Lo sebenernya mau ngomong apa sih vin?” Shafira mulai jengah dengan kalimat Malvin yang berputar-putar. Kembali ia menunjukkan sikap dinginnya dengan menyilangkan tangan di depan dada seraya memandangi Malvin dengan sinis. Ternyata laki-laki multi talenta dan cerdas ini saat berbasa-basi begitu membosankan.
“Em maksud gue, lo mau gak gabung sama mereka bareng gue, sebagai tim?” akhirnya pertanyaan itu yang di singkat Malvin.
Untuk beberapa saat Shafira memandangi malvin yang tampak menunggu jawaban. Mungkin dalam hatinya ia sedang bergumam, “Mau! Mau! Mau!”
“NGGAK!” tegasnya. Ia berlalu pergi meninggalkan Malvin yang masih terkejut dengan jawaban spontan Shafira.
Malvin terangguk lesu, ia memang sudah menduga kalau Shafira akan menolaknya tapi ia tidak menyangka akan seterus terang ini tanpa basa-basi.
Tunggu, memang sejak kapan Shafira bisa basa-basi?
“Fir! Mau kemana?” panggil Diana saat melihat Shafira keluar dari aula.
“Kantin!” sahutnya tanpa berbalik pada Diana. Perutnya sudah sangat lapar dan tenggorokannya kering karena terus menyanyi dengan nada tinggi. Ia butuh sesuatu untuk membasahi tenggorokannya.
Dengan kaki pendeknya Diana lari menyusul Shafira. “Bang amran udah nyiapin pangsit goreng di kedai mie ayamnya. Makan mie ayam yuk!” godaan paling besar untuk Shafira benar-benar di ketahui Diana.
Pangsit goreng adalah makanan paling di sukai Shafira dan Diana dengan tepat menawarkan saat perutnya lapar.
“Sejak kapan lo jadi tim promosinya bang amran?” menoleh Diana yang masih memasang wajah merajuknya seraya melingkarkan tangannya di lengan Shafira.
“Hehehehe… Dia juga sering bantuin gue nugas kok.” Gadis polos itu berujar dengan wajah bersemu.
“Wah, mau kemana nih tuan putri dari selir? Ups!” seorang gadis dengan dua sahabatnya menghalangi langkah Shafira dan Diana.
Tidak lain adalah Nara yang di temani Fia dan Ira.
“Maksud lo?” sinis Shafira.
Sudah lama tidak berbicara dengan mantan teman satu genknya dan kali ini malah mendapat ucapan tidak menyenangkan itu dari Nara. Ternyata benar kalau seorang teman bisa begitu mudah menjadi musuh.
“Kasih paham!” tunjuk Nara dengan elegan pada Fia.
Fia menunjukkan laman di layar ponselnya yang memuat berita tentang Sigit Hardjoyo. Shafira bergegas meraih benda pipih tersebut namun Fia segera menariknya.
“Eits, pake hp lo sendiri dong! Lo cari aja, hastag skandal keluarga hardjoyo.” Fia berbisik di telinga Shafira membuat wajah shafira menegang seketika.
Tanpa menunggu lama, Shafira segera mengambil ponselnya dari saku dan mencari berita yang di sebutkan Fia.
Mata Shafira tampak membulat dengan tangan mengepal saat melihat banyaknya berita di media online tentang keluarganya. Padahal semalam saat ia masih mencari-cari berita tentang keluarganya, tidak ada satupun berita atau gossip yang ia temukan. Tapi siang ini, seperti ada bom yang di jatuhkan di atas kepala Shafira yang membuatnya tertunduk kesal sekaligus malu.
“Ups! Yang sabar ya tuan putri.” Nara menepuk-nepuk bahu Shafira dengan jijik lantas tertawa.
“Walau pun anak selir, masih bisa lah di sebut tuan putri.” Jagonya Fia menimpali dan ikut tertawa.
“Selir mah zaman kerajaan kalo sekarang istilahnya, PE-LA-KOR!” kalimat Nara terdengar penuh penekanan.
"Iuuhhhh... Ngerii.. Memang sering terjadi sih di kota-kota besar apalagi di keluarga yang, UPS!"
Tawa Nara dan Fia terdengar bersahutan memenuhi telinga Shafira. Renyah sekali mereka menertawakan kemalangan Shafira. Sepertinya masalah Shafira adalah lelucon yang cukup menarik untuk mereka.
Dengan cepat Shafira mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Matanya tampak merah dan berkaca-kaca.
“Uuuu… Cayang… Kasian…” Nara mengusap kepala Shafira dengan segaris senyum sarkas.
Namun Shafira hanya terdiam, tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga, lidahnya kelu, ia bahkan tidak sanggup mengeluarkan kata-kata untuk menimpali ejekan teman-temannya. Hanya dadanya yang sesak dan terasa sakit. Seperti ada kilatan petir yang beberapa saat lalu menyambar tubuhnya hingga kaku.
“Nara! Lo apaan sih!” Diana menepis tangan Nara yang berada di kepala Shafira.
“Lo gak usah ikut campur mata empat!” gertak Nara yang tidak terima tangannya di tepis Diana.
“Ya gue ikut campur lah! Fira temen gue, gak kayak kalian, parasite! Habis manis sepah di buang. Ikh jijik!” dengan berani Diana menimpali.
“HEH! Berani lo ya sama gue!” teriak Nara yang mendorong tubuh Diana.
Diana tidak tinggal diam ia membalas perlakuan Nara. Pertengakaran di antara mereka tidak terelakkan. Mereka saling menjambak dan memukul sementara Shafira dengan langkah lunglainya memilih pergi tanpa tentu arah. Yang jelas ia harus pergi sejauh mungkin, menghilang dari pandangan teman-temannya yang menatap Shafira dengan sinis.
Menyusuri jalan keluar dari gerbang sekolah dengan pikiran yang tidak menentu. Kalimat Nara seperti tamparan keras yang memberikan tanda di pipinya dengan label anak pelakor. Semenyedihkan ini rupanya kenyataan yang harus ia tahu. Andai saja ia bisa tahu lebih awal, mungkin rasanya tidak semenyakitkan di banding tahu dari orang lain.
Liana yang selalu diam, Kean yang selalu membencinya, Sigit yang tidak pernah berusaha memperbaiki keadaan dan tentu saja, ia merasa sebagai satu-satunya orang yang tidak tahu malu karena hadir di tempat yang tidak seharusnya ia berada.
Shafira terisak dalam tangisnya yang dalam. Seperti ada bongkahan di tenggorokannya yang membuat nafasnya tercekat. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Tidak peduli jika orang-orang di jalanan memperhatikannya yang sedang menangis. Ia hanya ingin seperti ini, meluapkan perasaannya yang tidak menentu.
“FIR!” seru sebuah suara yang berada tepat di hadapannya.
Shafira mengusap air matanya yang menghalangi padangannya. Banyaknya air mata yang menetes membuat pandangannya samar-samar. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan tidak lama bayangan seorang laki-laki terlihat berdiri di hadapannya.
Malvin,
Langkah Shafira terhenti. Ia segera mengusap air matanya dengan kasar. Untuk saat ini ia tidak ingin bertemu siapapun, terlebih itu Malvin. Maka ia memilih untuk berbalik.
“Fir! Lo mau kemana?” Malvin mengejar Shafira dan menarik tangannya.
“LEPASIN GUE!” mengibaskan tangannya yang genggam Malvin. Ia sedang tidak ingin dikasihani.
“Gak akan gue lepasin! Lo gak bisa pergi dalam kondisi kayak gini.” Seru malvin yang tidak melepaskan tangan Shafira.
“Terus mau lo apa hah?! Lo mau ngetawain gue kayak temen-temen gue?”
“Ato lo juga mau ngatain kalo gue anak pelakor?”
“Apa lagi, lo mau gue liat gimana lo ngatain gue dengan sinis, atau..”
“Stop fir! Berhenti!” berganti Malvin yang meninggikan suaranya. Ia kembali menarik tangan Shafira lantas menatapnya dengan laman. Seperti ikut merasakan kesedihan dan kebingungan yang dirasakan Shafira saat ia melihat kedua matanya yang basah dan merah seolah berpadu serasi dengan ekspresi wajahnya yang di liputi kemarahan.
“Gue mohon jangan pergi sendirian.” Lirih Malvin pada akhirnya.
Ia mencemaskan Shafira jika pergi sendirian dan membuat bayangan hal buruk tentang Shafira pun ikut hadir.
Shafira tertunduk lesu ia tidak berani untuk menatap Malvin di hadapannya. Rasanya terlalu malu saat aib keluarganya menjadi bahan perbincangan dan ejekan banyak orang.
Melihat Shafira yang hanya terpaku, Malvin menarik tangan Shafira dan membawanya naik ke motor.
“Naik lah. Gue anter kemana pun lo mau. Tapi jangan sendirian.” Ucapnya kemudian. Ia tidak pernah melihat Shafira seperti ini, maka ia memutuskan untuk tidak membiarkan Shafira sendirian.
Naik ke sepeda motor Malvin dengan posisi menyamping. Saat motor mulai melaju, Shafira kembali dengan tangisnya yang dalam. Beruntung ia memakai helm yang memiliki kaca penutup di wajahnya sehingga ia bisa bebas menangis dan sesekali meraung memaki keadaan.
Tenyata semenyedihkan ini hidupnya hingga malvin yang acuh pun bisa melihat kesengsaraan yang di hadapi Shafira.
Di depannya, Malvin memperhatikan Shafira dari spion. Tangis Shafira yang penuh kesakitan ternyata membuat sudut hatinya ikut meringis. Kepedihan itu, ia pun merasakannya.
"Menangislah fir,tapi setelah itu lo harus kembali kuat." batin Malvin yang sesekali memperhatikan Shafira di belakangnya.
Ia menarik tangan Shafira yang memegangi pinggiran bajunya agar melingkar di perutnya. Lantas ia menepuk tangan Shafira perlahan, sebagai cara untuk menenangkan gadis cantik ini.
*****