Marry The Heir

Marry The Heir
Pesan penting tante Mery



Berdua di balkon kamar sementara dua orang lainnya sedang menunggu di ruang tamu kamar hotel. Berulang kali Shafira mengintip ke balkon, mencoba mencuri dengar apa yang sedang di bicarakan Disa dan kean. Tidak ada yang terdengar sama sekali, hanya ekspresi serius dan tegang yang di tunjukkan keduanya.


“Ini mereka ngomongin apa sih tan? Lama banget deh!” Shafira sedikit mendekat karena rasa penasarannya. Ia tahu persis seperti apa perasaan Disa dan Kean, maka jadi gemas sendiri melihat mereka yang begitu sulit untuk mengatakan iya.


“Fir,” Arini menarik ujung baju Shafira agar tidak beranjak terlalu jauh. Sudah cukup Kean di buat kesal oleh adik sambungnya ini.


Shafira menoleh sambil cengengesan saat melihat Arini menggeleng, isyarat melarangnya agar tidak semakin mendekat.


“Mereka butuh ruang, fir.” Ucap Arini dengan bijak.


Sedari tadi, Shafira memang menjadi provokator yang baik menurut Arini namun ia tidak bisa membiarkan gadis ini terus menerus terlibat lebih jauh dalam pembicaraan Disa dan Kean. Ini keputusan penting bagi Disa dan Kean, ia menghargai proses ini.


“Aku kepo tante. Mereka lama banget lagi.” Mendudukan tubuhnya di samping Arini, lantas mengambil bantal untuk ia remas dengan gemas.


“Pernikahan itu untuk seumur hidup, wajar kalau mereka harus membahasnya. Walau kondisinya seperti ini, tante mengharapkan memang ada keinginan dari mereka untuk menikah bukan murni paksaan tante.”


Arini masih mengingat bagaimana sulitnya ia meyakinkan panitia kompetisi ini bahwa Disa dan Kean memang ada hubungan. Sebagian di antara mereka ada yang mengetahui perjodohan Kean dan Clara dan ini menjadi batu sandungan tersendiri bagi hubungan Kean dan Disa. Beruntung Clara tidak ada di tempat sehingga ia bisa memikirkan cara untuk menghadapi Clara kemudian.


Setelah menjanjikan kalau ia akan selalu menjaga nama baik kompetisi ini, akhirnya mereka mau melunak. Membiarkan Arini atau Kean menemui Disa dengan catatan tidak membuat kegaduhan. Arini menghela nafasnya sedikit lega, akhirnya ada jalan untuk menyatukan mereka walau sulit.


Di luar sana, Kean dan Disa masih saling terpaku. Biasanya saat mereka duduk di balkon, obrolan santai akan dengan mudah tercipta tanpa harus berfikir keras. Tapi kali ini semuanya berbeda. Mereka di haruskan membuat keputusan yang besar dalam waktu yang singkat.


Mengiyakan sebuah pernikahan, sebuah prosesi sakral yang akan membawa mereka pada kondisi yang berbeda di masa depan. Mengingat penolakan Kean tadi, hati Disa jadi sedikit ragu dan malah teringat perkataan tukang ojek saat di bandung.


“Jangan mau neng, gak bakal di kawinin.” Teriak laki-laki itu sekali lalu tertawa puas berhasil menggoda Disa dan Kean. Laki-laki itu pergi begitu saja, membawa kendaraannya berbaur dengan kendaraan lain.


Dulu ia berfikir hanya candaan iseng saja tapi melihat sikap Kean, mungkin ada benarnya ucapan laki-laki itu. Kean tidak pernah berniat menikahinya.


“Maafkan saya disa, maaf atas kejadian ini.” Permohonan maaf ini menjadi awal pembicaraan mereka. Benar adanya kalau kondisi yang memaksa ini terjadi karena tindakannya yang sembarangan.


Disa menoleh Kean yang duduk bersisihan dengannya, hanya terhalang meja kecil saja. Laki-laki itu memandanginya dan menunjukkan wajah penuh sesal.


“Ini bukan sepenuhnya kesalahan tuan.”


Andai ia lebih sadar dan berfikir sebelum bertindak, mungkin hal ini pun tidak akan terjadi. Alasan terlalu peduli terhadap laki-laki yang sebenarnya sudah ia tinggalkan sejak dulu, menjadi alasan paling besar hingga ia membiarkan Kean masuk. Ia benar-benar tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini.


“Permintaan mamah, apa kamu sudah memikirkannya?” beralih pada masalah yang sebenarnya harus mereka pecahkan.


Disa menggeleng, dengan wajah yang kembali terlihat tegang. “Saya buntu tuan, saya tidak bisa memikirkan apapun.” Ungkapnya, seraya memainkan jemarinya yang saling tertaut erat.


Ia memang berencana menikah namun bukan seperti ini bayangan alasan ia menerima lamaran seorang laki-laki.


“Saya mengerti apa yang kamu rasakan karena sedikit banyak, kita memiliki perasaan yang sama.” Kean mengakui perasaannya. Alasan ia datang ke hotelpun karena ia masih mencari ketenangan yang sama yaitu berada di samping Disa.


“Hanya saja, sebelum mengambil keputusan, saya perlu memberitahu kamu sesuatu.” Imbuhnya.


Di tatapnya wajah polos Disa dengan lekat, seolah memintanya untuk tidak berpaling.


“Silakan tuan.” Disa menunggu dengan sabar. Toh ia memang harus mengenali benar siapa laki-laki di hadapannya dalam kondisi terpojok seperti ini. Katanya ini sikap asli laki-laki dalam mengatasi masalah.


Kean menghela nafas dalam sebelum mengatakan apa yang ada di pikirannya. Entah Disa akan menerimanya atau tidak namun terbuka itu lebih baik.


“Jikapun kita benar-benar menikah, saya akan berusaha memberikan semua yang terbaik untuk kamu. Hanya saja, saya tidak bisa memberi kamu keturunan.” Ujar Kean lirih.


Terdengar sulitnya ia mengatakan hal itu, namun memang harus di katakan. Ia tidak mau Disa merasa di bohongi dengan kondisinya.


Dan jantung Disa, serasa copot saat mendengar kalimat itu. Tidak bisa memilki keturunan dalam sebuah pernikahan, tentu bukan perkara yang kecil. Kehadiran seorang anak dalam sebuah keluarga adalah dambaan dan kebanggan setiap pasangan suami istri.


Anak bisa sebagai pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, investasi, guru, partner, bahkan pelindung orang tua terutama ketika orang tua sudah berusia lanjut. Tidak ada orang tua yang mengharapkan kelak mereka kesepian di masa tua. Setiap pasangan tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya, menjadi penyejuk hati dan mata.


“Aku tahu, ini sesuatu yang berat sa, dan kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Hak kamu untuk menolak atau menerima, jangan merasa terbebani oleh permintaan mamah.”


Kalimat itu Kean sampaikan sebagai sebuah penegasan. Ya, Disa selalu punya hak untuk menerima atau menolaknya. Terlebih ia bukan laki-laki yang sempurna yang sejak awal kerap membuat Disa merasa tersakiti.


Kean benar, ia harus memikirkannya matang-matang. Seperti prinsipnya, ia hanya akan menikah sekali dengan seseorang yang mencintainya dan bersamanya seumur hidup.


Lalu, apa yang terpenting sekarang? Apakah keinginan untuk memiliki keturunan yang begitu kuat atau perasaan yang ada saat ini? Bukankah setiap orang bisa memiliki kekurangan termasuk tuan muda di hadapannya? Tapi, setiap orang pun memiliki hak untuk berjuang mencapai harapan dan kebahagiaannya.


“Tuan, bolehkah saya bertanya?” dengan ragu kalimat itu Disa lontarkan.


“Hem, katakan.” Kean menunggunya dengan sabar. Ia sangat siap jika yang akan Disa tanyakan adalah sesuatu yang berat untuk ia jawab.


Disa mencoba tersenyum walau terlihat kelu. Menghela nafasnya dalam dan mengurai kalimat yang ada di benaknya.


“Apa, perasaan tuan masih sama terhadap saya?” baginya, hal ini perlu untuk di tanyakan. Harus ada cinta di antara mereka agar mereka bisa bertahan dan mengeratkan tangan saat menghadapi masalah yang lebih besar kelak.


“Hem, masih dan selalu.” Jawab Kean tegas.


“Saat kamu pergi, seperti sebagian dunia saya hancur. Saya tidak memiliki arah yang jelas hingga saat saya menghadapi banyak kesulitan untuk menghadapi semuanya, saya merasa kamulah yang harus saya tuju."


Kean bukan laki-laki yang mudah mengakui perasaannya. Perjalanan yang sangat panjang hingga ia menyadari dan mengakui kalau ia mencintai Disa.


Yang Disa rasakan saat ini, tatapan Kean masih sama, hangat dan mendebarkan membuat Disa hanya bisa terpaku tanpa berkata-kata. Perasaan yang sama yang selalu membuat ia merasa jatuh cinta hanya karena melihat netra pekat milik Kean.


Tidak Disa pungkiri, kalau perasaan Disa untuk Kean pun masih sama. Kean laki-laki pertama yang membuatnya merasakan jatuh cinta. Membuatnya bisa membedakan mana mengagumi dan mana mencintai.


Kean seperti benda langit yang bercahaya meski ia genggam erat di kedua tangannya namun sinarnya tetap terasa. Semua tentang Kean tidak bisa membuatnya berpaling. Tapi perasaan seperti ini, apa cukup untuk membuatnya mengatakan ya?


*****


“Gimana?” Arini langsung menyambut saat melihat Kean dan Disa kembali masuk ke kamar hotel.


Sepertinya pembicaraan mereka sudah selesai. Sayangnya, tidak ada perubahan yang berarti dari ekspresi keduanya. Hanya saja, mereka sudah tidak terlalu tegang seperti sebelumnya.


“Mba disa akan jadi kakakku kan bang?” Shafira menghampiri Disa dan bergelayut manja di lengannya.


Disa hanya tersenyum melihat tingkah manis Shafira. Diliriknya Kean yang berdiri tegap di sampingnya dan laki-laki ini mengangguk seperti ia menggerti benar maksud Disa.


“Kasih disa sedikit waktu ya mah.” Kalimat itu yang kemudian menjadi jawaban Kean.


Arini tersenyum penuh arti. Sikap Kean seolah menegaskan kalau putranya telah yakin dengan perasaannya sementara Disa masih harus meyakinkan dirinya.


Bisa Arini mengerti, pernikahan bukan hal yang mudah untuk di putuskan. Ia menghormati keputusan Disa untuk memikirkannya terlebih dahulu. Ia pernah merasakan gagal dalam sebuah hubungan yang tidak bisa dengan mudah ia akhiri. Dampaknya jika ia salah melangkah, tidak hanya dia yang tersakiti melainkan banyak hati. Ia pun tidak mau membuat Disa merasakan sakit yang sama di masa depan seperti yang pernah ia rasakan.


Ia menyayangi Disa seperti putrinya sendiri. Disa telah banyak memberi hal baik dalam hidupnya juga hidup putranya. Gadis ini memang perlu waktu dan kelak, ia berharap kalau Disa memutuskan untuk menerima permintaannya.


Sepulangnya Kean, Arini dan Shafira, Disa termenung sendiri di atas tempat tidurnya. Banyak hal yang berkecambuk tidak hanya dalam hatinya melainkan dalam pikirannya.


Permintaan untuk menikah dengan laki-laki yang ia cinta, entah seperti petir di siang bolong atau justru seperti pelangi setelah hujan. Keduanya sama-sama membuatnya terperangah hingga nyaris tidak bisa berkata-kata.


Ia masih harus memikirkan, seperti apa nanti hidupnya jika ia menolak menikah dengan Kean atau menerimanya. Walau hatinya diliputi perasaan yang menggebu namun logikanya tetap harus jalan.


Sayangnya, saat ini tidak ada yang bisa ia ajak bicara. Ia tidak memiliki orang tua untuk ia berbagi fikiran atau tempatnya bertanya seperti apa itu pernikahan. Semuanya samar dan belum ada bayangan sedikitpun di benaknya. Setiap hubungan memang berharap akan berlabuh pada sebuah pernikahan, tapi seperti apa itu bentuk pernikahan?


Setelah lama berfikir, akhirnya Disa memutuskan untuk bertanya pada seseorang. Wanita yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri.


“Tan, disa boleh tanya sesuatu gak?” pesan itu di kirim Disa pada Mery.


“Nanya apa? Kamu mau bikin makanan apa lagi?” gayung bersambut, Mery langsung membalas pesannya. Sepertinya wanita itu tidak sedang bermain game atau menonton sinetron “Kumenangis.”


Karena sering bertanya resep, maka jawaban ini yang di kirim Mery.


“Hehehehehe… Bukan tan. Disa mau nanya, apa pertimbangan kita untuk menerima seorang laki-laki jadi suami?” tulis Disa dengan ragu. Ia tidak tahu seperti apa persepsi Mery setelah membaca pesannya.


“Kalo cinta, nikahin.” Jawabnya simple.


“Hah? Cukup cinta tan?"


"Apa gak ada pertimbangan lain?"


"Gimana kalo di masa depan ternyata kita gak cocok sama laki-laki itu?” protes Disa.


Baginya tidak mungkin memilih menikah hanya dengan alasan sesederhana itu.


Harap cemas Disa menunggu jawaban Mery. Tidak ada tanda-tanda wanita ini mengetik pesan. Apa pertanyaannya salah, atau Mery sudah tidur?


3 menit berlalu pun belum juga ada jawaban. Disa menghembuskan nafasnya kasar seraya membaringkan tubuhnya lemas. Kemana Mery?


“Tring!” satu pesan masuk namun bukan pesan teks yang di terimanya melainkan pesan suara.


“Mau nikah sama siapa kamu?” suaranya terdengar lantang. Entah ini hanya pertanyaan atau bentuk kemarahan, kadang Disa sulit membedakannya kalau tidak melihat langsung ekspresi Mery yang kaya itu.


“Kalo kamu banyak pertimbangan, sampe tua kamu gak bakal nikah. Mikir aja terus kamu sampe botak. Nama jodoh kamu keburu di hapus nanti di Lauhulmahfuz dan keburu di ambil orang.”


Pesan kedua yang di kirim Mery, membuat Disa sedikit tersenyum. Ada-ada saja tantenya ini. Rupanya selain ingin membalas pesan ia juga ingin mengomeli Disa makanya mengirim pesan suara.


Pesan ketiga di dengarkan Disa. “Lagian, kamu bukan nikahin malaikat yang semuanya harus serba sempurna. Malaikat aja tugas utamanya masing-masing cuma satu, gak ada yang semuanya dia kerjain. Manusialah yang paling sempurna. Jadi, kalo cinta nikahin aja. Nikahin kekurangan dan kejelekannya. Kalo nanti kamu nemu kebaikan dan kelebihannya, itu bonus buat kamu.”


“Inget, yang penting cinta!”


“Disa, siapa yang mau ngelamar kamu? Kenapa tante gak di kasih tau?” tanya Mery di pesan terakhirnya.


Lagi Disa hanya tersenyum. Ia hendak membalas pesan Mery, namun urung. Ia pun bingung harus membalas apa. Ia berencana, jika hatinya sudah mantap, kelak ia sendiri yang akan datang dan memberitahukan hal ini pada Mery.


Saat ini, yang ingin ia lakukan adalah bersujud di hadapan sang pemilik hati. Yang maha membolak-balikkan hati manusia. Semoga, ia menemukan jawaban dalam sujudnya hingga mantap mengambil keputusan.


****