
Sudah jam 9 malam namun belum terlihat tanda-tanda kepulangan Kean ke rumah. Disa kembali mengecek ponselnya, khawatir ada pesan yang tidak terbaca atau panggilan yang tidak sempat terjawab baik dari Kean ataupun Roy. Tapi keduanya bahkan belum memberi kabar.
Seperti seorang istri yang tengah gundah menunggu suaminya pulang, Disa terlihat begitu cemas. Ia berjalan mondar mandi di dapur dengan perasaan tidak menentu. Siang tadi, tuan mudanya minta di buatkan pasta tapi kalau terlalu lama mungkin akan dingin dan mengembang.
“Apa aku cek lagi air mandi tuan muda kali ya?” gumamnya, mencari kesibukan untuk membuat waktu cepat berlalu.
Akhirnya Disa memilih naik ke atas, menuju kamar Kean. Kamar sudah ia rapikan, dengan baju ganti yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur beserta sebuah handuk. Ia pun kembali memeriksa air di bathtub dan kembali mengisinya dengan air panas agar hangatnya pas.
Sabun dan aromaterapi kembali ia tambahkan dan menguceknya sebentar untuk memancing busa sabun. Setelah itu, ia keluar dari kamar Kean dan turun ke dapur.
Lagi, pasta ia hangatkan untuk kedua kalinya. Belum juga ada kabar baik dari Roy atau pun Kean dan tidak mungkin Disa menghubungi lebih dulu.
Setelah memanaskan pasta dan makanan lainnya, Disa kembali ke meja makan. Ia menelungkupkan wajahnya dengan tangan kanan sebagai bantalan. Hari ini ia sangat random, hingga semua pekerjaan ia lakukan untuk mengisi waktu kosongnya. Tubuhnya terasa lelah dan rasanya ia ingin tertidur. Sebentar saja, mungkin sekitar 10 menit sebelum Kean pulang ia akan memejamkan mata.
Tidak perlu menghitung anak domba atau menghitung bintang, Disa mulai terlelap. Waktu 10 menit berlalu begitu saja, hingga tanpa sadar sang tuan rumah sudah pulang. Ia bahkan tidak terbangun saat suara klakson memanggilnya. Tidak pula dengan suara langkah kaki Kean yang menghampirinya.
Kean mengetuk kaca meja makannya beberapa kali, Disa tidak bergerak sedikitpun, sepertinya ia benar-benar tertidur.
Sedikit mengintip, Kean melihat kedua mata Disa yang terpejam dengan wajah yang terlelap damai. Tangan kanannya masih menjadi bantalan, sementara tangan kirinya menggenggam ponsel kecil yang tidak kunjung berdering.
Kean hanya menggeleng, berlalu pergi menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya lelah dan yang bau keringat.
Masuk ke kamar mandi, bathtub sudah terisi air hangat dan busa sabun yang masih menutupi permukaan bathtub.
Kean berdecik, yang benar saja ia mandi di dalam bathtub. Ia tidak menyukai ruang sempit dan lebih memilih menyalakan Shower untuk mengguyur sekujur tubuhnya. Beruntung Disa sudah menyalakan pemanas air hingga rasa hangat dari air tersebut seolah tengah memijat titik-titik tubuh dan kepalanya, membuat Kean merasa nyaman.
Selesai mandi, Kean segera memakai baju yang sudah di siapkan Disa. Kalau di perhatikan, kamarnya sangat rapi, seperti tidak ada satu pun debu yang menempel. Dengan handuk kecil Kean mengeringkan rambutnya dan mulai turun menuju meja makan untuk menikmati makan malamnya yang terlambat.
Melihat dari tangga, Disa masih menelungkup di atas meja makan. Posisinya tidak berubah sedikit pun dari sejak ia datang. Kean mendekat, menarik sebuah kursi namun suara gaduh yang ia buat tidak membuat Disa terbangun.
Membuka tudung saji di atas meja dan terlihat pasta yang ia minta sudah ada di sana bersama lauk lainnya. Kean menarik satu mangkuk besar pasta dan mulai menikmatinya. Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu tetap tidak mengusik lelapnya Disa.
“Kebo banget ini pelayan.” Gumam Kean yang tetap menikmati makan malamnya sambil memperhatikan Disa.
Harus ia akui, ia memang pulang terlambat karena kliennya mengajak ia untuk minum-minum dulu. Tentu Kean tidak bisa menolak ajakannya walau ia sudah merasa lelah dan ingin pulang. Dan tentang mengabari Disa, baik ia atau pun Roy keduanya lupa. Mereka baru ingat saat tiba di gerbang rumah dan Rahmat mengatakan kalau Disa masih ada, belum pulang.
Satu mangkuk pasta telah beralih ke dalam perutnya. Rasanya memang enak, tidak seperti buatan restoran yang biasa ia pesan. Di susul segelas air, hilang sudah rasa laparnya berganti kekenyangan.
Melihat Disa yang masih tertidur, Kean kembali mengetuk meja di dekat Disa. Tiga kali ketukan Disa masih tidak merespon.
Akhirnya, “Disa.” Panggil Kean dengan sedikit tegas.
“YA SAYA!” Disa segera bangun, bahkan berdiri.
Tidak hanya Disa yang kaget, melainkan Kean juga. Ia tidak menyangka kalau suara panggilannya yang paling kuat tersimpan di memori otak Disa.
Matanya langsung membulat, tidak ada tanda-tanda ia masih mengantuk atau mengucek matanya yang lengket.
“Ma-maaf tuan. Saya, ketiduran.” Lirih Disa dengan wajah cengonya saat melihat Kean yang juga tampak terkejut. Ia pun melihat mangkuk besar berisi pasta yang sudah kosong, habis di lahap Kean.
Kean beranjak dari tempat duduknya dan mulai sibuk dengan ponsel di tangannya.
“Kalau pekerjaanmu sudah selesai, kenapa tidak pulang?” Ucapnya yang berpindah duduk ke sofa depan televisi. Mengangkat kedua kakinya dan menempatkannya di atas meja.
“Maaf tuan, saya hanya takut tuan membutuhkan sesuatu.” Sahut Disa yang mulai merapikan meja makan.
“Buat lagi pastanya kalau kamu mau.”
“Terima kasih tuan, saya tidak lapar.”
“KRIIUUKK..”
Hah, suara perut tidak bisa diajak kompromi. Kean tersenyum samar saat mendengar bunyi perut Disa. Dan Disa hanya bisa tertunduk malu karena telah berbohong.
Jujur, ia sangat lapar namun tidak berani makan di rumah ini.
“Kalau kamu tidak lapar, bersihkan air liurmu, mengganggu pemandangan saja.” Timpal Kean yang masih asyik dengan ponselnya.
Seolah sibuk padahal ia hanya mengecek rekaman CCTV siang tadi.
Dengan segera Disa melap ujung bibirnya dengan kasar, ia kembali mendengus saat kecerobohannya membuatnya terlihat jorok dan bodoh.
Ia memang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa laparnya. Ia mengambil sisa pasta di kualinya dan mulai memakannya dengan lahap.
Kean kembali mengulum bibirnya menahan tawa, niatnya mengerjai ternyata berbuah kemenangan.
“Kamar tamu kosong, kamu bisa memakainya.” Bersikap acuh, padahal sedang menawari untuk menginap. Bagaimana pun ia masih bertahan pada mode tidak peduli yang kembali ia niatkan sejak siang tadi.
“Terima kasih tuan, saya akan pu,-lang.” suara Disa melemah saat melihat jam dinding yang menunjukkan jam 11 malam. Mau mengklarifikasi kata-katanya tapi entah apa masih bisa atau tidak. Mendengus lesu, itu yang Disa lakukan saat ini.
Mendengar jawaban Disa, Kean tidak menyahuti, ia lebih memilih pergi ke kamarnya sementara Disa mulai mencuci piring dan gelas habis pakai. Di kepalanya masih memikirkan bagaimana ia pulang selarut ini, terlalu beresiko dan menakutkan.
Selesai dengan mencuci piring dan gelas, Disa kembali mengelap meja makan. Ia benar-benar bingung harus bagaimana, tidak mungkin juga ia meminta Kean untuk mengantarnya pulang.
“Pake ini, setelah itu bisa kamu buang.”
“Buatkan saya kopi hitam, setelah kamu selesai membersihkan badan. Jangan bikin kopi saya terkontaminasi asam keringat kamu.” Imbuh Kean yang menjatuhkan tubuhnya ke sofa dan menonton televisi di sana.
Tidak ada pilihan, sepertinya Disa memang harus menginap. “Baik tuan, mohon menunggu.” Sahutnya dengan lemas.
Disa pergi menuju pintu dapur, mengambil jaket dan tote bagnya, lalu melewati Kean saat ia menuju kamar tamu. Dengan pelan ia membuka pintu lalu masuk dan mengunci diri di sana.
“Bodoh kamu disa, bodooohhh!!!!!!” Disa merutuki kesal dirinya sendiri.
Ia memandangi pantulan dirinya di cermin. Sangat berantakan dan kuyu. Ia duduk di tepian tempat tidur yang terasa lebih empuk dari tempat tidur di kamar pelayan. Kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia sungguh tidak punya pilihan.
Akhirnya, ia segera mengambil baju yang dipinjamkan tuan mudanya. Menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar lalu mulai membersihkan tubuhnya.
Suasana yang hening membuat suara air cukup terdengar oleh Kean. Ia mengeraskan volume televisinya agar fokusnya tidak teralihkan. Hanya sekitar 10 menit sampai akhirnya Disa keluar dari kamarnya dengan pakaian yang ia pinjamkan.
Disa melewatinya menuju dapur dan membuatkannya kopi. Dari tempatnya Kean bisa melihat Disa yang memakai bajunya dengan sangat kebesaran. Tentu saja, ukuran tubuhnya yang lebih besar dan tinggi, sangat kontras dengan tubuh Disa yang mungil. Celana olah raga yang setengah betis, berubah menjadi celana panjang kedodoran untuk Disa.
Kean sangat ingin tertawa namun ia mencoba menahannya.
“Silakan tuan, ini kopinya.” Disa menaruh secangkir kopi di hadapan Kean.
Wanginya sangat enak dan masih mengepulkan asapnya.
“Hem. Pergilah, jangan menggangguku lagi.” Usir Kean agar Disa pergi dari pandangannya. Ia sangat ingin tertawa dan keberadaan Disa membuatnya tidak leluasa.
“Baik tuan, selamat malam.” Disa mengangguk takjim sebelum pergi meninggalkan Kean di ruangan tersebut.
Sepeninggal Disa, Kean benar-benar terkekeh sambil mengeraskan volume televisinya. Tawa yang sangat nikmat hingga nyaris membuatnya meneteskan air mata. Ternyata hiburan tersendiri saat bisa mengerjai Disa.
Hanya satu teguk kopi yang ia minum, setelahnya ia pergi ke kamarnya dan mulai beristirahat. Di bibirnya masih terlihat senyum tipis yang mengembang.
*****
“Mba, kamu belum pulang?” begitu isi pesan yang di kirim Shafira pada Disa.
Sudah hampir satu jam ia bolak balik mengecek kamar Disa dan sang empunya masih belum terlihat. Ia mondar-mandir di depan pintu kamar Disa dengan wajah cemas sambil menggigiti kuku jarinya.
Kenapa Disa begitu lama membalas pesannya? Apa mungkin terjadi sesuatu padanya di perjalanan pulang?
Perasaan Shafira mulai tidak menentu, ia mencoba menelpon namun tidak aktif. Fix, sesuatu yang tidak beres sedang terjadi.
Ia memutuskan untuk mencari Kinar yang kamarnya terletak paviliun belakang. Mengetuk pintu kamarnya perlahan dan dalam beberapa saat terdengar sahutan dari dalam kamarnya.
“Nona muda? Selamat malam.” Kinar tampak terkejut melihat Shafira yang berdiri di depan kamarnya dengan wajah cemas.
“Mba disa belum pulang, tolong telpon pak daan untuk menjemputnya.” Ujarnya tanpa basa-basi.
“Disa?” Kinar mengulang nama yang diucapkan nona mudanya, sepertinya ia baru terlelap beberapa saat dan masih mengumpulkan kesadarannya.
Shafira mengangguk dengan cepat.
“Oh, maaf nona muda. Tadi tuan muda menelpon, katanya disa menginap disana. Karena terlalu malam untuk pulang sendirian.” Sepertinya Kinar mulai sadar dengan arti ekspresi yang di tunjukkan Shafira.
“Apa dia baik-baik saja? Apa abangku menghukumnya? Kenapa ponselnya tidak aktif?” pertanyaan beruntun itu dilontarkan Shafira dan membuat Kinar mengulum senyumnya.
Sejak kapan nona mudanya begitu peduli pada orang lain dan itu Disa?
“Disa baik-baik saja nona. Dia akan pulang besok malam, setelah membuat makan malam untuk tuan muda. Mungkin ponselnya habis batre sehingga tidak bisa di hubungi.” Kinar berusaha menenangkan Shafira.
“Ya sudah. Jemput dia kalau abang sudah memperbolehkannya pulang.”
“Baik nona.” Kinar mengangguk dengan segera.
Setelah mendapat penjelasan akhirnya Shafira kembali ke kamarnya. Langkahnya terlihat malas. Sebelum berlalu, ia sempatkan untuk menoleh kamar Disa yang pintunya tertutup rapat. Ia menghela nafas dalam, lagi ia merasa kesepian.
Dari pintu kamarnya Kinar memperhatikan Shafira. Beberapa malam ini ia tahu kalau Shafira memang sering menginap di kamar Disa dan mungkin sekarang ia mulai merasakan kehilangan. Dan itu pula yang membuat nyonya rumahnya marah besar hingga memanggilnya ke kamarnya untuk mengomelinya.
Entah ia harus bersyukur atau tidak, dengan menginapnya Disa di rumah tuan mudanya. Yang jelas, paling tidak hal ini sedikit menjauhkan Shafira agar tidak ketergantungan pada Disa yang mengakibatkan nyonya rumahnya selalu meradang.
Bayangkan saja, saat berangkat sekolah, yang di tanyakan Shafira adalah, “Mba disa belum balik dari rumah abang?” saat pulang sekolah, “Mba disa mana, kok belum pulang?” dan dalam setengah hari, entah berapa kali Shafira bolak balik ke dapur dan ruang linen untuk mencari Disa.
Sebenarnya dengan seperti ini keadaan Shafira mulai membaik. Ia tidak lagi murung dan terlihat kesepian namun bagi Liana dan Sigit, hal ini menjadi masalah baru. Mereka tidak suka Shafira terlalu dekat dengan orang-orang kasta terrendah di rumahnya.
Pada bagian ini Kinar harus mengurut dadanya gusar. Semakin lama, rumah ini semakin terasa panas. Sangat berbeda dengan dulu. Andai saja ia tidak terikat janji untuk tetap berada di sini, mungkin ia akan memilih pergi.
Ya, andai saja.
Tiba di kamarnya, Shafira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ranjangnya lebih besar, spreinya lebih tebal dan halus di tambah kelambu tipis berwarna merah muda menempatkannya benar-benar menjadi seorang taun putri.
Namun, ada satu hal yang tidak ia dapatkan jika di bandingkan dengan menginap di kamar Disa. Walaupun sempit hingga tidak bisa leluasa bergerak, selimutnya pun tipis tapi ia tetap merasakan kehangatan. Karena di sampingnya, ada orang yang peduli padanya.
Shafira membalik tubuhnya miring lalu mengusap spreinya perlahan. Sebenarnya, bukan dimana dia berada hingga ia bisa merasakan kehangatan melainkan siapa yang menemaninya melewati rasa sepi. Dan di kamar besar ini, ia tidak mendapatkan hal itu.
*****