
Sebuah mall menjadi tempat yang Kean tuju saat ini. Salah satu mall besar yang berada di jantung ibu kota ini memiliki tenant nasional dan internasional yang menyewanya. Pembeli bebas memilih barang yang mereka cari dengan berbagai brand terkenal baik lokal maupun international. Keduanya hanya masalah selera dan kemampauan dalam menciptakan branding dalam pikiran pembelinya.
“Kita makan dulu.” ajak Kean saat tiba di restoran yang menyajikan menu berbahan dasar pasta. Sudah sangat sore dan ia ingin merayakan hari ini dengan makanan yang sering di sebut sebagai makanan pengibur oleh Disa.
Ia pun memperhatikan langkah kaki Disa yang sepertinya tidak nyaman dengan sepatu high heels yang di pakainya. Maklum saja, ini satu-satunya sepatu yang Disa punya sejak ia masuk kuliah. Walau sepatunya KW dari sebuah brand sepatu terkenal, sepertinya kualitasnya tidak bertahan lama hingga membuat kakinya lecet-lecet dan menyisakan perih.
“Saya sholat dulu tuan.” Tahan Disa saat mereka masuk ke restoran tersebut.
Kean memandangi Disa sejenak, gadis ini selalu saja membuatnya kagum.
“Saya juga akan solat. Kita pesan sebentar, terus solat. Hem?” Kean menunjukkan senyumnya yang tipis namun mempesona.
Disa terangguk lemah, rasanya ia mulai tersihir dengan senyum tuan mudanya yang sangat jarang ia lihat. Biasanya wajah yang ia tunjukkan tanpa ekspresi kalau pun berekspresi, seringnya terlihat dingin. Tapi senyumnya kali ini sedikit menggoda, sedikit senyuman yang disertai dengan tatapan yang hanya pada Disa.
Mereka menuju tempat paling nyaman rekomendasi pemilik resto. Tidak terlalu bising dan nyaman di banding sudut lain. Orang-orang tidak bebas berlalu lalang melewati mereka. Sangat eksklusif.
Kean memesan menu favoritnya dan Disa hanya mengikut saja saat Kean memberikan rekomendasi menu yang katanya enak. Walau nasi padang selalu juara tapi tidak ada salahnya mencoba menu baru di resto dengan harga yang di bandrol cukup mahal.
Setelah memesan makanan, mereka pergi untuk solat. Disa ke tempat wudhu wanita dan Kean ke tempat wudhu laki-laki. Salah satu alasan mengapa Disa suka memakai tote bag, karena di rasa muat membawa barang-barang keperluannya, salah satunya mukena parasit miliknya. Rasanya selalu tenang kalau benda ini ada dalam tasnya.
Suara laki-laki yang iqomah terdengar dari dalam mushola. Disa segera masuk dan memakai mukenanya. Ia tidak boleh terlambat.
Terlihat seorang Laki-laki dengan pakaian yang bertuliskan cleaning service menjadi imam dan tuan mudanya berdiri satu baris di belakang imam tanpa rasa enggan.
Indahnya suasana seperti ini. Tidak ada perbedaan antara si miskin dan kaya. Mereka sama-sama bersujud pada satu pencipta yang sama. Itulah mengapa derajat manusia tidak bisa di bedakan berdasarkan banyak atau sedikitnya kekayaan yang mereka punya.
Ini ibadah yang Disa rasa sangat menenangkan. Selesai mengucap salam ia menoleh tuan mudanya yang duduk bersila di hadapannya. Laki-laki berpostur tegak itu menengadahkan tangannya, entah do’a apa yang ia panjatkan kemudian di tutup dengan amin.
Disa selesai lebih dulu. Setelah memakai sepatunya ia menunggu Kean di depan mushola. Laki-laki itu berjalan menghampirinya dengan jas yang ia sampirkan di lengannya dan dasi yang sudah ia lepas. Rambutnya yang sedikit basah dan wajahnya yang bersih segar membuatnya semakin terlihat menawan.
Disa harus memalingkan wajahnya, tidak baik terlalu lama memandangi seorang laki-laki terlebih itu tuan mudanya. Selalu ada batas yang harus ia jaga agar pikirannya tidak terbawa pada arus yang tidak seharusnya menyeretnya dan membuatnya tenggelam.
“Sudah selesai?” tanya Kean tiba-tiba. Laki-laki itu sudah berdiri di hadapan Disa dengan tampilannya yang lebih santai. Seperti inilah tampilan tuan mudanya yang sebenarnya.
“Sudah tuan.”
“Kamu pergilah ke resto lebih dulu. saya ada urusan sebentar.”
“Baik tuan.” Jawaban singkat itu yang Disa berikan. Ia menurut saja dan membiarkan Kean pergi lebih dulu dari hadapannya.
Sejenak ia termangu memandangi langkah kaki Kean yang panjang dan tegas. Itulah tuan mudanya, laki-laki yang membuat harinya lebih berwarna namun sedikit menakutkan.
Saat bayangan Kean tidak lagi terlihat, Disa kembali ke resto dan menunggu tuan mudanya di sana.
Satu pesan di terima Disa dan pengirimnya adalah Rianti. “Bunda titip salam buat lo. Katanya selamat karena kita masuk 5 besar. See you 2 minggu lagi.”
Disa tersenyum memandangi pesan yang di kirim sahabatnya. Sudah sangat lama Disa tidak bertemu dengan bundanya Rianti. Dulu saat masih berkuliah, bunda Rianti sangat sering menelponnya untuk mengecek keberadaan putrinya. Rianti yang keranjingan game di ponsel, sering kali mengabaikan telpon bundanya dan Disa lah yang kemudian di hubungi oleh wanita itu.
“Wa’alaikum salam… Bilangin makasih sama bunda yaa.. Semoga bunda bisa liat kita di final.” Balas Disa. Semoga saja do'anya terkabul.
Pesan berikutnya di terima Disa dari Nina.
“Sa, selamat ya… Katanya kamu masuk 5 besar. Kami ikut bangga."
"Kami juga liat video kamu dari non fira. Kamu hebat sa.” Tulis Nina dengan emoticon heart di ujung kalimatnya.
Rupanya nona mudanya menunjukkan video yang ia rekam sejak masuk ke dalam ballroom.
Sejak tinggal di rumah tuan mudanya, Disa memang sangat jarang bertemu dengan teman-temannya. Saat ia menemui tuan besarnya pun, Kinar melarang Disa untuk menemui teman-temannya. Rasanya sangat rindu mendengar suara mereka apalagi tawanya. Seperti sebagian bebannya hilang, menguap bersama angin.
“Silakan kak, pesanannya.” Ujar seorang waitress yang membawakan pesanan Disa dan Kean.
“Oh terima kasih.” Sahut Disa.
Ia memandangi gadis muda yang sepertinya baru berumur belasan. Melihat gadis itu membuat Disa seperti melihat dirinya sendiri. Ia tidak sendiri. Banyak gadis lainnya yang bekerja di usia belia. Tentu bukan tanpa alasan. Di masa mereka seharusnya menikmati masa-masa yang katanya paling indah dan bergelora, mereka harus mengesampingkan keinginannya demi sebuah kebutuhan. Kebutuhan akan tuntan hidup agar mereka tetap bisa bertahan melewati hari-hari yang berat.
“Sudah semua ya kak. Apa ada tambahan lain?” Kembali ia menawarkan tambahan.
“Tidak terima kasih.”
Gadis itu pun pergi setelah pamit.
Disa hanya memandangi makanannya. Ia belum mau makan sebelum tuan mudanya datang. Entah kemana perginya sang tuan muda tapi sepertinya ia memang ada urusan penting.
Tunggu, bukankah itu Kean? Barang apa yang ia tenteng di tangan kanannya?”
“Kamu belum makan?” langsung bertanya setibanya di hadapan Disa.
“Belum tuan.” Mana mungkin ia makan lebih dulu dari tuan mudanya.
Kean menaruh sebuah paper bag di lantai kemudian bertekuk lutut di hadapan Disa.
"Apa yang anda lakukan tuan?” bikin terkejut saja. Tanpa aba-aba laki-laki itu malah bertekuk lutut di hadapannya.
Disa melihat ke sekeliling ruangan, beruntung tidak ada pasang mata yang memperhatikan mereka.
“Kemarikan kakimu.” Pintanya tanpa memperdulikan keterkejutan Disa.
Mengapa tuan mudanya jadi sering melihat kakinya?
“Ada apa tuan? Saya,”
Kalimat Disa terjeda saat melihat Kean mengeluarkan sepasang snacker dari dalam paper bag yang dibawanya
“Apa kamu ingin saya melakukan hal ini lebih lama?” tanya Kean dengan tatapan lekat pada Disa.
“Ti-tidak tuan.” Segera menghadapkan kakinya pada Kean. Mana mungkin ia membiarkan tuan mudanya bertekuk lutut begitu lama.
Kean mengambil sekotak plester dari dalam saku kemejanya. Melepas pembungkusnya dan menempelkannya di luka Disa sambil meniupinya perlahan agar tidak terasa perih.
“Tuan,” Disa mencoba menarik kakinya tapi Kean masih memeganginya.
“Tahan sedikit sakitnya.” Lirihnya.
Perasaan Disa tidak karuan melihat sikap tuan mudanya yang bersikap terlalu manis. Bukan karena rasa sakit yang membuat Disa menarik kakinya melainkan ketidak siapannya jika suatu saat ia merasakan sakit karena sesuatu yang tidak bisa di tahannya.
Perasaan berdebar ini, perasaan gugup ini dan perasaan lain yang membuatnya semakin takut.
Terakhir Kean memakaikan sneaker itu pada Disa dan Disa hanya bisa memandanginya tanpa bisa mengucapkan satu patah katapun.
“Jangan lukai kaki kamu lagi.” Kean memulai kalimat yang membuat jantung Disa berdesir. Laki-laki itu memandangi sepasang kaki Disa yang baru selesai ia pakaikan sepatu.
“Jangan juga takut pada rasa manis yang selalu kamu hindari. Saya tahu itu menyiksa.” Beralih menatap Disa dengan laman.
“Karena, saya tidak akan lagi menahan diri untuk melakukan hal-hal seperti ini terhadap kamu.” Tandasnya.
Seketika Disa terkesiap mendengar ucapan Kean. Seperti ada hembusan angin dingin yang menerpa tengkuknya dan mengalirkan rasa damai sampai ke jantungnya. Perasaan macam apa ini, mengapa ia terasa tenggelam dalam tatapan Kean yang laman hingga menyentuh dasar hatinya.
Rasa takut yang semula ia simpan, kali ini terasa berbuah kecemasan. Cemas jika ini perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan. Cemas jika ia tidak bisa menghindar dari sebuah debaran yang membuat aliran darahnya cepat dan menghangat. Dan cemas jika ternyata perasaan ini adalah sebuah kesalahan yang tidak seharusnya ia buat.
Ungkapan macam apa yang di maksudkan tuan mudanya hingga ia cemas dan membuatnya jadi berharap?
Kean tersenyum samar saat melihat Disa yang hanya terpaku. Sepertinya gadis di hadapannya sangat terkejut dengan apa yang ia katakan. Atau mungkin gadis ini sedang berusaha mencerna maksud kalimatnya.
Ia sungguh-sungguh dengan kata-katanya kalau ia tidak akan menahan diri lagi dari perasaannya terhadap Disa. Apa Disa mengerti maksudnya?
Kean beranjak dari tempatnya. Ia menarik kursi untuk duduk di samping Disa.
“Jangan terlalu banyak berpikir. Makanlah makanan penghibur ini.” Cetus Kean kemudian.
Ia menyodorkan satu piring pasta pesanannya untuk Disa. Pasta yang di buat menggulung di tengah piring yang lebar dengan lelehan saus merah di beberapa bagian serta potongan tomat ceri yang di buat terserak serta beberapa lembar daun basil di puncaknya.
Tampilannya yang cantik membuat Disa merasa sayang untuk memakannya. Sesekali ia melirik tuan mudanya yang mulai menyantap makanannya. Ia tersenyum mengekspresikan kepuasannya atas cita rasa yang berkumpul dimulutnya.
“Tuan, bagaimana saya bisa makan? Perasaan saya sangat tidak karuan mengingat apa yang anda katakan."
"Tuan, apa saya sanggup berada di atas perasaan yang asing ini?” batin Disa tanpa mengalihkan pandangannya dari Kean yang berada di sampingnya.
Terasa tidak adil. Ya tidak adil, karena ia merasa takut, bingung dan bahagia di waktu bersamaan.
*****
Di dalam kamarnya Disa berbaring seraya memeluk guling yang selalu menemaninya. Perasaan resah yang ia rasakan sedari tadi, sangat sulit hilang walau ia berusaha untuk tidak membayangkan apa yang terjadi sore ini.
Sayangnya, bayangan wajah Kean terlalu sulit untuk ia hapus dari ingatannya. Terlebih kata-katanya yang membuat Disa mulai berfikir banyak.
Bohong kalau ia bilang ia tidak mengerti apa yang tuan mudanya katakan. Ia Wanita dewasa yang cukup bisa mencerna kata-kata manis yang diucapkan oleh seorang laki-laki. Yang menjadi masalah adalah siapa yang mengatakan kalimat manis itu. Tuan mudanya, ya itulah masalahnya. Hal manis itu di katakan Kean di saat ia sudah bertekad untuk tidak masuk ke dalam masalah pribadi Kean. Tapi keadaan malah membuat ia menjadi tokoh utama di cerita ini.
Ia kembali mengingat apa yang terjadi di perlombaan tadi. Saat pikirannya buntu tanpa ada ide tapi kemudian ia melihat wajah seseorang yang memandanginya dari kejauhan. Tiba-tiba saja inspirasi itu muncul. Seperti deburan ombak yang menghantam kakinya, meski ia kembali ke lautan lepas, ia tetap menginggalkan jejak basah dan sejuk di kulitnya.
Harus ia akui kalau inspirasi itu muncul saat ia melihat Kean.
Kalimat Kean malam itu seolah menjadi keberanian baru bagi Disa. “Tapi kamu percaya kan, kalau kematian itu di tangan tuhan, bukan di tangan pelukis?” tanya Kean waktu itu.
Sebuah ketakutan yang selalu menghantui Disa tiba-tiba muncul di benaknya. Melukis wajah seseorang selalu menjadi hal yang menakutkan bagi Disa. Ia takut jika wajah seseorang yang ia lukis, suatu saat orang itu akan pergi meninggalkannya, seperti mendiang kedua orang tuanya.
Salahkah rasa takut itu? Tidak.
Tapi perkataan Kean benar, kepergian seseorang itu di tangan tuhan, bukan di tangan pelukis.
Seperti mendapat kekuatan baru yang membuat Disa berani memulai semuanya. Maka Disa membuat karya itu.
Motif yang ia buat diibaratkan sebuah labirin dalam pikiran seorang laki-laki yang kadang membuatnya merasa terjebak namun ia menikmati saat memecahkan teka-teki labirin untuk berusaha keluar dan merasakan kebebasan.
Tunggu, Ia bukan terjebak. Ia bukan tidak menemukan arah. Tapi ia mulai menemukan ketertarikan saat ia berusaha memecahkan teka-teki yang dihadapinya dan itu tentang tuan mudanya.
Apa yang Kean lakukan selalu membuatnya mengernyitkan dahi. Apa yang kean katakan selalu membuatnya berfikir. Hingga tanpa sadar ia mulai menyukai proses memahami pikiran laki-laki itu.
Sayangnya, ia hanya bisa menikmati keindahan siluetenya dari kejauhan. Ia hanya bisa melihat sosok itu dari batas yang ia buat. Seperti sebuah pilihan, mana yang lebih menyenangkan. Masuk ke dalam labirin dan membuatnya terjebak atau memandangi dari kejauhan dan ia bisa melihat keindahan itu?
Disa kembali membalik tubuhnya. Pandangannya kali ini tertuju pada sneaker yang ia taruh di dekat pintu. Warnanya putih dengan tali yang mengandung butiran glitter berwarna perak. Ia mengigit telunjuknya sendiri saat debaran itu kembali ia rasakan.
“Tuan, sepertinya saya tidak bisa menghindar untuk tidak berfikir banyak.” Batin Disa yang memejamkan matanya, berusaha mengusir bayangan Kean yang malah semakin nyata.
Sungguh perasaan asing ini membuatnya gelisah dan memberi sapuan sayap kupu-kupu yang memberinya sensasi yang berbeda pada perasaannya.
"Ini sudah di luar batas Disa. Jauh di luar batas yang kamu buat."
Di tempat lain, keresahan yang sama di rasakan Kean. Ia masih berfikir, bagaimana bisa gadis itu hanya termangu setelah mendengar kata-kata yang susah payah ia rangkai?
Apa ia tidak mengerti? Apa bahasa Kean terlalu baku? Atau mungkin terlalu gombal?
Aargh! Kean menguyar rambutnya dengar kasar, masih belum menemukan arti yang pas dari ekspresi yang di tunjukan Disa.
Ia duduk berjongkok di atas tempat tidurnya seraya memeluk kedua kakinya yang terlipat di depan dada. Apa yang harus ia lakukan agar Disa paham maksud perkataannya?
Apa gadis itu benar-benar tidak paham atau hanya pura-pura tidak paham?
Kenapa begitu sulit untuk memahami sikap Disa yang begitu hati-hati dengan perasaannya?
Apa mungkin gadis itu tidak merasakan apa yang ia rasakan? Mungkin hanya ia sendiri yang tenggelam dalam gejolak perasaan yang mulai tidak bisa di tahannya. Serumit ini kah jatuh cinta?
****