Marry The Heir

Marry The Heir
Percaya pada kemampuan



Aura itu kembali terasa, aura persaingan di di dalam ruangan tempat Disa mengikuti kontes bakat mencari seorang desainer muda. Kawan bisa menjadi lawan dengan cepat walau hanya sebatas perlombaan saja. Selain itu, suasana bertambah tegang karena challenge di babak 5 besar ini baru akan di sampaikan sekarang, saat mereka sudah berada di atas panggung.


Mungkin saja tantangan kali ini bukanlah hal yang Disa kuasai.


Disa berdiri di samping Rianti yang sama-sama merasakan ketegangan. Tidak terpikirkan sama sekali ujian apa yang akan mereka hadapi.


Para pendukung kontestan sudah memenuhi ruangan membuat atmosfer ruangan terasa semakin panas dan mendebarkan. Nama kontestan di teriakkan bersahutan sementara, hanya ada satu pendukung setia Disa yaitu Damar yang duduk di belakang.


Masih ia ingat saat tadi tiba di hotel dan lobby sudah sangat ramai oleh pendukung para peserta. sementara mereka hanya berdua, turun dari motor Damar yang di parkirkan di belakang sana.


“Mong kita cuma berdua loh. Mereka pada bawa supporter banyak banget.” Takut-takut Disa melirik supporter lawannya yang sudah membawa berbagai media untuk menyemangati jagoan mereka.


“Kan yang lombanya juga cuma lo doang. Ngapain banyakan supporter segala. Ini bukan kontes dangdut, lo butuh fokus, jangan dengerin teriakan mereka."


"Mereka yang teriak-teriak tuh begok, gak tau kalo ngegambar dan desain itu butuh ketenangan. Dipikir sepak bola.” Damar jadi ikut kesal melihat pendukung kontestan lain yang terkadang sedikit barbar. Ia tahu gara-gara mereka semangat Disa jadi mengendur.


“Iya sih.”


Benar juga yang Damar katakan. Mendesain itu butuh ketenangan, suasana hening. Babak kemarin saja fokus Disa hampir buyar saat banyak teriakan nama saingannya apalagi sekarang, tantangannya tentu semakin besar.


Pemikiran Damar sepertinya sama dengan panitia lomba. Para supporter di larang membawa masuk atribut mereka. Mereka bahkan di minta tenang selama perlombaan berlangsung. Hanya boleh berreaksi setelah perlombaan selesai atau saat pengumuman pemenang.


“Apa gue bilang!” seru Damar dengan bangga.


Dan kali ini, ia duduk di kursi belakang melihat penampilan Disa di atas panggung.


“Selamat datang kembali di kontes desain ke 18.” MC melanjutkan kalimatnya setelah pembukaan ceremonial dari beberapa pihak.


“Saya akan membacakan ketentuan perlombaan di babak 5 besar ini. Apa para kontestan sudah siap?”


Melihat satu per satu wajah tegang dan dingin di hadapannya. Hanya Amel yang terlihat selalu ceria dan penuh rasa percaya diri. Satu hal yang harus Disa contoh dari wanita ini, apapun kondisinya, percaya diri saja dulu.


“Siap!” mereka terangguk bersamaan.


“Baik, mari kita beri tepuk tangan dulu untuk para kontestan agar tidak terlalu tegang.”


Seisi ruangan di penuhi suara tepukan dan panggilan nama untuk menyemangati mereka, membuat suasana tegang sedikit mencair.


“Di babak ini, kami telah menyiapkan model sekaligus juri yang akan dilibatkan langsung dalam perlombaan ini. Setiap kontestan akan di minta mengambil satu nama secara acak dalam bowl undian ini. Nama model yang di pilih, akan menjadi partner-nya dalam melanjutkan perlombaan.”


“Setelah mendapatkan satu nama, kontestan akan di minta untuk membuat tiga desain baju untuk modelnya. Formal, non formal dan satu desain khusus untuk sang model yang memiliki penilaian tertinggi.”


“Penilaiannya diberikan langsung oleh sang model juga juri lainnya. Untuk 3 peserta dengan skor penilaian tertinggi akan masuk ke babak final.”


“Jadi silakan untuk mengambil undian nama model yang akan menjadi partner sekaligus juri kalian.”


Disa dan kontestan lain bergiliran mengambil undian dalam bowl. Masing-masing sudah memegang satu nama model yang akan menjadi partner-nya.


“Baik, hitungan ketiga, kita buka sama-sama nama yang ada di kertas yang di pegang oleh kontestan.”


Suasana mendadak tegang. Para juri sekaligus model, ikut naik ke atas panggung. Hitungan di mulai dan suasana semakin riuh bercampur tegang.


Satu nama tertulis di kertas Disa dan ia tunjukkan pada MC. Menghela nafasnya dalam Ia harus sudah sangat siap ber-partner dengan siapapun.


“Baik ini dia, pasangan desainer dan sang model yaitu: Amelia pramesti dengan Corry anela, Rianti putri dengan Angela pamela, fuji kamila dengan Marisa, Teguh Mulyana dengan Lestari dan paradisa sandhya dengan clara davina.” Seru MC dengan sangat cepat, seperti tanpa terjeda nafas.


Disa terhenyak di tempatnya, ia tidak menyangka kalau model yang akan menjadi partner-nya adalah Clara.


Penonton bertepuk tangan memberi semangat. Para model menghampiri desainernya masing-masing tidak terkecuali Clara.


Disa berusaha tersenyum saat tubuh jangkung Clara berdiri di sampingnya. Jantungnya berdebar sangat kencang, entah Clara bisa di ajak bekerja sama atau tidak.


Clara memilih memalingkan wajahnya saat Disa berusaha ramah padanya. Sudahlah, sebelum menyapa Clara, Disa harus menenangkan dirinya lebih dulu.


Entah harus bersyukur atau harus bersedih mendapat Clara sebagai partner-nya. Di satu sisi, ia merasa senang karena idolanyalah yang menjadi partner-nya namun di sisi lain ia merasa cemas, tentu saja Disa sangat sadar kalau Clara tidak menyukainya. Kerja sama mereka mungkin akan sulit dan memberi banyak hambatan. Namun ia tidak punya pilihan lain, selain mengesampingkan pikirannya dan fokus pada perlombaan ini.


Masing-masing peserta di berikan kesempatan untuk berbincang dengan modelnya. Tujuannya agar masing-masing desainer bisa mengenal lebih dekat dengan modelnya agar bisa menghasilkan karya yang terbaik. Waktu mereka tidak banyak, hanya 2 jam saja dan karya mereka harus segera di kumpulkan untuk dinilai langsung oleh sang model dan tentu saja juri lainnya.


Di restoran saat ini Disa dan Clara berada. Wanita cantik itu masih sibuk dengan ponselnya sementara Disa bingung sendiri harus memulai perbincangan dari mana. Sesekali Clara menerima telpon, membuat panggilan seperti sengaja menghindar untuk berbicara dengan Disa. Sesekali juga ia di sapa oleh beberapa orang yang mengaku fansnya dan minta berfoto.


Disa hanya bisa menunggu, menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Clara.


“Kenapa lo gak mulai gambar? Yang lain udah mulai ngedesain.” Sinis Clara saat kesempatan untuk berbicara itu benar-benar ada.


Acuh tak acuh kesannya, karena mau Disa menang atau kalah, tidak ada urusan dengannya. Tidak akan menyesali apapun.


“Em, bisa kita fokus berbincang sebentar sebelum saya mulai membuat desain?” Disa berusaha membuka pembicaraan agar lebih santai. Targetnya saat ini hanya satu, yaitu mengenal Clara.


“Lo mau ngajak gue ngobrol sampe kapan? Waktu lo cuma 2 jam.” Model cantik itu mengeluarkan rokok dan koreknya dari dalam tas, mungkin ini salah satu pengalihan Clara dari rasa bosannya berhadapan dengan Disa.


“Saya perlu mengenal clara, supaya bisa membuat desain yang pas.”


Disa beralasan apa adanya. Ia memang lebih suka mengenal terlebih dahulu siapa orang yang akan mengenakan baju rancangannya kelak sebelum membuat desain dengan dasar perkiraan.


“Ow tunggu.” Clara menatap Disa sejenak, dingin dan sinis. Ia membuang sekar rokoknya di asbak, seperti ada yang ingin ia katakan dan sedang ia pikirkan.


“Gue gak suka lo megang-megang gue, semisal ngukur badan gue. Gue bakal ngasih lo ukuran bagian badan gue yang akan di ukur langsung sama assisten gue. Lo cukup sebutin bagian apa yang mau lo tau ukurannya.”


Belum memulai pekerjaan, Clara sudah membuat batasan. Tidak menyentuh modelnya, tentu saja sebuah tantangan yang sangat besar. Padahal ia selalu ingin memastikan ukuran yang pasti dengan tangannya sendiri. Bagaimanapun, hasil pengukurannya dengan pengukuran orang lain terkadang berbeda.


“Gimana?” Clara membuyarkan lamunan Disa yang sedang memikirkan bagaimana ia mendesain nanti.


“Em tapi, gue juga gak yakin lo masuk 3 besar sih. Terakhir gue liat desain lo yang di pake sepupunya reza, terlalu payah buat gue. Gak special. Gue gak akan mau pake desain yang asal-asalan.” Kalimat sarkas itu yang kemudian di dengar Disa.


Disa hanya tersenyum, anggap saja ini ujian ia untuk naik satu tahap lebih kuat.


Percayalah, tidak ada kesulitan tanpa sebuah penyelesaian.


Benar yang Clara katakan, belum tentu ia masuk tiga besar dan bisa menjahitkan baju yang kelak di kenakan Clara.


Tapi ini tahap awal, ia harus berusaha sebaik mungkin di tahap ini. Hasilnya, biar juri yang menentukan.


“Tapi sebagai gantinya, clara tolong jawab pertanyaan saya apa adanya. Tapi ada manipulasi ataupun yang di sembunyikan.” Harus ada pertukaran yang adil pikir Disa.


“Sial! Lo pikir gue tukang bohong!”


Wanita cantik itu meniupkan asap rokoknya ke wajah Disa membuat Disa harus menahan nafas dan mutup matanya agar tidak perih. Melihat respon Disa, Clara hanya tersenyum sinis. Kuat juga wanita ini menerima perlakuan kasarnya.


“Lo mau nanya apa?” mematikan rokok yang satu dan menyalakan rokok lainnya. Seperti kereta api ternyata kalau Clara sedang tidak merasa nyaman.


“Mba clara hobinya apa?” pertanyaan sederhana itu yang di tanyakan Disa pertama kali.


“Ha.. Hahahaha… Lo gak salah malah nanya hobi gue? Lo desainer apa wartawan? Hahaha…” mendengar pertanyaan Disa, Clara malah tertawa. Hingga terpingkal-pingkal. Baru kali ini ada desainer yang bertanya hobinya. Amatir sekali pikirnya.


“Dimana-mana yang di tanyain calon desainer baru kayak lo ini adalah, brand favorit gue apa? Desainer idola gue siapa? Baju rancangan siapa yang sering gue pake. Itu! Bukan malah nanya hobi. Aneh lo!” Clara kembali tertawa dengan nikmat lantas menghisap rokoknya dan kembali membuang asapnya. Kali ini sedikit menjauh dari Disa.


“Ya, mungkin pertanyaan saya sedikit random, tapi tidak salah bukan? Sejak awal, saya hanya meminta clara untuk menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Tidak masalah kalau clara mau tertawa, itu lebih baik supaya saya tidak merasa tegang. Tapi, tolong jawab pertanyaan saya.” tutur Disa yang berusaha tenang.


Satu hal yang harus ia lakukan sekarang, menahan diri untuk tidak terpancing oleh sikap Clara.


“Ya okey! Lo ngeselin juga ya lama-lama.” Clara mematikan batang rokoknya walau belum habis ia hisap.


“Lo mau tau hobi gue?” mengulang pertanyaan Disa dengan tatapan mengintimidasi.


“Ya.” Sahut Disa pendek.


“Em, gue gak punya hobi yang khusus. Hobi gue sama dengan cewek lainnya, jalan-jalan, shopping, liburan, ngehadirin event, berjalan di catwalk. Ya apalagi?” sahutnya enteng.


Disa mengangguk paham. Ia mulai mengambil pensilnya yang ia genggam dengan santai.


“Kita beralih ke pertanyaan cepat. Pilih yang paling clara sukai tidak perlu memberi alasan.” Disa mengganti metodenya.


“Pertanyaan apalagi? Udah kayak mentalist aja lo.” Lagi Clara tersenyum sarkas.


“Heels atau flat shoes?”


“Heels!”


“Gaun atau celana jeans?”


“Gaun!”


“Anak-anak atau orang dewasa?”


“Ini apaan sih?” Clara mulai protes dengan pertanyaan Disa. Bagi dia ini terlalu random dan tidak berdasar.


“Clara hanya perlu menjawabnya.” Tegas Disa.


“Ya udah, anak-anak!” kesal dan terpaksa.


“Rambut di ikat atau rambut di gerai?”


“Di gerai?”


“Bibir atau mata?”


“Bibir!”


“Punggung atau pinggang?”


“Punggung!”


“Lalu alasan clara mendirikan Yayasan model?”


Baru mulut Clara akan menjawab, harus kembali mengatup. Pertanyaan Disa kali ini tidak bisa ia jawab dengan spontan.


“Ya karena gue suka modeling lah! Pengen liat lebih banyak juga wanita-wanita cantik yang suka modeling. Apa lagi?” ini jawaban paling jujur dari Clara.


Dulu ia memang ingin mendirikan Yayasan modeling sebagai pengalihan dari tekanan yang di berikan ayahnya. Namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat suka saat bisa berkumpul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama juga hobi dan kecintaan yang sama. Terbiasa hidup di dunia yang homogen, seperti itulah Clara.


Ia tipe yang saat ia menyukai sesuatu, ia akan terus menyukainya dan menjalaninya dengan tekun. Itu juga alasan ia mengapa memilih sekolah modeling di banding sekolah bisnis di luar negri.


“Baik, terima kasih atas jawabannya.” Ujar Disa kemudian.


“Udah? Segitu aja?” Clara menatap tidak percaya pada gadis di hadapannya.


Tidak habis pikir, bagi Clara hal random apa yang dilakukan Disa yang hanya membuang waktunya percuma. Padahal waktu mereka tidaklah banyak.


“Iya. Saya akan mulai mendesain, kalau clara ada keperluan lain, silakan.” Disa mengakhiri pembicaraannya.


“Ish, lo aneh ya!” Ia beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Disa yang masih terduduk dengan tenang.


“Awas ya kalo lo bikin desain aneh kayak kelakuan lo! Gue gak bakal ngasih lo nilai. Gue bikin minus sekalian.” Ancamnya dengan mata menyalak.


“Saya akan memberikan desainnya nanti. Semoga saya tidak mengecewakan Clara.”


“Ish!” Clara hanya mendesis. Kesal juga melihat gadis yang ia intimidasi malah tenang-tenang saja.


“Dia mau bikin desain macam apa coba. Pikirannya aneh gitu.” Gumamnya dengan kesal.


Benar juga, kira-kira Disa bikin desain apa ya yang cocok untuk Clara?


****