Marry The Heir

Marry The Heir
Terpeluk



Waktu yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Pengumuman siapa yang lolos ke babak selanjutnya menjadi moment yang paling di tunggu oleh semua kontestan perlombaan ini.


Peserta di minta masuk ke dalam ballroom dan bersiap mendengar pengumuman. Mereka berbaur dengan keluarga dan supporter masing-masing. Harap-harap cemas menunggu pengumuman apakah nama mereka akan di sebut sebagai salah satu kontestan yang lolos atau tidak.


Tangan Disa sudah sangat dingin. Ia menggenggam tangan Shafira yang duduk di samping kirinya. Sementara di samping kanannya ada sang tuan muda yang duduk tegak dengan ekspresi dinginnya. Lama sekali MC itu berbicara ngalor-ngidul membuat suasana semakin tegang saja.


“Ish lama banget sih nih ngumuminnya. Aku ambil juga mic tuh MC!” Shafira menggerutu kesal.


Menunggu penuh ketegangan itu tidak nyaman. Antara ingin buang air kecil, buang air besar dan perut melilit tidak karuan.


Saat ini, rasa penasarannya sudah sampai di ubun-ubun.


Gerutuan Shafira itu ternyata mewakili perasaan Kean yang ikut tidak sabar. Benar adanya kalau prolog yang terlalu panjang kerap membuat penantian semakin menyiksa. Sementara Disa, harap-harap cemas dalam hati. Ia sudah bertekad apapun hasilnya, ia yakin ini yang terbaik. Sekalipun ia tidak lolos, ini akan menjadi pengalaman berharga untuknya.


“Di tangan saya, sudah ada hasil vote dari para juri. Dimana ada 5 desain yang akan menjadi tiket bagi kontestan untuk masuk ke lima besar."


"Salah satu desain mendapat vote maksimal. Wow! Ini sejarah baru selama lomba desain, dimana ada desain yang di pilih oleh semua juri.” Ungkap sang MC dengan bangga.


Terlalu muluk-muluk kalau Disa berharap desainnya di pilih oleh 7 juri. Menjadi salah satu yang masuk ke babak selanjutnya saja sudah rejeki yang tidak terkira.


“Karya yang pertama menjadi pilihan juri adalah, desain Morning view in bali, oleh Amelia pramesti!”


Nama pertama di sebut dan di sambut gemuruh sorakan dari pendukung Amel. Gadis berpostur bak model itu terlihat sangat bahagia. Ia langsung berlari ke atas panggung dan mendapat ucapan selamat dari MC.


Rianti menoleh Disa yang duduk di belakangnya. Ia mengacungkan ponselnya agar Disa membaca pesannya.


Kebiasaan Rianti masih belum berubah, saat ada sesuatu yang ingin di gosipkan, pasti lewat pesan.


“Noh, troublemaker kita waktu ke bali. Happy banget dia!” tulis Rianti yang mengingatkan Disa pada kejadian setahun lalu.


Disa tersenyum tipis, ia jadi ingat waktu Amel hilang di bali dan ternyata ia teler di sebuah club. Itu pengalaman Disa pertama kali ke pulau Dewata dan malah mendapat masalah dari dosennya karena teman sekamarnya hilang dan mengharuskan mereka mencari semalaman. Sudah setahun berlalu kejadian itu tapi rasanya baru kemaren.


“Kapan yaa kita ke bali lagi?” balas Disa. Ia lebih senang mengingat moment seru saat ia menemui pengrajin kain di bali. Banyak ilmu berharga yang ia dapatkan, tentang menenun, menggambar motif di kain dan hal menarik lainnya yang di miliki pengrajin kain di Bali.


Kean yang duduk di samping Disa, sedikit mengintip apa yang Disa lakukan. Bisa-bisanya di saat tegang begini ia malah berkirim pesan. Tunggu, tangan-jangan dari sepupu gondrongnya, ia mulai paranoid. Tapi saat melihat nama pengirim pesannya adalah Rianti, ia bisa menghela nafas lega.


Hah bikin was-was saja.


“Karya berikutnya adalah dengan tema, Kiss the sun oleh fuji kamila.” Keriuhan lain terdengar di sudut kiri. Seorang wanita berkulit putih menunjukkan senyum lebarnya saat naik ke atas panggung.


“Fiuh… Aku gugup mba disa.” Shafira meremas tangan Disa yang di genggamnya. Disa yang berlomba tapi jantung Shafira yang kemping kembung.


“Saya juga, hehhe..” Disa tersenyum samar. Jangan di tanya lagi perasaannya.


Kalau di gambarkan, seperti sedang ada badai yang bergemuruh di dada dan pikirannya. Dan mencoba tenang itu bukan perkara mudah walau sudah berulang kali mengatur kedalaman dan ritme nafas.


“Berikutnya, Couple oleh Rianti Wiratmaja.” Kali ini nama Rianti yang di sebut. Gadis itu melonjak girang dan segera berlari ke arah panggung.


“Itu teman saya tuan.” Aku Disa. Ia ikut bangga atas Rianti. Saat Rianti sudah di atas panggung ia melambaikan tangannya pada Disa dan Disa ikut bertepuk tangan, rasanya ia ikut bahagia.


Kean tersenyum tipis melihat ekspresi Disa. Tulus sekali gadis ini. Senyumnya yang polos namun dapat membuat sudut bibirnya ikut melengkungkan senyum.


“Wah rupanya di dominasi perempuan yaa…” sang MC memperhatikan ketiga kontestan yang semuanya wanita. Mereka masih menebar senyum dengan rasa bahagia yang membuncah.


“Tapi tenang, kali ini ada kontestan laki-laki yang masuk ke babak selanjutnya. Selamat, Teguh Mulyana dengan Gemintang.” MC menyebut nama seorang laki-laki yang berseru tidak kalah heboh dari kontestan wanita. Ia melambaikan tangannya dengan elegan ke arah penonton dengan senyum terkembang.


Kesempatan Disa semakin tipis. Perasaannya mulai tidak nyaman. Sepertinya ia harus bersiap kalau ia tidak masuk ke babak selanjutnya.


“Satu lagi kan? Semoga perempuan!” seru Shafira yang tidak sabar menunggu pengumuman berikutnya.


Orang-orang menoleh ke arah Shafira, ternyata nona muda ini bisa bar-bar juga kalau gugup. Suaranya begitu lantang hingga mengundang tawa orang lain.


“Ada yang gak sabar nih.” Goda MC membuat wajah Shafira berubah merah. Karena tidak kontrol ia jadi malu sendiri.


“Baik, saya tidak akan menyebutkan gender. Yang jelas, karya dari kontestan ini di vote oleh semua juri. Saya pribadi, pasti akan merasa sangat terhormat kalau diberi kesempatan untuk memakai kaos yang beliau desain. Kira-kira siapa? Ada yang bisa nebak?” pancing MC mengarahkan microphone-nya pada penonton. Gayanya sudah seperti penyanyi dangdut saja.


Masing-masing supporter meneriakkan nama kontestan yang mereka dukung. “Disa! Disa! Disa!” Shafira ikut berteriak berharap nama itu benar-benar di panggil oleh MC.


Melihat semangat Shafira yang berteriak seorang diri membuat sudut hati Disa terrenyuh. Keras sekali usaha yang di lakukan Shafira untuk mendukungnya. Jika ia gagal, mungkin bukan hanya ia yang akan kecewa. Tapi juga gadis cantik di sampingnya.


Disa pun menoleh Kean yang berada di sampingnya. Ia masih duduk sedikit lebih tegak. Ekspresi wajahnya yang datar, membuat Disa tidak bisa menebak seperti apa perasaan tuan mudanya. Apa ia merasakan kegugupan yang sama?


Suasana yang tegang membuat para supporter dan kontestan mulai tidak tenang. Mereka berdiri agar suara mereka terdengar lebih lantang melawan keriuhan supporter lain.


“The last but the best, Silluete oleh Paradisa Sandhya!” seru MC.


“Hah, belum beruntung mba disa. Sabar yaa…” ucap Shafira seraya mengusap punggung Disa. Menyesal sekali nama Disa tidak di sebut.


“Iya non, mungkin belum rejeki.” Disa hanya bisa menghela nafas kecewa.


“Hey, kalian ngapain?! Itu karya kamu sa!” seru Kean yang tersadar seorang diri.


Apa-apaan dua orang ini, giliran tadi pucat tegang dan teriak-teriak giliran namanya di sebut malah terdiam.


“Hah?” seru Shafira dan Disa bersamaan.


“Saya tuan?” Disa tidak percaya.


“Silakan, untuk Paradisa Sandhya, kita tunggu di panggung. Desain kaosnya menjadi desain terbaik hari ini.”


“AAAAAAAA!!!” Shafira dan Disa berteriak bersamaan. Mereka baru sama-sama sadar setelah nama Disa di panggil untuk kedua kalinya. Sampai lupa nama sendiri, astaga.


Mereka saling berangkulan.” Selamat mba disaaaa…” seru Shafira yang terlihat ikut bahagia.


“Makasih non.” Timpal Disa. Ia sangat bersyukur karena tidak membuat wajah cantik ini muram kecewa.


Tanpa sadar, setelah melepas pelukan Shafira, ia beralih memeluk Kean.


“Selamat ya.” Bisik Kean yang tetap berusaha tenang. Ia mengusap punggung Disa perlahan, mencoba mengungkapkan rasa bangganya pada gadis dalam pelukannya.


Seketika, suaranya membuat Disa tersadar dan Shafira yang ada di sampingnya hanya mesem-mesem.


“Astaga! Maaf tuan.” Seru Disa saat ia tersadar. Saking senangnya Ia refleks memeluk Kean dan yang di peluk terima-terima saja. Bahkan tersenyum senang. Jujur ia pun terkejut tapi tidak salah kan kalau ia menikmatinya?


“Wah rupanya berkat dukungan orang terkasih inspirasinya jadi begitu indah.” Goda sang MC.


Saat Disa menoleh ternyata banyak pasang mata yang memandanginya. “Astaga malu bangeett.” Gumam Disa yang segera turun dan menunduk menutupi wajahnya. Semoga saja wajahnya yang merah tidak terlihat oleh orang-orang yang melihat ke arahnya.


Di tempatnya, Kean pura-pura acuh. Memasang wajah dingin agar orang-orang tidak berani berkomentar. Tanpa mereka tahu, ada ledakan-ledakan kecil di dadanya saat mengingat pelukan Disa tadi. Hah, sangat menggetarkan.


“Kaku lo bang!” ledek Shafira yang mencibir sikap diam Kean. Yang di ledek malah memandangnya tajam membuat Shafira dengan cepat merubah ekpsresinya dari cengengesan jadi serius. “Canda!” imbuhnya sambil membuang muka. Ia tidak kuat terus-terusan di tatap dingin oleh kakaknya. Ternyata abangnya memang tidak bisa di ajak bercanda.


“Mba disa lucu banget! Paling mungil tapi paling cantik.” Shafira berusaha mengalihkan perhatian Kean. Sedari tadi kakaknya terus menekuk wajahnya setelah ia ledek. Dan berhasil, Kean langsung mengalihkan fokusnya pada Disa.


Dalam hatinya ia tersenyum, gadis itu memang lucu. Mungil tapi cantik. Kean mengakui dalam hatinya.


Melihat ekspresi Kean yang mulai kendur kesalnya, Shafira tertawa dalam hati. Sepertinya ia mulai tahu satu hal baru tentang abangnya.


"Oh jadi gitu cara kerjanya." batin Shafira yang sesekali melirik ekspresi Kean.


******


Ia dan Kean langsung memburu ke tempat ini agar lebih mudah menemukan Disa di antara banyaknya orang.


Beberapa wartawan media cetak dan elektronik juga hadir. Bukan hanya karena acaranya yang memang sangat bagus melainkan karena ada sang model, Clara Davina. Ia seperti poros sensasi saat karirnya sedang naik.


Saat ini clara masih di wawancarai oleh beberapa wartawan, di minta komentarnya tentang acara ini.


“Makasih non fira.” Timpal Disa yang masih tidak menyangka kalau desainnya membawa ia ke babak selanjutnya.


“Mba disa dapet ide dari mana? Kok keren gitu sih? Kalo aku gak salah liat nih, dari jauh keliatan kayak muka cowok, kok bisa sih?” Shafira masih belum percaya dengan karya yang di buat Disa. Terlalu keren menurutnya.


Motif yang di buat dengan teknik yang cukup sulit itu ternyata bisa memiliki arti saat di buat oleh tangan yang tepat. Jika di perhatikan dengan seksama, pantas saja temanya Silluete.


“Em, idenya…” jujur Disa bingung kalau harus menjawab idenya berasal dari mana. Semuanya muncul begitu saja tanpa sempat ia pikirkan sebelumnya.


“Tapi itu bukan muka kakak-kakak yang gondrong tadi kan? ganteng sih, tapi kayaknya bukan deh, soalnya gak ada motif yang menunjukkan kalau itu rambut gondrong.” Shafira yang bertanya dan ia juga yang menjawab.


Sementara Disa hanya terdiam, sesekali melirik Kean yang sedang asyik dengan ponselnya. Ia tahu, laki-laki itu pun menyimak perbincangannya dengan Shafira.


Melihat Disa yang kikuk, sepertinya Shafira harus menyudahi introgasi singkatnya pada Disa. Sebenarnya ia hanya iseng bertanya tapi lagi ia menemukan sesuatu yang tidak di sangka.


“Udah sore, aku duluan ya mba disa.” Melihat jam yang melingkar di tangannya.


“Mau kemana non, kita gak pulang bareng aja?”


“Em nggak lah. Aku ada janji sama temen-temen buat latihan.” Kilahnya. “Bang, fira duluan ya! Nitip mba disa.” Serunya pada Kean. Ia menepuk bahu Disa sebelum akhirnya berjalan mundur menjauh dari Disa. ia mengacungkan kedua ibu jarinya pada Disa dengan senyum terkembang.


Setelah Shafira pergi, barulah Kean memasukkan ponselnya ke dalam saku. Walau anak kecil itu berusaha santai, tapi Kean tidak bisa sesantai itu. Melihat wajah Shafira selalu ada rasa kecewa yang tiba-tiba ia rasakan. Maka ia memilih untuk acuh. Mungkin seiring berjalannya waktu, ia akan terbiasa dengan kehadiran anak iseng itu. Kita lihat saja.


Satu hal yang Kean akui, dia terlalu iseng. Semua yang ia katakan dan tanyakan seperti ujian untuk mengetest kepekaan Kean dan Disa. Kean menyadari benar hal itu dan berusaha untuk berrespon biasa. Jangan mudah tertebak, apalagi orang lain selain Disa. Hantaran sinyalpun harus jelas arah bacanya, seperti isyarat yang mulai ia tunjukkan pada Disa.


Melihat Disa yang termangu seorang diri, Kean segera menghampiri.


“Mau pulang sekarang?” tanya Kean yang merubah ekspresinya di banding saat ada Shafira tadi. Lebih tenang dan santai.


“Iya tuan.” Timpal Disa.


Kean menyodorkan tote bag yang tadi di tinggalkan Disa. Entah mengapa gadis ini suka sekali menggunakan tote bag di banding tas kekinian yang biasanya di gandrungi para Wanita.


“Terima kasih tuan.”


Kean hanya mengangguk. Mereka berjalan berdampingan menuju lift untuk turun ke basement. Walau tidak ada mural bikinan Disa, Kean sudah mulai terbiasa menggunakan ruangan persegi ini.


Masuk ke dalam lift yang hanya memuat mereka berdua. Selama lift itu turun mereka hanya saling terdiam. Disa masih malu kalau mengingat saat tiba-tiba ia memeluk Kean. Dan Kean memandangi Disa yang terlihat canggung dari pantulan dinding lift. Sihir apa yang gadis ini miliki hingga ia terlihat begitu menarik pandangan matanya.


“Kean!” seru Clara saat melihat Kean keluar dari lift. Ia bersama Marcel yang berjalan menuju mobilnya.


“Claire.” Kean berusaha ramah walau di samping Clara ada Marcel.


Ia masih malas sebenarnya bertemu dengan laki-laki ini. Emosinya masih mendidih saat mengingat apa yang Marcel lakukan pada Disa. Kalau saja Clara tidak memohon agar tidak memperpanjang masalah ini, mungkin ia sudah memberi Marcel pelajaran.


“Lo dateng buat dia?” Clara menunjuk Disa dengan sudut matanya. Sikapnya masih angkuh seperti biasanya. Sepertinya ini trah multak yaang dimiliki Clara sejak lahir.


“Hem.” Hanya itu sahutan Kean.


“Luang banget waktu lo sampe dateng buat dukung pelayan. Baik banget tuan muda ini.” Clara bertepuk tangan dengan senyum mengejek. Baginya selalu terasa aneh saat melihat Kean memperdulikan seseorang terlebih hanya pelayan.


“Claire, jangan mulai.” Kean memperingatkan.


Clara selalu bersikap menyebalkan pada Disa dan ia mulai tidak terima. Baginya tidak ada satu orang pun yang berhak merendahkan Disa.


“Okey!” Clara mengangkat tangannya acuh.


“Ngomong-ngomong, karya kamu tadi bagus. Selamat ya masuk ke babak berikutnya.” Marcel mengulurkan tangannya pada Disa namun dengan cepat Claire menepisnya.


“Masih niat nyari masalah sama aku?!” ternyata Cara sejutek itu tidak hanya pada Disa tapi juga pada kekasihnya.


Marcel hanya melengos, tangan yang semula ia ulurkan kali ini malah ia gunakan untuk mengusap tengkuknya canggung. Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, ia hanya bisa patuh pada Clara.


“Kamu tunggu di mobil.” Titah Kean seraya menekan alarm untuk membuka kunci mobilnya.


“Baik tuan. Saya permisi.” Mengangguk takzim pada Clara dan Marcel.


Marcel hanya tersenyum dan di hadiahi sikutan oleh Clara.


“Awwh! Claire, aku cuma bersikap ramah. Siapa tau kalo dia menang kan jadi terkenal, kamu harus baik-baik lah sama dia.” Kilah Marcel yang masih memandangi Disa hingga gadis itu masuk ke dalam mobil.


“Mata kamu gak usah jelalatan!” sengit Clara dengan mata menyalak. Tentu saja ia tidak percaya kalau Marcel hanya bersikap ramah. Sudah jelas ia memaksa Disa masuk ke kamarnya, mana mungkin hanya karena sebuah acara ramah tamah.


“Iya, iyaa…” Marcel meraih tangan Clara kemudian menggenggamnya. Mengusap-usapnya perlahan, biasanya ini efektif untuk menurunkan emosi kekasihnya.


“O iya, kalo dia menang, kamu harus siap-siap di tinggal ke paris ya.” Imbuh Marcel seraya tersenyum sarkas pada Kean. Puas sekali rasanya kalau berhasil membuat perasaan keponakannya tidak nyaman apalagi membayangkan Kean tanpa Disa, pasti kelimpungan.


“Mana mungkin dia menang. Tadi cuma kebetulan aja dia beruntung.” Timpal Clara tidak terima.


Tidak bisa dibayangkan kalau Disa benar-benar menang dan kelak ia harus mengenakan baju yang di rancang oleh Disa. Sekarang saja bulu kuduknya sudah meremang padahal baru di bayangkan, apa lagi kalau benar-benar terjadi.


“Apa salahnya kalau dia ke paris. Toh itu mimpi dia.” Timpal Kean berusaha santai. Mendukung Disa satu-satunya hal yang bisa ia lakukan seperti saat Disa mendukungnya.


“Pede banget lo!” Clara masih tidak terima. Ia ingin menyudahi bayangan ia mengenakan baju yang di rancang Disa.


“Bokap mau ngundang lo sama om sigit makan malam ke rumah. Nanti kita jujur sama mereka kalo kita sama-sama gak mau di jodohin.” imbuh Clara kemudian. Ia sudah sangat malas dengan perjodohannya dengan Kean. Setiap hari yang di bahas Brata hanya Kean, Kean dan Kean. Padahal ia sudah mengatakan kalau ia punya pacar dan sedang menjalani hubungannya dengan serius.


Tapi Brata terlalu sulit di tentang.


“Iya nanti gue ngomong.” Kean sepakat. Cepat atau lambat ia memang harus mengakhiri rencana perjodohan ini. Ia tidak mau hal ini menjadi masalah ke depannya.


“Ya udah, gue duluan.” Timpal Clara.


Saat mereka berlalu masih sempat-sempatnya Marcel dadah-dadah pada Disa.


“Plak!” satu pukulan keras mendarat di bahu Marcel dan laki-laki itu hanya bisa mengaduh.


“Kamu kenapa?” tanya Kean saat melihat kaki Disa yang masih terjulur keluar.


Disa memang belum menutup pintu mobilnya karena ingin memeriksa kakinya yang terasa perih. Ternyata kakinya lecet karena mengenakan high heels. Ia memang tidak terbiasa jadinya seperti ini. Ia terpaksa melihatnya di luar karena ia tidak tahu bagaimana cara menyalakan lampu di dalam mobil. Mobil tuan mudanya terlalu canggih.


“Tidak apa-apa tuan.” Disa segera memakai kembali sepatunya dan menyembunyikan kakinya yang lecet-lecet.


Selintas Kean melihat Disa yang duduk dengan tidak nyaman. Rasanya ia tahu apa yang terjadi pada kaki Disa, ada satu tempat yang harus ia tuju sekarang.


“Tuan, kita akan kemana?” tanya Disa saat tiba-tiba tuan mudanya menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas dengan kuat.


“Kemana saja yang jelas tidak di sini.” Timpal Kean, seperti tidak ingin mengulur waktu.


Disa duduk dengan tegang, kemana sebenarnya tuan mudanya akan membawanya pergi?


*****