
Suara alunan musik jazz terdengar dari kamar hotel tempat Disa tinggal. Tidak biasanya hal ini terjadi karena saat melakukan pekerjaannya Disa lebih suka dalam suasana hening. Tapi kali ini berbeda. Beberapa kali ini memutar musik dari ponselnya dengan beragam genre yang di dengarkan dan pilihannya jatuh pada musik jazz.
Hal ini ia lakukan sebagai salah satu cara untuk membangkitkan mood-nya. Dan siapa sangka ternyata ia berhasil.
Terlalu hening terkadang membuat kita semakin banyak berfikir dan Disa sedang menghindari hal itu. Ia perlu memfokuskan pikirannya pada desain yang ia buat sebelum mood-nya kembali hilang.
Lagu RAN- Hari Baru yang saat ini Disa dengarkan. Sambil menggumamkan lirik lagu yang ia ingat, tangannya bergerak lincah mengatur jalur jahitan yang ia buat. Pola sudah seluruhnya ia buat, hanya perlu menyatukan serpihan kain itu menjadi sebuah mahakarya. Deadline kompetisinya semakin dekat dan ia mencoba membuat proporsi prioritas, kapan ia harus memikirkan pekerjaan dan kapan ia harus memikirkan tentang hatinya.
Ya, tentang hatinya yang saat ini masih tidak karuan. Belum ada kemantapan dan keputusan yang bisa ia ambil.
Sebuah deringan telpon menghentikan vocal Rai berganti nada dering khas milik apel tergigit.
Setelah menggunting sisa benangnya, Disa melihat siapa yang menelponnya siang ini.
“Assalamu ‘alaikum bi…” Imas rupanya yang menghubunginya.
“Wa’alaikum salam neng..” suara Imas terdengar ceria, lebih dari biasanya.
“Neng, lagi sibuk gak?” tanya Imas dari sebrang sana.
“Em nggak bi, gimana?” tumben Imas menanyakan kesibukannya. Biasanya wanita itu langsung merepet menyampaikan maksud pembicaraannya pada Disa tanpa berbasa-basi.
“Neng, ini kirimannya banyak banget, bibi sampe kaget.” Seru Imas di sebrang sana. Terdengar juga suara bising ungkapan keterkejutan dari orang-orang di sekitarnya.
“Kiriman apa bi?” Disa jadi mengernyitkan dahinya. Perasaan ia tidak mengirimi apapun selain uang bulanan rutin sebesar biasanya.
“Ini, banyak banget makanan sama barang-barang. Bibi sampe bingung mau di simpen dimana.” Sahut Imas yang sesekali berbicara dengan orang di tempatnya.
Disa jadi berpindah dari tempat duduknya, berdiri menghadap jendela kamar sambil membayangkan apa yang sebenarnya di katakan Imas.
“Makanan dari mana bi? Disa gak ngirim makanan kok. Salah kirim kali bi.” Jadi terpikirkan kalau kurir salah mengirim barang, mengingat rumah Jenar memang yang paling awal di dalam gang itu.
“Nggak atuh neng. Kata orangnya ini dari disa, Paradisa Sandhya, Jakarta. Kitu cenah.” Tegas imas, mengulang kalimat yang dikatakan laki-laki di hadapannya.
“Orangnya masih di situ bi? Yang nganternya?” Disa semakin penasaran.
“Masih. Nih mau bantuin mindahin barang. Baik pisan.”
“Ya udah, bi coba disa mau ngomong bentar.”
“Oh iya, sebentar ya..”
Terdengar suara Imas yang berbicara dengan seorang laki-laki. “Akang punten, ini keponakan saya mau ngomong.” Sayup suaranya terdengar.
Dengan tidak sabar Disa menunggu untuk berbicara dengan laki-laki itu.
“Halo sa, ini saya daan.” Ujar suara yang di kenali Disa.
“Pak daan?” Disa ternganga tidak percaya. Bagaimana bisa laki-laki itu ada di rumahnya?
“Iyaa. Ini saya di suruh nyonya nganterin barang-barang ke rumah kamu. Alhamdulillah udah mau selesei mindahinnya.”
Disa terangguk lemas, rasanya ia tahu siapa yang mengirimi banyak barang seperti yang di katakan Imas.
“Oh, iya. Makasih pak daan.” Hanya kalimat itu yang kemudian bisa Disa katakan. Rasanya tidak nyaman mendengar Arini mengiriminya barang-barang dalam jumlah banyak tanpa bertanya kepadanya terlebih dahulu. Apa sebenarnya maksud nyonya besarnya? Apa ia sedang berusaha mengasihani Disa dan mengambil hati keluarganya?
Dia tidak lagi berbicara. Ia menjatuhkan tubuhnya lemas di atas tempat tidur. Seraya memandangi ponselnya, ia tampak berfikir. Arini sudah melakukan banyak hal padahal ia belum memberikan jawaban apapun.
Apa ini cara Arini membuat Disa merasa berhutang budi hingga harus menerima permintaannya? Kesal, ya seperti itu yang ia rasakan. Ia tidak pernah menyangka Arini akan melakukan hal sejauh ini.
Tidak bisa diam saja, ia segera menghubungi Arini. Tidak ada perasaan ragu karena ia tidak ingin membuat semuanya semakin terlanjur jauh.
“Assalamu ‘alaikum sa,..” ramah sekali suara Arini di sebrang sana.
“Wa’alaikum salam nyonya.” belum bisa menghilangkan kebiasaan memanggil Arini dengan panggilan itu.
Dari terakhir berbicara dengan Arini, suara ini yang paling terdengar riang dan ringan. Seperti tanpa beban dan penuh kebahagiaan.
“Nyonya, maaf saya menelpon nyonya. Karena ada yang harus saya tanyakan.” Mencoba berbicara baik-baik. Ia simpan sebentar rasa kesalnya agar bisa berbicara dengan jelas dan tidak balik menyinggung.
“Iya sa, gimana?” tidak sabar Arini menunggu kalimat Disa berikutnya.
“Em anu, apa nyonya yang mengirimi banyak barang ke rumah saya?”
“Oh udah nyampe ya. Alhamdulillah…” sahut Arini dengan enteng.
Disa jadi gusar, bukan ini yang ingin ia dengar.
“Nyonya, maaf. Nyonya tidak perlu melakukan hal ini. Keluarga saya tidak tahu apapun, saya harap nyonya tidak melakukan hal lebih dari ini.” Bingung jadinya kalau sudah seperti ini. Merasa seperti benar-benar di haruskan menerima kebaikan keluarga Kean tanpa alasan.
“Sa, tolong jangan salah paham.” Arini mulai membaca ketidaknyamanan Disa.
“Saya mengirimi barang-barang itu tanpa maksud apapun. Jangan berfikir saya sedang memaksa kamu apalagi terkesan merendahkan kamu.”
“Hal ini sudah seharusnya saya lakukan sejak dulu. Kamu banyak melakukan hal baik pada keluarga saya dan saya tidak bisa membalasnya. Ini hanya hal kecil, tolong jangan tersinggung ya…” Arini merendahkan suaranya, terdengar memohon.
Disa mengusap wajahnya pelan, entah seperti apa ia harus berreaksi. Apa juga yang akan muncul di benak Jenar saat mengetahui kalau seseorang yang mengiriminya banyak barang itu sedang menunggu jawabannya tentang sebuah pernikahan.
Jujur, Disa memang ingin menikah tapi tidak dengan cara ini. Keadaan terlalu sulit baginya. Ia harus menjaga nama baik dirinya, keluarganya dan nama baik kompetisi yang ia ikuti tapi keputusan yang akan ia ambil bukan hal mudah yang bisa ia Iyakan tanpa dasar pemikiran yang kuat dan keyakinan yang besar.
Belum lagi, pernyataan Kean yang mengatakan tidak bisa memberinya keturunan. Ini di luar dugaan. Pikirannya belum bisa berfikir hingga sejauh itu tapi ia di paksa harus memikirkan karena ini akan berpengaruh pada masa depannya.
Masih segar dalam ingatan bagaimana Imas berpesan agar Disa memiliki banyak anak agar di masa tua ia ada yang mengurusi, walau keberadaan seorang anak tidak hanya untuk alasan itu. Banyak alasan lain yang membuat ia berfikir tentang kondisinya dan Kean nanti. Sungguh, ini tidak mudah.
“Sa, kamu masih di sana?” suara Arini kembali membuyarkan pikiran Disa tentang pilihannya.
“Oh, iya nyonya.” Gelagapan jadinya. Seperti biasa semuanya serba mendadak.
“Sa, tolong jangan marah ya. Sekali lagi, saya tidak bermaksud apapun. Ini bentuk ucapan terima kasih saya karena kamu begitu baik dan mau mengurusi saya selama ini. Hem?” lagi Arini menegaskan.
Harus ia akui, sejauh ini Arini bukan wanita yang bermodus. Dari banyak hal yang dilakukan Arini, wanita ini memang wanita yang tulus. Disa bisa merasakan kasih sayang Arini selama ia bekerja untuk keluarganya.
“Terima kasih nyonya.” Akhirnya hanya kalimat itu yang ia ucapkan.
“Sama-sama.. Kamu fokus ya, sama apa yang kamu hadapi saat ini. Oh iya, katanya nanti malam kean mau nemuin kamu. Saya nyuruh dia supaya bawa kamu keluar, jangan di hotel. Saya gak mau pihak panitia mempermasalahkan hal ini lagi.”
Lagi, tentang Kean. Laki-laki ini akan menemuinya. Namun, apakah ini atas inisiatif Kean sendiri atau karena permintaan Arini? Kenapa ia jadi takut kalau hubungannya dengan Kean akan berakhir seperti hubungannya dengan Reza?
“Baik nyonya.” Lagi, Disa hanya bisa menerima. Mungkin malam ini ia harus membuat penegasan pada Kean.
Di tempatnya, Arini hanya tersenyum setelah mengakhiri panggilannya dengan Disa. Rasanya sangat senang membayangkan Disa akan menjadi bagian dari keluarganya.
Sebuah gelas berisi coklat hangat tiba-tiba di sodorkan seseorang pada Arini. Arini menolehnya dan ternyata ada Marwan yang kemudian duduk di hadapannya.
“Terima kasih.” Ujar Arini dengan segaris senyum. Ia tahu, duduknya Marwan di hadapannya bukan tanpa alasan.
“Saya senang melihat nyonya begitu bahagia akhir-akhir ini.” Ungkap Marwan dengan senyuman bijaknya. Entah ini sebuah kejujuran atau hanya sebuah sindiran.
“Kenapa, apa kamu tidak pernah menyangka kalau saya akan sebahagia ini?” sahut Arini, seraya memainkan gelas di hadapannya.
“Tentu tidak nyonya. Saya selalu mengharapkan nyonya dan tuan muda selalu bahagia.”
“Tapi saya tidak merasa seperti itu. Apa mau kamu?” Arini langsung bertanya. Ia tidak ingin berbasa-basi dengan orang kepercayaan Sigit.
“Tidak ada nyonya. Saya hanya ingin duduk di sini. Mungkin kita bisa sedikit membahas tentang rencana nyonya kedepannya.” Sahut Marwan berusaha tenang. Ia tahu, nyonya besarnya sedang memancing beriak.
Arini tersenyum samar, benar dugaannya kedatangan Marwan bukan tanpa alasan.
“Tentang masa depan apa yang kamu maksudkan? Pernikahan Kean?” ia yakin Marwan sudah mendengar gossip yang saat ini beredar.
Marwan meneguk kopinya yang pahit dengan tenang. Mau tidak mau, ia memang harus membalas ini.
“Nyonya, alasan taun besar menolak gadis itu karena gadis itu tidak bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Bisakah nyonya memikirkan kembali keputusan anda?” Marwan memang bukan orang yang bisa berbasa-basi, sama dengan Sigit. Dan ini yang selalu membuat Arini berfikir kalau otak Sigit dan Marwan itu terhubung. Pikirannya sama dan tidak ia sukai.
“Kenapa? Karena gadis itu seorang pelayan maksud kamu?” terka Arini.
“Sayangnya, saat ini dia bukan pelayan. Dia seorang calon desainer.” Sahut Arini dengan tegas. Ia tersenyum tipis menunjukkan kalau ia berhasil mematahkan argument pertama Marwan.
“Ya benar, gadis itu memang bukan lagi seorang pelayan. Namun saya tidak yakin kalau tuan besar bisa menerima gadis itu.” Marwan menyebalkan memang, ia selalu bisa menimpali Arini.
“Oh ya?” Arini tetap dengan ketenangannya. Baginya Marwan tidak bisa mengintimidasinya.
“Kalau dia tidak suka, kamu suruhlah mas sigit bangun dan katakan langsung itu pada saya. Selama dia masih terbaring seperti itu, dia cukup mengikuti apa yang akan saya lakukan.” Kalimat Arini penuh dengan keyakinan, membuat air muka Marwan tidak sesantai sebelumnya.
“Kenapa, apa perkataan saya tidak cukup asing?” sunggingan senyum sarkas terlihat di sudut bibir Arini.
Marwan hanya terpaku saat mendengar ucapan Arini. Kalimat yang sama pernah tuan besarnya katakan saat ia berniat mengirim Arini ke luar negeri. Bukan tanpa alasan jika Arini masih menyimpan kata-kata itu dalam hatinya, rasa sakitnya kala itu tentu masih menyisakan bekas luka yang tidak bisa ia hapus dengan mudah atas keputusan Sigit.
“Mas sigit selalu mengatakan kalau ia harus selalu menjaga citra perusahaan, memastikan orang-orang menghormati agar tidak di remehkan.”
“Kamu tahu kan kalau saya pun sedang melakukan hal yang sama?”
“Saya sedang menjaga citra kean sebagai penerus perusahaan yang baru agar tidak di cap sebagai laki-laki brengsek oleh orang-orang di luar sana. Lalu, apa yang salah?” Arini beralasan.
Ini seperti menjadi senjata baru bagi Arini untuk menghadapi Sigit ataupun Marwan. Dua orang ini sangat memperdulikan pandangan masyarakat terhadap mereka, maka ini harus menjadi anak panah yang Arini simpan sebagai senjata.
Lebih dari itu, ia sudah tidak tega melihat Kean yang tidak karuan belakangan ini. Sejak Disa pergi, hidup putranya mulai berantakan. Ia mulai gila kerja, seperti tengah berusaha mengalihkan pikiran dan hatinya dari hal yang menyakitkan.
Walau Kean membiarkan Disa pergi, bukan berarti ia merelakan Disa menjauh. Arini mengenal benar siapa putranya termasuk kebiasaan yang belakangan berubah setelah Disa pergi.
Kean mulai menghindari sarapan, ia lebih suka makan pagi di kantor. Mungkin karena saat berada di meja makan ia tidak bisa berhenti memikirkan Disa dan itu menyiksa perasaannya.
Tidurnya tidak teratur. Sering kali Kean menghabiskan semalaman hanya untuk bermain PS atau duduk termangu di balkon dengan wajah sendunya.
Ia pun tidak suka, saat pelayan baru menyentuh barang-barang miliknya. Memadu padankan bajunya sendiri, memakai dasi sendiri, suatu kebiasaan yang hanya Disa yang boleh melakukannya.
Pengingkaran Kean terlalu jauh dan Arini tidak bisa membiarkan itu terus berlanjut. Ia seorang ibu yang tidak bisa membiarkan putranya tersiksa dalam kondisi seperti ini. Jika Disa adalah yang ia butuhkan, maka dengan cara apapun ia akan memberikannya. Apa ini salah?
Marwan tidak lagi menimpali. Tidak ada baiknya jika ia terus berdebat dengan nyonya besarnya. Pandangan Arini terhadapnya sama dengan pandangan Arini terhadap Sigit, menyebalkan.
“Saya hanya berharap nyonya tidak salah melangkah karena masa depan tuan muda dan perusahaan di pertaruhkan di sini.”
Marwan mencoba mengingatkan. Walau selama ini ia selalu mengikuti perintah sigit, bukan berarti ia tidak memikirkan apa dampak dari yang ia lakukan. Termasuk di benci Arini.
“Terima kasih sudah mengingatkan. Tapi, saya lebih tahu apa yang seharusnya saya lakukan.” Tegas Arini. Menyodorkan kembali gelasnya pada Marwan lantas berlalu dari hadapan laki-laki itu. Baginya pembicaraan ini sudah selesai, mau tidak mau Marwan ataupun Sigit harus menerimanya.
*****