Marry The Heir

Marry The Heir
Gangguan pagi-pagi



“Selamat pagi untuk hati yang sudah penuh terisi. Wajah yang pucat pasi karena lelah hingga dini hari. Dan untuk pagi yang akan di mulai dengan menunaikan satu per satu janji.”


Beberapa baris kalimat itu Kean tulis pada buku sketsa Disa dengan penuh perasaan dan di bubuhi tanda tangannya lengkap dengan emoticon love di sampingnya.


Ia tersenyum sendiri, seraya memandangi gambar-gambar yang di buat Disa dengan apik. Baru kali ini ia berani membuka buku sketsa milik istrinya. Walau ia yakini tidak ada rahasia tapi setelah pergulatan semalam ia baru benar-benar yakin kalau Disa adalah miliknya seutuhnya.


Terduduk di kursi membelakangi jendela yang terbuka tanpa gorden penutup. Kean sengaja duduk di sana untuk menghalau cahaya matahari yang masuk dan menyinari wajah Disa. Ia masih ingin melihat wajah Disa yang terlelap tenang dengan garis senyum yang melengkung, seolah mengingatkannya lagi saat mengecup dan menyesap sepasang bibir yang terasa manis itu.


Sepanjang malam, berkali ia melakukan penyatuan. Berkali juga ia mendapat cengkraman kuat dari Disa saat mereka sampai di puncak gairah hingga menyisakan tanda kemerahan di lengannya yang kokoh. Rasanya ia keranjingan untuk melihat kembali ekspresi Disa semalam terlebih saat bibir mungil itu memanggil namanya dengan tersengau-sengau. Ia baru sadar, saat namanya di panggil Disa di antara suara lenguhan istrinya, ia merasa sangat spesial. Hah, menggairahkan.


Tersenyum sendiri seraya menggigiti bibirnya yang rasanya menebal. Kejadian semalam tidak akan pernah ia lupakan. Malam yang indah pelepas gundah dan penghapus dahaga batinnya.


Ingatan Kean sedikit memudar saat melihat Disa yang menggeliat dengan lucu. Tubuh polosnya hanya tertutupi selimut tebal hingga ke dada. Mungkin kalau ia tarik sedikit ke bawah, ia akan melihat kembali dua gundukan besar yang pas di tangannya untuk ia genggam. Ia bahkan baru sadar kalau proporsi tubuh Disa pas dengan genggaman tangannya dan tampak begitu sempurna.


Disa memang pandai menampilkan dirinya yang tertutup dan sopan. Hingga tidak membuatnya memikirkan hal yang aneh-aneh pada fisiknya. Baru saat ia melihatnya secara utuh, Kean sadar kalau ia diberikan kejutan yang indah dari tampilan fisik yang sempurna.


“Aa,..” suaranya masih serak saat memanggil Kean yang terduduk di hadapannya.


Matanya sedikit memincing, berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke matanya. Lihat rambutnya yang sedikit berantakan sisa semalam, menggemaskan sekali.


“Selamat pagi.” Sambut Kean. Ia beralih ke tempat tidur lantas membaringkan tubuhnya di samping Disa.


“Pagi. Aa kok gak pake baju?”


Disa memandangi dada Kean yang terbuka dengan barisan otot yang tampak seksi. Sambutan pagi yang indah untuknya, dimana ia sudah mulai harus terbiasa melihat pemandangan seperti itu setelah semalaman melihatnya berulang kali.


“Aku memang gak berminat pakai baju sekarang.” Kembali masuk ke dalam selimut dan memeluk Disa.


“Nanti aa masuk angin. Di sini dingin banget."


"Nggak dingin kok, kan ada yang bisa aku peluk." Kean melingkarkan tangannya di tubuh Disa. Merasakan sensasi berbeda saat permukaan kulitnya bersentuhan dengan kulit Disa yang terekspose di bawah selimut.


"Awh, ish aa geli!”


Disa memegangi tangan Kean sambil terkekeh. Tangan nakalnya sudah bergriliya ke sana kemari dengan lincah di bawah selimut.


“Apa kamu capek?” bisiknya yang kembali mendekat ke leher Disa. Tempat favoritnya untuk ia ciumi karena wanginya yang membuatnya ketagihan.


“Aku mau mandi, badanku lengket sama keringet.” Suara Disa terdengar lebih manja, Kean menyukainya.


Wanita memang tidak perlu selalu terlihat tegar karena saat bermanjapun ada seseorang yang akan memanjakannya dengan senang hati.


“Mau aku temenin?” bisik Kean menggoda.


“Nggak akh, nanti lama lagi.” Disa berusaha melepas kungkungan Kean yang kembali merapat. Seperti enggan berjauhan darinya.


“A, lepas dulu, aku mau minum..” Disa berusaha melepaskan tangan Kean yang mulai kembali mengusap sensual dan sesekali memijat-mijat bagian tertentu di tubuhnya dengan telaten.


“Sekali lagi ya…” suaranya terdengar serak. Berada di dekat Disa selalu membuat gairahnya bangkit, hanya saja ia tidak tega kalau mengganggu Disa yang tidur lelap.


Disa menoleh suaminya yang sudah menatapnya laman seperti itu. Sudah pasti ia menolakpun tidak akan berhasil.


“Apa harus sekarang?” Disa menggodanya. Menelusur garis dada Kean dengan telunjuk.


“Tentu saja!” Kean langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Tidak ada yang terlihat di permukaan hanya gerakan halus di bawah selimut.


“Ish aa, jangan gigit.” Suara Disa terdengar dibawah sana.


“Hahahaha.. “ Kean hanya tertawa.


Beberapa saat kemudian, tidak ada lagi perbincangan yang terdengar, hanya suara ranjang yang sesekali berderit dan membuat Mbok Mina di luar sana harus menutup telinganya rapat-rapat.


Suara di dalam sana membuat pikirannya menjelajah pada ingatan keindaan di malam-malam pengantin. Apa ia harus mencari suami baru lagi untuk menghangatkan malamnya seperti pengantin baru ini?


“Adududu.. Ini penganti baru.” Gumam Mbok Mina.


Ia menaruh pisau yang ia gunakan untuk mengiris bumbu. Mungkin nanti saja ia melanjutkan masaknya. Setelah tuan dan nona mudanya selesai dengan olahraga paginya.


****


Beranjak siang Kean dan Disa baru membuka pintu kamarnya. Mereka sudah berpakaian rapi dan Disa masih merapikan tempat tidurnya. Melihat bercak darah di atas spreinya membuat Disa dengan cepat menggulung sprei dan memasukkannya ke dalam keranjang. Ia berencana akan mencuci sendiri spreinya walau pergerakan jalannya masih sedikit kaku. Semalam Kean memang tidak kenal ampun, melakukannya beberapa kali seperti tidak mengenal lelah.


Sementara Kean sedang bertelepon dengan Arini. Sepagi ini ibunya sudah mengintrogasinya yang intinya mencemaskan Disa.


“Disa sibuk semalem mah, kenapa malah di gangguin sih?” Kean terdengar kesal mendapat introgasi dari mamahnya dan Shafira yang ikut-ikutan.


“Ada, dia baik-baik aja. Masih utuh. Emang mamah pikir aku bakal apain Disa?” Kean mendekati Disa, memeluk Disa dari belakang seraya menciumi rambutnya yang basah terurai.


“A,” Disa berusaha melepaskan dirinya pelukan Kean yang erat dan mulai menciumi rambut, menyibaknya dan asyik mengecupi leher memberi tanda kemerahan di antara tanda lainnya yang semalam ia buat.


Kean membalik tubuh Disa menghadapnya, menekan salah satu tombol di ponselnya dan membiarkan suara Arini terdengar melalui loud speaker-nya.


“Coba cium aku kayak tadi malem sa,” bisiknya dengan gairah yang kembali terkumpul. Matanya seperti orang mabuk yang menatap Disa penuh hasrat.


Mereka layaknya magnet dengan kutub positif dan negative yang langsung tarik menarik saat berdekatan dalam jarak beberapa senti.


“Ish aa, nanti mamah denger.” Disa berusaha mengelak. Gairah Kean seperti tidak ada habisnya.


“Udah aku mute sa, ayo coba lagi.” Tukang nyosor ini langsung mengerucutkan bibirnya mendekat pada Disa.


“Mamah kan cuma cemas aja, soalnya kata fira, disa typing mulu di wa, tapi gak di kirim-kirim.”


“Takutnya kamu apa-apain terus mau ngadu tapi takut.” Suara Arini membuyarkan fokus Kean dan Disa.


“Haish, nggak lah mah. Mamah gak percaya banget sih sama aku.” Kean mendengus frustasi. Terpaksa ia harus menjeda apa yang dilakukannya dengan Disa dan menyelesaikan dulu perbincangannya dengan Arini.


Sejak tadi Arini terus bertanya kondisi Disa, memangnya apa yang mereka cemaskan dari istri yang di bawa pergi suaminya? Di jebol? Ya sudah pastilah, pikir nakal Kean.


“Ya udah mamah mau ngomong. Disanya mana? Ini fira juga uring-uringan mulu, nanyain terus.”


Disa hanya tersenyum, lantas mengambil ponsel Kean. Di usapnya pipi Kean dengan lembut lantas mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipinya sebagai penghiburan untuk suaminya yang kesal.


“Assalamu ‘alaikum mah…” sapa Disa.


“Teteeeehhhhh….. Iiihhhh gak bales wa aku sih!” malah teriakan Shafira yang kemudian terdengar.


Disa sedikit menjauhkan ponselnya mendengar teriakan keras itu, sudah pasti adik iparnya kesal.


“Firaaa, bukannya jawab salam. Malah teriak-teriak.” di susul Suara Arini yang memperingatkan.


“Wa’alaikum salam sa… Gimana kabarnya? Kean gak rewel kan?”


"Udah kamu diem dulu, tante dulu yang ngobrol." Bisa di bayangkan Arini yang sedang menghindarkan ponselnya dari jangkauan Shafira, pasti sangat lucu.


Kean hanya mendelik saat mendengar pertanyaan Arini yang sangat tidak percaya pada jawabannya tadi.


“Hehehehe… Nggak mah, aa baik-baik aja kok. Malah tambah baik.” Disa menjulurkan lidahnya pada Kean yang tampak kesal dengan gangguan pagi ini.


“Syukurlah kalo dia gak aneh-aneh. Mamah udah was-was aja. Takutnya dia mau di masakin yang aneh-aneh lah, mana dari situ jauh banget lagi kalo mau ke pasar.” Arini mulai beralasan walau sebenarnya bukan itu yang ia maksudkan.


"Kamu nyaman kan di sana?"


“Iya mah, di sini nyaman. Suasananya enak, seger banget."


"Aa nggak rewel kok mah, dia gak minta yang aneh-aneh. (Kalau soal makanan.)”


“Masakan mbok mina enak, jadi kita makan masakannya mbok mina.” Terang Disa.


Diusapnya kepala Kean yang sedang bersandar di bahunya. Jinak sekali singa jantan ini sekarang.


“Ya syukurlah. Ini fira katanya mau ngomong, nih fir, jangan cemberut ah.” Arini menyodorkan ponselnya pada Shafira, ia sudah cukup tenang mendengar kabar kalau anak dan menantunya baik-baik saja.


“Teh, kok pesan aku gak di bales? Sibuk banget ya disana?” anak kecil itu terkekeh geli di sebrang sana. Pertanyaannya mengandung ledekan.


“Heh, banyak nanya kamu. Anak kecil gak usah banyak nanya.” Kean yang menyahuti dengan berapi-api.


“Hahahahhaa… Abang denger yaa…”


“Aku emang anak kecil tapi tau dikitlah yang dilakuin penganti baru kayak apa. Paling gak beda jauh sama yang ada di film-film.”


"Fira, kamu nonton film 17+?" Suara Arini terdengar penuh keterkejutan.


"Kan aku udah 18 tan, gak masalah dong." Bisa saja gadis ini menjawab,


"Awh!" membuat Arini mencubitnya dengan gemas.


“Aduh tante, sakit tau." mengusap-usap tangannya yang pedas di cubit Arini, namun Arini hanya terkekeh.


"Teh, pokoknya, yang jelas, bawain aku ponakan yang lucu yaaa… Hahhaha…” celoteh Shafira kembali terdengar.


Disa hanya tersenyum pada suaminya yang menatap kesal layar ponselnya. Ia mengerti benar kekesalan yang saat ini mungkin ada di hati Kean.


“Fira mau teteh bawain sketsa dress peri hutan gak? Teteh udah bikin beberapa buat fira.”


Disa mengalihkan pembicaraannya dengan Shafira. Kalau soal mode, biasanya pikiran Shafira langsung terdestraksi.


“Wah beneran? Mau dong! Jangan di kasih liat ke orang lain yaa… Buat fira aja.” Benar bukan, Shafira masih kecil, gampang di iming-imingi.


“Iya, teteh bikinin 3 desain buat fira. Nanti sampe jakarta langsung teteh bikinin bajunya.”


“Asyiiikkkk…. Teteh cepet pulang yaaa… Fira juga mau ngajak teteh jalan."


"Oh iya, siang ini fira pelulusan. Do’ain semuanya lancar ya…”


“Iya, teteh do’ain lancar. Fira anak yang cerdas, pasti nilainya bagus."


“Aamiin…” suara Arini dan Shafira terdengar bersamaan.


“Ya udah, mamah mau sarapan dulu, kalian juga jangan lupa sarapan. Kabarin kalo mau pulang ya, biar mamah siapin makanan enak.”


“Iya mah, makasih…”


“Sama-sama sa,…”


“Dah teteh, abang… wleee… Assalamu ‘alaikum…”


“Wa’alaikum salam.”


Disa mengakhiri panggilannya dengan senyum terkembang. Pagi yang dingin terasa begitu hangat setelah mendengar suara Arini dan Shafira


Sementara Kean sudah keluar kamar lebih dulu. Mungkin kalimat Shafira tadi sedikit mengganggu pikirannya dan ia perlu menenangkan dirinya. Disa bisa memahami itu.


Baru akan mematikan layar ponsel Kean, tiba-tiba saja perhatian Disa tertuju pada sebuah aplikasi yang di install Kean di ponselnya.


Suaminya meng-install aplikasi kalender menstruasi seperti yang Disa lakukan di ponselnya. Sedikit penasaran, maka Disa membuka aplikasi itu.


“Paradisa Sandhya.” Nama user yang tertera di aplikasi itu. mengecek detail informasi dan ternyata Kean mengisi data Disa dengan lengkap.


Muncul juga kapan periode menstruasi Disa berikutnya lengkap dengan lambing hati yang menunjukkan masa suburnya.


Apa Kean benar-benar berusaha sampai sejauh ini? Ia mengumpulkan kesempatan untuk mengikis rasa kecewa Disa. Ia berusaha, membuat pola yang benar untuk hubungannya dengan Disa.


Salahkah kalau saat ini Disa tersenyum senang? Suaminya sedang berusaha maka iapun akan berusaha sebaik mungkin. Ia percaya, usaha tidak pernah mengkhianati hasil.


“Aa, I love you..” lirih Disa seraya mengecup layar ponsel Kean lalu mendekapnya di dada. Satu lagi kebahagiaan bertambah dalam hatinya. Ya, melihat usaha Kean yang sudah di mulai.


*****