Marry The Heir

Marry The Heir
Akupun bisa merasakan sakit



Disa sudah berada di dalam kamar, saat Kean baru masuk ke kamarnya. Ia terduduk di depan meja rias dan terdengar sedang bertelepon dengan seseorang.


“Iya nek, nanti disa ke bandung ya.. Minggu ini mungkin."


"Nenek di rumah aja, jangan jalan-jalan dulu supaya gak jatuh lagi.”


Sepenggal kalimat itu yang di dengar Kean dari percakapan Disa dengan seseorang melalui telepon.


Sudah bisa ia tebak kalau yang berbicara tadi adalah jenar.


Kean memilih terduduk di sisi tempat tidur, memperhatikan Disa dari pantulan cermin. Matanya merah dan berair, seperti istrinya sedang bersedih.


“Iya nek."


"Bi, titip nenek yaa… assalamu’alaikum…” Disa mengakhiri panggilannya dan menaruh ponselnya begitu saja.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar lantas terunduk bertumpu pada lengannya.


“Sa, siapa yang sakit?” tanya Kean, setelah dari tadi memperhatikan istrinya yang layu.


Disa segera menegakkan tubuhnya. Ia baru sadar kalau ada Kean di belakangnya.


“Iya a, katanya nenek jatuh di kamar mandi. Tapi udah di urut dan udah baikan.” Disa masih berusaha menyeka air matanya.


“Kamu mau pulang? Mau kapan?”


“Iya, aku akan pulang minggu ini.”


“Iya, aku antar. Kamu mau berapa hari di sana?” sudah bisa terbayangkan sepinya hari yang akan Kean lewati kalau Disa pulang ke Bandung. Tapi ia tidak bisa egois membiarkan Disa ada dalam kecemasan.


“Aku pulang sendiri aja. Lagian aa banyak kerjaan, gak usah ngerasa terganggu.” Disa beralih duduk ke samping Kean.


Bisa Kean lihat dengan jelas, penampilan Disa yang sedikit berbeda. Ia mengenakan baju tidur yang sedikit tipis dan membentuk lekuk tubuh, mereka biasa menyebutnya Lingeri. Bibirnya dipoles dengan lipstick tipis. Entah mengapa tampilannya begitu menggoda.


“Aku bisa nyempetin buat nganter kamu pulang. Masa kamu pulang sendirian.”


Susah payah Kean menelan salivanya yang hampir menetes. Adik kecilnya malah sudah bangun lebih dulu.


“Aa nya juga lagi sakit. Oh iya, aku udah bikin aa minuman hangat.”


Disa beranjak dari tempatnya, mengambil segelas minuman jahe yang ia rebus. Cara jalannya yang sedikit melenggok membuat Kean harus memalingkan wajahnya.


“Ini, cobain.” Tidak lama sampai Disa kembali di sampingnya.


Ragu Kean mengambilnya, ia lebih fokus pada tampilan Disa yang menggodanya.


“Mau aku bantu?” suaranya rendah, sedikit serak. Terdengar seperti rayuan maut.


Disa meniupi minuman di tangannya untuk kemudian ia berikan pada Kean.


“Udah dingin kok, Cobain deh.” imbuhnya.


Kean mendekatkan wajahnya pada Disa, menyesap aroma hangat dari minuman yang dibuat Disa. Tertarik untuk di coba, lalu sedikit demi sedikit menyeruputnya,


“Enak?” tanya Disa dengan tidak sabar.


Kean terangguk pelan. “Aku pegang sendiri.”


Ia mengambil gelas dari tangan Disa yang terus memandanginya. Sesekali ia melirik Disa dengan sudut matanya, entah mengapa malam ini Disa begitu memanjakan matanya.


Setelah habis setengah minumannya, Kean menaruh gelasnya di meja samping tempat tidurnya. Lantas ia membaringkah tubuhnya terlentang, sambil memejamkan mata menikmati rasa hangat yang turun dari tenggorokan masuk ke lambungnya.


“Aa mau aku pijit gak?” sudah ada kayu putih di tangan Disa.


"Nggak usah sa, aku mau tidur aja.” Masih berusaha menolak walau sulit.


“Oh iya.” Disa menaikan selimut hingga ke batas dada Kean. Tidak lupa ia mematikan lampu utama dan hanya menyalakan lampu tidur dengan nyala remang-remang.


Kean mulai membuka matanya yang semula terpejam. Mata menyipit itu langsung terbuka lebar saat ia melihat Disa membuka outer baju tidurnya dan memperlihatkan tubuhnya yang hanya terbalut kain tipis  sebatas pertengahan paha dengan bagian dada yang rendah dan terbuka. Hanya tali kecil yang membuat baju itu tetap menutupi sebagaian tubuh Disa.


Ia pura-pura tertidur saat Disa berbaring di sampingnya tapi kemudian perasaannya tidak karuan saat mencium wangi tubuh Disa yang mengusik indra penciumannya.


Tanpa sengaja, Disa menolehnya dan dengan cepat Kean menutup matanya. Wanita itu memeluknya, melingkarkan tangannya di pinggang Kean.


Jantung Kean berdesiran tidak karuan, berada di dekat lawan jenis sedekat ini terlebih adalah wanita yang ia cintai tentu sangat sulit untuk ia tolak.


Sedikit merespon, perlahan, tangannya ikut melingkari pinggang Disa, mengusapnya perlahan dan halus.


Tidak di sangka, Disa tiba-tiba menciumnya dengan lembut. Tidak biasanya Disa berinisiatif lebih dulu. Ada yang aneh pikirnya.


“Sa, jangan gini..” tolak Kean hati-hati. Ia melepaskan rangkulannya saat pikiran itu muncul kembali di benaknya.


“Kenapa? Apa aku terlihat seperti wanita nakal?” Disa malah mendekatkan tubuhnya pada Kean, semakin rapat dan rapat lagi.


“Nggak, hanya saja aku,”  membalas tatapan Disa yang menatapnya lekat. Sungguh, ini menyesakkan. Tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi adiknya.


“Aa suamiku kan?” bisik Disa dengan mengoda. Hidungnya menelusur garis rahang Kean yang tegas lantas mencium daun telinganya, membuat bulu kuduk pria itu meremang. Rupanya seperti ini perasaan yang dirasakan Disa saat ia melakukan hal yang sama.


“Sa, BERHENTI!!!” seru Kean. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Ia menarik kedua tangan Disa lantas menjatuhkan tubuh Disa dan mengungkungnya di bawah tubuhnya.


“Jangan melewati batas!” tegas Kean dengan penuh penekanan.


Disa tersenyum sumbang. Kecurigaannya terbukti.


Dengan sekuat tenaga, ia bangun dan mendorong tubuh Kean hingga menjauh darinya.


“Kenapa? Karena aku sedang masa subur?” tanya Disa kemudian. Ada kemarahan yang terasa dari kalimat yang diucapkannya.


“Aa tidak berani menyentuhku karena aku sedang masa subur bukan?” Disa beranjak dari tempat tidurnya, memakai kembali outer lingerinya dan mengikatkan talinya dengan kuat.


“Oh iya, sepertinya aa juga lupa membawa ini?”


Disa mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menaruhnya di hadapan Kean. 4 buah alat kontrasepsi laki-laki yang Disa temukan di kamar rumah utama.


Dengan segera Kean bangun.


“Sa, ini..” Kean cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Disa.


“Kenapa? Aa pikir aku tidak cukup mengenal suamiku?” seru Disa yang sedikit meninggikan suaranya.


Ia menyalakan lampu kamar hingga terang benderang dan dengan jelas di matanya ada kumpulan air mata yang sebentar lagi akan pecah.


“Sa, kita sudah pernah membicarakan ini bukan?” Kean ikut beranjak dari tempat tidurnya. Sepertinya tidak ada yang perlu ia tutupi lagi dari Disa.


“Kita sepakat untuk tidak memiliki anak, karena aku tidak bisa memberikannya,”


“Tidak bisa kamu bilang?” Disa mulai menyalak. Ia menghampiri suaminya dengan kemarahan yang sudah terkumpul.


“Yang terjadi pada anda, bukan tidak bisa memberi saya keturunan tapi anda tidak mau memberikannya!”


“Tidak bisa dan tidak mau, adalah dua hal yang berbeda tuan!” seru Disa seraya menunjuk-nunjuk dada kiri Kean.


Kemarahannya jelas terlihat, Disa bahkan sudah merubah nama panggilan suaminya.


“Kenapa? Apa karena saya tidak layak menjadi ibu dari anak-anak anda?”


“Atau anda memang masih merasa kalau seorang pelayan tidak punya hak untuk melahirkan seorang anak dari seorang pewaris seperti anda?!” tutur Disa dengan terengah-engah menahan kemarahannya.


Tanpa di minta air mata itu pecah seiring dengan pecahnya kepercayaan yang selama ini ia bangun.


Sudah cukup ia menahan semuanya, terlebih saat ia mendengar perbincangan Kean dan Arini siang tadi.


“Hingga saat ini, anda bahkan masih menyesal karena saya yang menjadi istri anda. Bukan wanita hebat, pintar, berasal dari keluarga terpandang yang menjadi pendamping anda. Benar tuan?!” kalimat itu di lontarkan Disa dengan suara bergetar. Ia tidak bisa diam, bergerak ke sana kemari berharap emosinya sedikit turun saat tubuhnya lelah. Tapi ternyata tidak.


"Anda tahu tuan, beberapa jam lalu saya masih merasa sebagai wanita paling istimewa karena memiliki kesempatan untuk bersama laki-laki yang saya cintai dan diapun mencintai saya. Tapi,"


"Beberapa jam lalu juga kepercayaan diri yang saya bangun itu runtuh. Anda tidak penah benar-benar mencintai saya dan saya adalah wanita paling hina di mata anda." tutur Disa tanpa bisa menahan kalimat itu untuk tidak terucap dari mulutnya.


Dan Kean hanya terpaku, ia tidak menyangka kalau Disa akan berpikir seperti ini.


“DISA!” gertak Kean.


Ia menarik tangan Disa agar berhenti bergerak ke sana kemari dengan kemarahan yang memuncak. Ternyata seperti ini saat istrinya sedang marah.


“Aku tidak menyesal kamu menjadi istriku. Aku masih mencintai kamu."


"Hanya saja, tidak seharusnya kita seperti ini.” Tegas kean yang menatap Disa tajam.


“Jika ada wanita yang harus menjadi istriku, maka aku hanya mengharapkan kalau itu kamu.”


“BOHONG!!!” Disa mengibaskan tangannya yang di pegang Kean.


“Tuan tidak pernah benar-benar menginginkan saya sebagai istri anda. Anda hanya takut kehilangan rasa nyaman yang selama ini anda rasakan dan karena anda tahu kalau saya satu-satunya wanita yang bisa menerima kebohongan dan kekurangan anda.”


“Apa anda senang karena telah berhasil membodohi saya, hah?” seru Disa di hadapan Kean. Matanya yang membulat menunjukkan dengan jelas kekecewaan dan rasa sakit yang dirasakannya.


Kean seperti melihat kembali Disa saat pertama kali mereka bertemu. Wanita dengan harga diri tinggi dan tidak mengizinkan siapapun merendahkannya. Tapi kali ini, Kean seperti malah merendahkan Disa membuat perasaan wanita di hadapannya remuk redam.


“Sa, aku,” Kean berusaha meraih tangan Disa tapi lagi Disa mengibaskannya.


“Aku pikir, aku telah memilih laki-laki yang tepat. Laki-laki yang menghormatiku dan tidak pernah merendahkanku apalagi mengingatkanku pada statusku.”


“Anda tau tuan, saya telah menyerahkan seluruh hati saya pada anda tapi sepertinya, hal seperti itu tidak pernah cukup untuk tuan muda seperti anda.”


“Di hadapan anda, orang seperti saya hanya akan selalu pantas untuk di jadikan pelayan.” Tegas Disa dengan penuh penekanan.


Kean tidak mampu berkata-kata. Ia membiarkan Disa mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Menjelaskannya saat ini tidak akan pernah bisa di terima oleh Disa.


"Sepertinya aku benar." batin Disa saat melihat Kean hanya terpaku dengan kepala tertunduk seperti mengiyakan pikiran Disa.


Sungguh, hatinya hancur. Rasanya ia sudah tidak bisa lagi berdiri di hadapan laki-laki ini. Disa memilih pergi dari kamar Kean. Ia merasa tidak sepantasnya berada di kamar ini. Di kamar tamu, ya mungkin hanya kamar tamu yang cocok menampungnya saat ini.


“DISA!” seru Kean menahan langkah Disa.


Tapi Disa tidak menimpali. Ia bahkan tidak berhenti melangkah untuk sekali saja menolehnya.


“AARRGGHHH!!!! **!*!!!” dengus Kean.


Seperti waktu tiba-tiba saja berhenti dan menempatkannya di tepian jurang yang satu gerakan saja ia salah melangkah, maka ia akan terjatuh. Atau mungkin sebenarnya ia sudah terjatuh.


Disa seperti berdiri bersebrangan dengannya dan sudah lebih dulu membuat batasan yang tegas dengannya. Ia sadar, ia telah menyakiti Disa. Dan ia sadar, ini karena murni kesalahannya. Ia sadar, sikapnyalah yang membuat Disa berpikir hingga sejauh ini.


Anda saja, ya andai saja ia tidak tidak semarah itu pada Sigit. Andai saja ia tidak sampai mengucapkan sumpah untuk tidak memberi Sigit penerus, maka mungkin semuanya tidak akan seperti ini.


Dan saat ini, ia hanya bisa termenung dengan tangis sesal yang menetes dan jatuh di pipinya. Harapan yang ia simpan dalam hati agar Disa memberinya waktu untuk menyelesaikan satu per satu masalahnya, ternyata tidak akan pernah ada. Ia sendiri yang telah menghapus kesempatan itu.


Kean sadar, di balik sikap Disa yang lembut, hatinya sangat keras. Banyak benteng yang mungkin ia bangun saat ini, terlebih saat ia telah terluka.


“Sa, maafkan aku. Maaf…” Kean terpekur dalam tangisnya yang dalam.


Sesal, ya hanya sesal yang saat ini ia rasakan.


*****