
Lima belas menit, waktu yang dihabiskan Disa untuk sampai di rumah Kean. Ia diantar langsung oleh pak Daan karena sang nona muda pun ikut. Di tangannya ia sudah membawa parcel buah-buahan dan beberapa makanan yang dominan rasanya asin.
“Aku belum sempat nengok abang sejak tau abang sakit, aku boleh ikut kan ke rumah abang?” begitu pinta Shafira saat menjeda Disa di pintu rumahnya.
Meski ragu, akhirnya Disa mengiyakan. Gadis cantik ini tetap berusaha memberikan perhatian pada orang-orang yang ia sayangi walau terkadang mereka mengabaikannya. Anggap saja ia sedang menyatukan tali kasih untuk mendekatkan anggota keluarga yang tercerai berai.
Sudah lebih dari lima menit lalu mereka tiba di depan gerbang rumah Kean namun Shafira masih terlihat ragu. Disa yang lebih dulu turun dan Shafira masih tampak berfikir apakah ia akan meneruskan niatnya untuk bertemu Kean atau pulang lagi saja ke rumahnya sebelum merasakan lagi penolakan dan sikap dingin sang kakak.
“Apa non fira akan ikut turun?” akhirnya Disa bertanya.
Terlihat tangan Shafira yang menggenggam erat sisi pegangan parcel yang di pangkunya.
“Apa abang akan mengusirku?” tanyanya pada Disa.
Ada ketakutan yang tersirat dari sorot matanya yang polos. Dalam benaknya, setelah beberapa waktu lalu ia mendapat penolakan, mungkin kali ini pun ia akan merasakan kekecewaan yang sama.
“Kita belum mencoba menemuinya bukan?” Disa memberikan rasa optimis pada Shafira.
Mengingat sikap Kean belakangan ini, rasanya mungkin saja sikap tuan mudanya mulai melunak. Lagi pula, ia percaya, batu karang sekeras apapun akan kalah dengan tetesan air yang konstan di atasnya.
“Hem, kita coba.” Shafira mengangguk setuju. Sepertinya tekadnya mulai bulat.
Ia turun dari mobil, merapikan sedikit penampilannya tanpa mau memberikan tentengannya pada Disa. Ia ingin memberikannya langsung pada Kean.
Bibir Disa tampak bergumam mengucap Basmallah saat memulai langkahnya masuk ke rumah Kean, agar semua rencana baiknya mendapat restu dari sang pencipta. Shafira segera menyusulnya dan berjalan bersisihan dengannya.
“Tuan muda belum pulang. Biasanya sekitar jam 7an baru pulang.” Terang Disa, memecah ketegangan yang dirasakan keduanya.
“Hem,” sahut Shafira yang berusaha tersenyum walau wajahnya tetap tegang.
Masuk ke dalam rumah dan tidak lama adzan maghrib berkumandang.
“Non fira bisa duduk dulu di sini, saya sholat sebentar.” Membawa Shafira ke sofa ruang keluarga dan gadis cantik itu menurut saja.
Ia duduk dengan tegang, melihat ke kiri dan kanan memperhatikan sekeliling rumah Kean. Ia menghela nafasnya dalam, merasakan aura rumah yang cukup sepi. Tapi jika di bandingkan dengan rumah utama, rumah ini memang terasa lebih nyaman. Ada sentuhan manis di setiap sudutnya, mungkin karena Disa yang menatanya hingga bangunan ini benar-benar terasa seperti rumah.
Lima menit berlalu, Shafira mulai bisa menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia mulai terbiasa dengan suasana rumah dan pikirannya mulai beradaptasi, tidak melulu membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
“Jangan sampai rasa takut membuat non fira menyerah untuk melakukan kebaikan.” Kalimat Disa saat akan berangkat ke rumah ini seolah menjadi penyemangat Shafira untuk berani menghadapi sang kakak. Ia hanya ingin membuat suasana membaik lalu mendekat pada orang-orang yang ia sebut keluarga.
“Ya, aku harus berani menghadapi abang. Darah kami sama, orang tua kami sama, aku yakin perasaan aku sama abang juga punya ikatan yang sama.” Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Berjalan ke sana kemari, memperhatikan seisi rumah Kean. Tidak ada foto yang terpajang, sepertinya sang kakak memang tidak suka memajang foto keluarga atau tepatnya ia tidak merasa memiliki keluarga untuk ia pandangi saat merasa sendiri. Akhirnya pandangannya tertuju pada lampu taman yang mulai menyala kekuningan. Ia berharap semoga ia bisa mendapatkan cahaya agar bisa mendekat pada keluarganya.
“Non fira,” suara Disa menyadarkan Shafira dari lamunannya.
Gadis cantik itu menoleh dengan segaris senyum.
“Non fira mau sholat juga? Biasanya hati akan tenang setelah sholat.” Ujar Disa yang telah selesai dengan kewajibannya.
“Hem,” Shafira mengangguk sepakat.
“Baik. Non fira bisa pake kamar tamu, saya siapkan mukenanya.”
“Iya mba.” Gadis cantik itu melenggang masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Membasuh wajahnya dan bagian-bagian tubuhnya hingga selesai seluruhnya.
Disa yang melewatinya tersenyum simpul, entah mengapa ia merasa optimis kalau hubungan kakak beradik ini bisa membaik. Shafira bukan lagi gadis keras kepala. Ia mau melemah dengan keadaan demi mendekat pada keluarganya. Sungguh hati Disa terrenyuh melihat usaha Shafira.
Terkadang ia merasa iri, walau konflik keluarga kaya ini tidak bisa ia mengerti tapi paling tidak, mereka ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan kembali mendekat satu sama lain. Sementara ia, tidak ada yang bisa ia dekati selain satu-satunya keluarga di kampung halamannya.
Hah, mengucap kata keluarga, selalu saja bayangan Jenar yang muncul di pikirannya. Sedang apa ia sekarang? Apa kondisinya baik-baik saja? Dan sebaris pesan ia kirimkan pada bibinya.
Sambil menunggu Shafira yang sedang sholat, Disa mulai menyiapkan makan malam. Makan malam kali ini di buat lebih special untuk kakak beradik tersebut. Perasaannya begitu senang, bisa menyiapkan makan malam untuk Kean dan Shafira. Ada do'a yang terselip dalam masakannya. Semoga saja, makan malam ini menjadi awal untuk mendekatkan mereka.
*****
“Mba disa, aku yang plating yaa…” suara Shafira terdengar riang saat melihat capcay buatannya matang. Matanya tampak membulat dengan cuping hidung kemping kembung mencium aroma makanan yang ia buat.
“Silakan nona.” Disa menyodorkan sebuah piring saji pada Shafira.
Saat masakan matang siap berpindah ke piring, ia segera mempercantik piring yang diberikan Disa dengan memberinya hiasa berupa selada dan tomat di pinggirannya. Satu kuali makanan pun berpindah ke piring saji.
“Heemm,, wangi…” seru Shafira dengan senyum terkembang.
Walau non mudanya terbilang jarang memegang alat dapur tapi ternyata ia cukup bisa menata makanan menjadi lebih cantik.
Setelah sholat tadi, Shafira memang bersikukuh untuk membantu Disa memasak. Sudah di larang pun, ia tetap merajuk. Katanya ini salah satu cara ia mendekat pada sang kakak. Mengetahui apa yang kakaknya suka dan tidak suka.
Disa cukup tersentuh dengan ujaran Shafira. Gadis cantik ini berusaha keras untuk memperbaiki banyak hal.
“Wah, perut saya langsung ikut kerucukan liat masakan non fira.” Puji Disa yang ikut mencium wangi masakan Shafira.
“Kira-kira abang suka gak ya mba?” wajah cantik itu terlihat ragu.
“Siapa yang tidak tergoda dengan masakan non fira? Tuan muda pasti suka.” Disa berusaha membesarkan hati Shafira. Setelah berkeringat dan bau minyak, tentu ia tidak ingin membuat usaha nona mudanya sia-sia.
“Krieet..” suara pintu terbuka.
Saat melihat jam, sudah hampir jam 7 malam. Seorang laki-laki masuk ke dalam rumah yang tidak lain adalah Kean. Wajahnya terlihat lelah dengan penampilan yang sudah tidak rapi lagi. Dasinya sudah ia longgarkan dan langkahnya terlihat cepat ingin sampai ke sofa.
“Selamat malam tuan.” Sambut Disa. Menghampiri Kean lalu mengambil tas kerja dari tangan Kean.
Ia melirik Disa dan baru sadar kalau ada seseorang yang juga berdiri di belakangnya dengan wajah gugup.
“Kamu mengundang orang lagi ke rumah?” suara Kean terdengar sinis. Tatapannya pun terlihat tidak bersahabat.
Disa menoleh Shafira yang tampak tegang namun berusaha tersenyum.
“Non fira sengaja mengunjungi tuan untuk tau kabar tuan.” Berusaha tenang adalah cara yang Disa ambil. Ia membantu Kean melepas jasnya. Sepertinya laki-laki ini benar-benar lelah.
“Apa perlunya mengetahui kabar saya? Toh dia juga bisa bertanya pada bu kinar.” Lagi, kalimat Kean terdengar sinis.
“Mengunjungi secara langsung biasanya kerap membuat kita merasa lebih tenang di banding mendengar kabar dari orang lain.” Timpal Disa yang berusaha tersenyum seraya menatap Kean.
“Ck!” Kean hanya berdecik kesal. Ia memalingkan wajahnya dari Disa lalu berjalan menuju kamarnya.
“Siapkan air mandi saya.” suaranya terdengar lebih besar.
“Sudah saya siapkan tuan.”
“Periksa lagi.” Timpalnya.
Disa menoleh Shafira, ia memerlukan teman untuk berfikir karena tuan mudanya sedikit aneh.
“Udah ikutin aja mba disa.” Bisik Shafira, meminta Disa untuk menurut.
“Saya tinggal sebentar non.” Pamit Disa yang diangguki Shafira. Ya, tidak ada cara selain mengikuti permintaan tuan muda sebelum negara api kembali menyerang.
Tiba di mulut pintu kamar Kean, langkah Disa terhenti. Ia segera berbalik saat melihat tuan mudanya melepaskan kemeja putihnya dan melemparkannya sembarang.
“Sedang apa kamu di situ?” suaranya terdengar keras hingga membuat Disa tersentak.
“Em, saya,..”
“Perlu saya tunjukan arah kamar mandinya?” sengitnya lagi, mematahkan kalimat Disa.
“Ti-tidak tuan.”
Segera berlari kecil menuju kamar mandi sebelum Kean semakin murka. Entah kejadian apa yang ia alami di kantor hingga amarahnya terdengar meletup-letup.
Mengecek suhu air dan ternyata masih hangat. Tentu saja pemanas airnya masih menyala sudah pasti airnya hangat. Entah apa sebenarnya maunya tuan muda yang kadang membuat Disa tidak mengerti.
“Jangan mencampuri urusan saya dengan orang-orang itu. Atau saya pun akan mencampuri urusan pribadi kamu.” Suara ancaman terdengar jelas di belakang kelinga Disa.
Tentu saja, Kean sudah berdiri di pintu seraya menatapnya dengan dingin. Tangannya tersilang di depan dada seolah tengah mengintimidasi Disa.
“Maaf tuan, saya tidak bermaksud seperti itu.” Hanya bisa menjawab pendek sambil tertunduk.
“Lalu kenapa kamu mengajak anak itu datang ke sini?” masih menatap Disa dengan kesal. Yang di tatap tidak berani mengangkat wajahnya, karena sudah terbayangkan seperti apa ekspresi Kean saat ini.
“Jawab saya!” bentaknya hingga Disa terperanjat.
“Ma-maaf tuan. Non fira benar-benar tulus ingin tau kabar tuan. Beliau juga membelikan buah-buahan kesukaan tuan dan bahan pasta.” Suara Disa terdengar terbata-bata.
“Makanan kesukaan? Sejak kapan dia tau makanan kesukaan saya?” berjalan mendekat pada Disa dengan suaranya yang mulai turun tapi penuh penekanan. “Bukannya hanya kamu yang tahu makanan apa saja yang saya sukai?” semakin mendekat hingga membuat Disa mundur beberapa langkah hingga mentok di dinding kamar mandi.
“I-iya tuan. Tapi sungguh, saya tidak bermaksud ikut campur. Sebagai seorang teman,”
“Teman?” lagi Kean mendekat, membuat jarak mereka semakin dekat. “Kalau kita berteman dan kamu berani mencampuri urusan pribadi saya, maka tentu saya berhak tau urusan pribadi kamu kan?” ujar Kean yang terdengar lebih seperti bisikan.
Refleks Disa mengangkat wajahnya menatap Kean. Ia sadar, Netra pekat itu tengah menatapnya dengan tajam, seolah menguliti seluruh isi pikirannya.
“Kenapa, kamu tidak bersedia? Kamu mau bersikap egois?” mendekatkan wajahnya pada Disa dengan jarak yang sangat dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas Kean.
Mata bulat Disa sontak menutup rapat. “Tidak tuan, saya tidak egois. Tuan boleh tau urusan saya.” mudah sekali ia menyerah saat merasa takut.
“Oh ya?” seperti mendapat kesempatan emas. Memang ada yang ingin Kean tanyakan pada Disa tapi ia tidak menyangka kalau caranya harus seperti ini.
“Kalau begitu katakan, tadi siang antara jam 12.30 sampai dengan jam 14.30 kamu pergi kemana?” tanyanya dengan santai.
Mata Disa kembali membulat, seperti tidak menyangka Kean akan bertanya apa yang ia lakukan di jam tersebut.
“Sa-saya,…” mengulum bibirnya kelu, ragu sendiri untuk mengatakannya pada Kean. Ia sudah berjanji pada seseorang untuk tidak mengatakan apapun pada tuan mudanya.
Dan Kean dengan tidak sabar menunggu jawabkan Disa. Bibir berisi itu tampak bergetar hendak berbicara tapi sepertinya sangat ragu.
“Katakan, kamu kemana?” tanyanya lagi, semakin mendekat. Rasanya ia ingin mengigit sepasang bibir yang seolah tengah menantangnya.
“Ma-maaf tuan, saya…”
“Hah.. sudah aku tebak.” Ujarnya seraya menarik tubuhnya menjauh dari Disa. Tawanya terdengar ringan namun menyimpan banyak kecewa. Semakin mengerucutlah isi pikiran yang sedari siang mengisi pikirannya. “Kamu sendiri pun tidak bisa menganggap saya sebagai teman bukan? Kamu tidak bisa terbuka pada saya tapi kamu masih berani menjadi pion anak kecil itu?” berbalik membelakangi Disa dengan hembusan nafas kasar.
“Berhenti disa. Jangan bersikap seolah peduli padahal kamu tidak peduli.” Tandasnya. Ia menunjuk pintu kamarnya, dengan tegas meminta Disa keluar.
“Sa-saya minta maaf tuan.” Tutur Disa sebelum ia pergi meninggalkan Kean. Ia tahu, ia telah membuat tuan mudanya kecewa tapi ia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin saat ini ia memang harus menjauh.
Sepeninggal Disa, Kean terduduk lemah di atas toilet. Ia tersenyum sendiri mengingat ekspresi Disa yang bersikukuh menyembunyikan sesuatu. Padahal ia bisa menebak apa yang Disa lakukan. Ia hanya ingin Disa mengatakannya. Tapi melihat Disa yang terdiam, ternyata malah membuat dadanya semakin sesak. Semakin banyak kemungkinan yang Disa lakukan di belakangnya.
“SHIT!” tembok kamar mandi menjadi sasaran pukulan kemarahannya. Entah mengapa ia harus begitu kecewa. Meremas rambutnya dengan kasar, berharap bayangan Disa hilang dari pikirannya. Ya, bayangan saat Disa bersama Reza yang semakin lama semakin nyata.
Di bawah sana, Disa berjalan dengan gontai. Ada rasa kecewa saat mengingat kalimat Kean kalau ia hanya berpura-pura peduli. Padahal ia sudah berusaha melakukan sebisa yang ia mampu. Tapi mungkin itu tidak cukup.
Shafira yang menunggunya dengan tidak sabar di meja makan, segera berdiri.
“Gimana, abang marah ya? Apa aku pulang aja mba?” Shafira terlihat merasa bersalah. Ia merasa kalau ia lah yang menjadi alasan kemarahan Kean pada Disa.
“Jangan, non fira belum makan. Makanlah dulu.” Pinta Disa seraya mengambilkan piring untuk Shafira.
“Kita tunggu abang bentar lagi ya mba. Hem,..” menahan tangan Disa dan memilih untuk menggenggamnya. Seperti ada banyak harapan di hatinya untuk bisa makan malam bersama sang kakak.
Disa merasa semakin tidak tega pada nona mudanya yang sudah berusaha hingga sejauh ini. Tentu bukan hal yang mudah mengesampingkan ego demi mendekat pada seseorang yang selalu menolaknya.
“Iya. Tapi kalo setengah jam tuan muda tidak turun, non fira makan lebih dulu ya.. Kita pulang karena besok non fira harus sekolah.”
“Iya mba.” Beruntung Shafira masih bisa di ajak kompromi. Semoga saja hati Kean melunak dan mau turun untuk makan malam.
****