
Usaha untuk membujuk makan gagal total. Disa hanya bisa menggeleng saat ketiga temannya bertanya, “Gimana?”
“Apa aku bilang, nona muda itu susah di bujuk. Tapi biarin aja sih, mungkin kalo lapar juga dia turun sendiri kan?” Nina masih dengan kekesalannya.
Ia masih teringat saat semalam Shafira malah membentak dan memakinya dari dalam kamar, saat ia membujuk Shafira untuk makan.
“Mungkin nona muda butuh waktu dan kita memang harus membiarkan dia sendiri dulu.” Disa mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi.
Perasaannya ikut terbawa saat perbincangan di kamar tadi. Dan mungkin ini yang membuatnya tiba-tiba merasa lemas dan sedih.
“Iya aku juga udah cape bujukin. Mending nyiram bunga deh.” Tina yang lebih dulu berlalu dari tempatnya dan pergi ke taman belakang, di susul oleh Wita dan Nina.
Disa menempatkan kepalanya di atas meja. Pandangannya yang sendu ikut tertuju pada langkah kaki Nina yang pergi ke kamarnya yang semakin lama semakin jauh lalu menghilang di balik pintu.
Tinggallah ia sendirian, memikirkan sendiri perkataannya tadi. Entah benar atau salah, entah di mengerti atau tidak, yang jelas ia hanya mengutarakan perasaannya.
Perlahan bayangan orang terkasih yang pergi lebih dulu, tergambar di pelupuk mata Disa. Hanya sang ayah yang bisa ia rindukan dan samar-samar ia bayangkan wajahnya. Sementara sang ibu, ia bahkan hanya tahu rupanya dari lukisan sang ayah.
Ya, Disa dan ayahnya sama-sama suka melukis. Mungkin itu yang membuat mereka sangat dekat. Sedari kecil, Disa di kenalkan dengan gambar dan warna cat minyak dan pekatnya cat air, hingga semuanya sangat familiar.
“Disa,..” sebuah suara menyadarkan Disa dan berhasil membuatnya tersentak di tempatnya.
Adalah Kinar pemilik suara lembut namun tegas tersebut.
“I-iya bu?” Disa segera menegakkan tubuhnya dan berdiri berhadapan dengan Kinar. Ia merapikan helaian anak rambut di dahinya yang sangat tidak disukai Kinar, karena tidak rapi.
“Bawa tas belanja kamu, kita pergi beli beberapa barang.” Perintahnya selalu tegas.
“Baik bu.” Tanpa perlu bertanya mau kemana, Disa mengangguk dengan cepat lalu mengambil tas belanja yang ada di lemari. Kinar hanya memperhatikan sampai Disa memakai sepatunya dan berkata, “Saya sudah siap bu.” Lanjutnya kemudian.
Dengan isyarat mata, Kinar meminta Disa untuk mengikutinya. Mereka berjalan beriringan menuju halaman depan.
Sebuah mobil terparkir di depan rumah lengkap dengan seorang laki-laki yang membungkuk sopan saat melihat kedatangan Kinar dan Disa. Rupanya ini supir baru, karena bajunya sama dengan supir kepercayaan tuan besar namun wajahnya tampak sedikit asing.
“Silakan bu kinar.” Supir pun bahkan memperlakukan Kinar dengan sopan.
Ia membukakan pintu untuk Kinar berikut Disa. Sepertinya tidak salah kalau Kinar memiliki peran penting di keluarga kaya ini. Selain pembawaannya yang memang berwibawa ia juga seperti kunci kehidupan di rumah ini. Tanpa Kinar yang mengatur, keadaan rumah ini akan semakin kacau.
Sopir bernama Daan tersebut mulai melajukan mobilnya membelah jalanan. Keluar dari perumahan mewah lalu berbelok ke jalan raya, berbaur dengan kendaraan lainnya. Sepertinya ia sudah tahu tempat yang akan mereka tuju.
Disa duduk dengan gugup di samping Kinar. Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara mereka, hanya suara nafas yang terdengar saling bersahutan. Sungguh sunyi, hingga rasanya Disa bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
*****
Hari minggu milik Kean rencananya akan di habiskan di sasana boxing milik Nasep, sahabatnya. Ia berangkat bersama Reza dengan menggunakan mobil sportnya.
Seperti biasa Kean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyalip satu per satu mobil di hadapannya yang tengah mengantri menuju tempat tujuan.
“Cat-nya belum lo benerin?” Reza memulai perbincangan di antara mereka.
Dari tempat duduknya, ia bisa melihat cat mengelupas itu masih belum diperbaiki.
“Belom, nunggu temen gue balik dari Australia.”
“Ah elah, ke bengkel temen lo satunya lagi bisa kali.”
“Gue gag percaya.” Sahut singkat Kean.
Reza hanya berdecik. Seperti itulah sahabatnya, ia hanya akan menyerahkan barang kesayangannya pada orang yang ia percayai, apapun itu.
“Gimana acara semalam?” berganti Kean yang bertanya tentang acara malam minggu Reza.
“Ya biasalah, obrolan khas para bapak sama para ibu. Ngobrolin masalah rumah tangga, anak-anak, rencana ngawinin anak dan semua obrolan khas para orang tua.” Kenang Reza pada kejadian yang ia lewati semalam.
“Lo jadi kambing conge dong?!” Kean terkekeh sinis dengan puasnya.
“Ya, cuma gue yang single. Mau gimana lagi. Gue juga yang jadi objek. Di tanya kapan married lah, apa gag kesepian tinggal sendiri di rumah, sama hal remeh temeh lainnya. Udah berasa lagi di sidang aja.” Keluh Reza seraya mengacak rambutnya kasar mengingat pertanyaan-pertanyaan berat bagi para jomblo yang berumur matang seperti dirinya.
"Mereka pikir cuma mereka yang mikirin hidup gue, gue lebih mikirin dan lebih mumet." imbuhnya yang membuat Kean kembali terkekeh.
Deritanya sama dengan Reza, di tanya kapan menikah rasanya lebih sering dari pada di tanya apa kabar.
“Ya lagian, Casanova kayak lo, tumben banget jomblo lama. Gag gatel itu tangan gag grepe-grepe anak gadis orang?” ledek Kean yang kembali tertawa.
Reza memandangi tangannya sendiri. Ia memang sudah sangat lama tidak menggenggam tangan seorang gadis yang ia sebut sebagai pacar.
“Gue gag pernah grepe cewek kalo dianya gag ngasih kode duluan. Toh itu juga terjadi gitu aja, naluriah bro. Dan gue bukan cowok brengsek yang ngerendahin seorang cewek lewat sentuhan-sentuhan macam gitu. Itu cuma bentuk ungkapan perasaan. Ah lo gag bakalan ngerti gue jelasin kayak gimana juga.” dengus Reza dengan malas.
Kean hanya mengangguk namun tetap bibirnya melengkungkan senyum. Sepertinya ia sangsi dengan yang diucapkan sahabatnya.
“Tangan lo sendiri apa kabar? Belum ada nih cewek beruntung yang menggenggam tangan suci lo?” Reza balas meledek.
Berganti Kean yang memandangi tangannya sendiri yang tengah menggenggam setir.
“Bukan belom ada, tapi gag akan pernah ada.” Sahut Kean dengan yakin.
“Kenapa gag jadi biksu aja sekalian, pergi ke timur nyari kitab kuning?!”
“Sialan lo fatkai!” sahut Kean dengan cepat.
Namun keduanya hanya tertawa. Obrolan seperti ini hanya akan jadi bahan tertawaan bagi Kean dan Reza, tidak pernah masuk ke dalam hati.
Tanpa terasa mereka telah tiba di sasana milik Nasep. Sang istri yang berprofesi sebagai instruktur yoga sementara Nasep yang berprofesi sebagai instruktur olah raga berat, salah satunya boxing.
Mereka memiliki sikap yang santai, tidak hanya pada Reza melainkan pada Kean yang selalu kesal saat di ledek sebagai tuan muda.
Di tempat inilah Kean bisa menjadi dirinya sendiri, sepenuhnya.
“Hay ganteng,..” sapa seorang wanita pada Kean dan Reza.
Wanita berbaju ketat khas outfit yoga yang menonjolkan setiap lekuk tubuhnya. Cukup menganggu fokus para laki-laki.
Hanya Reza yang membalas dengan senyuman tipis seraya melepas kacamata hitamnya, sementara Kean melengos begitu saja, mencari Nasep di pintu lain. Ia sangat tidak tertarik.
“Woy bro!” sambut Nasep saat melihat kedatangan Kean yang di susul Reza.
“Bang!” Kean membalas pelukan akrab teman sekaligus instruktur boxingnya.
“Tambah cakep aja lo! Tapi agak berisi dikit ya?!” Nasep memperhatikan tubuh Kean yang sepertinya memang lebih berisi.
“Gimana gag berisi, yang ngurusinnya expert. Makan tiga kali sehari, lengkap dengan service lainnya yang memuaskan.” Reza yang menimpali seraya bergantian merangkul Nasep.
“Berisik lo!” mendengus kesal namun tetap mengulum senyum.
“Wih, udah married lo? Kagak bilang-bilang sih?” Nasep semakin penasaran dengan kabar terbaru dari anak didiknya.
“Ngaco nih anak, gue belum married bang.” Kean berusaha mengklarifikasi.
“Lo tau lah bang, kalo seorang tuan muda cuma bisa married sama yang sekelas tapi beruntungnya dia bisa memilih siapa aja yang pengen jadi selir dan dayangnya. Kayak yang sekarang, full service tapi sayang nenek-nenek.”
Reza memang selalu puas kalau urusan meledek sahabatnya.
“Hahahahaha… Maksudnya yang ngurusin lo udah tua?” Nasep perlu penegasan.
Kean hanya menggeleng lalu masuk ke ruang ganti. “Bukan nenek-nenek, tapi anak bocah.” Timpalnya dari dalam ruang ganti. Melepas bajunya dan hanya menggunakan boxer olah raga.
“Lah, kemaren lo bilang umurnya 50 tahun, bocah tua maksud lo?” Reza penasaran, begitu pun Nasep.
Keluar dari ruang ganti dan menunjukkan wajah santainya. “Salah ketik dia, harusnya 20 tahun.”
“Wah? Udah ketemu?”
Reza dan Nasep sama-sama menghampiri Kean dengan wajah penasaran. Baru kali ini Kean mau membahas tentang lawan jenis.
Katakan saja ia terpaksa, namun paling tidak ia tidak menghindar atau menyangkal.
Hanya anggukan ringan yang di terima keduanya.
“Cakep gag?” Reza masih penasaran, matanya membulat menunggu jawaban.
Kean tidak menjawab, ia lebih memilih naik ke atas ring dan meloncat-loncat kecil melakukan pemanasan.
“Heh, jawab lo!” Nasep ikut penasaran dan mendekat.
Mereka sama-sama berdiri di pinggir ring seraya memegangi tali yang menjadi pembatas ring.
“Gag, biasa aja!” sahut Kean yang mulai melayangkan tinjunya ke samsak.
“Jawab gitu doang, lama bener.” Nasep melengos kesal.
“Gag usah kecewa lo bang, emang gag pernah ada cewek yang dia bilang cakep. Matanya rabun.” Timpal Reza yang ikut naik ke atas ring.
“Euuhhh tetep ya laki, kalo ngumpul ngobrolinnya betina lagi, betina lagi.” Dewi, istri Nasep datang dengan kedua anak kembarnya.
“Hahahaha.. Apalagi mba, demi meneruskan keturunan adam dan hawa, ya kan?” timpal Reza dengan santai. Dewi hanya terkekeh mendengar jawaban Reza. “Hey kembar, kalian apa kabar? Udah jajan belum hari ini?” lanjutnya menyapa putra kembar Nasep.
“Belom. Minta uang sana sama om-nya.” Dewi mendorong kedua anaknya agar menghampiri Reza.
“Om lagi boke. Nih minta ama om kean. Udah ganteng, banyak duit lagi.” Timpal Reza yang menyandarkan tubuhnya pada tali ring.
“Om kean, bagi duit. Mau jajan.” Suara si kembar terdengar bersamaan.
“Okey, tunggu di situ ya.” Kean menunjuk agar anak-anak tetap di tempatnya dan tidak mendekat.
“Lo apaan sih, masih alergi aja sama bocah.” Nasep terlihat kesal karena Kean masih belum berubah.
Terlibat dengan anak kecil selalu menjadi sebuah keengganan untuk Kean.
“Tau nih, lo juga bakal punya anak kali bos.” Timpal Dewi dengan santai.
Ia sudah sangat terbiasa dengan sikap Kean yang anti anak-anak. Kalau dulu, mungkin ia ikut kesal tapi saat ini sudah bukan hal aneh lagi melihat sikap Kean yang seperti ini.
“Nih. Bagi dua ya.” Daripada meladeni ucapan Nasep dan Dewi, Kean lebih memilih memberikan uangnya dari jauh.
“Bilang makasih, gag usah salim.” Suara Dewi yang mengingatkan.
“Makasih om.” Suara si kembar kembali terdengar.
“Hem,..” hanya itu sahutan Kean yang kembali asyik dengan permainannya.
Mereka memulai permainan di atas ring. Nasep sang pelatih mulai mengenakan punch mitt di kedua tangannya. Kean yang meninju dan Nasep yang bertahan mengimbangi permainan Kean.
"Kurang kenceng, kayak cewek lo." seru Nasep membakar semangat Kean.
"BUK!!" pukulan demi pukulan di layangkan Kean ke arah Nasep. Nasep terus menahannya dan mengimbangi Kean.
"Ya good!" serunya saat hantaman dari tangan Kean terasa semakin kuat.
Sementara Reza masih berada di sisi lain, asyik menghajar samsak yang tergantung sambil menunggu giliran menghantamkan tinjunya pada sang pelatih.
****