
“Tok-tok-tok!” suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Disa yang sedang berada di kamarnya.
“Kak reza!” serunya saat melihat seseorang yang berdiri di mulut pintu kamarnya adalah Reza.
“Hay, aku ganggu gak?” Reza menyandarkan tubuhnya pada daun pintu Disa dengan tangan tersilang di depan dada.
“Nggak. Ini aku lagi nyari hp mau ngehubungin dokter austin tapi malah lupa naro.”
“Kak reza udah lama?” Disa menghentikan sejenak acara mengobrak abrik kamarnya untuk mencari hp. Saat bekerja Disa memang jarang memegang ponselnya, hanya sesekali saja saat ia harus menghubungi orang lain seperti saat ini.
“Nggak, baru aja dateng. Mamah pengen ketemu tante arini, katanya kangen. Maklum, ibu-ibu gak kuat kalo gak ngegosip.”
“Aku bantu cari ya. Boleh masuk?”
“Em ya.” Sedikit ragu tapi akhirnya Disa mengizinkan Reza masuk.
Reza memperhatikan kamar Disa yang tidak ada perubahan dari terakhir ia merapikannya. Yang berbeda hanya sekarang sudah ada gordin tipis yang menutupi jendela kamarnya.
Mereka mulai mencari ponsel Disa. Mulai dari dalam lemari, kolong tempat tidur, bawah bantal dan selimut tapi tidak ada.
“Duh dimana ya? Perasaan tadi aku taro di sini deh.” Memandangi ke atas tempat tidurnya seraya menggaruk kepalanya bingung. Ia sangat yakin kalau ia menaruh ponsel di atas tempat tidurnya tapi sekarang malah tidak ada.
“Ya udah jangan panik, aku telpon aja.” Melihat Disa yang kebingungan rasanya tidak tega. Ia segera menghubungi nomor ponsel Disa tapi ternyata tidak aktif.
“Gak aktif sa.”
“Aduh iya aku lupa. Aku baru ganti sim card soalnya yang sebelumnya hangus.” Kalau sudah jatuh memang seringnya tertimpa tangga seperti yang di alami Disa. Karena jarang menggunakan ponselnya ia sampai lupa kalau masa aktif kartunya sudah habis.
“Ya udah tenang, kita cari di bawah, siapa tau kamu naro di dapur atau di tempat lain mungkin?” berusaha menenangkan Disa dengan mengusap-usap bahunya. Disa hanya mengangguk-angguk saja dan segera keluar dari kamarnya.
“Eh bro! gue kira lo lagi tidur.” Seru Reza saat berpapasan dengan Kean di tangga rumahnya.
“Nggak. Lo udah lama?” Kean merangkul sahabatnya seperti yang biasa ia lakukan.
“Belom. Belum sampe di suguhi kopi.” Goda Reza seraya menoleh Disa yang masih dengan wajah bingungnya mengingat ponselnya.
“Kenapa?” Kean memang peka urusan melihat perubahan ekspresi Disa.
“Dia lupa naro hp tapi pas mau gue telpon, malah gak aktif. Katanya ganti nomor.” Terang Reza.
Kean mendelik kesal. Sejak kapan Reza menjadi juru bicara wanita di hadapannya?
“Kebiasaan.” gerutu Kean yang masih bisa di dengar Disa. Disa hanya bisa menunduk, merutuki kebodohannya. “Ya udah lo telponin, 082..”
“Lo inget bro?” alih-laih menekan tombol keypad-nya, Reza malah terpaku menunggu jawaban Kean.
“Udah, mau lo telpon gak?”
“Oh iya sorry, berapa tadi?”
Kean mulai menyebutkan dua belas digit nomor Disa. Disa hanya terpaku seraya menatap wajah tuan mudanya. Kean memang membantunya mengganti simcard tapi ia tidak menyangka kalau Kean pun mengingat nomornya.
“Tuh, suaranya masih di dalem kamar.” Reza celingukan mencari sumber suara.
Dengan segera Disa berlari, sepertinya ia tahu dimana letak ponselnya.
“Aahh.. Syukurlah..” Disa bisa menghela nafas lega saat mendapati ponselnya ternyata ada di wastafel kamar mandi. Ceroboh memang. Saat cuci tangan, Disa menaruh ponselnya di sana dan malah lupa.
“Ter-” baru akan mengucapkan terima kasih, Kean sudah tidak ada di pintu kamarnya.
“Kean udah turun barusan.” Tunjuk Reza ke lantai satu.
“Oh iya kak.” cepat sekali Kean menghilang padahal ia belum sempat berterima kasih. Disa memegangi kuat-kuat ponselnya agar tidak lupa lagi menaruhnya dan merepotkan banyak orang.
“Oh ya sa, pak hilman mau nikahin anaknya. Dia ngundang aku. Kamu mau ikut?” tawar Reza tiba-tiba saat mereka menuruni anak tangga.
“Oh ya? Kapan?”
“Selasa depan. Kamu bisa nemenin aku?” Reza menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir dan memandangi Disa yang masih terkejut mendapat ajakan Reza.
“Em aku,” bingung juga jawabnya. Mana mungkin ia memutuskan sendiri.
“Kalian mau kemana?” Arini yang sedang menonton tv bersama Nita mendengar perbincangan mereka.
“Em, anu tante. Reza mau ngajak disa kondangan ke salah satu dosennya dulu. Boleh gak tan?” dengan berani Reza meminta izin langsung pada Arini.
Arini melirik putranya yang asyik dengan ponselnya walau ia tahu Kean masih menyimak perbincangan mereka.
“Boleh. Kenapa enggak?” sahut Arini yang kembali melirik Kean. Ia ingin tahu seperti apa respon putranya saat mendengar jawabaannya. Dan ternyata Kean hanya terdiam, tidak menimpali sedikitpun. “Kapan acaranya?”
“Wah makasih tante. Hari selasa ini. Malem kok acaranya. Biasalah temanya night party.” Menyebut tema pesta yang biasanya mewajibkan para tamunya memakai gaun dan jas rapi.
“Boleh. Lagi pula disa jarang keluar. Di rumah terus nemenin tante. Sekali-kali kamu ajak main lah biar dia gak bosen.” Arini seperti memberi lampu hijau untuk Reza, sesuatu yang sulit di dapat selama ini.
“Wah, boleh tante?” dengan senang hati Reza mendekat pada Arini dan duduk di sampingnya.
Sudah sangat lama Reza berusaha mengajak Disa jalan atau sekedar makan malam bersama tapi Disa selalu menolak dengan alasan ia harus melakukan pekerjaannya.
“Boleh dong. Dulu seusia disa, tante sama mamah kamu sering banget pergi-pergian. Belanja, nonton atau hunting makanan ke tempat yang lagi popular. Masa muda itu harus di nikmati. Iya kan ta?” Arini mulai merepet, bercerita dengan semangat tentang masa mudanya.
“Iya dong.” Nita mulai menimpali membuat cerita mereka semakin seru.
Akhirnya Reza mendapat kesempatan. Ia menoleh Disa dengan segaris senyum dan Disa membalasnya dengan senyuman samar.
Tidak seperti Reza, hatinya belum yakin harus sesenang itu mendapatkan kesempatan lebih sering bertemu Reza. Seperti ada yang mengganjal.
Ada satu orang yang sepertinya mulai jengah. Kean, ya sang tuan muda memilih pergi dan masuk ke kamarnya. Ia melewati Disa yang masih berada di tangga, tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia bahkan tidak melirik, membuat perasaan Disa tidak enak.
Disa masih memandangi Kean hingga tuan mudanya masuk ke kamar dan tidak keluar lagi. Sungguh tidak nyaman kalau Kean bersikap seperti ini. Mungkin tuan mudanya tidak suka dengan rencana Disa untuk menemani Reza pergi kondangan. Ia tahu, dengan mengiyakan ajakan Reza, ia meninggalkan kewajibannya untuk menjaga Arini.
“Sa, sini kita ngobrol.” Panggil Nita pada Disa yang masih mematung.
“Oh iya bu.” Walau ragu akhirnya Disa bergabung dalam obrolan santai khas ibu-ibu. Menyimaknya dan sesekali ikut menimpali walau pikirannya tidak seluruhnya berada di sini.
*****
Malam sudah sepenuhnya larut, suasana pun sudah sangat sepi. Disa sudah berganti pakaian, melepaskan baju seragamnya dan berganti dengan baju kaos dan celana training yang biasa ia gunakan untuk tidur. Ia menutup jendelanya yang masih terbuka dan baru sadar kalau pintu balkon belum ia tutup.
“Duh, hampir aja lupa tutup jendela. Ini aku kenapa sih perasaan seharian ini banyak gak fokusnya?!”
Mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri yang memang seharian ini banyak mis-nya. Kalau di bilang pikirannya berat, tidak juga. Tidak ada hal berarti yang menganggu pikirannya. Lalu apa yang membuatnya sering gagal fokus?
Berjalan keluar kamar dan menuju balkon. Saat akan menutup pintu balkon, ia merasakan hembusan angin malam yang segar dan membuatnya urung menutup pintu. Ia berjalan keluar balkon, memandangi sekitaran taman yang mulai sepi. Dari tempatnya ia melihat dedaunan hijau yang bergerak tertiup angin dengan cahaya lampu pijar yang indah.
Mungkin ini alasan mengapa Kean sering berdiam diri di sini. Tempatnya menenangkan dan menyenangkan.
Disa merangkul tubuhnya sendiri. Baru sekarang terasa pegalnya setelah tadi berolah raga. Kalau di hitung-hitung ini olah raga Disa yang paling berat. Biasanya hanya sebatas bergerak ke sana kemari, mengangkat gallon, mengangkat kantong sampah atau mengayuh sepeda.
Pagi tadi olah raganya lebih berkualitas. Kean menjadi instruktur yang baik, melatihnya dengan sabar walau terkesan sedikit garang. Tegas mungkin maksudnya.
Katanya, olah raga Disa kali ini setara dengan membakar kalori dua bungkus nasi padang. Hah, mengingat nasi padang membuat perutnya lapar lagi. Entah kapan terakhir ia menikmati nasi padang dengan sambal ijo dan daun singkong. Kuahnya yang banyak dan daging rendangnya yang tebal selalu membuat selera makannya melonjak. Kapan lagi ia bisa menikmati makanan murah tapi mengenyangkan itu.
Berdiri di sini membuat Disa bisa menghela nafas dalam-dalam. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya membuat Disa memincingkan matanya. Ingatannya membawa Disa pada perbincangan beberapa saat lalu bersama Arini.
Sebelum tidur nyonya besarnya minta di temani. Mereka berbincang sebentar sebelum Arini benar-benar terlelap. Satu kebiasaan Arini sebelum tidur adalah meminta di oleskan krim obat ke beberapa bagian tubuhnya. Katanya saat tidur pun kulitnya bisa kekurangan cairan sehingga ia harus menggunakan krim sebelum tidur.
“Kamu sudah lama mengenal reza?” pertanyaan tidak di duga itu tiba-tiba di tanyakan oleh Arini. Mungkin karena ia terlihat akrab dengan Reza.
“Lumayan lama nyonya.” Disa menjawab dengan apa adanya. Sambil menghitung berapa lama ia mengenal Reza.
“Menurut kamu, reza seperti apa orangnya?” Arini menatap Disa dari pantulan cermin dan memperhatikan gadis yang sedang mengolesi punggungnya dengan krim.
Arini memperhatikan senyum Disa yang terbit saat ia memberi penilaian pada Reza, cukup membuatnya penasaran. Batasan baik seorang laki-laki bagi seorang gadis terlalu spesial.
“Kalau di bandingkan putra saya, lebih baik mana?” pertanyaan Arini mulai mengerucut dan beberapa saat Disa menghentikan gerakan tangannya.
“Apa harus saya perbandingkan nyonya?” pertanyaan Arini sedikit aneh menurut Disa. Seorang ibu biasanya akan sangat murka kalau anaknya di perbadingkan dengan orang lain namun Arini malah meminta pendapatnya.
“Ya. Kenapa tidak?” jawaban Arini terdengar yakin. “Reza dan Kean berteman sejak kecil. Setau saya reza mudah akrab dengan lawan jenis tapi kean, saya bahkan belum pernah menemukan foto seorang gadis di kamarnya apa lagi bercerita tentang wanita yang di pujanya.”
“Kadang saat saya bertanya, ia malah marah. Aneh bukan?” Kali ini Arini bertanya dengan wajah bingungnya.
Disa ikut berfikir, ia mencoba membayangkan sosok tuan mudanya yang ia ingat. “Mungkin tuan muda bukan tipe yang terbuka soal perasaannya. Em,, apa ya, orang-orang menyebutnya… Introvert.” Disa tersenyum bangga berhasil mengingat istilah itu.
“Maksudnya?” Arini balik bertanya.
“Nyonya, apa kita tidak apa-apa membicarakan tuan muda seperti ini?” Disa sedikit berbisik saat menyebut tuan mudanya. Khawatir terdengar.
“Tidak apa-apa.” Arini terlihat santai saja. Seperti tidak ada beban.
“Saya butuh pendapat kamu. Selama 20 tahun ini, saya terlalu egois. Sibuk mengasihani diri sendiri tanpa memperdulikan lingkungan sekitar, termasuk putra saya.”
“Dia tumbuh menjadi anak mandiri yang tidak cengeng, tidak pernah mengeluh. Semua perhatiannya tertuju pada saya.”
“Saya tidak menyadari waktu begitu cepat berlalu hingga tiba-tiba saya melihat putra saya sudah menjadi laki-laki dewasa yang mengurus semua kebutuhannya sendiri. Ia tidak ingin bergantung pada orang lain. Dia selalu ada untuk saya tapi saya melewatkan banyak kesempatan untuk menemaninya saat dia membutuhkan saya.”
“Mungkin itu yang membuat kean tidak bisa mengekspresikan perasaan atau keinginannya hingga terkadang saya takut memaknai keinginan putra saya yang sebenarnya.”
Wajah Arini terlihat sendu. Matanya tampak berkaca-kaca. Sepertinya banyak penyesalan yang ia simpan.
“Sekarang saya ingin menemani anak saya. Lebih memahami apa yang dia rasakan dan dia butuhkan. Saya harap saya tidak terlambat.” Tandasnya seraya mengusap air matanya yang menetes.
Hanya sebuah senyum simpul yang di tunjukkan Disa. Terkadang ia iri melihat kedekatan Kean dengan ibunya. Seperti seluruh perhatian tuan mudanya hanya tertuju pada satu wanita ini tanpa bisa membantah apapun.
Dan saat ini Disa sedang membayangkan jika ia masih memiliki seorang ibu yang menyayanginya seperti Arini. Mungkin ia akan merasa lebih percaya diri dengan apa yang ia pikirkan atau ia rasakan. Memiliki seseorang sebagai tempat berbagi perasaan bisa membuat kita berani menunjukkan perasaan.
Kean memiliki kesempatan dan ia tidak.
“Tuan muda orang yang baik. Beliau memiliki hati yang lembut walau terkadang ia menunjukkan perasaannya dengan cara yang berbeda. Tapi, nyonya dan tuan muda sangat beruntung karena memiliki satu sama lain.” Tandas Disa saat itu.
Jika mengingat kalimatnya sendiri, rasanya ia ingin tertawa. Berani sekali ia menilai siapa tuan mudanya tanpa alasan mendasar. Ia bahkan hanya menilai sekilas, karena memahami apa yang di pikirkan dan di rasakan Kean itu terlalu sulit. Kean tidak pernah memberi celah pada orang lain untuk menebak perasaannya.
Teralih dari pikirannya tentang perbincangan dengan Arini, Disa kembali merasakan tubuhnya yang masih pegal. Ia mencoba merenggangkan otot tangannya. Sedikit memukul-mukulnya juga memijatnya. Lebih baik rasanya. Ia pun membungkukkan tubuhnya lantas berpegangan pada pinggiran balkon. Saat tulang belakangnya sedikit tertarik rasanya sangat nikmat.
“Kamu belum tidur?”
“Astaga!” Disa tersentak mendengar suara tiba-tiba milik Kean.
Ia segera menegakkan tubuhnya dan memegangi rambutnya yang terburai karena tidak di ikat. Apa tuan mudanya bisa terbang sampai ia tidak mendengar suara langkah kakinya?
“Selamat malam tuan. Anda belum tidur?” rasanya sangat malu membayangkan Kean melihat apa yang ia lakukan beberapa saat lalu.
“Kamu pikir saya bisa tidur sambil jalan?” ketusnya seraya menghampiri Disa.
“Heheheh.. Tidak juga. O iya, apa ada yang tuan perlukan?” baru sadar kalau ia memakai stelan tidur. Ia pikir tuan mudanya sudah tidur sehingga ia berani keluar tanpa memakai seragamnya.
“Saya mau mengambil minum. Kamu sedang apa malam-malam di sini?” menatap Disa dengan ekspresi datarnya.
“Tadi niatnya saya mau menutup pintu tapi ternyata anginnya segar. Jadi nongkrong sebentar di sini.”
“Tuan mau minum? Saya ambilkan ya. Tunggu sebentar.” Dengan cepat ia berlalu padahal Kean belum memberinya perintah.
Terkadang Disa memang terlalu gercep, terlalu paham.
“Silakan tuan.” Disa menyodorkan segelas air beserta sepiring kue. Mungkin saja tuan mudanya mau nyemil karena tadi makannya tidak banyak.
“Duduklah.” Titahnya.
“Terima kasih tuan.” Disa duduk di kursi yang hanya terhalang meja kecil dari Kean.
“Mamah udah tidur?” sepotong biskuit masuk ke mulutnya. Ternyata enak juga.
“Sudah tuan. Setelah minum obat dan di olesi krim, nyonya langsung tidur.”
“Tanganmu kenapa?” menunjuk lengan Disa yang tampak kebiruan.
“Oh ini.” Baru sadar juga kalau tangannya sedikit memar dan kebiruan. “Mungkin cuma kaget aja ototnya karena tiba-tiba olah raga berat.” Menyembunyikan tangannya dari atas lengan kursi. Bersidekap mungkin lebih baik agar Kean tidak lagi memperhatikan lengannya.
“Harusnya kalau kamu tidak kuat olah raga seperti tadi, jangan di paksakan. Apa susahnya menolak.” Lah, tuan mudanya yang mulai nge-gas.
“Heheheh.. Saya memang penasaran sama alat tadi. Biasanya saya liat di tv atau majalah. Tapi tadi lihat langsung jadi ingin mencobanya.” Kilahnya diplomatis.
“Tapi sepertinya saya hanya cocok dengan sepeda, sapu dan kain pel. Itu sudah cukup membuat saya berkeringat.” Akunya dengan santai.
Mendengar cerocosan Disa membuat Kean tersenyum tipis. Random juga obrolannya. Ada sedikit rasa penasaran saat ia mengingat kalimat Disa tadi.
“Kenapa kamu sangat suka naik sepeda? Itu kan bikin kaki kamu semakin besar.” Bertanya dan meledek itu memang beda tipis ya. Seperti makan tepung yang di dalamnya ada udang.
“Em karena, saat saya menaiki sepeda saya selalu merasa kalau ayah saya ada di belakang saya dan memegangi boncengan. Saya jadi tidak takut jatuh dan tidak merasa sendirian.” akunya dengan senyum terkembang, seperti tengah mengingat kilas balik kenangannya beberapa tahun lalu.
“Dulu, waktu ayah saya masih ada. Kalau saya nangis, biasanya saya di suruh naik sepeda. Katanya biar air matanya kering kena angin. Jadi mata saya gak merah gara-gara di kucek."
"Aneh memang, tapi itu berhasil. Dalam beberapa saat, air mata saya kering dan perasaan saya lebih baik.”
“Mungkin itu hanya sebuah cara untuk mengalihkan kesedihan saya dulu. Cara ayah saya menghibur saya.” kenang Disa. Rasanya ia tidak ingin mengakhiri lamunannya.
Kean memperhatikan Disa lekat-lekat. Ia tidak menyangka kalau pertanyaan sederhana tentang sepeda membuat Disa mengenang masa lalunya.
“Sepertinya kamu sangat menyayangi ayahmu.” Kean menghentikan kunyahannya dan menaruh sisa biskuitnya di piring. Mendengarkan cerita Disa sepertinya lebih menarik.
“Iyaa, saya sangat menyayangi ayah saya.” akunya dengan pandangan tertuju jauh ke depan sana.
“Saya tidak pernah bertemu dengan ibu saya. saya hanya tahu ibu dari lukisan terakhir yang di buat ayah."
"Beliau satu-satunya orang yang mengisi ingatan saya dengan banyak hal yang indah selama 5 tahun usia saya.”
“Sayangnya, kesempatan saya untuk bersama ayah, tidak lebih dari itu. Beliau meninggal di ruang UGD rumah sakit karena penyakit paru-parunya.” Disa menoleh Kean dengan sebuah senyum yang coba ia tunjukkan. Ia sudah ikhlas tapi melupakan itu bukan perkara mudah. Ia berusaha kuat padahal tidak sekuat itu.
“Saya tidak hanya kehilangan sosok seorang ayah, tapi saya juga kehilangan kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang lebih.” Disa tertunduk lesu. Entah mengapa ia merasa sangat merindukan ayahnya. Suaranya, tawanya, senyumnya, dan semuanya seperti tengah menari di benaknya.
“Kehilangan seseorang seperti yang kamu rasakan, bukankah lebih baik di banding memiliki seseorang tapi tidak terasa ada?” Kean bertanya dengan suara pelan. Seperti tengah mengumamkan apa yang ia rasakan.
“Paling tidak, mereka meninggalkan kamu dengan kenangan yang indah. Tanpa penyesalan.” Sambungnya seraya menatap Disa.
Disa tersenyum tipis. Rasanya ia mulai paham arah pembicaraan Kean.
“Tidak ada yang merasa lebih baik setelah di tinggalkan tuan. Terlepas itu meninggalkan kenangan baik atau pun buruk. Sendirian itu menakutkan. Kita tidak tahu harus berlindung pada siapa.”
“Dan saat seseorang yang bisa kita sayangi itu masih ada, bagi saya kesempatan itu lebih baik. Kita bisa memperbaiki banyak hal bersama-sama, memiliki kenangan yang lebih baik dan memberikan kasih sayang yang lebih banyak."
"Percayalah tuan, tidak ada kehilangan yang lebih baik di antara banyaknya alasan kehilangan seseorang. Kita hanya akan punya sesal.” Sambung Disa dengan penuh kesungguhan.
Kean tidak lagi menimpali. Ia mengalihkan pandangannya ke depan sana. Begitu pun dengan Disa. Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing, memaknai apa yang mereka bicarakan.
“Percayalah, tidak pernah ada kehilangan yang terasa lebih baik. Semuanya selalu meninggalkan luka.”
****