
“Dek,” panggil Mila saat Disa sedang fokus dengan manekinnya. Memasangkan pola di tubuh manekin sebelum ia jahit seluruhnya.
“Iya kak,” pandangannya langsung beralih pada wanita bertubuh tambun yang berjalan dengan cepat menghampirinya.
“Kamu gak salah kan dengan ini?” ia menunjukkan ipad di tangannya di hadapan Disa. Laman website resmi butik yang ia tunjukkan.
“Udah terjual ya kak? Semuanya?” mata Disa langsung membulat saat ia melihat kalau baju yang ia iklankan semalam ternyata hampir sold out, hanya tinggal 1 yang berwarna gold.
“Udah. Tapi kenapa kamu jual di bawah harga biasanya?” wajah Mila terlihat tidak senang, ia menatap Disa penuh kekesalan.
“Hah? Itu karena?” Disa jadi kaget dengan sikap Mila saat ini.
“Karena kita kurang duit jadi kamu sembrono ngejual dress yang kamu bikin susah payah?” timpal Mila dengan cepat.
Disa terpaku di tempatnya kaget dengan ucapan Mila yang seperti menyerangnya tapi kemudian ia terangguk.
“Kenapa kamu harus kayak gini sih? Kenapa gak bilang dulu sama aku, kita diskusi atau gimana gitu? Apa karena kamu merasa kalau baju dan butik ini punya kamu jadi kamu langsung mutusin ini sepihak?” suara Mila terdengar lebih lantang dari biasanya.
“Hah, nggak gitu kak.” Disa benar-benar kebingungan. Semalam ia memang panik sehingga tidak membicarakan terlebih dahulu hal ini dengan Mila.
“Kamu tau gak akibat dari tindakan kamu yang sembarangan ini?” jeda Mila dengan cepat.
Disa hanya terdiam, menatap Mila lalu menggeleng.
“Astaga! sudah aku duga.” Mila mendengus kesal. Pembawaan Mila yang tegas, terkadang lebih dominan di banding Disa. Tidak masalah sebenarnya karena Disa memang memerlukan orang tipikal Mila yang bisa melindunginya.
Tapi melihat kemarahannya saat ini, apa akan ada efek yang begitu besar jika ia menjual dress di bawah harga? Disa tercenung, berusaha memahami kemarahan Mila.
“Dengan segala hormat nona muda, bisakah anda tidak senaif ini?" tanya Mila dengan berapi-api.
"Lihat! Banyak pelanggan kita yang kirim pesan ke aku kenapa tiba-tiba nona ngejual dress di bawah harga.” Menunjukkan halaman pesannya yang di penuhi banyak pesan masuk dan baru beberapa yang Mila buka namun belum ia jawab.
“Mereka merasa kehilangan citra eksklusif dari baju yang nona bikin!”
“Ya saya tau itu hak nona untuk menjual baju yang nona bikin. Nona yang mendesain, nona yang menjahit dan nona pun boleh menjualnya. Hanya saja, tolong pikirkan psikolog pembeli."
"Yang kita lakukan saat ini bukan hanya sedang menunjukkan nona seorang desainer yang kualitas karyanya bagus -bagus tapi kita juga sedang branding. Menanamkan di pikiran pembeli kalau baju buatan nona itu eksklusif.”
“Itu alasannya saya selalu bilang agar nona memberi detail penjelasan pada setiap baju yang nona buat. Maksudnya apa, ya supaya orang-orang merasa spesial memakai baju yang nona buat. Tapi sekarang?”
Mila panjang kali lebar kali tinggi mengomeli Disa. Ia seperti tidak peduli kalau yang dihadapannya adalah nona mudanya, bukan hanya partner kerjanya.
“Kenapa sih nona seceroboh ini?” tanya Mila pada akhirnya.
“Astaga..” Disa hanya bisa mengusap wajahnya kasar lantas menangkup wajahnya yang tertunduk di hadapan Mila.
“Aku gak mikir sejauh itu kak.” Lirih Disa yang putus asa.
“Bagus! Itu akibat kalo nona memutuskan segala sesuatu sendiri. Atau mungkin nona memang tidak memerlukan saya di sini untuk sekedar berdiskusi mengenai masalah yang di hadapi butik. Jika seperti itu, saya bisa pergi.” Mila menaruh ipad di tangannya di atas meja lantas keluar dari ruangan Disa.
“Apa?” Disa panik. Di telannya saliva kasar-kasar sambil memandangi Mila yang keluar dari ruangannya dengan penuh kemarahan.
“Astaga kak, aku gak maksud kayak gitu.” Seru Disa dengan tangis yang hampir pecah. Ia mengejar Mila sampai ke pintu tapi Mila tidak menimpali apalagi berbalik. Ia lebih memilih mengambil tasnya dan kunci mobilnya lalu pergi entah kemana.
Disa hanya melihat Mila dari jendela ruangannya yang pergi tanpa berkata apapun. Seperti wanita ini sangat marah dengan apa yang Disa lakukan.
“Astaga disa, apa yang kamu lakukan.” Lirih Disa bertanya pada dirinya sendiri.
Ia terduduk di kursi kerjanya seraya menangkup wajahnya dengan dahi terkerut yang terasa pening. Jujur karena panik ia sampai tidak memikirkan hal ini. Ia hanya tahu harus melakukan sesuatu untuk menutupi kekurangan biaya di butik dengan usahanya sendiri.
Ya usahanya sendiri sampai kemudian Mila marah karena merasa tidak di anggap.
Cukup lama Disa termenung di tempatnya, memikirkan apa yang Mila katakan dan memang benar adanya.
Selama Disa pergi ke Paris, Mila tidak pernah meninggalkan butik ini. Ia tidak ingin kehilangan pelanggan dan sebisa mungkin menghubungi Disa apa Disa bisa menerima permintaan desain dari pelanggan atau tidak. Selama ini Mila sangat menghormatinya dan memperhatikan Disa yang kadang terlihat kelelahan saat harus membuat desain baju di antara tugasnya yang menumpuk.
"Dek, aku bisa handle di sini, kamu tenang aja. Kalo sekiranya kamu kelelahan, kita bisa off dulu." kalimat itu yang sering di katakan Mila padanya. Jujur, ia sangat tersentuh dengan perhatian besar Mila terhadapnya.
Lalu saat ia kembali ke butik ini, ia dan Mila sudah memutuskan kalau langkah awal yang akan mereka lakukan untuk bisnis kecil ini adalah dengan branding. Bukan hanya menentukan patokan harga yang ia berikan pada konsumen tapi memberi kesan eksklusif pada setiap desain yang Disa buat dengan memberi detail yang khas hanya dilakukan oleh Disa.
Keputusan Disa semalam untuk menjual 6 bajunya tanpa memberikan detail desain di website-nya apalagi tanpa membicarakannya dengan Mila terlebih dahulu sedikit banyak memang mempengaruhi pemikiran konsumen yang sudah terbiasa memakai jasanya.
Disa memang belum tahu strategi berbisnis dan tidak salah yang Mila katakan kalau ia terlalu naif dan terburu-buru mengambil keputusan hingga ia tidak memikirkan dampaknya bagi konsumen lain. Ia bahkan tidak ada iming-iming flash sale untuk baju yang dijual di bawah harga biasanya.
Mila benar dan ia layak untuk marah.
“Astaga aku harus gimana?” beranjak dari tempatnya sambil memikirkan apa yang telah ia lakukan. Pikirannya buntu hanya untuk sekedar memperbaiki kekacauan yang telah ia buat.
Tidak lama terdengar suara mesin mobil yang mendekat di susul bunyi decitan rem di halaman butik.
Adalah Kean yang kemudian turun dari mobil dan dengan langkah panjangnya masuk ke butik. Disa perhatikan wajahnya sangat tidak bersahabat dan Disa bergegas menyambutnya. Mengusap wajahnya berharap raut mukanya sedikit berubah.
“Aa? Kok tumben sore-sore ke sini?” Disa meraih tangan Kean yang hendak ia salami lalu ia kecup sambil memperhatikan wajah suaminya yang dingin.
“Kita perlu bicara.” Ucap Kean yang langsung masuk ke ruang kerja Disa.
“Iya, gimana a?” Disa mengikuti langkah panjang Kean dengan tergesa-gesa.
Ada apa lagi ini? Apa Kean juga ikut-ikutan marah padanya?
Kean melepas kancing jasnya, melonggarkan dasinya seperti berusaha membebaskan diri dari kain bersimpul yang mencekiknya.
“Aku denger kamu ngejual koleksi kamu di bawah harga karena kurang uang?” berbicara dengan Kean memang tidak ada istilah basa-basi. Langsung pada topiknya.
“I-iya. Itu,” Disa kembali dikejutkan dengan ekspresi Kean yang terlihat marah.
“Kenapa? Kenapa kamu gak bilang sama aku hah?” pertanyaannya tegas dan mengandung kekecewaan.
“Itu karena,” Disa kehilangan kata-kata. Pikirannya mendadak blank sejak Mila marah apalagi sekarang Kean yang membutuhkan penjelasan.
“Kamu merasa ini usaha kamu sendiri sehingga kamu tidak perlu memberitahu aku masalah seperti ini? Atau kamu merasa kalau aku tidak layak untuk dijadikan teman diskusi?” kalimat kekecewaan yang tidak jauh beda dari yang diucapkan Mila terhadapnya.
“Bukan gitu a, aku bisa jelasin. Aku mohon aa duduk dulu, kita bicara pelan-pelan.” Disa meraih tangan Kean yang ia ajak duduk di sofa.
Kean mengikuti permintaan Disa namun ia masih terlihat kesal.
“A, aku memang menjual beberapa koleksiku karena memang perlu biaya untuk akomodasi aku mengikuti fashion show sabtu ini. Tapi aku gak bermaksud buruk apalagi sampai berpikir kalau aa tidak layak dijadikan teman diskusi.” Disa mencoba berbicara dengan perlahan.
“Tapi apa yang kamu lakukan sekarang? Sampai pagi tadi kamu gak bilang apa-apa. Waktu kita semalam panjang, kamu bisa bilang kalau kamu sedang kesulitan. Kenapa kamu diam saja dan malah mengambil langkah sendiri?”
“Kamu tidak lupa kan kalau kita ini suami istri? Kamu juga tidak lupa kan prinsip kalau kita akan selalu berkomunikasi dan terbuka dengan apa pun yang kita hadapi?"
"Tapi untuk masalah sebesar ini bahkan aku harus tau dari orang lain. Kenapa kamu seegois ini sekarang? Kamu ingin menunjukkan kalau kamu mampu sendiri dan tidak membutuhkan aku?” pertanyaan Kean ternyata lebih sulit di jawab di banding pertanyaan Mila, membuat Disa hanya terpaku dengan air mata yang mulai menetes.
“Kamu tau sa, di pikiran kamu saat kamu meminta tolong pada orang lain kamu selalu menganggapnya sebagai merendahkan diri kamu sendiri. Harga diri kamu terlalu tinggi bahkan terhadap orang-orang di sekitar kamu, termasuk aku.”
“Harus aku akui, kamu memang mandiri, kamu bisa bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan tapi untuk kondisi sekarang kita yang sudah berumah tangga, kamu sangat egois.”
“Hampir 3 tahun kita LDR ternyata tidak cukup membuat kamu sadar kalau komunikasi itu penting. Untuk hal apapun. Dan 3 tahun itu pun tidak cukup untuk membuat kamu paham kalau aku menghormati kamu dan tidak pernah berpikir kalau kamu rendah dengan meminta tolong aku atau sekedar meminta pendapatku. Apa sangat sulit berbicara sama aku, hem?” suara Kean mulai terdengar rendah namun penuh penekanan.
Disa tidak bisa berkata-kata. Ia mengigit bibirnya sendiri untuk menahan tangisnya agar tidak semakin pecah. Ia memang tidak berpikir jauh, ia terlalu terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri, bertanggung jawab atas apa yang ia putuskan hingga ia lupa kalau dalam sebuah keluarga ada istilah berbagi beban.
Bukan untuk membebani satu sama lain tapi untuk menguatkannya dan menunjukkan kalau kepedulian orang-orang disekitarnya itu penting dalam mengambil keputusan. Disa melupakan itu.
“Aku minta maaf a, a-aku benar-benar gak berpikir sampai ke situ.” Terang Disa dengan air mata berurai.
Kean memalingkan wajahnya dari Disa, helaan nafasnya terdengar berat seperti laki-laki ini tengah sangat kecewa.
“Aku perlu waktu, kamu pun perlu waktu. Jika kamu merasa kalau kamu bisa menghadapi semuanya sendiri, silakan. Mungkin aku memang tidak perlu mencampuri apapun keputusan kamu dan hubungan kita ini,” Kean menghela nafasnya dalam menjeda kalimat yang ia tahan untuk di lanjutkan.
“Tidak cukup berarti buat kamu.” Lirihnya seraya beranjak dari tempatnya.
Kean pergi begitu saja meninggalkan Disa yang menagis di tempatnya dengan pikiran yang buntu. Satu hal yang ia sadari saat ini, Kean benar dan ia salah.
“Kenapa aku seperti ini?” Disa bertanya pada dirinya sendiri. Sungguh, ia benar-benar buntu.
*****
Hari itu, Disa memang pulang sedikit larut. Banyaknya pekerjaan menahan Disa di butik. Ia mencoba melanjutkan pekerjaannya walau pikirannya tidak karuan setelah bersitegang dengan Mila dan bertengkar dengan Kean.
Hari ini, ia telah membuat dua orang di dekatnya merasa dikecewakan dengan langkah semberono yang dia ambil. Hingga waktunya pulang kerja bahkan Mila tidak kembali ke butik dan Disa tidak punya keberanian untuk menghubunginya lebih dulu karena ia sadar kalau ia salah. Ia tidak melibatkan orang terdekat yang bisa ia ajak bicara sebelum mengambil sebuah keputusan besar.
Merasa memiliki suatu barang tidak lantas membuat ia memiliki hak untuk melakukan segala sesuatu seenaknya. Seperti yang terjadi sekarang, ketersinggungan Mila mungkin karena merasa tidak dianggap oleh Disa padahal selama ini mereka memikirkan banyak hal bersama-sama untuk butik yang ia kelola.
Dengan sebuah taksi, Disa sampai di rumah. Saat pintu gerbang terbuka tidak terlihat mobil Kean terparkir di halaman dan garasi yang sedikit terbuka. Sepertinya suaminya belum pulang.
“Selamat malam nona muda.” Sambut Tina saat membukakan pintu untuk Disa. Ia mengambil tas kerja Disa untuk ia bawakan.
“Malam na.” Suaranya terdengar lemah dan tidak terlalu bersemangat.
“Kok sepi na? Orang-orang pada kemana?” Melihat ke sekeliling rumah yang sepi. Tidak terdengar suara tawa Sigit atau celoteh Naka yang biasanya menyambut Disa pulang.
“Tuan dan nyonya besar sedang mengajak tuan muda kecil untuk jalan-jalan. Kalau tuan muda belum pulang nona.” Terang Tina. Pantas saja rumah sangat sepi.
“Nona mau makan malam sekarang?” tawar gadis itu kemudian.
“Em nggak, aku belum lapar.” Tidak selera makan tepatnya.
Disa mendudukan tubuhnya di anak tangga menuju kamarnya lalu menghubungi Kean. Namun beberapa kali melakukan panggilan, tidak ada jawaban dari suaminya. Ia pun mencoba menghubungi Arini, sama, tidak di jawab.
“A, aa masih di kantor? Pulang jam berapa?” akhirnya pesan itu di kirimkan Disa pada Kean. Last seen suaminya 2 jam lalu. Disa jadi ragu kalau Kean akan membalas pesannya terlebih saat sedang marah seperti ini.
Terpekur duduk di anak tangga, sudah 10 menit dan Kean bener-benar tidak membalas pesannya, di bacapun tidak. Perasaan Disa mulai tidak karuan. Antara sedih dan kesal pada dirinya sendiri.
Mengalihkan kesedihannya Disa coba menghubungi Shafira. Biasanya Shafira tidak butuh waktu lama untuk menjawab teleponnya.
“Ya teh.” Benar saja hitungan detik suara Shafira langsung terdengar.
“Fira lagi dimana dek?” suara Disa terdengar bergetar menahan tangis, akhirnya ada orang rumah yang bisa ia ajak bicara.
“Em, aku di lagi di luar sama kak reza, ada latihan. Teteh kenapa, kok suaranya serak?” terdengar jelas kecemasan Shafira di sebrang sana.
“Gak apa-apa kok.” Di tanya seperti ini air matanya malah benar-benar jatuh. Ia sedikit menjauhkan ponselnya, menyeka air mata dan hidung yang nyaris turun agar tidak di dengar Shafira.
“Beneran gak apa-apa?”
“Hem.” Pendek saja ia menjawab, sambil menghela nafasnya dalam guna mengusir biji kedondong yang terasa perih tersangkut di lehernya.
“Fira kapan pulang, masih lama?” Disa jadi merengak seperti anak kecil. Sungguh ia perlu teman bicara.
“Masih lama kayaknya teh, ini aja baru mau mulai latihannya.” Beberapa hari ini Shafira memang mengatakan ada project dengan band-nya dan Reza.
“Ya udah, jangan pulang malem-malem ya. Minta kak reza yang nganter, jangan pulang sendiri."
“Iyaa, nanti aku di anterin temen-temen kok. Ya udah, aku lanjut latihan dulu ya, kasian ini temen-temen nungguin.”
“Okey, bye.” Disa menyudahi telponnya. Ia memandangi benda pipih tersebut, melihat pesan yang ia kirim namun belum juga di baca Kean. Rupanya suaminya benar-benar marah.
Sendirian di rumah sebesar ini, terasa benar sepinya. Apalagi saat ia sedang bertengkar dengan suaminya, seperti ia tidak tahu harus pergi kemana. Akhirnya ia hanya tertunduk, menopang kepalanya dengan lengan yang tersilang di atas paha dan tangisnya yang coba ia tahan perlahan kembali pecah. Ia tidak bisa sendirian dan kesepian seperti ini.
Tina yang memperhatikan dari kejauhan, mendekat. “Nona, apa nona mau saya antar ke kamar? Mungkin beristirahat di kamar akan lebih baik.” Tawar Tina.
Disa mengangkat kepalanya, sedikit memalingkan wajahnya dari Tina yang menatapnya khawatir. Diusapnya air matanya perlahan agar tidak terlalu sembab.
“Papah sama mamah bilang gak pulang jam berapa?” setelah tenang, ia jadi kembali ingat putranya.
“Saya kurang tau nona, tadi tuan besar minta langsung pak marwan yang mengantar mereka jalan-jalan. Bahkan bu kinar, nina dan wita pun ikut.” Terang Tina.
Lemas rasanya tubuh Disa, semua orang benar-benar pergi hanya bersisa ia dan Tina.
“Mau saya tanyakan mereka ada dimana nona?” Tina mengeluarkan ponsel dari saku apronnya.
“Hem, coba tanya. Gak biasanya mamah gak ngabarin kayak gini.”
Tina mulai menghubungi Nina dan tidak lama panggilanpun di jawab.
“Na, lagi dimana?” Tina berbicara setengah berbisik.
“Oh lagi keliling-keliling. Sekarang mau kemana?”
“Iya ini nona muda nanya. Coba sharelock, siapa tau nona muda mau nyusul.” Takut-takut Tina melirik Disa.
“Okey, makasih.” Tina menutup teleponnya lantas tersenyum pada Disa.
“Kata Nina mereka masuk ke jalan tol nona, ini nina ngirim lokasinya.” Tina menunjukkan ponselnya bergambar map pada Disa.
Disa tidak bisa menebak kemana akan perginya Arini membawa Naka. “Kamu mau gak nemenin aku nyusul naka? Aku gak mau sendirian di rumah.” Rengek Disa membuat Tina tidak tega.
“Baik nona, mari kita pergi. Saya ambilkan dulu jaket untuk nona.” Sahut Tina dengan semangat.
“Iya terima kasih.”
Akhirnya Disa memutuskan untuk menyusul Naka. Beruntung Nina dan Wita ikut sehingga ia bisa bertanya posisi mereka saat ini. Bagi Disa ini lebih baik daripada sendirian di dalam rumah ditemani rasa bersalah.
****