
Keluar dari ruang perawatan Sigit, terlihat Kean yang sedang berbicara dengan dokter. Ada Marwan yang duduk di sampingnya dan fokus menyimak apa yang di jelaskan dokter.
Disa memilih duduk di bangku tunggu samping ruangan dan menunggu Shafira selesai berbicara dengan Sigit. Dari kaca jendela, terlihat Shafira yang menangis sesegukan seraya menggenggam tangan Sigit dengan erat. Bahunya bergerak naik turun, tidak bisa menyembunyikan kesedihannya selama ini.
Ada banyak hal yang di sesali Shafira karena selama ini ia bersikap acuh pada sang ayah. Jika mengingat Sigit, yang muncul di benaknya hanya bagaimana hari-hari yang keras ia lewati seorang diri. Benar yang Disa katakan kalau ia berharap suatu hari Sigit meluangkan waktunya untuk mendengar ceritanya dan tidak beranjak pergi apalagi mengabaikannya.
Siapa sangka, Tuhan benar-benar mengabulkan keinginannya. Keinginan yang ia ucapkan saat berurai air mata karena merasa tidak pernah di harapkan keberadaannya. Kenyataan bahwa ia lahir dari seorang wanita yang tidak pernah di cintai Sigit, seperti memberi ia kenyataan bahwa ia tidak perlu berharap Sigit akan menyayanginya. Apa yang ia dapatkan sudah lebih dari cukup dan tidak perlu tamak.
Tapi hati kecilnya tidak berkata demikian. Baginya, bukan kesalahannya jika ia terlahir dalam keadaan seperti itu. Bukankah ia tetap memiliki hak untuk di sayangi?
"Dady," Shafira memanggil Sigit untuk ke sekian kalinya. Hanya panggilan itu yang berulang Shafira lakukan tanpa bisa melanjutkan kalimatnya.
Ia tersedu, dengan dada yang terasa sesak. Ada banyak hal yang ingin ia katakan tapi entah harus memulainya dari mana.
"I love you dady. Bisakah dady mendengarkanku sambil membuka mata dan membalas genggaman tanganku?" lirihnya kemudian.
Di usapnya air mata yang berurai dengan kasar. Ingin rasanya ia menyalahkan Sigit karena menempatkannya dalam kondisi seperti ini. Tapi hatinya menolak. Ia masih memiliki harapan kalau suatu hari semuanya akan berubah.
"Fira masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki banyak hal, jangan di lepaskan." itu kalimat yang diucapkan Disa dan selalu terngiang di telinganya.
Mendapati Sigit yang seperti ini dan Liana yang hanya beberapa saat menemani Sigit, seperti keluarga ia yang sebenarnya sudah hancur dari awal. Apa lagi yang harus ia perbaiki?
Di tatapnya wajah Sigit yang pucat. Shafira mengambil selembar tissue yang kemudian ia gunakan untuk melap keringat di dahi Sigit. Lembut, ya sangat lembut. Seingat ia, ini adalah pertama kali ia menyentuh wajah sang ayah.
"Be strong dady, nanti kalau dady udah bangun fira akan ajak dady jalan-jalan dan nonton balap kuda. Kita pakai topi koboy dan kemeja kotak-kotak sambil bertaruh kuda siapa yang akan jadi juara. Apa dady setuju?" lirihnya dengan suara bergetar.
Hanya satu hobby ini yang Shafira tahu dari ayahnya. Sisanya, ia harus lebih banyak bertanya pada Marwan yang selalu setia ada di samping ayahnya.
Di luar sana, Disa bisa tersenyum lega saat akhirnya Shafira mau mendekat pada Sigit setelah sebelumnya hanya melihat sang ayah dari jendela dengan perasaan yang tidak bisa di urai. Ia tahu, Shafira masih sangat peduli pada ayahnya.
Ia masih mengingat bagaimana kecemasan yang coba Shafira sembunyikan saat menjelaskan kondisi Sigit sesuai penjelasan dokter. Maka rasanya tidak ada yang perlu di tahan lagi oleh Shafira. Menunjukkan kepeduliannya pada Sigit bukanlah suatu kelemahan.
Di tempatnya, Kean dan Marwan sedang menyimak penjelasan dokter. Sebuah lembar persetujuan ada di hadapan mereka dan bersiap untuk mereka tanda tangani setelah mendengarkan penjelasan dokter.
“Bisa saja, pasien di rawat di rumah dengan catatan suasana ruangan mendukung untuk merawat pasien. Saya sarankan, agar monitor tetap terpasang agar bisa memantau kondisi pasien jika sewaktu-waktu memburuk.”
“Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, kita tidak bisa mengetahui kapan pasien akan terbangun. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah memastikan kebutuhan dasar pasien terpenuhi dengan baik.”
“Dan siapa tahu di rawat di rumah bisa menjadi salah satu jalan untuk mempercepat kesembuhan pasien, karena tenang berada di tengah-tengah keluarganya.” terang dokter panjang lebar.
Kean dan Marwan tampak berfikir. Beberapa hari ini kondisi kesehatan Sigit memang stabil walau tidak bisa dikatakan sembuh. Tidak bisa di prediksinya kapan Sigit akan sadar, membuat keluarga berencana membawa pasien pulang dan merawatnya di rumah.
Bagi mereka, lebih baik melakukan home care untuk Sigit dengan catatan kondisi kesehatannya tetap terpantau.
“Baik dok, saya akan membawa papah saya pulang. Namun, kami meminta advice dokter untuk perawatan selama di rumah.” Kean tegas mengambil keputusan.
Walau ia masih menyimpan kemarahan pada Sigit namun ia masih mempedulikan laki-laki yang berada di dalam ruangan perawatan tersebut.
“Baik, saya akan menuliskan advice untuk pasien. Silakan untuk menandatangani informed consent berikut terlebih dahulu apabila keluarga sudah sepakat untuk membawa pasien pulang.”
Dengan tenang Kean menandatangani dokumen yang di sodorkan dokter. Ia sudah yakin kalau ia akan membawa Sigit pulang.
Dari kejauhan, ia memandangi Disa yang tengah menatapnya. Tidak ada yang Kean katakan, ia hanya perlu melihat Disa agar merasa baik-baik saja. Asalkan ada Disa di sampingnya, rasanya apa pun bisa ia hadapi.
******
Seperti bertemu dengan teman lama saat Disa tiba di rumah utama dan di sambut oleh Nina, Tina dan Wita. Mereka masih tidak percaya kalau Disa kembali ke rumah utama namun bukan sebagai seorang pelayan melainkan calon nona muda mereka.
Melepas kerinduan, mereka memperbincangkan banyak hal. Apa saja yang terjadi di rumah ini setelah Disa pergi dan kesemerawutan di rumah tuan muda mereka.
“Aku dua kali ke sana, di tolak mentah-mentah sama tuan muda. Katanya cukup urusin nyonya besar aja tapi aku gak berani nyamperin nyonya besar, jadi ya aku milih pulang." keluh Wita yang sudah dua kali di tolak Kean.
"Iya terus aku yang kena omel berikutnya. Nyonya besar ikut-ikutan gak mau di urusin. Katanya cukup beresin rumah dan masalah makan, ia sendiri yang akan mengatur. Aku sampe gak enak sa, ngerasa gak berguna banget jadi pelayan." Tina menambahkan. Tidak biasanya si bijak ini mengeluh tapi sepertinya penolakan Arini benar-benar membekas di pikirannya.
“Kamu tuh emang gak berjodoh ngurusin tuan muda, dari awal ketemu cuma kena omel kan?” timpal Nina yang terkekeh di ujung kalimatnya. Masih ia ingat bagaimana Wita pulang dengan wajah kesal dan hanya bisa memaki dalam hati.
“Bukan salah mulu tapi tuan muda emang cuma mau di urusin sama disa. Dan siapa tahu sekarang malah jadi calon istrinya.” Tina memahami point penting dari sikap Kean dan Arini. Ia melirik Disa yang duduk dihadapannya dan merasa salut sendiri bisa menghadapi dua orang yang tinggal di town house.
“Sa, gimana rasanya berhasil naklukin kutub utara?” tanya Tina kemudian. Ia menatap Disa penuh rasa penasaran dan diikuti teman-temannya. Mereka benar-benar menunggu jawaban Disa.
“Hah? Kutub utara gimana?" lucu juga mendengar istilah yang digunakan Tina.
"Tuan muda manusia biasa kok yang punya kekurangan dan kelebihan.” Disa menjawab diplomatis. Gemas sebenarnya melihat tatapan penasaran ketiga temannya.
“Ya gak usah di tanya lah, udah pasti rasanya akh mantap!” sela Wita dengan puas. Mereka tertawa ringan mendengar ujaran Wita.
Apa pun kalau bertemu pawang yang tepat, tentu tidak akan jadi masalah.
“Teteh,” suara si cantik Shafira yang kemudian mendekat bersama Kinar.
Ketiga teman Disa kompak terdiam dan langsung beranjak dari tempatnya saat melihat tatap Kinar yang menatap mereka dengan tajam. Rupanya Kinar masih satu-satunya yang di takuti oleh ketiga teman Disa. Tatapannya yang tajam, seolah menegaskan kalau wanita paruh baya ini tidak mudah di hadapi.
“Di cariin mamah mertua di atas katanya cobain gaun dulu.” terduduk santai di samping Disa. Perubahan cuaca di dapur seperti ini, sudah sangat terbiasa baginya terlebih ia datang bersama Kinar.
“Oh iya, nanti teteh ke atas. Bentar ya, ke toilet dulu.” Baru teringat janjinya kalau ia akan mengenakan gaun pernikahan dari Adela. Katanya ini ucapan terima kasih atas baju yang di desain Disa untuk putrinya.
Waktu untuk persiapan pernikahan yang mepet, mengharuskan Disa mengikuti saja semua arahan Arini. Semua sudah di siapkan Arini dengan detail dan Disa hanya perlu menurut saja.
“Iya, fira tunggu di sini.” sahut Shafira.
“Hem. Na, kamu punya stock pembalut gak? Aku lupa bawa ganti.” bisik Disa pada Tina.
“Kamu lagi dapet? Kan mau nikah.” timpal Tina seperti tidak terima. Suaranya yang keras tentu bisa di dengar oleh semua orang di dapur.
“Sssttt!!!” dengan cepat Disa mendesis agar Tina menghentikan kalimatnya.
“Oh, maaf. Keceplosan.” Tina dengan wajahnya yang memerah saat Shafira dan Kinar menatapnya penuh tanya.
“Teteh lagi dapet?” sambung Shafira kemudian. Disa hanya tersenyum, sepertinya ia tidak perlu bisik-bisik lagi.
“Wah kakak temen aku pas nikah lagi dapet, eh bulan depannya langsung tekdung. Asyiikkk aku bakalan cepet punya ponakan nih.” imbuh Shafira dengan girang.
“Oh ya, Benarkah?” tanya Disa gamang.
Sejenak ia terpaku mendengar kalimat Shafira, kalimat yang seperti menjadi pancingan yang membuat wajahnya malah terlihat sendu.
Nyaris ia senang mendengar ujaran Shafira tapi kemudian ia sadar kalau hal itu mungkin tidak akan terjadi padanya dan Kean.
“Iya, mana anaknya kembar lagi.” Shafira semakin antusias dan hati Disa semakin mencelos. Seharusnya ia tidak perlu bertanya lagi kalau ia tahu rasanya akan seperti ini.
“Haidmu teratur sa?” tiba-tiba Kinar bersuara.
Disa hanya mengangguk. Rasanya sudah cukup membicarakan masalah haid dan punya momongan. “Ada na?” ia memilih mengalihkan perhatiannya.
“Oh ada, aku ambil di kamar.” Tina bergegas beranjak dari tempatnya untuk mengambilkan pembalut.
“A-aku nyusul tina.” jadi tergagap saat melihat tatapan Kinar yang tertuju padanya. Segera ia menyusul Tina tanpa menunggu persetujuan orang-orang di hadapannya.
“Aku nunggu banget teteh punya baby, mudah-mudah gak mirip abang.” kalimat Shafira masih terdengar cukup jelas oleh Disa dan ia hanya bisa tersenyum sumbang.
Bukankah ia sudah menerima segala kekurangan Kean?
Maka seharusnya ia tidak perlu bersedih dengan ucapan-ucapan seperti ini, mentalnya harus lebih kuat dan bersiap, lebih kuat dari keputusannya saat ini yakin untuk menerima pinangan Kean.
Salahkah kalau ia masih merasa sedih dengan kenyataan yang akan di hadapinya?
*****