Marry The Heir

Marry The Heir
Jangan membuatku menunggu



Rangkaian acara pernikahan telah selesai dan di tutup dengan makan malam keluarga. Keluarga satu sama lain berbincang santai mengakrabkan diri sebagai bentuk hubungan baru antara keduanya. Arini yang terlihat hangat menyambut keluarga Disa yang masih sungkan berbicara dengannya. Mereka mencoba terbiasa menerima kehadiran satu sama lain.


Suara tawa renyah sesekali terdengar dari meja makan saat mereka mendengarkan cerita Imas yang mengocok perut. Arini bahkan bisa tertawa lebar saat candaan khas sunda di lontarkan Imas di tengah-tengah makan malam.


Sesekali memang tidak perlu terlalu formal agar mereka cepat saling mengenal.


Tidak di sangka, mereka bisa akrab dengan cepat. Tidak ada kekakuan di antara Arini dengan Jenar dan Imas juga Mery. Semua mengalir begitu saja, membuat keakraban kedua keluarga terjalin dengan cepat.


Di balkon ballroom ada Damar yang sendirian dengan segelas minuman di tangannya. Pikirannya masih berputar dengan perasaan yang carut marut. Masih ada rasa tidak rela saat tiba-tiba Disa memutuskan untuk menerima pinangan Kean dalam waktu yang sangat cepat.


Seperti tidak perlu berpikir lama dan dalam waktu satu minggu semuanya berubah tanpa bisa ia tahan.


Damar melepas jasnya yang kemudian ia sampirkan di besi balkon. Sebentar saja ia ingin seperti ini, mengenang waktunya bersama Disa. Bukan perkara mudah untuk terbiasa dengan cepat melihat Disa sudah menjadi istri orang lain.


Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat kembali foto-foto Disa yang pernah di ambilnya. Saat orang-orang berbaris ramai memberi selamat, Damar memilih duduk saja di tempatnya, memperhatikan dari kejauhan sambil menikmati minuman di tangannya.


Entah sudah gelas ke berapa yang ia teguk dan membuat kepalanya mulai pusing. Untuk saat ini ia hanya ingin seperti ini. Menahan dirinya untuk tidak berbuat onar lalu mengumpulkan keberaniannya untuk sekedar mengirimkan pesan dan mengucapkan,


“Bahagia selalu sa, dengan laki-laki pilihan lo.”


Sebaris pesan itu yang akhirnya Damar kirimkan bersamaan sebuah pesan perpisahan pada Disa. Ini akhir dari harapan yang sudah seharusnya ia kubur sejak lama. Sejak Disa menjadi adik sambungnya atau mungkin sejak perasaan itu perlahan mulai tumbuh.


Jika saja dulu di akhiri dengan cepat, mungkin sekarang ia tidak akan sesesak ini


Di tempat lain, Kean masih menghabiskan waktunya di salah satu sudut bersama Marcel dan Clara. Setelah makan malam keluarga, mereka berbincang santai tentang hari ini.


"Kado buat disa, tolong lo kasihin." Clara menyodorkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kertas kado berwarna gold.


"Apa isinya baju haram?" tanya Marcel dengan senyum tertahan.


"Sok tau! Tidak cocok memberi kado seperti itu pada gadis seperti disa." Clara menimpali dengan dingin.


"Kenapa tidak? Gadis yang lugu akan menyenangkan saat terlihat sedikit nakal."


Mata Clara langsung menyalak mendengar ujaran Marcel. Masih bisa-bisanya laki-laki yang mengedepankan hal semacam itu berbicara santai tentang wanita lain di hadapannya.


"Hahahaha.. Aku hanya bercanda sayang. Sedikit membuka pintu imajinasi keponakanku." sambung Marcel dengan cepat. Ia tidak boleh memancing Clara untuk hal semacam ini. Tujuannya adalah menggoda Kean.


Gayung bersambut, Clara memahami dengan cepat.


“Lo gak minum?” tanya Clara saat mendapati Kean hanya menikmati minuman bersoda di hadapannya.


Kean hanya mengendikan bahu, tidak terlalu tertarik untuk meneguk minuman beralkohol.


Marcel menatap keponakannya dengan segaris senyum. Entah harus ikut bergembira atau seperti apa mendapati keponakannya telah sampai pada tahap ini.


“Dia ada tugas besar malam ini, mana mungkin mau mabuk.” ledek Marcel dengan senyuman sarkasnya.


Kean ikut tersenyum tipis, kemudian kembali meneguk minuman di tangannya.


“Gue udah cukup mabuk dengan perasaan yang gue rasain, sekarang waktunya gue untuk sangat sadar.” timpal Kean. Di tangannya ia memainkan ponsel, memutar-mutarnya tanpa tujuan.


“Kalian kapan akan mulai sadar?” berganti Kean yang bertanya dengan sedikit sindiran.


“Hahahahha... Pertanyaan yang bagus.” Marcel tertawa terbahak mendengar pertanyaan Kean. Seperti ada alasan untuk bertanya langsung pada Clara.


“Kamu udah siap untuk jadi tantenya?” bertanya pada Clara yang duduk anggun dengan tangan tersilang di depan dada.


“Kenapa nggak?!” sahutnya.


Dengan berani ia mengecup bibir Marcel untuk beberapa saat dengan penuh perasaan. Clara memang tidak segan menunjukkan perasaannya di depan siapa pun dan Marcel membalasnya dengan antusias.


“Kalian emang brengsek!” Kean memalingkan wajahnya dari apa yang ia lihat. Menyaksikan apa yang dilakukan Marcel dan Clara membuat ia teringat pada wanitanya.


Marcel terkekeh mendengar dengusan Kean. Menghentikan sejenak aktivitasnya yang masih bisa ia tunda.


“Sepertinya, aku perlu memiliki keberanian yang sama untuk datang ke om brata. Kamu bisa menemani?” pertanyaan itu Marcel tujukan pada Kean.


“Kenapa tidak? Beritahu saja kapan waktunya. Jangan habiskan waktu dengan hal bodoh seperti sekarang” jawab Kean dengan santai.


"Wow, kamu dengar siapa yang bicara." sindir Marcel, yang membuat Kean tersenyum bangga. Soal keberanian, satu langkah ia unggul dari Marcel.


Berada di pernikahan Kean dan Disa membuat keinginan Marcel semakin kuat untuk mewujudkan cintanya pada Clara.


“Kamu udah siap claire?” berganti Clara yang di tanya Marcel.


“Tentu, aku selalu siap.” tegas Clara yang kembali memberi kecupan hangat di bibir Marcel.


Permintaan ini yang sudah lama ia tunggu dari laki-laki yang ia cinta.


“Sial! Kalian lanjutin aja di salah satu kamar di sini, jangan di depan gue!” dengus Kean yang beranjak dari tempatnya.


Sudah muak ia melihat tingkah sembarangan Clara dan Marcel yang menganggap di sini sama dengan di Amerika.


Tidak ada respon dari pasangan kekasih yang sedang asyik bercumbu. Baiknya, ia pergi daripada membuang-buang waktunya di tempat ini. Marcel dan Clara sudah tidak akan bisa lagi di ajak berbincang.


******


Malam menjelang, satu per satu keluarga berangsur masuk ke kamar masing-masing. Mereka sudah cukup lelah seharian berada di tengah-tengah pesta yang meriah. Begitu pun Kean, badannya sudah terasa pegal dan ingin beristirahat. Mandi sebentar mungkin akan cukup menyegarkan tubuhnya dari keringat yang menempel.


Baru akan masuk ke dalam kamar, dari luar terdengar suara dua orang wanita yang sedang asyik berbincang. Persisnya, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas sesekali terdengar tawa renyah yang cukup di kenal Kean.


Sedikit kesal, karena seharusnya ia beristirahat tapi ada seseorang yang lebih dulu masuk ke kamar pengantinnya tanpa permisi.


Menempelkan kartu akses ke pegangan pintu dan tidak lama pintu bisa di buka. Saat bayangan Kean terlihat dari balik pintu, suara tawa itu langsung terhenti.


“Aa,” Disa tampak terkejut saat melihat suaminya masuk dengan wajah dinginnya. Seperti tidak terima ada seseorang yang lebih dulu masuk dan menyalipnya.


“Lagi apa kamu di sini?” tanya Kean ketus, pada gadis cantik yang duduk di sofa ruang tamu kamar pengantinnya.


“Liat-liat foto sama teteh. Emang kenapa?” sahut Shafira santai. Ia menunjukkan layar ponselnya pada Kean.


“Jam berapa ini?” melepas jam tangan dan melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya. Baginya, kehadiran Shafira tidak di waktu yang tepat.


“Jam 9, emang abang gak bisa liat jam?” jawab acuh Shafira. Dengan sudut matanya ia menunjuk jam di dinding.


Kean hanya mendengus, entah anak ini memang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti.


Disa yang terpaku di tempatnya, hanya bisa menahan tawa. Antara lucu dan menegangkan melihat interaksi kakak beradik yang sama-sama tidak peka ini.


“Teh, foto yang ini kita cetak ya? Mau aku pajang di kamarku.” Lagi, Shafira menarik tangan Disa agar terduduk di sampingnya.


“Boleh.” Sahut Disa takut-takut. Ia melirik suaminya yang menatapnya dingin.


“Aku perlu mandi.” Ujar Kean, melepas satu per satu kancing bajunya dengan acuh. Ia yakin anak kecil ini akan segera keluar setelah mendengar ujarannya.


“Teteh udah nyiapin air mandi buat abang."


"Aku temenin teteh sampe abang selesai.” Lagi Shafira yang menjawab.


Mendadak adik sambungnya ini menjadi sangat menyebalkan. Seperti menguji kesabaran Kean atau mungkin tidak rela membiarkan Disa berdua dengan Kean.


“Besok kamu sekolah. Tidur sana!” terang-terangan Kean mengusir Shafira agar keluar dari kamarnya.


“Sok tau! Besok aku bebas, lagi nunggu nilai keluar.” Acuh saja ia menjawab sambil men-scroll layar ponselnya.


“Ini juga lucu, mau aku cetak kecil-kecil sama di tempatin di meja belajar.” Lagi Shafira menunjukkan ponselnya pada Disa.


Kean yang merasa di acuhkan, menaruh jam tangannya dengan kasar. Menutup laci di samping tempat tidurnya dengan keras juga melempar dasinya sembarang. Handuk yang sudah di bentuk menjadi sepasang burung untuk menghiasi ranjang pengantinnya, ia buka paksa lalu ia sampirkan ke punggung untuk ia bawa ke kamar mandi.


“Ish, rusuh banget sih!” ketus Shafira dan Disa hanya bisa menunduk takut. Bingung antara meladeni Shafira atau menghampiri Kean.


“Kamu yang rusuh. Kamu tau gak ini kamar siapa?”


Merebut ponsel Shafira dengan kasar. Juga tas tangan yang di taruh di atas meja. Lalu memasukkannya ke dalam tas yang ia resletingkan. Di tariknya tangan Shafira dengan kasar lalu di benamkannya tas tangan itu di tangan Shafira.


Perebutan area kekuasaan di mulai.


“Keluar!” usirnya, tidak lagi berbasa-basi.


“Iihhh abang ngeselin ya! Aku masih mau ngobrol sama teteh.” protes Shafira tidak terima.


“Gak ada alesan! Orang perlu istirahat.” Kean memaksa Shafira keluar dari kamarnya lantas membukakan pintu lebar-lebar.


“Tapi aku belum ngantuk! Aku juga gabut sendirian di kamar.”


“Abang, akh!!!” kesal sendiri saat Kean berhasil mendorongnya keluar dari kamar.


“Kenapa? Masih mau maksa masuk?” tantang kean yang menatap Shafira dingin.


Shafira hanya tertunduk, baru kali ini ia takut pada kakaknya.


“A, jangan kasar gitu. Kasian fira.” Suara Disa terdengar dari dalam kamar, namun Kean menjegalnya agar tidak keluar kamar.


“Masuk!” titahnya, tidak bisa di bantah. Ia sudah sangat lelah dan sedang tidak ingin berdebat.


Harapannya saat masuk ke kamar, Disa menyambutnya dengan senyuman manis bukan asyik terduduk membahas foto. Memangnya istrinya ini tidak lelah apa hampir seharian berdiri?


“Abang pelit! Liat aja besok pagi aku gangguin. Lagian, abang gak bisa ngapa-ngapain teteh, orang dia lagi dapet! Wlee!!!” Shafira menjulurkan lidahnya meledek Kean.


“Heh, tau apa kamu! Sana masuk kamar.” Titahnya lagi. Tidak peduli dengan ledekan Shafira. Ia hanya ingin beristirahat dan tidak mau di ganggu.


"Bruk!" Di tutupnya pintu dengan kasar bahkan saat Shafira masih ada di depan pintunya. Sesekali ia memang harus tegas untuk menunjukkan otoritasnya.


“Ihh dasar suami posesif!” dengus Shafira yang melangkah kesal meninggalkan kamar Disa. Bibirnya mengerucut dengan gerutuan kesal yang belum selesai ia lontarkan.


Di balik pintu, Kean menghela nafas lega setelah akhirnya Shafira pergi. Di liriknya Disa yang berdiri mematung menatapnya takut-takut.


“Maaf, aku tidak bermaksud kasar.” Ujar Kean kemudian. Malam pertama yang harusnya mereka lewati dengan penuh kehangatan dan romantisme malah berada dalam situasi yang tidak menyenangkan.


“Aku tau, kamu gak bisa nolak fira. Tapi, terus meladeni fira, gak akan ada ujungnya. Kamu perlu istirahat.” Kean berjalan mendekat menghampiri Disa. Ia sadar mungkin sikapnya terlalu kasar.


Yang di lihat Disa, seorang Kean telah benar-benar berubah. Kata maaf begitu mudah ia ucapkan. Padahal sebelumnya, jangan harap pria ini akan meminta maaf dengan mudah.


“Iya a, maafin aku juga. Harusnya tadi aku lebih ngurusin aa.” Menatap sendu wajah suaminya yang terlihat lelah.


Suami, panggilan itu menjadi teramat manis untuk Disa saat ini.


Kean tersenyum simpul, senang rasanya melihat Disa memahami apa yang ada di pikirannya. Rasa bahagia itu semakin terasa saat mengingat kalau Disa telah resmi menjadi miliknya dengan cara yang benar.


“Ya udah, kamu istirahat dulu. Aku mandi bentar.” Di usapnya bahu Disa dengan lembut. Perlakuan yang sangat istimewa lebih dari sebelumnya.


“Iya. Em, aa mau aku siapin minuman hangat?” menjeda langkah Kean yang akan beranjak masuk ke kamar mandi.


“Hem. Terima kasih.”


Disa membalasnya dengan senyuman.


Melihat bahu Kean yang perlahan menjauh kemudian menghilang di balik pintu, membuat jantungnya berdebar semakin kencang. Bahu itu saat ini memikul beban yang lebih berat dengan mengambil tanggung jawab untuk menjaganya dengan penuh kasih. Maka tentu ia menjadi wanita yang paling beruntung bisa berada di samping Kean, laki-laki yang di cintainya.


Guyuran air membasuh tubuh Kean yang atletis. Rasa hangat yang pas berjatuhan di pundaknya membuat punggungnya yang pegal seharian berdiri tegak merasa sangat nyaman seperti di pijat. Kean membersihkan setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna tanpa ada yang terlewat. Ini malam pertama yang akan ia habiskan dengan wanita yang baru ia nikahi. Semuanya harus sempurna, tidak boleh ada celah.


Selesai membersihkan tubuhnya, ia membalurkan cologne dengan wangi maskulin di leher dan wajahnya. Wangi mentol yang menyegarkan membuat rasa kantuk dan lelahnya hilang.


Lantas ia mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menyisirnya dengan rapi. Terakhir, ia memakai baju yang sudah di siapkan Disa di hanger. Istrinya telah menyiapkan semuanya dengan lengkap, tanpa perlu ia minta.


Keluar dari kamar mandi, Kean mendapati Disa yang tengah membuat teh di salah satu sudut ruangan. Di lihatnya sebuah sajadah yang sudah tergelar dengan sarung dan peci di atasnya. Kean tersenyum, ini cara halus istrinya untuk mengingatkan kewajibannya.


“Lihat, kamu begitu sempurna.” Batin Kean.


Jika diperhatikan, satu hal yang terasa janggal. Tidak ada mukena Disa di sekitarnya. Disa bahkan belum menghapus kutek berwarna nude di kukunya. Sepertinya tadi Shafira bukan meledeknya, melainkan mengatakan sebenarnya. Mungkin benar, kalau malam ini harus mereka lewati dengan tertidur lelap.


Hah, sepertinya tidak akan ada apa pun yang terjadi malam ini.


Menunaikan ibadah pertamanya setelah menikah, Kean mengucap ribuan syukur atas semua hal yang ia dapatkan. Menjadi suami dengan tanggung jawab yang lebih besar ternyata tidak semenakutkan yang ia bayangkan sebelumnya. Ada hal baru yang ia temukan setelah beberapa saat resmi menjadi seorang suami, yaitu ketenangan.


“Lo jalanin aja seperti air mengalir dan biarkan semuanya terjadi secara alami.” Kalimat itu yang kemudian Kean ingat sebagai nasihat Nasep saat pesta lajangnya.


Benar, ia hanya perlu membiarkan semuanya mengalir seperti air.


Mengusap wajahnya selesai mengusap do’a, Kean mendapati disa yang terduduk di belakangnya. Disa langsung meraih tangan suaminya yang kemudian ia kecup dengan lembut. Satu kecupan hangat Kean hadiahkan di kening Disa.


“Aku mencintaimu sa, sangat mencintaimu.” Batinnya dengan penuh kesungguhan. Pengakuan yang selalu sulit untuk ia ungkapkan, kali ini begitu mudah bergumam di rongga pikirannya.


Ditatapnya lekat wajah wanita yang tersenyum di hadapannya.


“Ada yang kamu pikirkan?” satu perubahan kecil yang tersirat di wajah Disa, bisa dengan mudah ia tangkap. Mungkin memang seperti ini kalau dua hati sudah tertaut.


“A, boleh aku mengatakan sesuatu?” tanyanya dengan ragu.


“Hem, katakan.” jadi penasaran apa yang sebenarnya ada di benak Disa saat ini.


Gadis itu menghela nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan. seperti ada sesuatu yang membuatnya resah.


“Hey, cepat katakan, jangan membuatku berpikir yang tidak-tidak.” batin kean, menunggu Disa meneruskan kalimatnya.


******