
“Mba disaaa, kamu kemana aja?” Shafira berlari dari dapur saat melihat kedatangan Disa.
Tanpa sungkan ia memeluk Disa seperti anak kecil yang menunggu ibunya pulang.
“Maaf non fira, saya membuat non fira cemas.” sahut Disa seraya mengusap punggung Shafira.
Terlihat Tina, Nina dan Wati yang tercengang melihat sikap Shafira pada Disa. Disa hanya tersenyum samar saat membalas tatapan teman-temannya.
“Kamu gak bikin aku cemas tapi bikin aku kesel. Semalem aku gak bisa tidur gak ada mba disa. Gak ada yang nemenin bikin peer juga.” Rengek remaja putri yang lebih tinggi darinya.
Ia sudah melepaskan pelukannya tapi tangannya masih menggenggam tangan Disa dengan erat.
“Hehehe.. Kan ada mba tina, mba nina dan mba wita yang bisa nemenin non fira.”
Barisan kompak bubar jalan saat nama mereka di sebut. Sudah lebih dari satu jam mereka menghibur Shafira yang morang maring tidak jelas menunggu Disa pulang dan sepertinya mereka sudah menyerah.
“Mereka gak asyik, gak kayak mba disa.” Timpal Shafira yang mengerucutkan bibirnya.
Beruntung teman-temannya sudah bubar jalan sehingga mereka tidak mendengar keluhan nona mudanya.
“Non fira udah makan?” Mengalihkan pembicaraan pada topik lain.
Biasanya Shafira belum makan kalau tidak ada yang menemaninya.
Gadis cantik itu menggeleng. “Aku mau makan bakso, kita go food yuk!” serunya dengan semangat.
“Boleh. Tapi saya harus mandi dulu.”
“Okey, aku nunggu di kamar mba disa aja.”
Lihat, Shafira yang lebih dulu berjalan di depan menuju kamarnya, membuka pintu dan masuk dengan santai. Disa hanya bisa tersenyum melihat tingkah Shafira. Entah ada apa dengan kedua majikannya hari ini. Yang satu lengket seperti lem dan satu lagi berubah acuh setelah memeluk.
Mengingat kejadian tadi membuat Disa gerah sendiri. Ia masih bisa mencium wangi Kean di tubuhnya dan sepertinya Ia memang harus segera mandi.
*****
Keinginan Shafira memang tidak bisa di tolak, setelah Disa selesai mandi ia langsung di tarik ke dapur karena pesanan bakso sudah datang. Tina, Nina dan Wati sudah ada di sana, lengkap dengan Kinar. Di hadapan mereka masing-masing sudah ada satu mangkuk bakso.
Sejak sering bergaul dengan Disa, Shafira mulai terbiasa berbincang dengan para pelayan lainnya. Walau katanya sedikit tidak asyik tapi mereka masih bisa berbicara tentang apa pun meski tidak bisa terlalu bebas karena ada Kinar di sana.
“Nih buat mba disa.” Satu mangkuk bakso Shafira sodorkan pada Disa dan ia melanjutkan memakan bakso yang ada di hadapannya.
“Terima kasih non fira.” Dengan senang hati Disa mengambil bakso jatahnya. Ia beri sedikit sambal dan di tambah garam karena rasanya agak hambar.
“Terus kalian tau gak, guru matematikaku kalau ngomong suka muncrat.”
Rupanya Shafira melanjutkan kembali ceritanya yang terjeda pada teman-teman Disa. Ketiga teman Disa kompak menyimak walau hanya sesekali mengangguk dan tersenyum. Mungkin ini yang dimaksud tidak seru oleh Shafira, tidak seru karena tidak ada satu pun di antara mereka yang menimpali.
Bukankah komunikasi yang seru itu saat kedua pihak saling memberi respon?
Semuanya makan bakso dalam suasana tegang, duduk tegak dan gerakan tangan yang terlihat kaku. Sungguh terlihat tertekan.
“Pernah sekali waktu lagi di tengah pelajaran, aku pindah duduk ke belakang, habis gak kuat, mejaku di penuhi gelembung busa dari mulutnya.” Shafira yang berbicara dengan semangat sementara yang menyimak saling lirik karena jijik membayangkan cerita Shafira.
Ternyata seorang tuan putri pun bisa menceritakan hal yang menjijikan saat makan.
Disa mengulum bibirnya, menahan tawa. Ekspresi mereka sangat lucu, mungkin mereka ingin protes tapi tidak berani.
“Kalo yang gitu harus di suruh pake face shield non kalo dia lagi nerangin.” Disa menimpali.
“Hahhahaa.. iya mba disa. Terus dia nanya, ehm!” mengubah tone suaranya lalu berkacak pinggang. “Fira, kenapa kamu pindah?” ujarnya mencontohkan sang guru.
“Ya aku bilang, maaf pak, atap sebelah sini bocor, saya takut buku saya basah, jawabku. Nah temen-temenku langsung tertawa dan sepertinya dia sadar makanya terus malah manggil aku ke ruang guru.” kembali menyeruput kuah baksonya.
“Non fira di hukum?” kali ini Tina yang bertanya.
“Hahahaha.. Nggak lah. Dia malah ganti buku paket matematikaku karena dia tau bukuku pasti basah kena muncrat dari mulutnya.” Sahut Shafira yang tergelak di ujung kalimatnya.
“Fiuh…” ketiganya kompak menghela nafas lega mendengar jawaban Shafira.
“Hahahhaa… Kalian tegang banget, pasti ngira aku bakal dihukum. Tenang aja, aku udah kebal.” Tantang Shafira seraya menepuk dadanya dengan bangga.
“Fira!” sebuah suara menghentikan aktivitas mereka yang sedang menikmati baksonya.
Semuanya kompak menoleh dan menaruh sendok di tangannya. Terlihat Liana yang menatap satu per satu pelayan dengan mata menyalak. Tidak terkecuali Kinar.
“Selamat malam nyonya.” Kinar yang menyapa lebih dulu.
Liana langsung mengangkat tangannya, menolak Kinar untuk berbasa basi. “Ngapain kamu di sini? Masuk kamar!” serunya dengan tatapan tajam pada Shafira.
“Ayolah mam, aku lagi makan malam sama mereka. Aku juga lagi cerita, lagi seru-serunya banget.” Tolak Shafira dengan wajah cerianya.
“FIRA!” menarik tangan Shafira dengan kasar hingga berdiri untuk menjauh dari para pelayan. “Kamu tau kan siapa mereka?” sinisnya membuat para pelayan kompak menunduk.
Shafira mengibaskan tangannya lalu menyilangkannya di depan dada. “Taulah!” sahutnya dengan yakin. “Itu bu kinar, itu mba disa, itu mba tina, itu mba nina dan itu mba wati. Sekalian aku perkenalkan, mereka adalah temen-temenku.” Imbuhnya dengan penuh percaya diri.
Yang diperkenalkan hanya bisa menunduk, tidak berani menatap ke arah Liana yang tengah menatap mereka dengan rendah.
“Fira, kamu gag boleh bergaul sama mereka.” Bisiknya dengan sinis, seraya menarik kembali Shafira.
“Loh emang kenapa?” Shafira terpancing, ia mulai menunjukkan kekesalannya.
“Mamih pikir aku harus bergaul sama siapa? Sama kursi dan meja yang ada di kamarku? Atau sama teman-teman dunia maya yang palsu?”
“Gag mungkin kan, aku ngobrol kayak gini sama dady yang super sibuk ngurus perusahaan apalagi sama mamih yang sibuk sama temen-temen sosialita mamih. Atau aku harus ngomong sendiri, kayak orang gila?!” mulai merepet dengan suara yang meninggi.
“Fira, kamu,..” Liana kehabisan kata-kata, namun Shafira tampak acuh saja. “Dan kalian,!” menunjuk Tina yang berdiri lurus di hadapannya.
“Ssssttttt……” Shafira menaruh telunjuknya di atas bibirnya seraya berdesis. “Jangan marahi mereka. Atau,.” menurunkan tangan Liana pelan-pelan.
“Atau apa?!” Liana semakin murka melihat Shafira membela para pelayannya.
Shafira mendekat lalu berbisik pada Liana. “Aku akan beritahu papih soal rencana mamih jalan-jalan bareng temen-temen mamih dan para berondong itu. Gimana?” Bisiknya, yang terdengar jelas sebagai sebuah ancaman.
Lantas ia menarik tubuhnya menjauh, menyilangkan tangannya di depan dada seraya tersenyum pada Liana. Alisnya menukik tajam seperti tengah mengintimidasi Liana.
Liana hanya mengeram kesal. Ia tidak bisa menimpali ancaman putrinya. “Awas kalian!” sungutnya seraya berlalu pergi meninggalkan Shafira dan teman-temannya.
Shafira bertepuk tangan ringan, seolah ia tengah membersihkan debu dari tangannya. “Maaf atas iklannya, ayo kita makan lagi.” Ucapnya santai.
Kembali duduk di tempatnya dengan isyarat mata yang meminta orang-orang untuk duduk. Ia pun kembali menyeruput kuah baksonya dengan lahap.
Mereka kembali duduk walau masih takut-takut.
Kinar menghela nafas lega, ia kembali duduk bersama para bawahannya. Sungguh malam yang mendebarkan dan merekalah penyebabnya.
Diam-diam Kinar melirik Shafira yang kembali menikmati baksonya. Terlihat senyuman tipis di bibirnya melihat tingkah nona mudanya beberapa saat lalu. Ia mulai berubah, sangat jauh berbeda.
****
Hari libur menjadi hari yang paling di tunggu oleh Disa. Hal pertama yang ia lakukan setelah berhasil keluar dari rumah adalah pergi ke mini market untuk mengirimkan uang pada Jenar.
“Bi, disa ngirim uang yaaa buat nenek sama bibi.” ujar Disa setelah menjawab salam Imas. Ia keluar dari minimarket lantas duduk di kursi yang biasanya di tempati orang-orang yang menikmati kopi instan.
“Udah ngirim uang lagi aja, yang kemaren juga masih ada neng.” Begitu sahut Imas dari sebrang sana.
“Gag pa-pa bi, beliin nenek makanan yang enak sama gampang di kunyah ya…”
“Iya geulis, masa bibi beliin makanan yang keras.” Imas terkekeh di ujung kalimatnya. “Eneng kapan pulang? Nenek nanyain terus katanya kapan cucu kesayangannya pulang.”
Disa hanya bisa tersenyum samar mendapat pertanyaan yang sama setiap kali ia menelpon Imas atau Jenar.
“Nanti disa pulang bi, sekarang disa cuma libur sehari tapi dua bulan lagi disa liburnya tiga hari. Jadi pasti pulang ke bandung.”
“Aduh masih lama atuh ya, nenek kamu udah kangen katanya.”
Disa mengulum bibirnya seraya mengusap air mata yang tiba-tiba menetes. Hatinya mencelos, sejujurnya ia pun sangat merindukan keluarganya di kampung halaman.
“Nenek lagi ngapain bi?” suaranya terdengar parau. Ia berdehem untuk menetralkan suaranya.
“Ada, lagi ngasih makan ayam. Jangan ngobrol sama nenek ya, soalnya nanti suka ngomel-ngomel sama bibi terus nyeritain lagi cerita bapak sama ibu kamu dari jaman mereka ketemu. Gag bakal selesai sehari.” Cerocos Imas yang memang benar apa adanya.
Jenar yang sudah pikun memang sangat sering mengulang cerita yang sama terutama cerita tentang kedua orang tua Disa. Tidak hanya bercerita, ia juga biasanya akan bersedih selama berhari-hari, itulah mengapa Imas melarang Disa untuk berbicara dengan Jenar.
“Disa mau denger suara nenek bi, boleh?”
“Boleh. Ke sakedap. (Tunggu sebentar)”
Terdengar Imas menekan satu tombol ponselnya, mungkin loud speaker.
“Ma, udah selesai ngasih makan ayamnya?” teriak Imas pada Jenar.
“Udah imas, nih tinggal ngasih makan kambing. Minta suami kamu ngasih mereka makan, nanti mereka laper.” Seru Jenar dengan keras.
Mendengar suara Jenar membuat mata Disa berkaca-kaca. Ia sangat merindukan pemilik suara cempreng yang mulai parau itu. Mungkin karena usianya yang sudah tidak muda lagi sehingga suaranya pun terdengar bergetar.
“Udah neng?” kali ini suara Imas yang kembali terdengar.
“Udah bi, makasih. Nanti disa kirimin kode buat ngambil uangnya yaa.. Bibi langsung ambil aja takutnya ada yang mau di beli.”
“Iya neng, makasih ya… Bibi do’ain semoga rejeki eneng tambah banyak. Di sayang sama temen-temen dan majikan eneng. Jangan lupa nanti kalo pulang bawa pemuda Jakarta yang ganteng buat di pamerin sama orang-orang sini.”
Disa tersenyum mendengar kalimat Imas yang terakhir. Namun ia yakin, do’a yang di panjatkan bibinya sangatlah tulus dan ia mengucap “aamiin” dalam hati untuk itu.
“Iya bi, makasih. Nitip nenek yaa… Assalamu ‘alaikum…” panggilan pun terputus.
Disa memasukkan ponselnya ke dalam tote bag, dan ia harus bergegas pergi ke tempat lainnya.
******
Di tempat yang berbeda, ada yang tengah sangat gugup mendapat tatapan tajam dari Kean.
Adalah Wati yang saat ini hanya bisa tertunduk di hadapan Kean dengan tangan memilin renda apron yang dipakainya. Bibir merahnya terlihat kontras dengan wajah tegang pucat pasi dan berkeringat.
“Apa seperti ini kopi yang bisa kamu buat?” suara Kean terdengar sinis membuat Wati bahkan tidak berani mengangkat wajahnya apalagi menjawab pertanyaan Kean.
Kean mengaduk secangkir kopi yang ada di hadapannya setelah ia tambahkan sedikit lagi kopi bubuk karena rasanya yang terlalu manis. Ternyata, setelah di tambah pun rasanya tetap tidak enak, tidak seperti yang biasa ia minum.
“Tring!” ia melempar sendoknya hingga mengenai tatakan cangkir dan membuat Wati terperanjat di tempatnya.
Keringat di punggungnya semakin deras menetes dan tangannya pun semakin basah.
“Mana sarapanku?!” lanjut Kean tanpa mengalihkan pandangannya pada Wati.
“Mo-mohon tunggu sebentar tuan. Saya akan membuatnya.” Wati segera mengambil wajan untuk membuat nasi goreng lalu menempatkannya di atas tungku kompor.
Memindahkan ketel yang ada di tungku sebelah dan, “Aw!” serunya saat ternyata ketel yang hendak ia turunkan masih panas.
“PRANG!” diikuti suara kuali yang terjatuh ke lantai, berputar lalu telungkup. Sangat rusuh. Ia mengambilnya segera. Kean hanya menggeleng melihat tingkah semberono pelayannya.
Wati benar-benar panik terlebih saat melihat wajah Kean yang terlihat semakin dingin.
“Ma-maaf tuan, saya akan membuatkan anda roti bakar.”
Tidak jadi membuat nasi goreng, Ia membuka secarik kertas yang ada di tangannya, bergumam untuk membacanya dan mulai membuka satu per satu kitchen set di atas kepalanya.
“Berapa lama lagi saya harus menunggu?!” suara Kean terdengar begitu menakutkan di telinga Wati. Wajahnya sudah terlihat sangat kesal.
“Ma-maaf tuan, sepertinya rotinya habis karena tidak ada di tempatnya.” Kilah Wati yang tetap menunduk dengan perasaan yang tidak menentu/ Baru pertama kali mendapat tugas langsung melayani tuan mudanya tapi semuanya ia buat berantakan..
Kean beranjak dari tempat duduknya. Sudah cukup ia sabar menunggu dan melihat tingkah pelayan pengganti Disa.
Setelah datang terlambat dan tidak membangunkannya, ia pun tidak menyiapkan segelas air putih dan rasa kopi buatannya tidak enak.
Apalagi sekarang, tidak bisa membuat sarapan dan membuat waktunya terbuang percuma.
Kean menghampiri Wati, ia mengambil secarik kertas di tangan yang tengah gemetaran.
“Apa ini?!” tanyanya sambil melihat catatan di kertas itu. Wati hanya tergagap dan terpaku.
“Jam 6 bangunkan tuan muda, siapkan air putih di meja makan, siapkan air mandi. Buatkan kopi dengan 2 sendok kopi hitam, gula setengah sendok dan airnya harus panas. Sarapannya bikin nasi goreng yang waktu itu aku ajarin. Ingat jangan di cicipi. Setelah itu,..”
Kean meremas kertas yang ada di tangannya. Kertas berisi petunjuk yang di tulis Disa untuk menyiapkan semua yang tuan mudanya butuhkan.
“Kau boleh pergi. Tidak perlu kembali.” Ujar Kean kemudian. Ia sudah sangat malas berurusan dengan wanita di hadapannya.
Wati mengangkat wajahnya dengan ekspresi mengkhawatirkan. Ia sudah sangat ingin menangis karena sedari tadi tatapan Kean terlalu menakutkan untuknya.
“Tunggu apa lagi?” gertaknya membuat Wati terperanjat.
“Maafkan saya tuan.” Ia mengangguk beberapa kali seraya mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
Kean tidak menimpali. Ia lebih memilih mengambil tas kerjanya lalu masuk ke garasi dan menyalakan mobilnya. Dasi yang sudah ia simpulkan dengan rapih pun ia tarik kembali karena terasa begitu menyesakkan. Sementara Wati hanya bisa menangis dan segera keluar dari rumah tersebut lewat jalan belakang. Sepertinya ia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya.
“Kenapa mengirim pelayan seperti itu kemari?” suara Kean yang dalam terdengar menakutkan saat menghubungi Kinar.
“Apa wati membuat kesalahan tuan?” Kinar terdengar cukup terkejut.
“Aku menyuruhnya pulang.” Timpalnya sekali lalu mematikan ponselnya dengan kesal.
Sumpah, ini pagi yang begitu menyebalkan bagi Kean. Perbedaan yang drastis terasa benar antara dilayani oleh Disa dengan dilayani oleh pelayan lain. Dan itu membuatnya sangat kesal.
Ia kembali membuka kertas yang tadi ia remas hingga tergulung kecil.
“…Setelah itu, tanya makan siang apa yang tuan muda inginkan. Kalau dia gag jawab, bikin aja salad ayam, capcay dan udang goreng tepung. Tuan muda gag suka ada bawang atau seledri di makanannya. Sekali lagi ingat, jangan di cicipi.” Kean menyelesaikan membaca tulisan itu.
Tanpa sadar, bibirnya tersenyum kecil. Cukup baik Disa mengenal apa yang ia suka dan tidak ia sukai. Dan pelayan tadi, telah membuat mood harinya memburuk. Berdo’a saja semoga Roy tidak menjadi sasaran kemarahan Kean hari ini.
*******